"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Senin, 13 Agustus 2012

Cerita Novel Musashi Bag. 9




bagian 9


Berkumpul kembali di Osaka



LADANG itu diselimuti kabut kelabu, dan udara dingin pagi hari mengisyaratkan musim gugur sudah benar-benar dimulai. Bajing-bajing berkeliaran di mana-mana, dan di dapur tak berpintu pada rumah tak berpenghuni itu jejak-jejak rubah yang masih baru simpang siur di lantai.

Pendeta pengemis yang kembali dengan terhuyung-huyung sebelum matahari terbit membaringkan diri karena lelah di lantai kamar sepen. Tangannya masih menggenggam shakuhachi. Kimono dan jubahnya yang kotor basah oleh embun, dan di sana-sini dikotori rumput yang menempel selagi ia mengembara seperti orang hilang melewati malam. Ketika ia membuka matanya dan duduk, hidungnya mengerut, lubang hidung dan matanya membuka lebar, dan berguncanglah tubuhnya oleh bersin hebat. Namun ia tidak berusaha menghapus ingus yang mengucur dari hidung ke kumisnya yang tipis.

Ia duduk di sana beberapa menit, sebelum akhirnya teringat bahwa ia masih menyimpan sedikit sake sisa malam sebelumnya. Sambil menggumam sendiri ia berjalan menyusuri gang panjang ke kamar perapian di bagian belakang rumah itu. Di siang hari terdapat lebih banyak kamar di rumah itu daripada yang kelihatan waktu malam hari, tapi pendeta itu dapat menemukan jalannya tanpa kesulitan. Tetapi alangkah heran ia, karena guci sake sudah tidak ada di tempat-nya.

Sebagai gantinya ada seorang asing di dekat perapian, kepalanya berbantalkan satu lengan dan air liur menetes dari mulutnya. Ia tidur nyenyak. Maka jelaslah ke mana larinya sake itu.

Tentu saja bukan hanya sake yang hilang. Setelah pemeriksaan cepat, terbukti tak sedikit pun tertinggal bubur beras yang maksudnya untuk sarapan. Pendeta itu merah padam oleh amarah; tanpa sake ia masih tak apa-apa, tetapi nasi adalah soal hidup dan mati. Sambil memekik seru ditendangnya si penidur itu sekuat-kuatnya, tapi Matahachi hanya berkomat-kamit sambil mengantuk, kemudian menarik tangan dari bawah badannya dan dengan malas mengangkat kepala.

"Kamu... kamu...!" gagap pendeta itu dan menendang sekali lagi.

"Apa pula ini?" teriak Matahachi. Urat-urat nadi menggelembung pada wajahnya yang mengantuk itu ketika ia melompat berdiri. "Jangan menendang macam itu!"

"Oh, tendangan saja belum cukup! Siapa bilang kamu boleh masuk rumah ini dan mencuri nasi dan sake-ku?"

"Oh, jadi nasi dan sake itu punyamu?"

"Tentu saja punyaku!"

"Maaf."

"Maaf? Apa gunanya itu buatku?"

"Saya minta maaf."

"Kamu mesti berbuat lebih dari itu!"

"Apa yang mesti saya lakukan?"

"Kembalikan nasi dan sake itu!"

"Ah! Dua-duanya sudah dalam perut saya dan sudah memperpanjang hidup saya satu malam. Tak bisa saya mengembalikannya sekarang!"

"Tapi aku mesti hidup juga, kan? Paling banyak yang kudapat dari keliling-keliling main musik di pintu gerbang orang banyak itu cuma sedikit beras atau beberapa tetes sake. Dungu kamu! Kaukira aku bisa berdiri saja diam-diam dan membiarkanmu mencuri makananku? Kuminta kembalikan barang itu!" Nada yang dipergunakannya mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal itu penuh paksaan, dan suaranya bagi Matahachi terdengar seperti suara setan lapar yang langsung datang dari neraka.

"Janganlah begitu kikir," kata Matahachi dengan sikap meremehkan. "Buat apa pula mesti jengkel hanya karena sedikit nasi dan kurang dari setengah guci sake kelas tiga."

"Keledai kamu! Mungkin kamu menampik nasi sisa, tapi buatku itu makanan sehari-hidup sehari!" Pendeta itu menggeram dan mencengkeram pergelangan tangan Matahachi. "Takkan kulepaskan kamu begitu saja!"

"Jangan seperti orang sinting begitu!" bentak Matahachi. Ditariknya lengan-nya keras-keras sampai lepas dari cengkeraman, dan dicengkeramnya rambut orang tua yang sudah jarang itu, lain ia coba melontarkan orang itu dengan sentakan cepat. Tapi alangkah terkejutnya ia karena tubuh yang kelaparan itu tidak beranjak. Pendeta itu mencengkeram erat leher Matahachi dan tak hendak melepaskannya.

"Bajingan kamu!" salak Matahachi sambil menaksir kekuatan lawannya.

Tapi sudah terlambat. Pendeta itu menghujamkan kakinya mantap-mantap ke lantai, dan dengan sekali tolak saja Matahachi pun terguling. Suatu gerakan cekatan, dengan menggunakan kekuatan Matahachi sendiri. Dan Matahachi pun terus berguling, sampai akhirnya berdebam menghantam dinding plester di sisi luar kamar sebelah. Karena tiang-tiang dan galar-galar sudah lapuk, sebagian besar dinding itu runtuh menghujani Matahachi dengan kotoran. Sambil meludah semulut penuh Matahachi bangkit berdiri, menghunus pedang, dan menyerang orang tua itu.

Si pendeta sudah siap menangkis serangan dengan shakuhachi-nya, tetapi belum-belum ia sudah tersengal-sengal mencari udara.

"Nah. lihat sekarang akibat ulahmu sendiri!" pekik Matahachi sambil mengayun pedang. Ayunan pedang tidak mengenai sasaran, tapi terus juga ia mengayun tanpa kenal ampun dan tidak memberikan kesempatan kepada pendeta itu untuk memperoleh papas kembali. Muka orang tua itu tampak seperti hantu. Berkali-kali ia melompat mundur. Lompatan itu tidak melenting. dan ia rupanya sudah hampir pingsan. Setiap kali ia mengelak, terdengar teriakan sedih, seperti rengek orang yang sedang sekarat. Namun karena ia terus-menerus beralih kedudukan, maka tak mungkin Matahachi menebaskan pedangnya.

Akhirnya Matahachi celaka oleh kecerobohannya sendiri. Ketika pendeta itu melompat ke kebun, Matahachi mengikutinya dengan membabi-buta, namun begitu kakinya menginjak lantai beranda yang lapuk, papan-papan berderak dan patah. Matahachi jatuh telentang, sebelah kakinya terayun-ayun masuk ke sebuah lubang.



Si pendeta melompat menyerang. Ditangkapnya bagian depan kimono Matahachi dan dipukulinya kepala Matahachi, pelipis dan tubuhnya-mana raja yang dapat dikenai shakuhachi-nya. Dan setiap kali menghantam, ia menggeram keras. Karena sebelah kakinya terjerat, Matahachi tak berdaya. Kepalanya tampak membengkak sampai sebesar tong, tapi beruntunglah ia karena pada detik itu keping-keping emas dan perak mulai berjatuhan dari kimononya. Setiap jatuhnya pukulan diikuti bunyi gemerincing mata uang yang jatuh ke lantai.



"Apa itu?" seru si pendeta tersengal-sengal, lalu melepaskan korbannya. Matahachi segera membebaskan kakinya dan melompat meloloskan diri, tapi waktu itu orang tua itu sudah tidak marah lagi. Biarpun tinjunya sakit dan napasnya sesak, tak dapat ia tidak menatap uang itu dengan heran.

Sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut, Matahachi berseru, "Lihat tidak, orang tua sinting? Tak perlu kamu naik darah cuma karena nasi dan sake sedikit saja. Uang bisa kubuang-buang! Ambillah kalau kau mau! Tapi sebagai gantinya kau mesti menerima kembali pukulan yang sudah kauberikan padaku. Keluarkan kepalamu yang tolol itu, dan akan kubayar kamu dengan bunganya untuk ganti nasi dan minumanmu itu!"



Si pendeta bukannya menjawab cacian itu, melainkan meletakkan wajahnya ke lantai dan mulai menangis. Kemarahan Matahachi mereda sedikit, tapi katanya berbisa, "Coba lihat dirimu itu! Begitu melihat uang, terus saja berantakan."



"Oh, sungguh memalukan diriku!" lolong sang pendeta. "Kenapa aku jadi begini tolol!" Seperti halnya kekuatan yang baru saja dipakainya untuk berkelahi, sikap mencela diri sendiri itu lebih hebat daripada yang dimiliki kebanyakan orang. "Sungguh aku keledai!" sambungnya. "Apa belum juga sadar aku akan diriku? Pada umur ini? Juga sesudah terbuang dari masyarakat dan tenggelam sedalam-dalamnya?"



Ia menoleh ke tiang hitam di sampingnya, dan mulailah ia membenturbenturkan kepalanya pada tiang itu. Rintihnya, "Kenapa aku memainkan shakuhachi ini? Apa untuk mengusir khayalanku, kebodohanku, kegairahanku, sikapku yang mementingkan diri sendiri, dan nafsu-nafsu jahatku lewat kelima lubangnya? Bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku terlibat dalam pertarungan hidup-mati hanya demi secuil makanan dan minuman? Dan dengan orang yang pantas menjadi anakku pula?"



Belum pernah Matahachi melihat orang seperti ini. Orang tua itu menangis beberapa waktu lamanya, kemudian membenturkan kepala lagi ke tiang. Ia rupanya bermaksud menghantamkan dahinya sampai belah menjadi dua. Sampai sedemikian jauh, hukuman yang dijatuhkannya pada diri sendiri lebih banyak jumlahnya daripada pukulan yang dijatuhkannya kepada Matahachi. Sebentar kemudian darah mulai mengalir dari keningnya.

Matahachi merasa berkewajiban mencegahnya menyiksa diri lebih lanjut. "Hai! katanya, "Hentikan! Apa-apaan kamu ini."

"Biarkan aku sendiri," pinta si pendeta.

"Tapi ada apa kau ini?"

"Tak ada apa-apa."

"Pasti ada. Apa kau sakit?"

"Tidak."

"Kalau begitu apa?"

"Aku muak dengan diriku. Aku mau memukul badanku yang jahat ini sampai mati dan menyuruh burung-burung gagak memakannya, tapi tak mau aku mati seperti orang bebal yang bodoh. Aku ingin kuat dan jujur seperti orang lain, sebelum aku membuang daging ini. Kehilangan kendali diri telah membuat diriku marah. Kupikir kau dapat menamakan ini penyakit."



Karena merasa kasihan kepadanya, Matahachi memungut uang yang jatuh itu dan mencoba memasukkan sebagian ke tangan si pendeta. "Sebagian karena kesalahanku," katanya dengan nada minta maaf. "Kuberikan ini padamu, dan barangkali kamu akan memaafkan aku."



"Aku tak ingin!" teriak pendeta sambil cepat menarik tangannya. "Aku tak perlu uang. Aku tak perlu uang, kataku!" Meskipun sebelum itu telah meledak kemarahannya gara-gara secuil bubur nasi, sekarang ia pandang uang itu dengan penuh kejijikan. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan hebat, ia membalikkan badan dan masih terus berlutut.

"Aneh juga kau ini," kata Matahachi.

"Kukira tidak."

"Tapi kau berbuat aneh."

"Tak usahlah kamu kuatir."

"Kau rupanya dari provinsi barat, ya? Kentara dari tekanan katamu."

"Kukira begitu. Aku lahir di Himeji."

"Betul? Aku dari sana juga—Mimasaka."

"Mimasaka?" ulang si pendeta sambil menatap Matahachi. "Di mana di Mimasaka? "

"Kampung Yoshino. Tepatnya Miyamoto."

Orang tua itu tampak santai. Sambil menundukkan diri di beranda, katanya tenang, "Miyamoto? Oh, itu nama yang membawa kenang-kenangan. Pernah aku bertugas jaga di Benteng Hinagura. Aku kenal betul daerah itu."

"Kalau begitu, Anda pernah jadi samurai di tanah perdikan Himeji?"

"Ya. Kukira sekarang tampangku sudah tak pantas lagi, tapi waktu itu aku menjadi semacam prajurit. Namaku Aoki Tan..."

Sampai di situ mendadak ia berhenti, kemudian tiba-tiba pula melanjutkan. "Ah, itu tidak betul. Aku cuma mengarang-ngarang. Lupakan bahwa aku pernah mengatakan sesuatu." Ia berdiri, katanya, "Aku akan pergi ke kota, main shakuhachi, dan mencari sesuap nasi." Sampai di situ ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ladang miskantus.



Sesudah orang tua itu pergi, mulailah Matahachi berpikir-pikir, apakah benar sikapnya menawarkan uang yang berasal dari pundi-pundi samurai yang telah mati kepada pendeta itu? Tapi segera kemudian ia sudah dapat memecahkan dilema itu dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa mungkin tak ada salahnya meminjam uang itu sedikit, asalkan tidak banyak. "Kalau kusampaikan uang itu ke rumah orang yang mati itu seperti dimintanya," demikian pikirnya, "aku pasti membutuhkan biaya, dan pilihan apa lagi yang ada padaku, kalau bukan mengambilnya dari kantong yang kubawa ini?" Sikap membenarkan diri sendiri yang sederhana itu demikian menyenangkan, hingga semenjak hari itu mulailah ia menggunakan uang itu sedikit demi sedikit.



Tinggallah kini persoalan surat keterangan Sasaki Kojiro. Orang itu agaknya ronin, tapi tak mungkinkah misalnya ia bekerja pada seorang daimyo? Matahachi tidak menemukan jawaban atas soal dari manakah asal orang itu. Karena itu pula ia tak tahu ke mana harus membawa surat itu. Satu-satunya harapan, demikian diputuskannya, adalah menemukan guru pedang Kanemaki Jisai, yang pasti tahu segala sesuatu tentang Sasaki.



Dalam perjalanan dari Fushimi ke Osaka, di tiap warung teh, rumah makan, dan rumah penginapan, Matahachi bertanya apakah ada yang mengetahui tentang Jisai. Semua jawaban yang diperolehnya negatif. Bahkan tambahan keterangan bahwa Jisai murid yang diakui Toda Seigen tidak mendatangkan tanggapan.

Akhirnya seorang samurai yang kebetulan dikenalnya di jalan memberikan titik terang. "Saya pernah mendengar tentang Jisai, tapi kalau dia masih hidup, pasti dia sudah sangat tua. Ada yang bilang dia pergi ke timur dan menjadi pertapa di sebuah desa di Kozuke atau di tempat lain lagi. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang dia, Anda mesti pergi ke Puri Osaka dan bicara dengan orang yang namanya Tomita Mondonosho."



Mondonosho agaknya salah seorang guru Hideyori dalam seni perang, dan orang yang memberikan keterangan kepada Matahachi merasa cukup yakin bahwa orang itu keluarga yang sama dengan Seigen.

Walaupun kecewa karena tidak terangnya petunjuk yang pertama didapatnya itu, Matahachi memutuskan untuk mengikutinya. Setibanya di Osaka, ia menyewa kamar di sebuah rumah penginapan murah di salah satu jalan ramai, dan segera sesudah beres ia bertanya pada pemilik rumah penginapan, apakah orang itu tahu orang yang bernama Tomita Mondonosho di Puri Osaka.



"Ya, saya sudah pernah mendengar nama itu," jawab pemilik rumah penginapan. "Saya percaya dia cucu Toda Seigen. Dia bukan instruktur pribadi Yang Dipertuan Hideyori, tapi dia memang mengajarkan ilmu pedang pada sejumlah samurai di puri itu. Atau setidaknya pernah mengajarkannya. Saya pikir, boleh jadi dia sudah kembali ke Echizen beberapa tahun yang lalu. Ya, itulah yang dia lakukan.

"Anda bisa pergi ke Echizen dan mencari dia di sana, tapi tidak ada jaminan apakah dia masih ada di sana. Daripada mengadakan perjalanan begitu jauh hanya berpegangan dugaan, apa tidak lebih mudah menjumpai Ito Ittosai? Saya agak yakin dia mempelajari Gaya Chujo pada Jisai, sebelum mengembangkan gaya sendiri."

Saran pemilik rumah penginapan itu tampaknya masuk akal, tapi ketika Matahachi mulai mencari Ittosai, ia menemukan dirinya berada di jalan buntu lain lagi. Sejauh yang dapat diketahuinya, orang itu sampai baru-baru ini masih tinggal di sebuah gubuk kecil di Shirakawa di sebelah timur Kyoto, tapi sekarang sudah tidak tinggal lagi di sana, dan beberapa waktu lamanya sudah tidak kelihatan lagi di Kyoto atau Osaka.

Tak lama kemudian tekad Matahachi pun merosot, dan ia bermaksud meninggalkan seluruh urusan itu. Kesibukan dan kegairahan kota itu menyulut kembali ambisinya dan menggelitik jiwa mudanya. Di sebuah kota yang terbuka lebar seperti ini, kenapa pula ia menghabiskan waktu dengan mencari keluarga orang mati? Banyak hal dapat dilakukan di sini. Orang mencari para pemuda seperti dirinya. Di Puri Fushimi, para pejabat secara tulus-ikhlas melaksanakan kebijaksanaan pemerintah Tokugawa. Namun di sini para jenderal yang menguasai Puri Osaka mencari ronin untuk dijadikan tentara. Tentu saja tidak secara terang-terangan, namun cukup terbuka, hingga sudah umum diketahui ronin lebih diterima dan dapat hidup lebih baik di sini daripada di kota puri mana pun di negeri ini.



Desas-desus sembarangan beredar di antara penduduk kota. Dikatakan misalnya, Hideyori diam-diam menyediakan dana untuk para daimyo pelarian seperti Goto Matabei, Sanada Yukimura, Akashi Kamon, dan bahkan Chosokabe Morichika yang berbahaya, yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan sempit di luar kota.

Sekalipun masih muda, Chosokabe telah mencukur kepalanya seperti pendeta Budha dan mengubah namanya menjadi Ichimusai "Manusia dengan impian tunggal". Ini suatu pernyataan bahwa peristiwa dunia yang mengambang ini tidak lagi menjadi perhatiannya, dan secara pura-pura ia menghabiskan waktu dengan tingkah laku sembrono yang perlente. Namun umum diketahui bahwa ada tujuh atau delapan ratus ronin bekerja padanya, semuanya teguh dalam keyakinan bahwa apabila tiba saatnva, ia akan bangkit membela nama baik mendiang Hideyoshi yang pernah bersikap dermawan kepadanya. Didesas-desuskan bahwa biaya hidupnya, termasuk gaji untuk para ronin-nya, semua keluar dari kantong pribadi Hideyori.



Dua bulan lamanya Matahachi berkeliaran di Osaka, dan makin lama ia makin yakin bahwa inilah tempat baginya. Di sinilah ia akan meraih kesempatan menuju sukses. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun ia merasa seberani dan setak-kenal-takut seperti ketika berangkat perang dulu. la merasa sehat dan hidup kembali, tak gentar oleh semakin menipisnya uang samurai yang sudah mati itu, karena ia percaya bahwa akhirnya nasib baik telah beralih kepadanya. Setiap hari baru adalah kebahagiaan, kegembiraan. Ia yakin bahwa ia akan terantuk pada sebuah batu dan muncul bertimbun uang. Keberuntungan sedang mencarinya.

Pakaian baru! Itulah yang dia perlukan. Ia pun membeli pakaian lengkap yang baru, dan dengan hati-hati memilih bahan yang cocok untuk cuaca di musim dingin yang sudah mendekat. Kemudian, karena menurut anggapannya hidup di sebuah rumah penginapan terlampau mahal, ia menyewa sebuah kamar kecil milik seorang tukang sadel di sekitar Parit Junkei dan mulai makan di luar. Ia melihat apa yang ingin dilihatnya, dan pulang apabila ingin pulang. Sering ia pergi sepanjang malam, apabila semangat menghendakinya. Sambil hidup bersenang-senang, ia terus mencari seorang teman, seorang penghubung yang akan mengantarkannya ke kedudukan dengan gaji besar pada seorang daimyo besar.



Sebetulnya Matahachi perlu mengendalikan diri untuk tetap hidup dalam batas-batas kemampuannya. Tetapi ia merasa sudah berlaku lebih baik daripada kapan pun sebelumnya. Berulang-ulang ia merasa tergugah oleh cerita tentang samurai ini atau itu yang belum lama masih menyeret kotoran dari wilayah pembangunan, namun sekarang sudah tampak mengendarai kuda dengan megahnya, melintasi kota bersama dua puluh pegawai dan seekor kuda cadangan.



Pada waktu lain ia merasakan sisa-sisa patah had yang dialaminya. "Dunia ini dinding batu," demikian pikirnya. "Dan batu-batu itu sudah disusun demikian rapat, hingga tak ada satu pun celah yang dapat dilewatinya." Namun kekecewaan ini selalu menyingkir. "Apa yang kubicarakan ini? Memang begitulah kelihatannya, kalau kita masih belum mendapat kesempatan. Selamanya sukar masuknya, tapi sekali kutemukan peluang..."



Ketika ia bertanya kepada pembuat sadel apakah ia tahu kedudukan seperti itu, tukang sadel menjawab dengan penuh optimisme, "Kamu muda dan kuat. Kalau kamu mengajukan permohonan di puri, pasti kamu mendapat tempat."



Tetapi menemukan pekerjaan yang tepat tidaklah semudah itu. Bulan terakhir tahun itu Matahachi masih juga menganggur, sedang uangnya tinggal separuh.



Di bawah sinar matahari musim dingin pada bulan yang paling sibuk tahun itu, mengherankan juga gerombolan orang yang berbondong-bondong menelusuri jalan tampak tidak terburu-buru. Di pusat kota ada bidangbidang tanah kosong, dan pagi-pagi benar rumput di situ putih oleh embun beku. Semakin siang jalan-jalan semakin berlumpur, dan suasana musim dingin terusir oleh suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya diiringi suara gong bertalu-talu dan genderang berdentumdentum. Tujuh atau delapan kios yang dikelilingi tikar jerami lusuh, untuk mencegah orang luar menengok ke dalam, berusaha memikat orang banyak dengan bendera-bendera kertas dan lembing yang dihias aneka warna bulu untuk mereklamekan pertunjukan yang sedang diadakan di dalam. Tukang-tukang teriak berlomba dengan suara lantang memikat orang lewat yang iseng untuk memasuki teater mereka yang rapuh.



Bau kecap murah mengambang di udara. Lelaki-lelaki dengan kaki berbulu dan mulut penuh makanan meringkik seperti kuda di toko-toko, dan waktu senja wanita-wanita berbaju lengan panjang dan berbedak tersenyum-senyum tolol seperti biri-biri, berjalan bergerombol-gerombol sambil mengunyah penganan kacang panggang.



Pada suatu petang terjadi perkelahian antara para pembeli sebuah warung sake yang menempatkan beberapa bangku di tepi jalan. Belum lagi dapat dikatakan siapa yang menang, orang-orang yang berkelahi itu sudah balik kanan dan angkat kaki, meninggalkan jejak tetesan darah.



"Terima kasih, Tuan," kata penjual sake kepada Matahachi. Berkat penampilan Matahachi yang menyilaukan, orang-orang kota yang sedang berkelahi itu melarikan diri. "Kalau Tuan tak ada di sini, pasti mereka sudah bikin pecah semua pinggan saya." Orang itu membungkuk beberapa kali, kemudian menghidangkan satu guci sake lagi pada Matahachi. Me­nurutnya sake itu sudah dihangatkan sampai pada suhu yang tepat. Ia menghidangkan juga sejumlah makanan kecil sebagai tanda penghargaan.

Matahachi merasa puas dengan dirinya. Percekcokan meletus antara dua pekerja, dan ketika ia memandang marah kepada mereka dan mengancam akan membunuh keduanya kalau mereka menimbulkan kerusuhan di kios itu, mereka melarikan diri.

"Banyak sekali orang sekitar sini, ya?" ucapnya bersahabat.

"Ini akhir tahun, Tuan. Mereka tinggal sebentar di sini, kemudian pergi lagi. Tapi ada saja yang datang lagi." 

"Bagus sekali cuaca bertahan begini."

Wajah Matahachi merah oleh minuman. Ketika mengangkat mangkuk, ingatlah ia akan sumpahnya untuk berhenti minum sebelum ia pergi bekerja di Fushimi, dan samar-samar sadarlah ia betapa ia mulai minum lagi. "Ah, tapi apa salahnya?" pikirnya. "Kalau orang lelaki tak boleh minum sekali-sekali..."

"Satu lagi, kawan," katanya keras.

Orang yang duduk diam di bangku di samping Matahachi juga seorang ronin. Pedangnya yang panjang dan pendek tampak mengesankan. Orangorang kota cenderung menyingkir, sekalipun ia tidak mengenakan jubah penutup kimono; sekitar leher kimono itu sangat kotor.

"Hei, bawakan juga aku satu, dan cepat!" serunya. Sambil mengganjalkan kaki kanan ke lutut kirinya, ia memperhatikan Matahachi dari bawah ke atas. Ketika matanya sampai pada wajah Matahachi, ia pun tersenyum, katanya, "Halo."

"Halo," kata Matahachi. "Boleh coba ini punyaku, sementara menunggu punyamu dihangatkan."

"Terima kasih," kata orang itu sambil mengangkat mangkuk. "Sungguh memalu-kan menjadi pemabuk, ya? Kulihat kamu duduk di sini menghadapi sake. Bau harumnya mengambang di udara dan menarik-narikku kemari, sepertinya lengan bajuku ini yang ditariknya." Ia mengosongkan isi mangkuknva sekali teguk.

Matahachi suka melihat gayanya. Orang itu kelihatan bersahabat, dan ada sesuatu yang memikat dalam dirinya. Ia biasa minum juga. Beberapa menit kemudian ia sudah menenggak lima guci, sedangkan Matahachi baru menghabiskan satu guci. Dan orang itu masih juga sadar.

"Berapa banyak biasanya kau minum?" tanya Matahachi.

"Ah, tak tahulah aku," jawab orang itu asal saja. "Sepuluh atau dua belas guci, kalau sedang mau."

Akhirnya mulailah mereka bicara tentang situasi politik, dan sebentar kemudian ronin itu mengangkat bahu, dan katanya, "Siapa pula Ieyasu itu? Omong kosong saja kalau dia bisa mengabaikan tuntutan Hideyori dan ke sana kemari menyebut dirinya 'Maharaja Agung'. Tanpa Honda Masazumi dan beberapa pendukung lamanya yang lain, apanya yang tinggal? Cuma darah dingin, kelicikan, dan sedikit saja kemampuan politik—maksudku yang dipunyainya itu cuma bakat politik tertentu, yang biasanya tak ada pada orang-orang militer.

"Secara pribadi aku mengharap Ishida Mitsunari yang menang di Sekigahara, tapi dia terlalu berjiwa besar untuk mengorganisir para daimyo, sedangkan statusnya tidak cukup tinggi." Sesudah menyatakan penilaiannya itu, tiba-tiba la bertanya, "Kalau nanti Osaka bentrok dengan Edo lagi, pihak mana yang akan kaupilih?"

Disertai sikap ragu-ragu, Matahachi menjawab, "Osaka."

"Bagus!" Orang itu berdiri memegang guci sake. "Engkau seorang dari kami. Mari kita minum! Dari daerah mana... oh, tapi kukira tak boleh aku menanyakan itu, sebelum aku memberitahukan siapa diriku. Namaku Akakabe Yasoma. Aku dari Gamo. Barangkali kau pernah mendengar tentang Ban Dan'emon? Aku sahabatnya. Kami akan berkumpul lagi harihari ini. Aku juga teman Susukida Hayato Kanesuke, jenderal ternama dari Puri Osaka. Kami pernah mengadakan perjalanan bersama ketika dia masih menjadi ronin. Aku juga pernah bertemu dengan Ono Shurinosuke tiga atau empat kali, tapi menurutku dia terlalu murung, walaupun dia memang memiliki lebih banyak pengaruh politik daripada Kanesuke."

Ia mundur, diam sebentar, karena agaknya menimbang kembali apakah ia berbicara terlalu banyak, kemudian tanyanya, "Kau sendiri siapa?"

Matahachi memang tidak mempercayai segala yang dikatakan orang itu, namun ia merasa bahwa untuk sementara ia dipaksa kalah pengaruh.

"Apa kau tahu Toda Seigen?" tanyanya. "Orang yang menemukan Gaya Tomita?"

"Aku pernah mendengar nama itu."

"Nah, guruku pertapa Kanemaki Jisai yang agung dan tak mementingkan diri sendiri, yang telah menerima Gaya Tomita sejati dari Seigen dan kemudian mengem-bangkan Gaya Chujo."

"Kalau begitu, kau ini tentunya pemain pedang tulen."

"Betul," jawab Matahachi. Dan ia mulai menikmati permainan itu.

"Percaya tidak," kata Yasoma, "sebetulnya aku sudah dari tadi menyangka begitu. Tubuhmu tampak terdisiplin, dan terasa ada kemampuan padamu. Siapa namamu waktu kau mendapat latihan di bawah pimpinan Jisai? Maksudku, kalau pantas aku menanyakan hal ini."

"Namaku Sasaki Kojiro," kata Matahachi dengan wajah sungguh-sungguh. "Ito Yagoro, pencipta Gaya Itto, adalah murid senior dari sekolah yang sama itu."

"Apa betul begitu?" kata Yasoma heran.

Untuk sesaat yang penuh kegelisahan, Matahachi terpikir akan menarik kembali segala keterangannya itu, tapi sudah terlambat. Yasoma sudah berlutut di tanah dan membungkuk dalam. Tak ada lagi jalan kembali.

"Maafkan saya," katanya beberapa kali. "Saya sudah sering mendengar Sasaki Kojiro pemain pedang yang baik sekali, dan saya harus minta maaf karena tadi tidak berbicara lebih sopan. Tapi saya memang tak bisa tahu tadi, siapa sesungguhnya Anda."

Matahachi lega luar biasa. Sekiranya Yasoma kebetulan teman atau kenalan Kojiro, ia terpaksa berkelahi demi hidupnya.

"Tak perlu engkau membungkuk seperti itu," kata Matahachi dengan murah hati. "Kalau kau berkeras mengambil sikap resmi, tak akan dapat kita bicara sebagai teman."

"Tapi Anda tentunya tersinggung oleh bualan saya tadi itu."

"Kenapa? Aku tak punya status dan kedudukan khusus. Aku cuma pemuda yang tak banyak kenal dengan dunia ini."

"Ya, tapi Anda pemain pedang besar. Sudah banyak kali saya mendengar nama Anda. Sekarang, sesudah saya pikirkan lagi, jelaslah buat saya, Andalah Sasaki Kojiro." Ia memandang Matahachi baik-baik. "Tapi saya pikir tidak betul kalau Anda tak punya kedudukan resmi."



Matahachi menjawab polos, "Yah, aku telah membaktikan diriku dengan tulus ikhlas kepada pedangku, hingga tak banyak waktuku untuk bersahabat dengan orang banyak."



"Oh, begitu. Apakah itu berarti Anda tidak berminat menemukan kedudukan yang baik?"

"Tidak, aku selalu berpikir bahwa pada suatu hari aku akan terpaksa mencari seorang tuan untuk kuabdi. Tapi sekarang belum sampai aku pada ritik itu."



"Oh, soal itu gampang sekali. Anda punya nama baik yang didukung pedang, dan itulah yang membuat Anda berbeda. Tentu saja, kalau Anda tetap diam, berapa banyak pun bakat yang Anda punyai, tak seorang pun akan mencari Anda. Cobalah pikir, saya bahkan tak tahu siapa Anda, sebelum Anda menyatakan pada saya. Saya betul-betul terkejut."



Yasoma berhenti, kemudian katanya, "Sekiranya Anda menghendaki saya membantu, saya akan senang melakukannya. Terus terang, saya sudah minta teman saya, Susukida Kanesuke, mencarikan kedudukan buat saya juga. Saya ingin dimasukkan Puri Osaka, biarpun barangkali gajinya tidak banyak. Saya yakin Kanesuke akan senang merekomendasikan orang seperti Anda kepada pihak berwenang di sana. Kalau Anda suka, dengan senang hati saya akan bicara dengannya."



Sementara Yasoma bertambah gembira dengan prospek-prospek yang dihadapinya, Matahachi sendiri tak dapat menghindari perasaan bahwa ia telah tercebur langsung ke dalam suatu kancah, dan tidak akan mudah ia keluar dari sana. Ia memang ingin sekali mendapat pekerjaan, tapi ia takut membuat kesalahan kalau membawakan diri sebagal Sasaki Kojiro. Sebaliknya, kalau ia mengatakan bahwa ia Hon'iden Matahachi, seorang samurai kampungan dari Mimasaka, Yasoma tak akan menawarkan bantuan kepadanya. Barangkali Yasoma akan memandang rendah kepadanya. Tak bisa dihindari nama Sasaki Kojiro telah menimbulkan kesan kuat.

Tapi.... adakah sesuatu yang benar-benar perlu dikuatirkan? Kojiro yang sebenarnya sudah mati, dan Matahachi satu-satunya orang yang mengetahui hal itu, karena ia yang menyimpan surat keterangan yang merupakan satu-satunva pengenal orang yang telah mati itu. Tanpa surat keterangan itu tidak ada jalan bagi penguasa untuk mengetahui siapakah si ronin itu. Dan kecil kemungkinan mereka akan bersusah payah melakukan penyelidikan. Lagi pula, siapakah orang itu, kalau bukan seorang "mata-mata" yang telah dilempari batu sampai matt? Maka, sementara Matahachi sedikit-sedikit meyakinkan dirinya bahwa rahasianya itu tidak akan diketahui orang, terbentuklah dengan pasti rencana berani dalam kepalanya: ia akan menjadi Sasaki Kojiro. Semenjak saat ini.



"Mana rekeningnya," serunya sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari pundi-pundinya.

Matahachi bangkit akan meninggalkan tempat itu, dan Yasoma jadi bingung, ujarnya, "Bagaimana dengan usul saya itu?"



"Oh," jawab Matahachi, "aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau bicara dengan temanmu itu atas namaku, tapi kita tak dapat membicarakan soal macam itu di sini. Mari kita pergi ke tempat lain yang tenang, di mana kita dapat tinggal berdua saja."

"Oh, tentu, tentu," kata Yasoma yang kelihatan lega sekali. Agaknya menurutnya wajar sekali, kalau Matahachi membayar rekeningnya juga.



Segera kemudian mereka sudah berada di sebuah daerah lain, beberapa jauh dari jalan-jalan utama itu.

Matahachi semula bermaksud membawa teman yang baru ditemukannya itu ke sebuah tempat minum yang mentereng, tapi Yasoma menyarankan untuk pergi ke tempat lain yang lebih murah dan lebih menarik. Sambil menyanyikan puji-pujian pada daerah lampu merah, ia membawa Matahachi ke daerah yang supaya enak disebut Kota Pendeta Wanita. Kata orang, dan ini cuma sedikit saja dibesar-besarkan, di sana terdapat seribu rumah hiburan dengan perdagangan yang demikian berkembang, hingga dalam satu malam saja dihabiskan seratus barel minyak lampu. Matahachi semula sedikit enggan, tapi segera ia tertarik oleh kegembiraan suasana di situ.



Tidak jauh dari sana terdapat parit kuil yang biasa dialiri air banjiran dari teluk. Kalau orang memperhatikan dengan saksama, terlihat kutu ikan dan kepiting sungai yang merayap ke sana kemari di bawah jendela-jendela menonjol dan lentera-lentera merah. Matahachi memang memperhatikan baik-baik, dan akhirnya ia pun merasa sedikit kurang enak, karena keduanya itu mengingatkannya pada kalajengking pembawa maut.



Daerah itu sebagian besar dihuni oleh perempuan yang tebal pupurnya. Di antara mereka sekali-sekali memang tampak wajah yang manis, tapi yang terbanyak kelihatan sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. Perempuan­perempuan ini biasa mengarungi jalan-jalan, yang meskipun dengan mata muram, kepala terbungkus kain penolak dingin, dan gigi yang sudah hitam, tetap mencoba dengan lesunya menggelitik hati lelaki yang berkumpul di sana.

"Banyak juga mereka," kata Matahachi mengeluh.

"Sudah saya katakan tadi," jawab Yasoma, bersusah payah membela para wanita itu. "Dan mereka ini lebih baik daripada pelayan warung teh atau gadis penyanyi di rumah sebelah yang kemungkinan mengawani Anda.

Orang cenderung menolak gagasan tentang penjualan seks, tapi kalau kita lewatkan satu malam di musim dingin dengan seorang dari mereka dan bicara dengannya tentang keluarganya dan sebagainya, kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa dia sama seperti wanita lain. Dan mereka tak dapat betul-betul dipersalahkan karena sudah menjadi sundal.

"Sebagian dari mereka pernah menjadi gundik shogun, dan banyak di antaranya yang ayahnya pernah menjadi pegawai daimyo yang sudah kehilangan kekuasaan. Ini terjadi pada abad-abad ketika Taira jatuh ke tangan Minamoto. Jadi, Anda akan melihat bahwa di dalam selokan dunia yang mengambang ini, banyak di antara sampah itu terdiri atas bunga-bunga yang sudah gugur."

Mereka masuk sebuah rumah, dan Matahachi menyerahkan segalanya kepada Yasoma yang kelihatannya berpengalaman. Ia tahu bagaimana memesan sake dan menghadapi gadis-gadis. Ia betul-betul tanpa cela. Matahachi merasa pengalaman itu sangat menyenang-kan.



Mereka menginap di sana, namun pada tengah hari berikutnya Yasoma belum juga memperlihatkan kelelahan. Matahachi merasa dalam batas-batas tertentu ia telah mendapat ganti dari perlakuan terhadapnya ketika ia digusur ke kamar belakang di Yomogi itu. Tetapi ia mulai merasa lunglai.

Akhirnya ia mengaku sudah cukup banyak minum. Katanya, "Aku tak mau lagi minum. Ayo kita pergi."

Tapi Yasoma tak hendak pergi. "Tinggallah dengan saya sampai malam," katanya.

"Ada apa?"



"Saya punya janji menemui Susukida Kanesuke. Terlalu pagi sekarang ini, kalau kita pergi ke rumahnya, dan lagi tak bisa saya membicarakan keadaan Anda sebelum saya mendapat gagasan yang lebih baik tentang apa yang Anda kehendaki."



"Aku tak akan minta upah terlalu besar sebagai permulaan."

"Tak ada alasan menjual diri terlalu murah bagi Anda. Seorang samurai sekaliber Anda ini dapat menerima jumlah berapa saja yang Anda sebut. Kalau Anda mengatakan bersedia menerima kedudukan seperti dulu, berarti Anda merendahkan diri sendiri. Bagaimana kalau saya katakan kepadanya bahwa Anda menginginkan upah dua ribu lima ratus gantang? Seorang samurai yang yakin dirinya baik, selalu dibayar dan diperlakukan lebih baik. Anda tak boleh memberikan kesan bahwa Anda puas dengan jumlah berapapun."



Sementara malam datang, jalan-jalan yang terletak di dalam bayangan besar Puri Osaka itu cepat menjadi gelap. Sesudah meninggalkan bordil itu, Matahachi dan Yasoma pergi melintasi kota, menuju salah satu wilayah pemukiman samurai yang lebih eksklusif. Mereka berdiri membelakangi parit, sementara angin dingin terusir akibat sake yang telah mereka masukkan he dalam tubuh sepanjang hari itu.

"Di sana rumah Susukida," kata Yasoma.

"Yang gerbangnya pakai atap kurung itu?"

"Bukan, rumah sudut di sampingnya itu."

"Hmm, besar, ya?"

"Kanesuke sudah dapat nama. Sebelum umur sekitar tiga puluh, tak seorang pun pernah mendengar tentangnya, tapi sekarang..."

Matahachi berpura-pura tidak mencurahkan perhatian pada apa yang dikatakan Yasoma. Bukannya ia tidak percaya. Sebaliknya, ia sudah demikian bulat mempercayai Yasoma, hingga ia tidak lagi mengajukan pertanyaan tentang apa yang dikatakan orang itu. Namun ia merasa harus tetap acuh tak acuh. Sementara memandang rumah-rumah semayam para daimyo yang mengitari purl besar itu, semangat mudanya yang mentah berkata, "Aku pun akan tinggal di tempat seperti itu—tak lama lagi."

"Sekarang," kata Yasoma, "saya akan bertemu dengan Kanesuke dan bicara dengannya supaya dia mempekerjakan Anda. Tapi sebelum itu, bagaimana dengan soal uang?"



"Oh, tentu," kata Matahachi, sadar bahwa suap memang umum. Ketika mengeluarkan pundi-pundi dari dadanya, tahulah ia bahwa isinya sudah susut sampai sekitar sepertiga dari jumlah semula. Sambil mengeluarkan seluruh isinya, ia berkata, "Hanya ini yang kupunyai. Apa ini cukup?"

"Oh, tentu, cukup sekali."

"Apa tak perlu kau membungkusnya?"

"Tidak, tidak. Kanesuke bukan satu-satunya orang di tempat ini yang menerima bayaran karena mencarikan kedudukan untuk seseorang. Semua orang melakukannya, dan sangat terbuka. Tak perlu malu."

Matahachi mengambil kembali sebagian kecil dari uang tunai itu, tapi sesudah menyerahkan selebihnya, mulailah ia merasa tidak tenang. Ketika Yasoma pergi, ia mengikuti beberapa langkah. "Usahakan sebaik-baiknya," mohonnya.



"Jangan kuatir. Kalau kelihatannya ada kesulitan, saya cuma harus menyimpan kembali uang ini dan mengembalikannya pada Anda. Dia bukan satu-satunya orang berpengaruh di Osaka. Dengan mudah saya dapat minta bantuan pada Ono atau Goto. Saya punya banyak koneksi."

"Kapan aku mendapat jawaban?"

"Kita lihat nanti. Anda bisa menanti saya, tapi tentunya Anda tak hendak berdiri berangin-angin di sini, kan? Nanti orang-orang bisa curiga Anda akan melakukan sesuatu yang buruk. Mari kita ketemu lagi besok."

"Di mana?"

"Datanglah ke tempat kosong, tempat orang mengadakan pertunjukan-pertunjukan tambahan itu."

"Baik."

"Yang paling baik kalau Anda menanti di warung sake tempat kita pertama kali bertemu."

Sesudah menetapkan waktu pertemuan, Yasoma melambaikan tangan dan berjalan gagah melintasi gerbang rumah persemayaman itu sambil mengayunkan bahunya, tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. Karena sudah terkesan, Matahachi merasa Yasoma tentunya sudah mengenal Kanesuke semenjak zaman ia kurang makmur. Keyakinan betul-betul sudah melingkupinya. Malam itu ia bermimpi tentang masa depannya yang menyenangkan.



Pada waktu yang ditentukan, Matahachi berjalan melintasi udara beku yang sedang mencair di tempat terbuka itu. Seperti hari sebelumnya, angin terasa dingin dan banyak orang di sana. Ia menanti sampai matahari terbenam, tapi tak melihat tanda-tanda Akakabe Yasoma.

Hari sesudahnya Matahachi pergi lagi ke sana. "Tentunya ada yang menahannya," pikirnya bermurah hati, sambil menatap wajah orang banyak berlalu. "Dia pasti datang hari ini." Tapi sekali lagi matahari tenggelam. Yasoma tetap tak tampak.

Hari ketiga, Matahachi mengatakan pada si penjual sake dengan agak malu, "Saya di sini lagi."

'Anda menanti seseorang?"

"Ya, saya berjanji bertemu dengan orang yang namanya Akakabe Yasoma. Saya jumpa dengan dia hari itu." Matahachi lalu menjelaskan keadaannya sejelas-jelasnya.

"Si bajingan itu?" sengal penjual sake. "Jadi, dia mengatakan pada Anda akan mencarikan kedudukan yang baik dan kemudian mencuri uang Anda?"



"Dia bukan mencurinya. Saya berikan uang kepadanya untuk diberikan kepada orang yang namanya Susukida Kanesuke. Saya menunggu dia di sini untuk mengetahui hasilnya."

"Sungguh malang Anda! Anda bisa menunggu seratus tahun, tapi saya berani mengatakan, Anda tak akan melihatnya lagi."

"A-apa? Kenapa Anda berkata begitu?"

"Oh, dia itu bajingan yang terkenal jahat! Daerah ini penuh benalu macam dia. Kalau mereka melihat orang yang tampak sedikit polos, mereka pun menerkamnya. Tadinya saya mau memperingatkan Anda, tapi tak ingin saya ikut campur. Saya pikir Anda akan tahu dari cara dia memandang dan bertindak, macam apa wataknya. Sekarang Anda sudah telanjur kehilangan uang. Sayang sekali!"



Orang itu bersimpati sekali pada Matahachi. Ia mencoba meyakinkan Matahachi bahwa tidak memalukan ditipu pencuri-pencuri yang beroperasi di sana. Namun sesungguhnya bukan rasa malu itu yang mengganggu Matahachi, melainkan kenyataan bahwa uangnya hilang, dan beserta uang itu hilang pula harapan-harapannya yang besar; itulah yang membuat darahnya mendidih. Ia memandang putus asa kepada orang banyak yang bergerak di sekitarnya.



"Saya sangsi apakah akan ada gunanya," kata penjual sake, "tapi Anda bisa mencoba bertanya di sana, di kios tukang sulap. Orang-orang jembel di tempat ini sering berkumpul di belakang sana untuk berjudi. Kalau Yasoma mendapat uang, kemungkinan dia akan mencoba menggandakannya."

"Terima kasih," kata Matahachi sambil melompat bersemangat. "Yang mana kios tukang sulap itu?"

Rumah yang dituding orang itu dikelilingi pagar bambu runcing. Di depan, orang berkaok-kaok untuk menarik pengunjung, dan bendera-bendera yang terpasang di dekat gerbang kayu mengumumkan nama-nama beberapa artis sulap terkenal. Dari balik tirai dan lembar-lembar tikar jerami yang mengitari pagar terdengar bunyi musik aneh bercampur suara para tukang sulap yang keras dan cepat, serta tepuk tangan para penonton.



Matahachi berjalan menikung ke belakang, dan di sana menemukan gerbang lain. Ketika ia melongok ke dalam, seorang pengintai bertanya kepadanya, "Anda kemari mau berjudi?"

Ia mengangguk, dan orang itu membiarkannya masuk. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dikelilingi tenda, tapi terbuka atapnya.

Sekitar dua puluh orang yang semuanya dari jenis tak pernah puas, duduk melingkar bermain. Semua mata menoleh kepada Matahachi, dan satu orang diam-diam menyedia-kan ruang kepadanya untuk duduk.

"Apa Akakabe Yasoma ada di sini?" tanya Matahachi.

"Yasoma?" ulang seorang penjudi dengan nada heran. "Aku jadi sadar, dia tidak di sini akhir-akhir ini. Kenapa?"

"Apa menurut Anda dia akan datang?"

"Mana aku tahu? Silakan duduk, dan main."

"Saya datang bukan untuk main."

"Apa kerjamu di sini kalau tak mau main?"

"Aku mencari Yasoma. Maaf mengganggu."

"Kenapa tak mau cari di tempat lain lagi?"

"Aku sudah minta maaf tadi," kata Matahachi sambil lekas-lekas keluar.

"Berhenti!" perintah seorang dari para penjudi seraya berdiri dan meng-ikutinya. "Tak bisa kamu pergi hanya dengan bilang minta maaf. Biar kamu tidak main, kamu mesti bayar buat tempat duduk."

"Aku tak punya uang."

"Tak ada uang! Begitu, ya? Jadi, cuma tunggu kesempatan menyikat uang, ya? Pencuri terkutuk."

"Aku bukan pencuri! Tak boleh kamu menyebut begitu!" Matahachi mendorongkan gagang pedangnya ke depan, tapi perbuatan itu hanya membuat girang si penjudi.

"Goblok!" salaknya. "Kalau ancaman dari orang-orang macam kau bisa bikin aku takut, tak mungkin aku tinggal hidup di Osaka sehari saja. Gunakan pedangmu kalau kau berani!"

"Kuperingatkan kau, aku bicara sungguh-sungguh!"

"Oh, kau bicara sungguh-sungguh, ya?"

"Apa kau tahu siapa aku?"

"Kenapa pula mesti tahu?"

"Aku Sasaki Kojiro, pengganti Toda Seigen dari Kampung Jokyoji di Echizen. Dia yang menciptakan Gaya Tomita." Matahachi menyatakan hal itu dengan penuh kebanggaan, dan menduga bahwa pengumuman itu saja akan membuat orang melarikan diri. Tapi ternyata tidak. Penjudi itu meludah dan kembali masuk kalangan.

"Hei, dengar kalian semua! Orang ini baru saja menyebut dirinya dengan nama yang hebat. Kelihatannya mau mencabut pedang lawan kita. Mari kita lihat kecakapannya main pedang. Mestinya menyenangkan juga."

Melihat orang itu sedang lengah, Matahachi tiba-tiba menarik pedangnya, menyabetkannya melintang pantatnya.

Orang itu melompat tegak ke udara. "Anak anjing!" jeritnya.

Matahachi menyelam ke tengah orang banyak. Dengan jalan menyuruk aari kawanan orang satu ke kawanan lain ia bisa bersembunyi, tapi setiap muka yang dilihatnya tampak sebagai muka salah seorang penjudi. Karena menurut pendapatnya ia tidak dapat menyembunyikan diri selamanya seperti itu, maka ia menoleh ke sekitar untuk mencari tempat berlindung yang lebih mantap.



Tepat di depannya tergantung tirai bergambar macan besar pada pagar aambunya. Pada pintu gerbang terdapat juga panji-panji dengan gambar acmbing bercabang dua dan kepala bermata ular, dan seorang tukang teriak berdiri di atas kotak kosong sambil berseru-seru parau, "Saksikan macan! Silakan masuk dan saksikan macan! Adakan perjalanan sejauh seribu mil! Macan ini, saudara-saudara, ditangkap sendiri oleh jenderal besar Kato Kiyomasa di Korea. Jangan lewatkan macan ini!" Seruan yang diucapkannya itu terdengar ingar-bingar, berirama.



Matahachi melontarkan sebentuk mata uang dan langsung menerobos pintu masuk. Karena merasa relatif aman, ia melihat ke sana kemari, mencari binatang itu. Di ujung tenda itu terpentang kulit macan besar, seperti cucian yang sedang dikeringkan pada papan kayu. Para penonton menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka tidak merasa kecewa bahwa makhluk itu ternyata tidak utuh dan tidak pula hidup.

"Jadi, inilah yang dinamakan macan itu," kata satu orang.

"Besar, ya?" kagum yang lain.

Matahachi berdiri agak di sisi kulit macan itu, dan tiba-tiba terpandang olehnya seorang lelaki tua dan seorang perempuan. Mendengar suara percakapan mereka, telinganya pun tegak tak percaya.

"Paman Gon," kata perempuan itu, "macan itu mati, kan?"

Samurai tua itu menjulurkan tangan ke atas pagar bambu dan meraba kulit itu, lalu jawabnya murung, "Tentu saja mati. Ini cuma kulitnya."

"Tapi orang di luar itu bicaranya seolah-olah macan itu masih hidup."

"Itulah barangkali yang namanya tukang bual," kata lelaki itu sambil tertawa kecil.

Osugi tidak gampang saja menerima hal itu. Sambil memonyongkan mulutnya ia memprotes, "Jangan seperti orang tolol! Kalau macan ini bukan macan betulan, tanda di luar mesti mengatakan begitu juga. Kalau yang akan kulihat cuma kulit macan, lebih baik aku melihat gambar. Ayo kita ambil uang kita kembali."

"Jangan bikin ribut, Nek. Orang menertawakan kamu nanti."

"Biar. Aku tak senang. Kalau kau tak mau pergi, aku akan pergi sendiri." Ketika ia mulai berjalan kembali melalui para penonton lain, Matahachi merunduk, tapi terlambat. Paman Gon sudah melihatnya.

"Hei, Matahachi! Kamu, ya?" serunya.

Osugi yang sudah tidak begitu awas matanya itu menggagap, "A-apa katamu, Paman Gon?"

"Apa kau tidak lihat? Matahachi berdiri di belakangmu itu!"

"Tak mungkin!"

"Dia di sana tadi, tapi dia lari."

"Di mana? Ke mana?"

Keduanya berlari keluar dari gerbang kayu, ke tengah orang banyak yang sudah bermandikan cahaya petang berwarna-warni. Matahachi terus bertumbuk-tumbuk orang, tapi selalu dapat membebaskan diri kembali dan berlari terus.

"Tunggu, Nak, tunggu!" teriak Osugi.

Matahachi menoleh ke belakang dan melihat ibunya mengejarnya seperti perempuan gila. Paman Gon pun melambai-lambaikan tangan dengan hebatnya.

"Matahachi!" teriaknya. "Kenapa kau lari? Kau kenapa? Matahachi! Matahachi!"

Karena merasa tak dapat lagi menangkapnya, Osugi menjulurkan lehernya yang keriput itu ke depan, dan dengan sekuat paru-paru ia pun menjerit, "Berhenti, pencuri! Perampok! Tangkap dia!"

Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya mengambil alih pengejaran, dan orang-orang yang di depan segera menyerang Matahachi dengan tongkat bambu.

"Tahan dia di sana!"

"Bajingan!"

"Hajar dulu!"

Orang banyak berhasil mengepung Matahachi, dan beberapa orang malahan sudah meludahinya. Osugi tiba bersama Paman Gon, cepat menguasai keadaan dan balik mendamprat para penyerang Matahachi. Sambil mengusir mereka, ia pegang gagang pedang pendeknya serta menyeringaikan giginya.

"Apa yang kalian lakukan ini?" teriaknya. "Kenapa kalian serang orang ini?"

"Dia pencuri!"

"Dia bukan pencuri! Dia anakku."

"Anakmu?"

"Ya, dia anakku, anak seorang samurai, dan kalian tak punya hak memukulnya. Kalian hanya orang kota kebanyakan. Kalau kalian sentuh dia lagi, akan ku... akan kuhadapi kalian semua!"

"Kau berkelakar, ya? Siapa yang teriak 'pencuri' semenit lalu?"

"Memang aku, itu tak kusangkal. Aku seorang ibu yang setia, dan kupikir, kalau aku berteriak 'pencuri', anakku akan berhenti lari. Tapi siapa yang menyuruh kalian, orang-orang bebal, memukulnya? Itu tak patut!"

Heran melihat perubahan haluan yang sekonyong-konyong ini, orang banvak itu pelan-pelan bubar. Mereka kagum akan keberanian perempuan itu. Osugi mencekal kerah anaknya yang tak patut itu dan menyeretnya ke pekarangan kuil tak jauh dari sana.



Beberapa menit lamanya Paman Gon hanya berdiri memandang dari gerbang kuil itu, tapi kemudian ia mendekati mereka dan katanya, "Nek, jangan perlakukan Matahachi seperti kanak-kanak lagi." Ia mencoba menarik tangan Osugi dari kerah Matahachi, tapi perempuan tua itu menepiskannya dengan kasar.



"Jangan kamu ikut campur! Dia anakku, dan aku akan menghukumnya dengan hukuman yang menurutku cocok, tanpa bantuanmu. Kau diam saja dan urusi urusanmu sendiri!... Matahachi, anak yang tak tahu diuntung... Akan kuperlihatkan padamu!"



Orang mengatakan makin tua seseorang makin sederhana dan makin langsung sikapnya. Melihat tindakan Osugi itu, orang tak bisa berbuat lain daripada menyetujui pendapat itu. Kalau ibu-ibu lain tentunya sudah menangis karena gembira, maka Osugi mendidih darahnya karena berang.

Ia membanting Matahachi ke tanah dan membenturkan kepalanya ke sana. "Gagasan apa itu! Lari dari ibu sendiri! Kau bukan lahir dari selangkangan pohon, orang kampung! Kau anakku!" Dan mulailah ia menampar anaknya, seakan-akan Matahachi masih anak-anak. "Tak terpikir olehku bahwa kau masih hidup, tapi ternyata di Osaka ini kau bergelandangan! Memalukan! Manusia tak tahu malu, manusia sampah.... Kenapa kau tidak pulang menyatakan hormat kepada leluhur sebagaimana mestinya? Kenapa kau tak mau menunjukkan muka, biar cuma sekali, kepada ibumu yang sudah tua? Apa kau tidak tahu, semua sanak keluarga kuatir dengan dirimu?"

"Ibu," mohon Matahachi seperti bayi. "Maafkan aku. Maafkan aku, Bu! Aku minta maaf. Aku tahu yang kulakukan ini salah. Justru karena tahu sudah menelantarkan Ibu, maka tak dapat aku pulang. Aku bukan bermaksud lari dari Ibu. Aku begitu kaget melihat Ibu, dan tanpa pikir lagi aku lari. Aku malu dengan cara hidupku, sampai aku tak dapat menghadapi Ibu dan Paman Gon." Ia menutup wajahnya dengan tangan.



Hidung Osugi mengerut dan ia mulai menangis, tapi hampir seketika itu juga ia menghentikan tangisnya. Terlalu bangga ia akan dirinya untuk memperlihatkan kelemahannya dan ia memperbaharui serangannya. Katanya mengejek, "Kalau kau begitu malu dengan dirimu sendiri dan merasa sudah mempermalukan leluhurmu, tentunya kau sudah berbuat tak baik selama ini.



Karena tak dapat lagi menahan diri, Paman Gon memohon, "Cukuplah itu. Kalau kauteruskan juga, pasti akan rusak tabiat anak ini."

"Sudah kubilang simpan nasihatmu itu untuk diri sendiri. Kau ini lelaki; tak boleh kau bersikap begitu lunak. Sebagai ibunya, aku harus sekeras ayahnya, seandainya dia masih hidup. Aku akan menghukumnya, dan aku belum lagi selesai!... Matahachi! Duduk kamu yang tegak! Pandang mukaku."



Ia duduk resmi di tanah dan menunjuk tempat yang harus diduduki Matahachi.

"Baik, Bu," kata Matahachi menurut. la mengangkat bahunya yang terkena kotoran, dan berlutut. Ia memang takut kepada ibunya. Ibunya dapat kadang-kadang memanjakan, tapi sikapnya yang selalu siap mengungkit persoalan tentang kewajiban terhadap leluhur itu membuat Matahachi tak betah.



"Betul-betul kularang kamu menyembunyikan apa pun," kata Osugi. "Sekarang apa persisnya yang telah kaukerjakan sejak lari ke Sekigahara? Jelaskan dan jangan berhenti sampai aku sudah mendengar semua yang ingin kudengarkan."



"Jangan kuatir, aku takkan menyembunyikan apa pun," Matahachi memulai. Ia sudah kehilangan keinginan untuk melawan. Tepat seperti yang dikatakannya, ia muntahkan seluruh ceritanya sampai sekecil-kecilnya: tentang bagaimana ia meloloskan diri dari Sekigahara, bersembunyi di Ibuki, tersangkut dengan Oko, dan hidup darinya—sekalipun ia membencinyabeberapa tahun lamanya. Juga tentang bagai-mana ia kini menyesali dengan setulus-tulusnya apa yang telah ia lakukan. Semua itu meringankan dirinya, seperti melepas empedu dari dalam perut, dan ia merasa jauh lebih ringan sesudah melakukan pengakuan itu.

"Hmm...," gumam Paman Gon berkali-kali.

Osugi mendecapkan lidahnya, katanya, "Sungguh aku terguncang oleh kelakuan-mu. Dan apa yang kaulakukan sekarang? Kelihatannya kau dapat pakaian bagus. Apa kau sudah mendapat kedudukan yang cukup upahnya?"



"Ya," kata Matahachi. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dahulu, kemudian ia terburu-buru membetulkannya. "Maksudku, tidak, aku tak punya kedudukan."

"Kalau begitu, dari mana kau mendapat uang buat hidup?"

"Pedangku—aku mengajar main pedang." Ada nada kebenaran dalam cara ia mengatakannya dan hal itu menimbulkan akibat yang memang dikehendaki.

"Betul begitu?" tanya Osugi penuh minat. Untuk pertama kali, cahaya kegembiraan muncul pada wajah Osugi. "Main pedang, ya? Tidak heran kalau anakku menyediakan waktu buat menyempurnakan kecakapannya main pedang—meskipun menempuh hidup seperti sekarang ini. Kaudengar, Paman Gon! Biar bagaimana, dia anakku."

Paman Gon mengangguk bersemangat. Ia merasa bersyukur melihat semangat perempuan tua itu naik lagi. "Sudah sewajarnya kalau kita mengetahui ini," katanya. "Itu menunjukkan bahwa dia memang menyimpan darah leluhur Hon'iden dalam nadinya. Tak ada salahnya dia tersesat sebentar. Jelas sekarang, dia punya semangat yang benar!"

"Matahachi," kata Osugi.

"Ya, Bu."

"Di daerah ini, di bawah pimpinan siapa kau belajar ilmu pedang?"

"Kanemaki Jisai."

"Betul? Dia termasyhur." Osugi memperlihatkan wajah bahagia. Karena ingin lebih menggembirakan ibunya lagi, Matahachi mengeluarkan sertifikat dan membuka gulungannya, tapi ia menutup nama Sasaki itu dengan jempolnya.

"Bu, lihat ini," katanya.

"Coba kulihat," kata Osugi. Ia hendak mengambil gulungan itu, tapi Matahachi mencekamnya.

"Bu, lihat, tak perlu Ibu kuatir denganku."

Osugi mengangguk. "Ya, ini betul-betul bagus. Lihat ini, Paman Gon. Apa ini tidak hebat? Aku selamanya berpendapat, juga waktu dia masih bayi, dia lebih cerdas dan lebih mampu daripada Takezo dan anak-anak lelaki lain." Demikian gembira perempuan itu, hingga sementara berbicara ia mulai meludah-ludah.

Tapi justru pada waktu itu tangan Matahachi terpeleset, dan nama pada gulungan itu jadi kelihatan.

"Tunggu sebentar," kata Osugi. "Kenapa 'Sasaki Kojiro'?"

"Oh, itu? Itu nama perang."

"Nama perang? Buat apa kamu memerlukan itu? Apa Hon'iden Matahachi tidak cukup untukmu?"

"Ya, bagus!" jawab Matahachi sesudah berpikir cepat. "Tapi sesudah kutimbang-timbang, kuputuskan untuk tidak menggunakan nama sendiri. Karena masa laluku memalukan, aku takut mengaibkan leluhurku."

"Oh, begitu. Kukira jalan pikiran yang baik. Kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sudah terjadi di kampung, karena itu aku akan bercerita. Sekarang perhatikan. Ini penting."



Osugi dengan bersemangat mulai memberikan uraian tentang peristiwa yang telah terjadi di Miyamoto. Ia memilih kata-kata yang diperhitungkannya dapat memacu Matahachi untuk beraksi. Ia menjelaskan bagaimana Keluarga Hon'iden dihinakan, bagaimana ia dan Paman Gon bertahun-tahun lamanya mencari Otsu dan Takezo. Ia coba untuk bersikap tidak emosional, tapi bagaimanapun terbawa juga ia oleh ceritanya sendiri. Matanya basah dan suaranya menjadi berat.



Matahachi mendengarkan dengan kepala tertunduk, dan ia terpukau oleh gamblangnya cerita ibunya. Pada waktu-waktu seperti ini, ia merasa mudah menjadi anak yang baik dan penurut. Tapi kalau yang menjadi perhatian utama ibunya adalah kehormatan keluarga dan semangat samurai, Matahachi sendiri tergerak sedalam-dalamnya oleh hal lain: kalau benar yang dikatakan oleh ibunya, Otsu tidak mencintainya lagi. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengarnya. "Apa benar begitu?" tanyanya.

Melihat warna wajah Matahachi berubah, Osugi mengambil kesimpulan yang keliru bahwa kuliahnya tentang kehormatan dan semangat itu sudah mencapai hasil. "Kalau kaupikir itu bohong," katanya, "tanya Paman Gon. Perempuan jalang itu sudah meninggalkanmu dan lari bersama Takezo. Dengan kata lain, kau bisa mengatakan, karena tahu kau tak akan kembali beberapa lama, maka Takezo memikat Otsu untuk pergi dengannya. Apa tidak betul begitu, Paman Gon?"



"Ya. Ketika Takezo diikat di atas pohon itu, dia mendapat pertolongan dari Otsu untuk melarikan diri, dan keduanya lalu lari sama-sama. Semua orang mengatakan antara mereka sudah terjadi sesuatu."

Kata-kata itu menimbulkan akibat paling buruk pada Matahachi, dan timbul reaksi baru terhadap kawan masa kecilnya itu.



Menyadari hal tersebut, ibunya mengipasi bunga api itu, "Kaulihat sekarang, Matahachi! Kau mengerti, kenapa Paman Gon dan Ibu meninggalkan kampung? Kami mau membalas dendam pada mereka. Sebelum aku membunuh mereka, aku tak dapat memperlihatkan muka lagi di kampung atau berdiri di depan tanda peringatan leluhur kita."

"Aku mengerti."

"Jadi, kau mengerti. Kecuali kita sudah membalas dendam, kau pun tak dapat kembali ke Miyamoto?"

"Aku tak akan kembali. Aku tak akan pernah kembali."

"Bukan itu soalnya. Kau mesti membunuh kedua orang itu. Mereka musuh bebuyutan kita."

"Ya, kukira begitu."

"Kedengarannya kau tidak begitu bersemangat. Ada apa? Apa kau tidak merasa cukup kuat untuk membunuh Takezo?"

"Tentu saja cukup kuat," protes Matahachi.

Paman Gon buka suara. "Jangan kuatir, Matahachi. Aku akan selalu di samping-mu."

"Dan ibumu yang sudah tua ini pun demikian," tambah Osugi. "Mari kita bawa kepala mereka pulang ke kampung sebagai tanda mata buat orang banyak. Apa itu bukan gagasan yang baik, Nak? Kalau itu kita lakukan, kau dapat jalan terus dan mencari istri, dan menetap. Kau membersihkan dirimu sebagai seorang samurai, dan juga mendapat nama baik. Tak ada nama yang lebih baik di seluruh daerah Yoshino daripada Hon' iden, dan kau akan membuktikan itu pada setiap orang, tak sangsi lagi. Bisa kau melakukan itu, Matahachi? Mau kau melakukannya?"

"Ya, Bu."

"Itu namanya anak baik. Paman Gon, jangan berdiri saja di situ, ucapkan selamat pada anak ini. Dia sudah bersumpah akan membalas dendam kepada Takezo dan Otsu." Begitulah, akhirnya ia kelihatan puas, dan mulailah ia bangkit dari tanah dengan susah payah. "Oh, sakit rasanya!" teriaknya.

"Ada apa?" tanya Paman Gon.

"Tanah ini dingin sekali. Perut dan pinggulku sakit."

"Wah, kurang baik itu. Apa wasirmu kumat lagi?"

Untuk menunjukkan bakti seorang anak, Matahachi mengatakan, "Naiklah ke punggungku, Ibu."

"Oh, kau mau menggendongku? Senang sekali aku!" Sambil memegang bahu anaknya, Osugi menangis karena gembira. "Sudah berapa tahun lewat, ya? Lihat, Paman Gon, Matahachi menggendongku."

Ketika air mata jatuh ke leher Matahachi, Matahachi merasakan kegembiraan yang aneh. "Paman Gon, di mana kalian tinggal?" tanyanya.

"Kita mesti mencari rumah penginapan sekarang. Di mana saja bisa. Man kita mencarinya."

 "Baik." Sementara berjalan, Matahachi melambung-lambungkan sedikit ibunya di punggungnya. "Ringan, Bu! Ringan sekali! Jauh lebih ringan daripada batu!"


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive