"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Pedihnya Dilupakan Allah

Di antara akibat maksiat adalah membuat Allaah itu melupakan dan meninggalkan hamba, lalu Allaah akan membiarkannya menjadi ‘konconya’ (teman dekatnya) setan. Ini sungguh suatu kesengsaraan dan bukan suatu keselamatan yang diharap.
Allaah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allaah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allaah, sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allaah, lalu Allaah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 18-19).

Dalam ayat di atas, Allaah memerintahkan pada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan melarang dari punya kemiripan dengan orang yang melupakan Allaah dengan meninggalkan sifat takwa.

Akibatnya apa bagi orang yang enggan bertakwa?

Yaitu Allaah akan melupakannya. Allaah akan melupakan kemaslahatan dirinya. Juga Allaah akan melupakan dirinya sehingga ia tidak selamat dari siksa. Di samping itu pula, Allaah tidak akan membuat ia selamat di akhirat kelak yang merupakan kehidupan abadi seorang muslim. Ia pun tidak bisa meraih kelezatan, kesenangan dan kenikmatan kehidupan negeri akhirat nanti. Itulah akibat dari seseorang yang lupa akan keagungan Allaah dan tidak punya rasa takut pada Allaah. Itu pun balasan dari enggan taat pada Sang Kholiq karena hari-harinya diisi terus dengan perbuatan dosa.

Ini menunjukkan bahwa ahli maksiat akan sulit meraih kemaslahatan untuk dirinya sendiri. Allaah akan menutupi hatinya dari mengingat-Nya di mana Allaah yang memberikan keterangan jiwa. Ahli maksiat semacam ini hanya mengikuti hawa nafsunya dan ia termasuk orang yang melampaui batas. Ia akan luput dari maslahat dunia dan akhiratnya. Ia pun akan sulit meraih kebahagiaan di negeri yang kita akan kekal abadi di dalamnya.

Hakekatnya hamba itu yang berbuat zholim, mencelakai dirinya sendiri dengan maksiat yang ia perbuat. Perbuatan maksiatnya sama sekali tidak mencelakakan Allaah.

Demikian penjelasan dari Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ad Daa’ wad Dawaa’ yang penulis (ust Muhammad Abduh Tuasikal) sarikan.

Referensi:

Ad Daa’ wad Dawaa’, Al Imam Al ‘Allamah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1430 H.
Share:

Selasa, 18 September 2012

Bagaimana menafsirkan al-Qur'an yang benar ?

 Penulis : Muhammad Ramdhoni
 Mahasiswa Semester I STID Muhammad Natsir

Al-Qur’an merupakan Mu’jizat Islam yang abadi, dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin jelas kemu’jizatannya. Allah swt. Menurunkannya kepada nabi Muhammad saw. Demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Rasulallah menyampaikannya kependuduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakan kepada Rasulallah saw.

Dalam ilmu tafsir Al-Qur’an banyak sekali ulama yang mencoba menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam penafsirannya para mufassirin dibagi kedalam dua kelompok, yaitu mufassir yang menafsirkan ayat dengan menggunakan metode bil ma’tsur dan para mufassirin yang menafsirkan ayat dengan menggunakan metode bir Ra’yi. Metode bil ma’tsur yaitu menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan sunnah, ayat dengan perkataan shahabat atau ayat dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in. Sedangkan metode bir ra’yi yaitu menafsirkan ayat dengan pemahaman mufassir sendiri. 

Adapun dalam tulisan ini kami aka mencoba meneliti metode yang dipakai Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yang konon katanya merupakan tafsir Al-Qur’an bil ma’tsur terbaik kedua setelah tafsir at-Thabari.  Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
1.      Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Pendeknya, Ia menjelaskan satu ayat dengan ayat yang lain, karena dalam satu ayat di ungkapkan dengan abstrak (mutlak) maka pada ayat yang lain akan ada pengikatnya (muqayyad). Atau pada suatu ayat bertemakan umum (’âm) maka pada ayat yang lain di khususkan (khâsh). Ibnu Katsir menjadikan rujukan ini berdasarkan sebuah ungkapan, “bahwa cara yang paling baik dalam penafsiran, adalah menafsirkan ayat dengan ayat yang lain”. Pada contoh diatas yaitu surat al-Baqarah ayat 47, al-Baqaah ayat 210 serta an-Naba ayat 35, Ibnu Katsir menyitir ayat al-Qur’an ang lain untuk lebih jelas menafsirkannya.
2.      Menafsirkan al-Qur`an dengan Sunnah (Hadits).  Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai referensi kedua dalam penafsirannya. Bahkan dalam hal ini, Ibnu Katsir tidak tanggung-tanggung untuk menafsirkan suatu ayat dengan berpuluh-puluh hadits –bahkan mencapai 50 hadits – kasus ini bisa dilihat ketika menafsirkan surat al-Isrâ. Adapun pada contoh diatas terdapat pada surat al-Baqarah ayat 210.
3.      Tafsir Qur`an dengan perkataan sahabat. Ibnu Katsir berkata, jika kamu tidak mendapati tafsir dari suatu ayat dari al-Qur`an dan Sunnah, maka jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan turunnya wahyu. Ia menjadikan konsep ini berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya atas perkataan Ibnu Mas’ud: “demi Allah tidak suatu ayat itu turun kecuali aku tahu bagi siapa ayat itu turun dan di mana turunnya. Dan jika ada seseorang yang lebih mengetahui dariku mengenai kitab Allah, pastilah aku akan mendatanginya“. Juga riwayat yang lain mengenai didoakannya Ibnu Abbas oleh Rasululllah saw, “ya Allah fahamkanlah Ibnu Abbas dalam agama serta ajarkanlah ta’wil kepadanya“. Kita dapat melihat pada surat an-Naba ayat 31 beliau menukil perkataan Ibnu Abbas.
4.      Menafsirkan dengan perkataan tabi’in. Cara ini adalah cara yang paling akhir dalam cara menafsirkan Al-Qur`an dalam metode bil-ma`tsur. Ibnu Katsir merujuk akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya, artinya, banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir. Seperti perkataan ibnu Ishaq yang telah menukil dari Mujahid, bahwa beliau memperlihatkan mushaf beberapa kali kepada Ibnu Abbas, dan ia menyetujuinya. Sufyan al-Tsauri berkata, “jika Mujahid menafsirkan ayat cukuplah ia bagimu”. Selain Mujahid, di antara ulama tabi’in adalah Sa’id bin Jabir, Ikrimah, Atha’ bin Rabah, Hasan al-Bashri, Masruq bin al-Ajdi, Sa’id bin Musayyab, Abu al-’aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, al-Dahhaak bin Muzaahim Radliyall^ahu ‘anhum[1]. Kita dapat melihat pada surat al-Baqarah ayat 47 beliau menukil perkataan Mujahid.

(sumber : Makalah Metode Penafsiran Qur'an Ibnu Katsir Oleh Muhammad Ramdhoni)
[1] Muhammad bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani, Belajar mudah ilmu  tafsir, terjemah Fariid Qusy, Jakarta : Daarus sunnah, 2005, hal. 67


Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Senin, 17 September 2012

TENTANG PROPHET MUHAMMAD MOVIE dan INNOCENCE OF MUSLIM

Dengan ini KAMI "ASHABUL MUSLIM" MENYATAKAN :

1. DEMI KEAMANAN GLOBAL. KAMI menDesak AMERIKA SERIKAT DAN ISRAEL beserta sekutunya untuk menyerahkan "SAM BACILE" dalang dari film PROPHET MUHAMMAD MOVIE dan INNOCENCE OF MUSLIM beserta KRU dan ARTIS YANG TERLIBAT. untuk diserahkan kepada umat islam dan akan diadili secara hukum islam.

Jika Amerika gencar menganggap orang islam yang dianggapnya "TERORIS", dan berani mengejar / mengeksekusi / Menghukum orang yang dianggapnya "TERORIS/MILITAN/TALIBAN" di PALESTINA, IRAK, IRAN, SYIRIAH, AFGANISTAN, PAKISTAN, LEBANON dan Negara-negara islam lainya. Maka UMAT ISLAM DIMANAPUN BERADA MERASA WAJIB MENANGKAP DAN MENYERET SAM BACILE dkk KE PENGADILAN ISLAM dan atau MENGEKSEKUSI LANGSUNG dengan atau tanpa persetujuan negaranya. Karena kami menganggap mereka ialah TERORIS bagi umat islam.

2. DEMI KEAMANAN GLOBAL. Kami Mendesak pula kepada Pihak GOOGLE untuk menghapus Vidio tersebut secara permanen dan Tidak hanya sekedar meblokir di negara tertentu, karena ini bukan lagi persoalan politik namun sudah masuk kedalam Ruang lingkup AGAMA secara GLOBAL.

3. kepada seluruh umat islam "MARI BERSAMA KITA JAGA KEHORMATAN AGAMA ISLAM".

4. kepada seluruh dunia "KAMI MEMANG KERAS, JIKA YANG KAMI HADAPI ADALAH MUSUH-MUSUH ALLAH DAN RASULNYA". "kami memiliki Al-Qur'an dan Hadist sebagai dasar hukum kami, DAN KAMI MERASA WAJIB MENJALANKANYA".

Sesungguhnya Allah Amat Cepat Pembalasanya dan Amat Pedih siksanya.

Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Sabtu, 05 Mei 2012

WANITA MUSLIM DAN ISLAM


  1. Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...” [Al-Hujuraat: 12] 
  2. Ada dua golongan penduduk Neraka, yang belum pernah aku lihat keduanya, yaitu suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga dapat tercium sejauh perjalanan begini dan begini. 'HR. Muslim (no. 2128), 
  3. dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu" Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang terdahulu dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi) sesungguhnya Allah adalah Mahalembut laga Maha Mengetahui” [Al-Ahzab : 33-34] 
  4. Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demekian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Ahzab : 59] 
  5. Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannnya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka” [An-Nu ; 30-31]
  6. Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Pagi hari ia keluar dalam keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. HR. At-Tirmidzi (no. 2344), Ahmad (I/30), Ibnu Majah (no. 4164). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dishahihkan pula oleh al-Hakim (IV/318) dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu, lafazh ini milik Ahmad. “...
  7. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185] “...
  8. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6] “... 
  9. Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama ...” [Al-Hajj: 78] WALLAHUA'LAM . . .
Share:

Minggu, 04 Desember 2011

APA YANG MENYEBABKAN DO'A KITA TIDAK TERKABUL

Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rizki dan diberi keturunan, akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabulkan, apakah seperti itu adalah buah dari tidak diterimanya amalan?




Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanyakan seperti di atas. Lalu jawaban beliau rahimahullah,

Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai. Boleh jadi pula karena sebab lainnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam hadits,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ  اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.”[1]

Boleh jadi tidak terkabulnya doa seorang hamba karena maksiat yang ia perbuat, karena hatinya yang lalai saat memanjatkan doa, atau karena memakan yang haram. Atau boleh jadi pula doa seseorang tak kunjung terkabul karena Allah Ta’ala memilih yang terbaik untuknya dengan Allah mengganti apa yang ia minta dengan yang lebih bermanfaat di surga dan akhirat kelak. Atau bahkan Allah menggantinya dengan sesuatu di akhirat dan di surga yang kekal. Bisa jadi pula Allah mengganti permintaan hamba tadi dengan maslahat lainnya dengan Allah menghindarkan darinya berbagai keburukan. Bisa jadi Allah menghindarkan darinya kejelekan tanpa ia sadari. Itulah karena doa yang ia panjatkan pada Allah. Inilah yang terbaik sesuai dengan hikmah Allah. Allah bisa jadi mengabulkan doanya dengan memberikannya anak, rumah atau istri. Boleh jadi pula Allah palingkan dari kejelekan dengan sebab doa dan mengganti dengan yang lebih manfaat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

[Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17235]

Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”[2]

Dalil pengaruh makanan yang haram terhadap do’a,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?"[3]

Jadi maksiat dan makan makanan yang haram, itu juga adalah sebab penghalang terkabulnya do’a. Begitu pula hati yang lalai dalam berdoa, itu pula salah satu penghalang. Atau barangkali Allah beri kita yang terbaik dan mengganti dengan yang terbaik dari doa yang kita minta.

Don’t give up! Teruslah banyak berdoa dan terus introspeksi diri. Wallahu waliyyut taufiq.





Riyadh-KSA, 4 Rajab 1432 H (04/06/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com




[1] HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid

[2] HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan

[3] HR. Muslim no. 1015
Share:

Jumat, 02 Desember 2011

Hati-hatilah dengan godaan Jin

 
Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allah dari asap api makanya biasanya jin itu amat bersekongkol dengan iblis karena iblis diciptakan dari api, maka sebagai seorang muslim kita patut hati-hati dengan godaan setan jin yang selalu membisiki manusia supaya mengerjakan kemaksiatan . Jin bisa mempengaruhi manusia, dengan cara menggangu, dan bahkan bisa membunuh. Boleh jadi mereka menganggunya dengan cara melempar batu, menakut-nakuti manusia atau dengan berbagai hal seperti yang disebutkan dalam sunnah dan ditunjukkan oleh berbagai peristiwa.

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu Alaihi wa Sallam mengijinkan untuk mengunjungi keluarganya dalam suatu perang, kalau tidak salah perang khandaq. Ada seorang pemuda yang belum lama menikah yang juga pulang menemui keluarganya. Sesampainya didepan rumah, isterinya sedang berada diambang pintu. Dia tidak berkenan dengan perbuatan isterinya itu. Lalu sang isteri berkata, "Masuklah!" Maka dia pun masuk. Ternyata diatas tempat tidurnya ada seekor ular. Karena dia masih membawa tombak, maka dia menusuk ular itu dengan tombaknya hingga mati. Tidak diketahui mana yang lebih dulu mati. Tatkala hal ini didengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau melarang membunuh jin yang berada dirumah, kecuali ular yang jahat. Ini merupakan dalil bahwa jin bisa berbuat semena-mena terhadap manusia dan menggangunya.
Banyak kejadian yang menunjukkan hal ini. Banyak cerita tentang orang yang pergi ke reruntuhan, lalu dia dilempar batu, tetapi tidak diketahui siapa yang melemparnya direruntuhan itu. Boleh jadi dia mendengar suara yang teramat pelan seperti suara pepohonan atau suara yang lain, sehingga membuatnya merasa ketakutan dan terganggu. Jin juga bisa masuk ketubuh manusia, entah karena iseng maupun sengaja untuk mengganggunya ataupun sebab-sebab tertentu.
Jin tidak bisa kita lihat. Sebab jin adalah ruh tanpa jasad. Ruh mereka sangat lembut yang dapat terbakar oleh pandangan mata. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (Al-A'raf: 27).

Sebagaimana halnya kita tidak melihat para malaikat yang menyertai kita yang mencatat amal, dan kita tidak melihat setan yang mengalir dalam tubuh manusia pada aliran darah. Tetapi jika Allah memberi keistimewaan kepada seseorang dengan keis-timewaan kenabian, maka ia dapat melihat melaikat. Sebagaimana Nabi SAW melihat Jibril, ketika turun kepadanya, sedangkan ma-nusia di sekitarnya tidak melihatnya. Adapun dukun dan sejenis-nya maka jin adakalanya menyamar menjadi salah seorang dari mereka, kemudian sebagian jin memperlihatkannya, dengan mengatakan, "Jin telah datang kepada fulan." Jadi bukan manusia yang melihatnya, melainkan jin yang menyamar kepadanya itulah yang melihatnya dan mengabarkan siapa yang berada di seki-tarnya.
Jin juga dapat membisiki perkataan jahat yang menjerumuskan melalui hati manusia, Hal ini telah diisyaratkan dalam firman Allah : " Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah: 275)
Dalam hal ini boleh jadi jin berbicara dari dalam diri manusia dan berbicara dengan orang yang sedang membaca Al-qur'an, atau dia membuat perjanjian tertentu dengannya agar tidak melakukan berbagai hal. Untuk melindungi dari kejahatan jin, seseorang bisa membaca apa yang telah disebutkan didalam sunnah, seperti membaca do’a ta’awudz dan ayat kursy. Jika ayat kursy ini dibaca seseorang pada malam hari, maka ia akan menjadi penjaga baginya dan tidak akan didekati syetan hingga pagi hari. Semoga bermanfaat. Amien
Wallahu ‘Alam
Share:

Minggu, 30 Oktober 2011

ancaman bagi "bisa menasehati tidak bisa mengamalkan".

Setiap muslim wajib saling menasehati dalam kebenaran dan beramar makruf nahi munkar (menyeru kebaikan mencegah keburukan), karena jikalau kemaksiatan atau keburukan merajalela maka azab Allah akan menimpa tidak pandang bulu entah itu mukmin atau kafir, seperti banyaknya bencana alam akhir-akhir ini tidak lain sebabnya adalah ditinggalkannya amar makruf nahi munkar dan merajalelanya kezaliman. Sesuai sabda Rasulullah SAW berikut :

Hudzaifah radhiallahuanhu berkata: "Bersabda Nabi shallallahu alaihi wa salam: 'Demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya, harus kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak. Pasti Allah akan menurunkan siksa padamu, kemudian kamu berdo'a, maka tidak diterima dari kamu.' "(diriwayatkan oleh At Tirmidzi)
Amar makruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah artinya jika ada yang sebagian muslim melaksanakan amarmakruf nahi munkar maka gugurlah kewajiban seluruh muslim, contohnya jihad kepalestina / daerah muslim yang terzalimi adalah fardhu kifayah.

Berkaitan dengan menyeru kebenaran dan mencegah keburukan / kemaksiatan maka kita wajib mulai dari diri kita sendiri semampu kita melaksanakan. Bagaimana orang lain akan menerima nasehat kita jika prilaku kita saja justru bertentangan dengan apa yang kita katakan. Memang tidak ringan konsekuensi amar makruf nahi munkar, karena selain kita dituntut untuk mengamalkan kita juga dituntut untuk menyeru kepada orang lain dan resikonya pun tidak ringan seperti cacian, makian, hujatan bahkan sampai ancaman dibunuh, akan tetapi janji Allah kepada orang yang beramar makruf nahi munkar dengan benar dan ikhlas adalah diberikan kebahagian yang kekal diakhirat. Akan tetapi jika orang bisa mengatakan kebenaran tapi dia sendiri tidak mau mengamalkan atau malah justru kelakuannya menyimpang dari apa yang dia katakan maka sugguh ancaman Allah sangat keras kepada orang yang jarkoni (jawa) alias bisa bicara tapi tidak mau mengamalkan karena sifat begini termasuk tanda orang munafik. Berikut Firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW tentang ancaman kepada orang yang bisa menasehati tapi dia sendiri tidak mau mengamalkan nasehatnya :

Firman Allah (yang artinya) :
"Apakah kamu menyuruh orang-orang berbuat kebaikan, padahal kamu melupakan dirimu sendiri, sedangkan kamu membaca kitab, tidakkah kamu berakal ? " (Al Baqarah 144)

Firman Allah (yang artinya) :

"Hai orang-orang beriman, mengapakah kamu berkata apa yang tidak mau berbuat. Sungguh besar murka Allah jika kamu berkata apa yang tidak kamu perbuat." (Ash Shaf 23)

Firman Allah (yang artinya):

"Dan tiadalah saya menyalahi kamu, melakukan apa yang telah saya cegah kamu daripadanya." (Hud 88)

Abu Zaid (Usamah) bin Zaid bin Haritsah berkata: "Saya telah mendegar Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda: 'Seorang dihadapkan di hari kiamat. Kemudian dilemparkan kedalam neraka, aka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himar yang berputar disekitar penggilingan maka berkerumunan ahli neraka padanya sambil bertanya : Hai Fulan, mengapakah engkau, tidakkah kau dahulu menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar ? Jawabnya : benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan, tetapi tidak saya kerjakan, dan mencegah mungkar tetapi saya kerjakan. (Mutafaq Alaihi)



Wallahu 'Alam

Share:

Do'a Keluarga Maslahah

Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibr�h�m: 41-42).

Penjelasan:
Doa diatas baik sekali dibaca dalam berbagai kesempatan, agar diri kita dan keluarga kita serta turunan kita senantiasa taat dan rajin beribadah kepada Allah Swt., khususnya ibadah shalat yang telah diwajibkan.
Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim a.s., ketika ia baru saja memohon agar kota Mekkah dijadikan kota tentram, aman dan anak turunannaya diselematkan dari menyembah berhala. Lebih detail tentang kisah nabi ibrahim bisa dilihat dalam Al-Ouran Surah Ib�h�m ayat 35-42.
Share:

adab-adab dan hukum-hukum tentang HARI RAYA QURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ

Akhi Muslim……. Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu, dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (Al Hajj 32).

> Adab-Adab dan Hukum-Hukum Seputar ‘Idul Adha

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :

1. Takbir. Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tiga belas Dzul Hijjah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang (Al Baqarah 203)

Caranya dengan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “

Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.

2. Menyembelih binatang korban. Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

“Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Waktu menyembelih kurban adalah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Semua hari tasyrik adalah (waktu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)

3. Mandi dan mengenakan wewangian. Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.

4. Makan daging korban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.

5. Pergi ke tempat shalat Id. Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah. Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.

7. Menempuh jalan yang berbeda. Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

8. Ucapan selamat. Tidak mengapa saling mengucapkan selamat seperti :

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima (amal) kita dan anda sekalian”.

> Kemungkaran-Kemungkaran Yang Terjadi Di Hari Raya

Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu- sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya kadang-kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara agama mereka dan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat mereka banyak berbuat kemaksiatan dan kemungkaran-kemungkaran dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya !! Semua inilah yang mendorongku untuk menambahkan pembahasan yang bermanfaat ini dalam tulisanku, agar menjadi peringatan bagi kaum muslimin dari perkara yang mereka lupakan dan mengingatkan mereka atas apa yang mereka telah lalai darinya[Kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan secara umum dilakukan pada waktu haru raya ataupun di luar hari raya, akan tetapi kemungkaran itu lebih besar dan bertambah dilakukan pada hari-hari raya].

Diantara kemungkaran itu adalah :

Pertama: Berhias dengan mencukur jenggot. Perkara ini banyak dilakukan manusia. Padahal mencukur jenggot merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama Allah subhanahu wata’ala sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih yang berisi perintah untuk memanjangkan jenggot agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir yang kita diperintah untuk menyelisihi mereka. Selain berkaitan dengan hal itu, memanjangkan jenggot termasuk fithrah (bagi laki-laki) yang tidak boleh kita rubah. Dalil-dalil tentang keharaman mencukur jenggot terdapat dalam kitab-kitab Imam Madzhab yang empat yang telah dikenal [Lihat Fathul Bari 10/351, Al-Ikhtiyar Al-Ilmiyah 6, Al-Muhalla 2/220, Ghidza'ul Albab 1/376 dan selainnya. Al-Akh Syaikh Muhammad bin Ismail telah meneliti dalam kitabnya "Adillah Tahrim Halqil Lihyah" hadits-hadits yang ada dalam masalah ini, kemudian ia kemenyebutkan penjelasan ulama tentangnya, dan juga nukilan-nukilan dari kitab-kitab madzhab yang jadi sandaran. Lihatlah kitab yang berharga itu. dan lihat juga "Majallah Al-Azhar" 7/328. Aku telah menulis risalah berjudul "Hukum Ad-Dien Fil Lihyah wat tadkhin" -Alhamdulillah- Kitab itu telah dicetak beberapa kali.] Hendaklah hal itu diketahui.

Kedua: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Ini merupakan bencana yang banyak menimpa kaum muslimin, tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah. Perbuatan ini haram berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “ Seseorang ditusukkan jarum besi pada kepalanya adalah lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” [Hadits Shahih, Lihat takhrijnya secara panjang lebar dalam "Juz'u Ittiba' is Sunnah No. 15 oleh Adl-Dliya Al-Maqdisi -dengan tahqiqku. Diriwayatkan ar Rauyaani dalam musnadnya 227/2 dari Ma’qil bin Yasaar dan sanadnya jayyid lihat Silsilah Ahadits ash Shohihah karya Al Albani no 226]

Keharaman perbuatan ini diterangkan juga dalam kitab-kitab empat Imam Madzhab yang terkenal [Lihat 'Syarhu An Nawawi ala Muslim 13/10, Hasyiyah Ibnu Abidin 5/235, Aridlah Al-Ahwadzi 7/95 dan Adlwau; Bayan 6/603]

Ketiga: Tasyabbuh (meniru) orang-orang kafir dan orang-orang barat dalam berpakaian dan mendengarkan alat-lat musik serta perbuatan mungkar lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya): “ Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad 2/50 dan 92 dari Ibnu Umar dan isnadnya Hasan. Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Musykil Al Atsar 1/88 dari Hassan bin Athiyah, Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbahan 1/129 dari Anas, meskipun ada pembicaraan padanya, tetapi dengan jalan-jalan tadi, hadits ini derajatnya Shahih, insya Allah]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya) : “ Benar-benar akan ada pada umatku beberapa kaum yang mereka menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki ,-pent), khamr dan alat-alat musik. Dan benar-benar akan turun beberapa kaum menuju kaki gunung untuk melepaskan gembalaan mereka sambil beristirahat, kemudian mereka didatangi seorang fasik untuk suatu keperluan. Kemudian mereka berkata : ‘Kembalilah kepada kami besok!’ Lalu Allah membinasakan dan menimpakan gunung itu pada mereka dan sebagian mereka dirubah oleh Allah menjadi kera-kera dan babi-babi hingga hari kiamat” [Hadits Riwayat Bukhari 5590 secara muallaq dan bersambung menurut Abu Daud 4039, Al-Baihaqi 10/221 dan selainnya.

Keempat: Masuk dan becengkerama dengan wanita-wanita yang bukan mahram. Hal ini dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabda beliau (yang artinya) : “ Hati-hatilah kalian masuk untuk menemui para wanita". Maka berkata salah seorang pria Anshar : "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang Al-Hamwu" Beliau berkata : "Al-Hamwu adalah maut" [Hadits Riwayat Bukhari 5232, Muslim 2172 dari 'Uqbah bin Amir].

Al-Allamah Az-Zamakhsyari berkata dalam menerangkan “Al-Hamwu”: “Al-Hamwu bentuk jamaknya adalah Ahmaa’ adalah kerabat dekat suami seperti ayah [Dia dikecualikan berdasarkan nash Al-Qur'anul Karim, lihat "Al-Mughni" 6/570], saudara laki-laki, pamannya dan selain mereka… Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Al-Hamwu adalah maut” maknanya ia dikelilingi oleh kejelekan dan kerusakan yang telah mencapai puncaknya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakannya dengan maut, karena hal itu merupakan sumber segala bencana dan kebinasaan. Yang demikian karena Al-Hamwu lebih berbahaya daripada orang lain yang tidak dikenal. Sebab kerabat dekat yang bukan mahram terkadang tidak ada kekhawatiran atasnya atau merasa aman terhadap mereka, lain halnya dengan orang yang bukan kerabat. Dan bisa jadi pernyataan “Al-Hamwu adalah mau” merupakan do’a kejelekan, yaitu seakan-akan kematian itu darinya, kedudukannya seperti ipar yang masuk menemuinya, jika ia meridhainya dengan itu” ["Al-Faiq fi Gharibil Hadits" 9 1/318, Lihat "An-Nihayah 1/448, Gharibul Hadits 3/351 dan Syarhus Sunnah 9/26,27]

Kelima: Wanita-wanita yang bertabarruj (berdandan memamerkan kecantikan) kemudian keluar ke pasar-pasar atau tempat lainnya. Ini merupakan perbuatan yang diharamkan dalam syari’at Allah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : (yang artinya) : “ Hendaklah mereka wanita-wanita) tinggal di rumah-rumah mereka dan jangan bertabarruj ala jahiliyah dulu dan hendaklah mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat” [Al-Ahzab : 33]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “Dua golongan manusia termasuk penduduk neraka yang belum pernah aku melihatnya : …….. dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok [Menyimpang dari taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan keharusan mereka untuk menjaga kemaluan, "An-Nihayah" 4/382], kepala-kepala mereka bagaikan punuk-punuk unta [Berkata Al-Qadli 'Iyadh dalam Masyariqul Anwar 1/79: Al-Bukht adalah unta yang gemuk yang memiliki dua punuk. Maknanya -wallahu a'lam- wanita-wanita itu menggelung rambut mereka hingga kelihatan besar dan tidak menundukkan pandangan mata mereka.]. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau suurga dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian” [Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam "Shahihnya" 2128, 2856 dan 52, Ahmad 2/223 dan 236 dari Abu Hurairah]

Keenam: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya, membagi-bagikan manisan dan makanan di pekuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur antara pria dan wanita, bergurau dan meratapi orang-orang yang telah meninggal, dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. [Lihat perincian yang lain tentang bid'ah yang dilakukan di kuburan dalam kitab "Ahkamul Janaiz" 258-267 oleh Syaikh kami Al-Albani]

Ketujuh: Boros dalam membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada kebaikan padanya. Allah berfirman (yang artinya): “ Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al-An'am : 141]

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat boros itu adalah saudaranya syaitan” [Al-Isra : 26-27]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “ Tidak akan berpindah kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang … dan hartanya dari mana ia perolah dan ke mana ia infakkan” [Hadits Riwayat Tirmidzi 2416]

Kedelapan: Kebanyakan manusia meninggalkan shalat berjama’ah di masjid tanpa alasan syar’i atau mengerjakan shalat Id tetapi tidk shalat lima waktu. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar.

Kesembilan: Berdatangannya sebagian besar orang-orang awam ke kuburan setelah fajar hari raya, mereka meninggalkan shalat Id, dirancukan dengan bid’ah mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya. [Al-Madkhal 1/286 oleh Ibnu Hajj, Al-Ibda hal.135 oleh Ali Mahfudh dan Sunnanul Iedain hal.39 oleh Al-Syauqani]

Sebagian mereka meletakkan pada kuburan itu pelepah kurma [Lihat Ahkamul Jazaiz hal. 253, Ma'alimus Sunan 1/27 dan ta'liq Syaikh Ahmad Syakir atas Sunan Tirmidzi 1/103] dan ranting-ranting pohon !! Semua ini tidak ada asalnya dalam sunnah.

Kesepuluh: Tidak adanya kasih sayang terhadap fakir miskin. Sehingga anak-anak orang kaya memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan dengan bebagai jenis makanan yang mereka pamerkan di hadapan orang-orang fakir dan anak-anak mereka tanpa perasaan kasihan atau keinginan untuk membantu dan merasa bertanggung jawab. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. (yang artinya) : “ Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya” [Hadits Riwayat Bukhari 13 dan Muslim 45, An-Nasa'i 8/115]

Kesebelas: Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang dianggap syaikh dengan pengakuan bertaqqarub kepada Allah Ta’ala, padahal tidak ada asalnya sama sekali dalam agama Allah. Bid’ah itu banyak sekali dilakukan muslimin [Lihat beberapa di antaranya dalam kitab A'yadul Islam 58 pasal Bida'ul Iedain]. Aku hanya menyebutkan satu saja di antaranya, yaitu kebanyakan para khatib dan pemberi nasehat menyerukan untuk menghidupkan malam hari Id (dengan ibadah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya sebatas itu yang mereka perbuat, bahkan mereka menyandarkan hadits palsu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu hadits yang berbunyi. (yang artinya): “ Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fithri dan Idul Adha maka hatinya tidak akan mati pada hari yang semua hati akan mati” [Hadits ini palsu (maudlu'), diterangkan oleh Ustazd kami Al-Albani dalam "Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah" 520-521]

Maka tidak boleh menyandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ucapan tersebut. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْن

Sumber:

Dikutip secara ringkas dari Artikel di Situs http://salafy.or.id, yang berjudul Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha, Penulis: Depag Saudi Arabia dan Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di Hari Raya Penulis Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali
Share:

Jumat, 28 Oktober 2011

Ingin Selamat, Laksanakan Syariat Islam

Dari Abu Abdirrohman Abdulloh bin Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Romadhon.”(HR.Bukhori dan Muslim)
Mukadimah Hadits :
Semua orang tidak ingin terjatuh ketika sedang berjalan, menaiki kendaraan. Semuanya ingin selamat. Untuk menghindari kecelakaan lalu lintas, diperlukan sikap taat aturan (rambu-rambu lalu lintas). Pejalan kaki berjalan di sebelah kiri. Di tengah-tengah ada polisi yang mengatur lalu lintas. Yang datang lebih dahulu di dahulukan yang menyusul di akhirkan. Agar tidak terjadi perselisihan. Diadakan pula peraturan tempat kembali ketika terjadi musibah yang tidak diinginkan.
Demikian pula dalam perjalanan kehidupan ini, tidak ada yang ingin celaka, rusak binasa dan sengsara. Semuanya ingin sehat lahir dan batin, selamat dalam mencapai tujuan. Agar perjalanan yang ditapaki lurus dan selamat, perlu dibuat sebuah peraturan yang mengikat setiap individu. Tempat kembali apabila ditemukan perselisihan. Itulah syariat (hukum) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia dengan perantaraan Nabi-Nya. Hukum yang bersumber dari-Nya adil dan bijaksana. Tidak memihak. Tidak seperti hukum buatan manusia. Ia bagaikan hukum pisau. Tumpul untuk kalangan atas, tajam untuk level grass root. Melukai rasa keadilan kaum dhu’afa dan mustadhafin (tertindas).
Hajat manusia kepada syariat Islam lebih besar melebihi kebutuhannya kepada tabib. Benar, sakit dan sehat, sedih dan gembira tidak bisa lepas dari kehidupan. Tetapi kita dituntut untuk menjaga kesehatan. Jika kita tidak memelihara kesehatan pisik, akan mudah terjangkiti penyakit. Al Wiqayatu khairun minal ‘ilaj (menjaga lebih baik daripada mengobati). Sedia payung sebelum hujan, kata pepatah bahasa Indonesia. Orang kampong pergi ke dukun. Orang kota pergi ke dokter. Tetapi ada sebagian orang desa lebih sehat daripada orang kota, karena mereka lebih banyak memikul pekerjaan yang berat, keringatnya keluar, badannya segar, tulang belulangnya kuat. Yang lebih kuat lagi adalah orang gunung. Setiap hari naik turun gunung ketika pergi ke ladang.
Manusia lebih memerlukan syariat Allah SWT daripada tabib. Tabib hanya bisa memberikan resep memelihara kesehatan pisik, sedangkan syariat untuk menjaga kesehatan jiwa, keturunan, akal, harta, agama, kehormatan diri (HAM). Syariat bukan hasil produk manusia, setelah mengalami uji coba di lapangan. Tetapi, ia datang dari wahyu Allah SWT yang suci, tidak terkontaminasi oleh kerusakan dan kebatilan.
Ketika seseorang tidak makan dan tidak minum, tubuhnya lemah dan nafasnya berhenti. Tetapi, jika orang tidak berpegang teguh dengan syariat akal dan budinya rusak. Moralitasnya akan hancur. Sekalipun dia bisa hidup, tetapi mengalami krisis makna. Tidak berarti (bermakna) di tengah kehadirannya di dunia ini.
Badan sakit adalah musibah. Perpisahan badan dan nyawa manusia adalah kematian. Kematian bukan merupakan bahaya besar, karena banyak orang yang sakit parah menginginkan kematian. Tetapi, jika kehidupan ini tidak menjunjung tinggi syariat, sekalipun badannya sehat, apalah artinya hidup jika tidak menemukan makna/arti hidup itu sendiri. Justru, banyak orang yang mati, tetapi namanya semakin hidup disebut-sebut oleh generasi di belakangnya. Sedangkan banyak orang yang hidup, menggenggam kekuasaan dan harta, tetapi banyak orang yang menginginkan kematiannya. Bahkan menuntutnya lengser sebelum masa baktinya (khidmahnya) selesai.
Oleh karena itu menghayati syariat Islam (tafaqquh fiddin) harus lebih didahulukan daripada mengetahui ilmu-ilmu yang lain. Karena menyangkut hubungan al-Makhluk dengan al-Khalik. Interaksi hamba dengan Tuhannya. Dan akan menjamin kedamaian, keselamatan kita di dunia yang fana ini menuju kehidupan yang kekal dan abadi. Jangan terbalik, mendahulukan mempelajari ilmu kehidupan dan terlambat menguasai tsaqafah islamiyah. Sehingga, muncullah fenomena manusia yang cerdas otaknya tetapi hatinya kurang peka, perasaannya kurang tajam. Kecerdasan pikiran tidak berbanding lurus dengan kecerdasan spiritual.

Syariat yang diturunkan kepada para anbiya dan para rasul, tujuannya sama. Yaitu memperkuat komunikasi antara Al-Khalik dan Al-Makhluk (laa ilaha illallah). Antara Allah SWT dan Abdullah. Karena, dari-Nya kita hadir, dengan izin dan restu-Nya kita menikmati berbagai fasilitas kehidupan, kepada-Nya kita akan kembali. Sekalipun syariat para nabi berlainan, sesuai dengan zamannya. Tetapi berlainan pada aspek kulitnya. Tujuannya satu, untuk menjaga kesucian hati manusia. Tidak ada satu pun perintah agama yang tidak membersihkan jiwa manusia. Ketika terjadi perbedaan yang tajam antara berbagai agama, karena akal dan nafsu manusia ikut bercampur di dalamnnya. Sehingga terjadi perubahan dan penggantian. Tidak orisinil (murni) dan otentik lagi.
Marilah kita belajar untuk tunduk dan patuh kepada syariat-Nya. Dengan tekun menjalankan ibadah. Ibadah adalah cara Allah SWT untuk mengarahkan dan memandu jalan kehidupan kita supaya tidak terjatuh (secara fatal), tersesat dan tergelinci.
SYARI’AT ISLAM YANG WAJIB SETIAP MUSLIM KERJAKAN
Berdasarkan hadits diatas dapat kita uraikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu :
Pertama, Kita diperintah untuk menegakkan shalat.
Mematuhi adab lahir dan kesopanan batin. Sesungguhnya shalat yang benar adalah yang dihayati bacaannya (al-Hadits). Ash-Shalatu ma ro’aita. Shalat adalah kaifiat (cara yang efektif) untuk taqarrub, tawajjuh, tabattul, tajarrud kepada Allah SWT. Di dalamnya tersimpan cara jitu untuk membesarkan-Nya dengan segenap anggota tubuh. Diikuti oleh ucapan lidah, gerakan tangan dan kaki, ketundukan kepala dan seluruh panca indra. Semuanya bekerja sama menghadapkan persembahan kepada Dzat Yang Maha Besar.
Kita mulai mengucapkan takbir. Allah SWT yang Maha Besar. Segala pekerjaan, gerak-gerik, pasang surut, untung dan rugi, naik dan turun, kaya dan miskin, kekuasaan atau kehinaan, semuanya adalah barang yang kecil ketika dihadapkan kebesaran-Nya.
Perbuatan lahir diikuti oleh gerakan batin. Semua anggota tubuh mengucapkan puja dan puji atas berbagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Lidah tidak berhenti menyanjung-Nya, bertasbih dan bertakbir. Kita berdiri di hadapan-Nya dengan hati yang tunduk, menyadari dengan insaf bahwa kita hanyalah seorang hamba yang hina dan kecil tidak berarti apa-apa di hadapan kekuasaan-Nya yang luas dan tidak berujung.
Kita bersujud ke tanah dengan kening kita, bagian tubuh yang paling mulia dan kita hormati. Tetapi wajah itu kita tundukkan ke bawah. Untuk membuktikan kepada-Nya bahwa kening hanya kami izinkan untuk patuh kepada-Mu. Ya Rabb. Itulah seorang muslim, yang tidak pernah menundukkan kepala di hadapan siapapun, tetapi hanya tunduk dengan ridha kepada Allah SWT.
Kita berdiri, dan memohon kepada-Nya, dan kita rukuk tertunduk, di dalamnya kita memuji Dia. Kita bersujud, kita mengharapkan belas kasih-Nya. Kita duduk, kita memohon rahmat dan maghfirah dalam kehidupan kita. Demikianlah kita melakukan shalat sampai selesai.
Sebelum shalat selesai, kita mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW dan kepada kerabatnya, dan kepada Nabi Ibrahim dan kerabatnya. Karena merekalah yang telah menunjukkan dan merintis jalan ini. Lalu kita menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” kepada semua makhluk-Nya di sebelah kita.
Artinya, setelah kita kuatkan tali perhubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT Yang Maha Besar, kita bawa perasaan demikian ke tengah-tengah pergaulan hidup. Kita sebarkan perdamaian, ketenteraman dan rahmat di alam semesta.
Sebelum kita pergi, kita duduk sejenak, kita susun jari jemari kita, kita hamparkan sayap pengharapan dengan melantunkan bermacam-macam doa, semoga kiranya dikabulkan oleh-Nya. Setelah itu barulah kita berdiri dari tempat duduk, dengan hati yang suci, raut muka yang jernih, sudah sekian lamanya kita telah menghadap ke hadirat Rabbul ‘Izzati.
Adakah suatu ibadah yang lebih bagus dari gerakan shalat? Adakah jalan untuk mencapai kesempurnaan dan kemuliaan diri melebihi shalat? Adakah suatu tanda tunduk yang demikian kuat pengaruhnya melebihi dari shalat?
Ada sebagian orang yang berpandangan, mungkinkah kita mencapai kesucian dan memuji Allah SWT hanya dengan sebatas gerakan badan seperti itu ?. Betul, jika gerakan badan tidak diikuti gerakan batin secara simultan dan stimulan. Kalau kita hanya mensyukuri nikmat Allah SWT hanya dengan hati, tidak diikuti dengan lisan dan perbuatan, maka syukur kita tidak utuh. Sedangkan semua instrumen diri kita merasakan nikmat tersebut. Jadi bersyukur itu harus all out. Dengan hati, lisan dan amal shalih yang membuat pemberinya senang.
Kedua, kita diperintahkan pula mengeluarkan zakat,
jika harta kekayaan kita mencapai satu nishab. Yaitu dikeluarkan 2/5% dari jumlah harta. Dengan aturan itu semakin jelas bahwa syariat tidak hanya menekankan dalam memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Jadi, Islam memperkokoh hubungan kepada Allah SWT dan memperkuat interaksi sesama manusia (hablul minallah wa hablun minannas). Indikator seseorang itu dicintai oleh Allah SWT adalah dicintai sesama manusia.
Maka disyariatkan zakat. Zakat artinya suci. Mensucikan diri sendiri dari karat kekikiran. Membersihkan diri sendiri dari perasaan menyisihkan diri dari sesama manusia. Dan membersihkan harta itu sendiri agar tidak tercampur antara milik kita dan hak orang lain. Yaitu harta yang sepatutnya diterima yang berhak (mustahiq).
Tegasnya, membersihkan masyarakat dari perasaan berkapitalis. Zakat adalah sebuah pendidikan ilahi agar menusia tidak mementingkan diri sendiri, tetapi bersikap peduli dan empati kepada orang lain. Sehingga orang kaya menjadi pelindung si miskin. Tidak akan masuk surga seorang yang kenyang, sedangkan tetangganya dibiarkan kelaparan (al-Hadits). Sesungguhnya orang kafir takut terhadap apa yang diperbuat oleh mukmin yang kaya. Persoalan social akan mudah dipecahkan jika rukun Islam yang berupa zakat ini dilaksanakan.
Ketiga, puasa pada bulan Ramadhan.
Alangkah indah dan mulia ibadah puasa. Karena mengajarkan manusia mengelola hawa nafsu. Ia melepaskan manusia dari ikatan kebinatangan. Bukankah ahli ilmu pengetahuan, bahwa manusia itu serupa dengan binatang. Yang membedakan hanya akal pikirannya. Syariat puasa membangkitkan kesadaran manusia untuk melepaskan nafsu hewani. Bukankah manusia yang tidak bisa memimpin syahwat perut dan syahwat farjinya sama dengan binatang.
Bila syahwat sudah bisa dikendalikan, tertutuplah jalan-jalan yang semula terbuka digunakan oleh syetan untuk menjerumuskan manusia. Orang yang berpuasa menghentikan makan & minum yang halal, berhubungan dengan istri di siang hari untuk mematuhi perintah Allah SWT. Dari sini, terdapat pelajaran berkorban. Sekalipun lapar dan nafsu biologis bergejolak, asal Tuhan yang memerintahkan, akan bersikap sami’na wa ‘atha’na. Kita tahan dengan sakitnya lapar dan dahaga, tetapi tidak tahan dengan panasnya api neraka. Maka, akan berangsur-angsur hati merasa ringan untuk menjalankan perintah. Dan siap menunggu intruksi lanjutan yang lebih berat, jika waktunya tiba.
Adakah ibadah yang lebih efektif daripada puasa ?. Bukankah puasa itu membedakan antara manusia biasa dan manusia sejati ?. Bukankah ketika apabila perut sedang lapar, jiwa menjadi bersih, hati menjadi lemah lembut ?. Kecintaan dunia yang memberikan pengaruh yang keras di dalam hati manusia menjadi lunak dengan berpuasa.
Berpuasa bukan menyiksa diri, tetapi mengangkatnya menuju kemuliaan. Tiada perintah ibadah kecuali untuk kemaslahatan manusia. Dengan jalan menahan nafsu dalam berpuasa akan terbukalah kemenangan dalam perjuangan menegakkan kebenaran kelak.
Keempat, syariat haji juga mengandung hikmah yang luar biasa.
Tidak merasakan efeknya dalam kehidupan kecuali orang yang bersih. Mustahil orang mengumpulkan harta yang halal, dan siap menanggung resiko perjalanan jauh ke Makkah, jika tidak memiliki spirit berkorban untuk Allah SWT. Haji adalah wujud pengorbanan kongkrit secara lahir dan batin. Biaya untuk pergi haji akan diganti oleh Allah SWT (pasti kembali kepada pemiliknya), meminjam ungkapan orang yang telah melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. Semakin banyak harta kekayaan yang dikeluarkan untuk Allah SWT akan dilipatgandakan dan menambah kebaikan dirinya.
Masjidil Haram adalah pusat dunia Islam. Disanalah terdapat pusaka-pusaka tua, jejak perjuangan yang telah ditempuh oleh Nabi Ibrahim, yang ridha menyembelih anaknya sendiri karena kecintaannya kepada Allah SWT. Jalan itu juga telah ditempuh Rasulullah SAW dalam menanggung berbagai kesulitan di negeri itu ketika membawa cahaya iman di tengah-tengah kegelapan jahiliyah. Bukan gelap mata tetapi kegelapan hati. Di sana terdapat berbagai syiar Allah SWT, berbagai ibrah dari kebesaran Allah SWT, untuk memperbaharui iman.

Wajar, jika Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang pergi mengerjakan haji dengan hati yang tulus, dosanya akan diampuni, sehingga bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Bukankah apabila telah terikat tali kecintaan kita dengan seorang sahabat, maka ia akan merasa terhormat jika ia mengajak mampir (singgah) di dalam rumahnya, kita pun merasa bahagia pula bisa menyambut seruan itu ?. Sekarang, bagaimanakah perasaan kita jika yang kita cintai Tuhan kita sendiri. Dan Dia pula mencintai kita. Sebab, sudah sekian lama kita telah menjalin keakraban. Sejak mengucapkan dan melaksanakan tuntutan syahadat tauhid, dan syahadat rasul, melaksanakan ibadah shalat, zakat, puasa.
Indikator (bukti) keakraban hubungan dengan-Nya kita bersedia mampir ke rumah-Nya, baitullah. Kita dipersilahkan dengan hormat sebagai tamu-Nya (dhoifur rahman). Ketika memiliki kesanggupan. Di sana banyak barang yang mulia, sebagai peringatan, seperti Ka’bah itu sendiri disebut Baitullah (rumah Allah SWT), Maqam Ibrahim, Hajar Ismail, sumur Zam-Zam, jumratul ‘aqabah yang tiga, bukit Arafah dll. Diminta-Nya kita berkumpul bersama-sama ke Arafah, sehingga dapat disaksikan suatu pemandangan yang indah, betapa lautan manusia membuktikan keteguhan tali percintaan antara Allah SWT dengan mereka.
Jika demikian dalam rahasia yang dikandung dalam manasikul haji, maka ucapan yang kita lantunkan adalah : Labbaika, Allahumma labbaik ! La syarika laka labbaik ! Ini saya telah datang, aduhai kekasihku, inilah saya Tuhanku, aku tidak mempersekutukan kecintaanku kepada-MU dengan yang lain. Inilah saya.

Sudah sepatutnya, jika ada hadits nabi yang menjelaskan bahwa malaikat berdiri di tiap-tiap persimpangan jalan menghitung dan mencatat nama-nama orang yang pergi menjalankan haji, dan akan dilaporkan kepada Tuhan dan diampuni dosanya.

Labbaik Allahumma labbaik, innal hamda wal mulka laka, la syarika laka !. Inilah hamba-MU ya Tuhanku, segenap pujian dan kekuasaan tetaplah pada-MU, tak bersekutu Engkau dengan yang lain.
Banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Kita diperintah menanggalkan pakaian yang biasa kita pakai. Menggunakan kain yang tidak berjahit. Baik yang kaya ataupun yang miskin berabur menjadi satu. Disuruh menyederhanakan semua perbedaan-perbedaan. Masing-masing menunjukkan bahwa semuanya adalah hamba-Nya yang sama-sama rindu mengharap pintu rahmat dan maghfirah-Nya.
Kita disuruh membuka kepala, tidak boleh bertopi dan bermahkota. Tunjukkan persahabatan yang sejati dan sadarilah kamu bisa hidup dan mati karena kekuasaan-Nya. Kita disuruh thawaf, melempar jumrah. Itulah ibadah yang ghoiru ma’qulil makna (tidak rasional). Ibadah yang hanya menyentuh hati nurani. Demi, si pendosa mengatakan bahwa cinta itu membuat matamu buta. Biarlah mataku buta, sejak mata lahiriyahku tidak melihat alam lagi, tetapi mata batinku terus makrifat kepada Tuhanku.
Kelima, rukun islam disempurnakan dengan syariat Jihad (perlindungan Islam)
Jihad adalah tiang ibadah. Jihad adalah bukti faktual kecintaan hamba terhadap Al-Khalik. Tidak sedikit orang yang menjalin kecintaan tanpa berkorban. Betapa banyak orang yang senang menerima tetapi enggan memberi. Jihad adalah mengerahkan jiwa dan raga untuk membela agama Allah SWT dari serangan musuh-musuh-Nya. Hamba yang tercinta itu rela berkorban apa saja untuk yang dicintai-Nya. Sekiranya kematian yang diminta dan barang yang paling berharga dalam perjuangan itu, maka ia rela mati. Dan kalau boleh hidup kembali, ia akan hidup lagi agar dapat membuktikan cinta dengan kematian sekali lagi. Dia sudah melakukan transaksi jual beli dengan Allah SWT.

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِي
“Sesungguhnya Allah SWT telah membeli dari orang-orang beriman akan diri dan harta kekayaan mereka ialah untuk mereka surge mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah (9) : 111).

Jika sudah terbukti indicator (bukti) cinta sejati dengan bersedia berkorban apa saja terhadap yang dicintainya, maka kecintaannya harus utuh (tidak terbelah/bercabang). Agar tidak terjadi kecemburuan. Apakah hakikat jihad dalam Islam itu. Mengapa ia diwajibkan oleh Allah SWT kepada orang beriman?
Pertanyaan tersebut bisa diketahui dengan suatu permisalan yang berikut.
Andaikata ada seorang yang mengaku sebagai sahabat (teman dekat) yang mencintai kita. Tetapi perbuatannya pada setiap kecelakaan yang menimpa kita, menjadi saksi tidak mencintai kita. Ia tidak peduli dengan manfaat dan madharat yang menimpa kita. Ia tidak mau mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan ketika terjadi musibah. Bahkan tidak mencegah orang-orang yang mencelakai kita. Bahkan berserikat dengan orang lain/musuh untuk memojokkan kita. Apakah pengakuan dia sebagai sahabat kita akui?
Sekali-kali tidak. Ia mengaku sebagai sahabat hanya dengan lidah, tidak dengan hati yang tulus. Sahabat sejati adalah yang mencintai kita dengan siap berkorban apa saja untuk kita. Menolong dan membela kita dari musuh yang akan mencelakai kita. Jika semua persyaratan pertemanan tersebut tidak ada, maka ia adalah duri dalam daging kita (musuh dalam selimut). Apa arti syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji yang ia lakukan ?.
Maka kiaskanlah perumpamaan diatas dengan pengakuan kita sebagai muslim dan mukmin. Ketika kita mengaku muslim, adalah memiliki kesiapan untuk berkorban. Jadi, makna jihad adalah bahwa di dalam dirimu terdapat fanatisme Islam, kecemburuan (ghirah) terhadap keimanan, cinta kepada agama, dan nasihat yang tulus untuk saudara-saudaramu muslim (jihad ‘aini). Termasuk bagian dari fanatisme adalah jihad fi sabilillah dengan pengertiannya yang khusus, yaitu peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin di hadapan para penjajah peradaban (jihad kifai). Tidak ada yang memicu peperangan tersebut, selain mencari keridhaan Tuhan mereka. Mereka benar-benar telah membersihkan diri dari setiap motivasi duniawi yang rendah (Al Maududi, Mabadiul Islam, hal 118-119).*
Refrensi : majalah hidayatullah
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive