"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Senin, 31 Oktober 2011

nasehat kepada muslimah : memilih calon suami

http://www.imagelk.com/data/media/11/Blue-Heart-With-Wings-1.jpg

Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kita calon suami yang menjadi imam, yang akan membimbing kita pada kesempurnaaan iman da taqwa kepada Allah. Dan mudah-mudahan kita dihindarkan dari hadirnya seorang calon suami yang tidak mengerti tanggungjawab ”keimannanya”, sumber fitnah dan kesengsaraan batin bagi istri dan keluarga. Nauzdubillah….

Setelah doa dipanjatkan, ada ikhtiar yang harus kita lakukkan. Ada ilmu yang harus dipahami kemudian menjadinya sebagai keyakinan dalam hati. Ini mengenai calon suami. Ketika kita benar-benar memiliki kesiapan untuk menikah, hal yang apakah yang perlu diketahui?. Bagaimana menentukan calon suami yang baik, yang kelak bisa menjadi imam bagi istri dna anak-anaknya?.

Sulit tidaknya menentukan calon suami adalah perkara subyektif bagi masing-masing orang. Sebagian berasumsi mudah untuk mendapatkan suami yang cocok dengan yang diharapkan. Apalagi menurut yang sudah dikenal, sudah lama pacaran, luar dalamnya calon suami sudah diuji dengan matang. Tanggung jawab, penyayang, perhatian, mapan dan sedikit tampan. Begitu kira-kira hasil penilaian akhir yang kemudian memantapkan seorang wanita untuk menikah dengan sang pacar.

Anehnya, ukuran-ukuran yang sudah diuji beberapa kali dalam masa-masa interaksi sebelum menikah iku kadang dan bahkan sering meleset dari harapan. Tak sedikit perhatian dan ungkapan rasa cinta suami menjadi berubah menjadi asing dan ”mahal”. Ketika sudah berada dalam bingkai rumah tangga. Layaknya kelapa yang tinggal ampasnya. Tak ada manisnya lagi dalam interaksi, seakan-akan terus habis seiring perjalaanan usia. Bosan, tidak betah, puber kedua atau apalah istilahnya yang sering jadi alasan. Kenyataan tak sesuai harapan. Rumah sesalu terisi dengan kekecawaan, keluh kesah dan penyesalan. Bahkan sampai berujung pada perpecahan rumah tangga/perceraian.

Kenapa demikian?. Padahal dulu waktu pacaran katanya sudah mengenal luar dalam? naudzubillah, Hanya yang kita ketahui bersama, bahwa rumah tangga rusak itu disebabkan karena rumah tangga tidak barokah. Sedangkan penyebab ketidakbarokahan rumah tangga ada banyak. Yang paling besar adalah disebabkan kekeliruan dalam niat dan proses-proses sebelum menikah. Ada baiknya kita renungkan sabda Rasulullah berikut ini : ” Barang siapa yang menikahkan ( putrinya ) karena silau dengan akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarokahi!!” (HR. Thabrani).

Barokah itu ada dalam keluarga yang sakinah, aman dan tentram penuh kasing sayang. Dialah yang menentukan baik tidaknya perjalanan sebuah rumah tangga. Salah niat ketika menikah bisa mendatangkan ketidakbarokahan. Mungkin seorang wanita yang gila harta, tidak menikah karena harta calon suami, tapi apakah dia sudah memperhatikan AGAMA dan AKHLAKNYA?. Padahal buruknya agama dan akhlak seorang calon suami adalah AKAR dari KETIDAKBAROKAHAN.

Cara untuk belajar menjadi istri terbaik adalah hanya melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri, yang sebelum itu diikat olah tali pernikahan yang sah. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya akan menjerumuskan kedalam perbuatan keji zina. Dan pacaran adalah termasuk perbuatan yang merupakan pintu terlebar mendekati zina.

MENENTUKAN CALON SUAMI

kita harus tahu bagaimana agamanya. Kita harus tahubagaimana mereka bersikap erhadap Allah dan Rasulnya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, bagaimana menentukan seorang laki-laki itu sudah baik agamanya atau tidak?

Sebelumnya, harus kita bedakan antara ”mengerti ilmu agama” dan ”paham beragama”. Yang pertama hanya berputar di wilayah pengetahuan. Bisa karena terkondisikan oleh lingkungan atau keturunan. Misalnya pernah mondok, kuliah di universitas Islam atau dari keturunan keluarga pintar agama. Tapi hal ini belum signifikan berkaitan dengan seseorang faham agama.

Yang dimaksudkan disini, adalah ”Faham dalam Beragama”. Agama seseorang diukur dari dua hal, yaitu hati dan perilakunya. Agama adalah kesatuan Iman dan Akhlak. Al-Islam atau keselamatan adlaah perwujudan iman dan amal shalih, dalam Al-Quran banyak disebutkan kata Iman yang bergandengan dengan Amal Shalih. Salah satunya berikut ini : ”Allah menjanjikan kepada orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(Al-Fath : 29)”.

Kita akan bisa melihat dari dua hal tersebut, hati dan akhlak. Tentang hati, tak ada yang bia mengetahui baik tidaknya. Hanya Allah dan si pemilik yang tahu. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu dibebani rasa keingintahuan terhadap kondisi hati atau kualitas keimana seseorang. Hanya saja, kondisi hati sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan cara seseorang mengambil tindakan. Hubungan keduanya, telah ditegaskan oleh Rasulullah , ”ketahuilah, sesungguhnya di dlam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruhnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruhnya. Dan itulah (yang dinamakan) hati”. (HR. Bukhori-Muslim)

Yang kedua akhlak. Kita bisa memperhatikan kefahaman agama seseorang melalui akhlaknya. Rasulullah bersabda : ”Kaum mukmini yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik kepada istri-istrinya. ”(HR. Tirmidzi)

Inilah yang harus menjadi perhatian kita terhadap lelaki yang melamar kita. Perhatikan bagaimana akhlaknya dalam keseharian. Akhlak yang baik akan membawa kesejaheraan runah tangga. Suami yang baik akhlaknya, akan bersikap baik kepada istrinya. Saat itulah, suami istri masing-masing bisa bertindak sebagai tiang penyangga. Saling mendukung, saling menyemangati dalam melakukkan ketaatan kepada Rabbnya. ”... Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(Q.S At-Taubah : 88)


Wallahu 'Alam

Share:

Minggu, 30 Oktober 2011

ancaman bagi "bisa menasehati tidak bisa mengamalkan".

Setiap muslim wajib saling menasehati dalam kebenaran dan beramar makruf nahi munkar (menyeru kebaikan mencegah keburukan), karena jikalau kemaksiatan atau keburukan merajalela maka azab Allah akan menimpa tidak pandang bulu entah itu mukmin atau kafir, seperti banyaknya bencana alam akhir-akhir ini tidak lain sebabnya adalah ditinggalkannya amar makruf nahi munkar dan merajalelanya kezaliman. Sesuai sabda Rasulullah SAW berikut :

Hudzaifah radhiallahuanhu berkata: "Bersabda Nabi shallallahu alaihi wa salam: 'Demi Allah yang jiwaku ada ditanganNya, harus kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak. Pasti Allah akan menurunkan siksa padamu, kemudian kamu berdo'a, maka tidak diterima dari kamu.' "(diriwayatkan oleh At Tirmidzi)
Amar makruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah artinya jika ada yang sebagian muslim melaksanakan amarmakruf nahi munkar maka gugurlah kewajiban seluruh muslim, contohnya jihad kepalestina / daerah muslim yang terzalimi adalah fardhu kifayah.

Berkaitan dengan menyeru kebenaran dan mencegah keburukan / kemaksiatan maka kita wajib mulai dari diri kita sendiri semampu kita melaksanakan. Bagaimana orang lain akan menerima nasehat kita jika prilaku kita saja justru bertentangan dengan apa yang kita katakan. Memang tidak ringan konsekuensi amar makruf nahi munkar, karena selain kita dituntut untuk mengamalkan kita juga dituntut untuk menyeru kepada orang lain dan resikonya pun tidak ringan seperti cacian, makian, hujatan bahkan sampai ancaman dibunuh, akan tetapi janji Allah kepada orang yang beramar makruf nahi munkar dengan benar dan ikhlas adalah diberikan kebahagian yang kekal diakhirat. Akan tetapi jika orang bisa mengatakan kebenaran tapi dia sendiri tidak mau mengamalkan atau malah justru kelakuannya menyimpang dari apa yang dia katakan maka sugguh ancaman Allah sangat keras kepada orang yang jarkoni (jawa) alias bisa bicara tapi tidak mau mengamalkan karena sifat begini termasuk tanda orang munafik. Berikut Firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW tentang ancaman kepada orang yang bisa menasehati tapi dia sendiri tidak mau mengamalkan nasehatnya :

Firman Allah (yang artinya) :
"Apakah kamu menyuruh orang-orang berbuat kebaikan, padahal kamu melupakan dirimu sendiri, sedangkan kamu membaca kitab, tidakkah kamu berakal ? " (Al Baqarah 144)

Firman Allah (yang artinya) :

"Hai orang-orang beriman, mengapakah kamu berkata apa yang tidak mau berbuat. Sungguh besar murka Allah jika kamu berkata apa yang tidak kamu perbuat." (Ash Shaf 23)

Firman Allah (yang artinya):

"Dan tiadalah saya menyalahi kamu, melakukan apa yang telah saya cegah kamu daripadanya." (Hud 88)

Abu Zaid (Usamah) bin Zaid bin Haritsah berkata: "Saya telah mendegar Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda: 'Seorang dihadapkan di hari kiamat. Kemudian dilemparkan kedalam neraka, aka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himar yang berputar disekitar penggilingan maka berkerumunan ahli neraka padanya sambil bertanya : Hai Fulan, mengapakah engkau, tidakkah kau dahulu menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar ? Jawabnya : benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan, tetapi tidak saya kerjakan, dan mencegah mungkar tetapi saya kerjakan. (Mutafaq Alaihi)



Wallahu 'Alam

Share:

Do'a Keluarga Maslahah

Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibr�h�m: 41-42).

Penjelasan:
Doa diatas baik sekali dibaca dalam berbagai kesempatan, agar diri kita dan keluarga kita serta turunan kita senantiasa taat dan rajin beribadah kepada Allah Swt., khususnya ibadah shalat yang telah diwajibkan.
Dalam Al-Quran dikisahkan, bahwa doa tersebut dibaca oleh Nabi Ibrahim a.s., ketika ia baru saja memohon agar kota Mekkah dijadikan kota tentram, aman dan anak turunannaya diselematkan dari menyembah berhala. Lebih detail tentang kisah nabi ibrahim bisa dilihat dalam Al-Ouran Surah Ib�h�m ayat 35-42.
Share:

adab-adab dan hukum-hukum tentang HARI RAYA QURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ

Akhi Muslim……. Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu, dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (Al Hajj 32).

> Adab-Adab dan Hukum-Hukum Seputar ‘Idul Adha

Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas adab-adab dan hukum-hukum tentang hari raya :

1. Takbir. Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tiga belas Dzul Hijjah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang (Al Baqarah 203)

Caranya dengan membaca:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “

Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.

2. Menyembelih binatang korban. Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

“Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Waktu menyembelih kurban adalah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Semua hari tasyrik adalah (waktu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)

3. Mandi dan mengenakan wewangian. Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.

4. Makan daging korban. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.

5. Pergi ke tempat shalat Id. Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah. Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.

7. Menempuh jalan yang berbeda. Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

8. Ucapan selamat. Tidak mengapa saling mengucapkan selamat seperti :

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

“Semoga Allah menerima (amal) kita dan anda sekalian”.

> Kemungkaran-Kemungkaran Yang Terjadi Di Hari Raya

Ketahuilah wahai saudaraku muslim -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu- sesungguhnya kebahagiaan yang ada pada hari-hari raya kadang-kadang membuat manusia lupa atau sengaja melupakan perkara-perkara agama mereka dan hukum-hukum yang ada dalam Islam. Sehingga engkau melihat mereka banyak berbuat kemaksiatan dan kemungkaran-kemungkaran dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya !! Semua inilah yang mendorongku untuk menambahkan pembahasan yang bermanfaat ini dalam tulisanku, agar menjadi peringatan bagi kaum muslimin dari perkara yang mereka lupakan dan mengingatkan mereka atas apa yang mereka telah lalai darinya[Kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan secara umum dilakukan pada waktu haru raya ataupun di luar hari raya, akan tetapi kemungkaran itu lebih besar dan bertambah dilakukan pada hari-hari raya].

Diantara kemungkaran itu adalah :

Pertama: Berhias dengan mencukur jenggot. Perkara ini banyak dilakukan manusia. Padahal mencukur jenggot merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama Allah subhanahu wata’ala sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih yang berisi perintah untuk memanjangkan jenggot agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir yang kita diperintah untuk menyelisihi mereka. Selain berkaitan dengan hal itu, memanjangkan jenggot termasuk fithrah (bagi laki-laki) yang tidak boleh kita rubah. Dalil-dalil tentang keharaman mencukur jenggot terdapat dalam kitab-kitab Imam Madzhab yang empat yang telah dikenal [Lihat Fathul Bari 10/351, Al-Ikhtiyar Al-Ilmiyah 6, Al-Muhalla 2/220, Ghidza'ul Albab 1/376 dan selainnya. Al-Akh Syaikh Muhammad bin Ismail telah meneliti dalam kitabnya "Adillah Tahrim Halqil Lihyah" hadits-hadits yang ada dalam masalah ini, kemudian ia kemenyebutkan penjelasan ulama tentangnya, dan juga nukilan-nukilan dari kitab-kitab madzhab yang jadi sandaran. Lihatlah kitab yang berharga itu. dan lihat juga "Majallah Al-Azhar" 7/328. Aku telah menulis risalah berjudul "Hukum Ad-Dien Fil Lihyah wat tadkhin" -Alhamdulillah- Kitab itu telah dicetak beberapa kali.] Hendaklah hal itu diketahui.

Kedua: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Ini merupakan bencana yang banyak menimpa kaum muslimin, tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang dirahmati Allah. Perbuatan ini haram berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “ Seseorang ditusukkan jarum besi pada kepalanya adalah lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” [Hadits Shahih, Lihat takhrijnya secara panjang lebar dalam "Juz'u Ittiba' is Sunnah No. 15 oleh Adl-Dliya Al-Maqdisi -dengan tahqiqku. Diriwayatkan ar Rauyaani dalam musnadnya 227/2 dari Ma’qil bin Yasaar dan sanadnya jayyid lihat Silsilah Ahadits ash Shohihah karya Al Albani no 226]

Keharaman perbuatan ini diterangkan juga dalam kitab-kitab empat Imam Madzhab yang terkenal [Lihat 'Syarhu An Nawawi ala Muslim 13/10, Hasyiyah Ibnu Abidin 5/235, Aridlah Al-Ahwadzi 7/95 dan Adlwau; Bayan 6/603]

Ketiga: Tasyabbuh (meniru) orang-orang kafir dan orang-orang barat dalam berpakaian dan mendengarkan alat-lat musik serta perbuatan mungkar lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya): “ Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” [Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad 2/50 dan 92 dari Ibnu Umar dan isnadnya Hasan. Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Musykil Al Atsar 1/88 dari Hassan bin Athiyah, Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbahan 1/129 dari Anas, meskipun ada pembicaraan padanya, tetapi dengan jalan-jalan tadi, hadits ini derajatnya Shahih, insya Allah]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya) : “ Benar-benar akan ada pada umatku beberapa kaum yang mereka menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki ,-pent), khamr dan alat-alat musik. Dan benar-benar akan turun beberapa kaum menuju kaki gunung untuk melepaskan gembalaan mereka sambil beristirahat, kemudian mereka didatangi seorang fasik untuk suatu keperluan. Kemudian mereka berkata : ‘Kembalilah kepada kami besok!’ Lalu Allah membinasakan dan menimpakan gunung itu pada mereka dan sebagian mereka dirubah oleh Allah menjadi kera-kera dan babi-babi hingga hari kiamat” [Hadits Riwayat Bukhari 5590 secara muallaq dan bersambung menurut Abu Daud 4039, Al-Baihaqi 10/221 dan selainnya.

Keempat: Masuk dan becengkerama dengan wanita-wanita yang bukan mahram. Hal ini dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabda beliau (yang artinya) : “ Hati-hatilah kalian masuk untuk menemui para wanita". Maka berkata salah seorang pria Anshar : "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang Al-Hamwu" Beliau berkata : "Al-Hamwu adalah maut" [Hadits Riwayat Bukhari 5232, Muslim 2172 dari 'Uqbah bin Amir].

Al-Allamah Az-Zamakhsyari berkata dalam menerangkan “Al-Hamwu”: “Al-Hamwu bentuk jamaknya adalah Ahmaa’ adalah kerabat dekat suami seperti ayah [Dia dikecualikan berdasarkan nash Al-Qur'anul Karim, lihat "Al-Mughni" 6/570], saudara laki-laki, pamannya dan selain mereka… Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Al-Hamwu adalah maut” maknanya ia dikelilingi oleh kejelekan dan kerusakan yang telah mencapai puncaknya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakannya dengan maut, karena hal itu merupakan sumber segala bencana dan kebinasaan. Yang demikian karena Al-Hamwu lebih berbahaya daripada orang lain yang tidak dikenal. Sebab kerabat dekat yang bukan mahram terkadang tidak ada kekhawatiran atasnya atau merasa aman terhadap mereka, lain halnya dengan orang yang bukan kerabat. Dan bisa jadi pernyataan “Al-Hamwu adalah mau” merupakan do’a kejelekan, yaitu seakan-akan kematian itu darinya, kedudukannya seperti ipar yang masuk menemuinya, jika ia meridhainya dengan itu” ["Al-Faiq fi Gharibil Hadits" 9 1/318, Lihat "An-Nihayah 1/448, Gharibul Hadits 3/351 dan Syarhus Sunnah 9/26,27]

Kelima: Wanita-wanita yang bertabarruj (berdandan memamerkan kecantikan) kemudian keluar ke pasar-pasar atau tempat lainnya. Ini merupakan perbuatan yang diharamkan dalam syari’at Allah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : (yang artinya) : “ Hendaklah mereka wanita-wanita) tinggal di rumah-rumah mereka dan jangan bertabarruj ala jahiliyah dulu dan hendaklah mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat” [Al-Ahzab : 33]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “Dua golongan manusia termasuk penduduk neraka yang belum pernah aku melihatnya : …….. dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok [Menyimpang dari taat kepada Allah subhanahu wata’ala dan keharusan mereka untuk menjaga kemaluan, "An-Nihayah" 4/382], kepala-kepala mereka bagaikan punuk-punuk unta [Berkata Al-Qadli 'Iyadh dalam Masyariqul Anwar 1/79: Al-Bukht adalah unta yang gemuk yang memiliki dua punuk. Maknanya -wallahu a'lam- wanita-wanita itu menggelung rambut mereka hingga kelihatan besar dan tidak menundukkan pandangan mata mereka.]. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau suurga dapat tercium dari perjalanan sekian dan sekian” [Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam "Shahihnya" 2128, 2856 dan 52, Ahmad 2/223 dan 236 dari Abu Hurairah]

Keenam: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya, membagi-bagikan manisan dan makanan di pekuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur antara pria dan wanita, bergurau dan meratapi orang-orang yang telah meninggal, dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. [Lihat perincian yang lain tentang bid'ah yang dilakukan di kuburan dalam kitab "Ahkamul Janaiz" 258-267 oleh Syaikh kami Al-Albani]

Ketujuh: Boros dalam membelanjakan harta yang tidak ada manfaatnya dan tidak ada kebaikan padanya. Allah berfirman (yang artinya): “ Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al-An'am : 141]

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat boros itu adalah saudaranya syaitan” [Al-Isra : 26-27]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “ Tidak akan berpindah kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang … dan hartanya dari mana ia perolah dan ke mana ia infakkan” [Hadits Riwayat Tirmidzi 2416]

Kedelapan: Kebanyakan manusia meninggalkan shalat berjama’ah di masjid tanpa alasan syar’i atau mengerjakan shalat Id tetapi tidk shalat lima waktu. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar.

Kesembilan: Berdatangannya sebagian besar orang-orang awam ke kuburan setelah fajar hari raya, mereka meninggalkan shalat Id, dirancukan dengan bid’ah mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya. [Al-Madkhal 1/286 oleh Ibnu Hajj, Al-Ibda hal.135 oleh Ali Mahfudh dan Sunnanul Iedain hal.39 oleh Al-Syauqani]

Sebagian mereka meletakkan pada kuburan itu pelepah kurma [Lihat Ahkamul Jazaiz hal. 253, Ma'alimus Sunan 1/27 dan ta'liq Syaikh Ahmad Syakir atas Sunan Tirmidzi 1/103] dan ranting-ranting pohon !! Semua ini tidak ada asalnya dalam sunnah.

Kesepuluh: Tidak adanya kasih sayang terhadap fakir miskin. Sehingga anak-anak orang kaya memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan dengan bebagai jenis makanan yang mereka pamerkan di hadapan orang-orang fakir dan anak-anak mereka tanpa perasaan kasihan atau keinginan untuk membantu dan merasa bertanggung jawab. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. (yang artinya) : “ Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya” [Hadits Riwayat Bukhari 13 dan Muslim 45, An-Nasa'i 8/115]

Kesebelas: Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang dianggap syaikh dengan pengakuan bertaqqarub kepada Allah Ta’ala, padahal tidak ada asalnya sama sekali dalam agama Allah. Bid’ah itu banyak sekali dilakukan muslimin [Lihat beberapa di antaranya dalam kitab A'yadul Islam 58 pasal Bida'ul Iedain]. Aku hanya menyebutkan satu saja di antaranya, yaitu kebanyakan para khatib dan pemberi nasehat menyerukan untuk menghidupkan malam hari Id (dengan ibadah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya sebatas itu yang mereka perbuat, bahkan mereka menyandarkan hadits palsu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu hadits yang berbunyi. (yang artinya): “ Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fithri dan Idul Adha maka hatinya tidak akan mati pada hari yang semua hati akan mati” [Hadits ini palsu (maudlu'), diterangkan oleh Ustazd kami Al-Albani dalam "Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah" 520-521]

Maka tidak boleh menyandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ucapan tersebut. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْن

Sumber:

Dikutip secara ringkas dari Artikel di Situs http://salafy.or.id, yang berjudul Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha, Penulis: Depag Saudi Arabia dan Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di Hari Raya Penulis Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali
Share:

Jumat, 28 Oktober 2011

Tulisan Iseng : “Makna lagu Balonku Ada Lima”

http://fc04.deviantart.net/fs71/f/2010/355/b/4/balonku_ada_lima_by_makananjugaseni-d35bxit.jpg


Jika kita bicara identitas suatu bangsa maka pasti masing-masing bangsa punya lagu wajib sendiri-sendiri, lalu hubungannya dengan team ashabul muslim gimana kalau kita juga membuat lagu “wajib” sebagai identitas team kita. Gimana kalaui lagu kebangsaan kita (ashabul-muslim) adalah balonku ada lima, setuju gak kawan-kawan. hahhaa.. pasti banyak yang menertawakan dan tidak setuju kenapa team ashabul-muslim yang harusnya berkarakter islami kenapa lagunya tidak lagu nasyed lagu shalawat dsb. tapi tunggu dulu disini kita tidak hanya menyanyikan lagunya akan tetapi kita juga akan menafsirkan lagu itu secara islami dan ternyata lagu "balonku ada lima" ini saya bisa menggagas kalau lagu ini yang kelihatannya lagu 'anak-anak' ternyata mengandung makna ajaran islam juga. mau tahu lebih jelasnya. hhh.. ok lah mari kita nyanyi lagu balonku ada lima dulu baru kita jelaskan makna apa yang terkandung dalam lagu anak-anak yang tidak pernah pudar dimakan masa ini.
liric balonku ada lima :
"balonku ada lima"
Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOOOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat
Tafsir "balonku ada lima" ^_^ :
Disini saya akan mencoba menafsirkan lagu “balonku ada lima” menurut versi saya, mari kita simak ...
1. Balonku ada lima = rukun islam itu ada lima
2. Rupa-rupa warnanya = masing-masing rukun islam mempunyai tata cara dan aturan ibadah sendiri-sendiri. misalnya kalau sholat kita ibadah dengan lisan (membaca al-Qur'an dan doa) dan dengan gerakan sholat (takbiratul ihram, rukuk, sujud, tasyahud dll) berbeda dengan puasa karena yang ibadah ini kita dituntut untuk menahan hawa nafsu jasmani dan hawa nafsu rohani.
3. hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru = 5 rukun islam (syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji)
4. Meletus balon hijau.. dorr hatiku sangat kacau =Meletus artinya ramai, Hijau artinya haji kita melihat orang ramai menunaikan ibadah haji dibulan zulhijah, hati kita hanya bisa kacau (berharap) supaya kita juga dapat seperti mereka yang bisa melaksanakan rukun islam yang kelima ini.
5. balonku tinggal empat = kita kaum muslimin baru bisa melaksanakan ke-4 rukun islam yang ke-5 belum mampu kecuali yang sudah mampu untuk melaksanakan ibadah haji.
6. balonku tinggal empat kupegang erat-erat = ke-4 rukun islam yang sanggup kita laksanakan harus kita laksanakan dengan istiqomah dan sungguh-sungguh (khusuk dan ikhlas semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.
gimana temen-temen semua, masih ragu kalau lagu anak-anak yang populer sejak tahun 90-an sampai sekarang ini dapat kita jadikan sebagai lagu "wajib" team ashabul-muslim. karena selain lagu ini lagu yang asyik (lagu anak-anak) ternyata juga mengandung makna yang islami. ok, jika selama ini temen-temen masih ngidolakan lagu-lagu band lebih baik sekarang ini temen-temen nyanyiin balonku ada lima aja. hhh (kayaknya jadi promosi ni). Kita jangan melihat segala sesuatu dari tampilannya saja atau luarnya akan tetapi kita juga harus bisa memandang dalamnya artinya kita harus bisa memandang dari tingkat manfaatnya, coba aja liat bedanya dan liat aja dari segi manfaatnya : misalnya lagu band itu isinya paling lagu-lagu cinta dan romantisme kalau gak ya isinya urakan pokoknya intinya lagu ini hanya akan menimbulkan syahwat sehingga tidak jarang anak-anak kecil saja sekarang udah doyan pacaran karena sering denger lagu-lagu band sehingga tahu apa itu "pacaran" dan cinta monyet. alias anak-anak kecil sekarang dipaksa dewasa lebih awal.
Bicara soal perkembangan mental anak dari generasi ke generasi akan terlihat jelas perbedaannya (hahaha.. berlagak kayak ahli sosiologi ni..) mau liat perbedaannya anak-anak jaman dulu ama jaman sekarang ? mari kita simak sekelumit ulasan berikut, kalau anak jaman dahulu nyanyinya masih sesuai umur seperti balonku ada lima, bintang kecil, naik delman dsb berbeda dengan anak jaman sekarang yang tiap hari santapannya lagu-lagu racun pembangkit syahwat seperti lagu "kamu ketahuan pacaran", "ada apa dengan cinta", "kerinduan", "keagungan cinta", "antara dia dan aku", dan sebagainya saya tidak bisa menyebutkan satu persatu karena jumlah lagu-lagu perusak moral dan mental kaya gini jumlah bukan hanya ribuan bahkan bisa jutaan jika dihitung.Sehingga jika dilihat dari dampaknya yang luar biasa ini maka pantaslah lagu-lagu band yang merusak mental dan membangkitkan syahwat para penikmatnya ini difatwa "HARAM" oleh sebagian ulama.Maka sebagai generasi muslim maka kita bisa memilih antara lagu-lagu sekedar hiburan dan mainan anak atau lagu-lagu maksiat.
Apalagi sekarang ini sudah jarang sekali lagu anak-anak didengar, mungkin hanya biar dibilang "gaul" dan sebagainya sehingga walaupun musiknya gak enak didengar seperti aliran rock dsb. Katanya yang penting gaya modern. masa kanak-kanak anak jaman dulupun tidak dikorting (dipotong) seperti anak-anak jaman sekarang contohnya aja anak kelas 5 SD udah doyan pacaran. bahkan udah bisa sms-an dengan pacarnya dengan bahasa gaul remaja / bahasa xmx.
Anak-anak jaman dahulu pun bermain dengan lawan jenis itu biasa dan sepertinya tak ada perasaan apapun melainkan rasa keceriaan dan indahnya persahabatan masa anak-anak. Akan tetapi berbeda dengan anak jaman sekarang anak-anak se-usia SD saja jika bermain dengan lawan jenis sepertinya sudah mulai "ada rasa yang tidak biasa" hhh. kacau-kacau benar-benar kacau pemikiran dan mental anak sekarang. mereka yang harusnya masih menikmati syurga dunia anak-anak yang indah dan penuh keceriaan harus dewasa lebih dini dan dipaksa berprilaku seperti layaknya orang dewasa padahal umur mereka yang amat belia hal itu disebabkan mulai lunturnya budaya luhur kita dijiwa generasi sekarang karena lebih suka ikut-ikutan budaya barat.
Liat aja tuh, dampaknya dari modernisasi dan globalisasi yang tidak terkendali. Pergaulan bebas meraja lela, banyak gang-gang remaja rusak, bahkan sampai-sampai kasus kehamilan oleh anak seusia sekolah sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi. semuanya itu berawal dari yang kecil ternyata...! yaitu karena kaum muda suka bergaya, gengsi kebablasan, dsb sehingga lebih menyukai budaya barat yang bersifat merusak umat dibandingkan budaya lokal khususnya budaya luhur yang agama Islam yang mengajari adab dan sopan santun dalam kehidupan manusia. Anak-anak jaman sekarang berdua-duan dengan lawan jenis sudah tidak malu lagi, bahkan ditempat umum pun bermesraan layaknya suami istri mereka anggap biasa, saya sering temui anak seusia smp bahkan ada anak seusia SD sudah bisa "bermesraan" ditempat-tempat umum (alun-alun, taman bunga, lapangan dll)
itulah sekelumit tulisan "iseng" saya semoga berguna. amien
Wallahu 'Alam
Share:

Ingin Selamat, Laksanakan Syariat Islam

Dari Abu Abdirrohman Abdulloh bin Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata “Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Romadhon.”(HR.Bukhori dan Muslim)
Mukadimah Hadits :
Semua orang tidak ingin terjatuh ketika sedang berjalan, menaiki kendaraan. Semuanya ingin selamat. Untuk menghindari kecelakaan lalu lintas, diperlukan sikap taat aturan (rambu-rambu lalu lintas). Pejalan kaki berjalan di sebelah kiri. Di tengah-tengah ada polisi yang mengatur lalu lintas. Yang datang lebih dahulu di dahulukan yang menyusul di akhirkan. Agar tidak terjadi perselisihan. Diadakan pula peraturan tempat kembali ketika terjadi musibah yang tidak diinginkan.
Demikian pula dalam perjalanan kehidupan ini, tidak ada yang ingin celaka, rusak binasa dan sengsara. Semuanya ingin sehat lahir dan batin, selamat dalam mencapai tujuan. Agar perjalanan yang ditapaki lurus dan selamat, perlu dibuat sebuah peraturan yang mengikat setiap individu. Tempat kembali apabila ditemukan perselisihan. Itulah syariat (hukum) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada umat manusia dengan perantaraan Nabi-Nya. Hukum yang bersumber dari-Nya adil dan bijaksana. Tidak memihak. Tidak seperti hukum buatan manusia. Ia bagaikan hukum pisau. Tumpul untuk kalangan atas, tajam untuk level grass root. Melukai rasa keadilan kaum dhu’afa dan mustadhafin (tertindas).
Hajat manusia kepada syariat Islam lebih besar melebihi kebutuhannya kepada tabib. Benar, sakit dan sehat, sedih dan gembira tidak bisa lepas dari kehidupan. Tetapi kita dituntut untuk menjaga kesehatan. Jika kita tidak memelihara kesehatan pisik, akan mudah terjangkiti penyakit. Al Wiqayatu khairun minal ‘ilaj (menjaga lebih baik daripada mengobati). Sedia payung sebelum hujan, kata pepatah bahasa Indonesia. Orang kampong pergi ke dukun. Orang kota pergi ke dokter. Tetapi ada sebagian orang desa lebih sehat daripada orang kota, karena mereka lebih banyak memikul pekerjaan yang berat, keringatnya keluar, badannya segar, tulang belulangnya kuat. Yang lebih kuat lagi adalah orang gunung. Setiap hari naik turun gunung ketika pergi ke ladang.
Manusia lebih memerlukan syariat Allah SWT daripada tabib. Tabib hanya bisa memberikan resep memelihara kesehatan pisik, sedangkan syariat untuk menjaga kesehatan jiwa, keturunan, akal, harta, agama, kehormatan diri (HAM). Syariat bukan hasil produk manusia, setelah mengalami uji coba di lapangan. Tetapi, ia datang dari wahyu Allah SWT yang suci, tidak terkontaminasi oleh kerusakan dan kebatilan.
Ketika seseorang tidak makan dan tidak minum, tubuhnya lemah dan nafasnya berhenti. Tetapi, jika orang tidak berpegang teguh dengan syariat akal dan budinya rusak. Moralitasnya akan hancur. Sekalipun dia bisa hidup, tetapi mengalami krisis makna. Tidak berarti (bermakna) di tengah kehadirannya di dunia ini.
Badan sakit adalah musibah. Perpisahan badan dan nyawa manusia adalah kematian. Kematian bukan merupakan bahaya besar, karena banyak orang yang sakit parah menginginkan kematian. Tetapi, jika kehidupan ini tidak menjunjung tinggi syariat, sekalipun badannya sehat, apalah artinya hidup jika tidak menemukan makna/arti hidup itu sendiri. Justru, banyak orang yang mati, tetapi namanya semakin hidup disebut-sebut oleh generasi di belakangnya. Sedangkan banyak orang yang hidup, menggenggam kekuasaan dan harta, tetapi banyak orang yang menginginkan kematiannya. Bahkan menuntutnya lengser sebelum masa baktinya (khidmahnya) selesai.
Oleh karena itu menghayati syariat Islam (tafaqquh fiddin) harus lebih didahulukan daripada mengetahui ilmu-ilmu yang lain. Karena menyangkut hubungan al-Makhluk dengan al-Khalik. Interaksi hamba dengan Tuhannya. Dan akan menjamin kedamaian, keselamatan kita di dunia yang fana ini menuju kehidupan yang kekal dan abadi. Jangan terbalik, mendahulukan mempelajari ilmu kehidupan dan terlambat menguasai tsaqafah islamiyah. Sehingga, muncullah fenomena manusia yang cerdas otaknya tetapi hatinya kurang peka, perasaannya kurang tajam. Kecerdasan pikiran tidak berbanding lurus dengan kecerdasan spiritual.

Syariat yang diturunkan kepada para anbiya dan para rasul, tujuannya sama. Yaitu memperkuat komunikasi antara Al-Khalik dan Al-Makhluk (laa ilaha illallah). Antara Allah SWT dan Abdullah. Karena, dari-Nya kita hadir, dengan izin dan restu-Nya kita menikmati berbagai fasilitas kehidupan, kepada-Nya kita akan kembali. Sekalipun syariat para nabi berlainan, sesuai dengan zamannya. Tetapi berlainan pada aspek kulitnya. Tujuannya satu, untuk menjaga kesucian hati manusia. Tidak ada satu pun perintah agama yang tidak membersihkan jiwa manusia. Ketika terjadi perbedaan yang tajam antara berbagai agama, karena akal dan nafsu manusia ikut bercampur di dalamnnya. Sehingga terjadi perubahan dan penggantian. Tidak orisinil (murni) dan otentik lagi.
Marilah kita belajar untuk tunduk dan patuh kepada syariat-Nya. Dengan tekun menjalankan ibadah. Ibadah adalah cara Allah SWT untuk mengarahkan dan memandu jalan kehidupan kita supaya tidak terjatuh (secara fatal), tersesat dan tergelinci.
SYARI’AT ISLAM YANG WAJIB SETIAP MUSLIM KERJAKAN
Berdasarkan hadits diatas dapat kita uraikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang muslim yaitu :
Pertama, Kita diperintah untuk menegakkan shalat.
Mematuhi adab lahir dan kesopanan batin. Sesungguhnya shalat yang benar adalah yang dihayati bacaannya (al-Hadits). Ash-Shalatu ma ro’aita. Shalat adalah kaifiat (cara yang efektif) untuk taqarrub, tawajjuh, tabattul, tajarrud kepada Allah SWT. Di dalamnya tersimpan cara jitu untuk membesarkan-Nya dengan segenap anggota tubuh. Diikuti oleh ucapan lidah, gerakan tangan dan kaki, ketundukan kepala dan seluruh panca indra. Semuanya bekerja sama menghadapkan persembahan kepada Dzat Yang Maha Besar.
Kita mulai mengucapkan takbir. Allah SWT yang Maha Besar. Segala pekerjaan, gerak-gerik, pasang surut, untung dan rugi, naik dan turun, kaya dan miskin, kekuasaan atau kehinaan, semuanya adalah barang yang kecil ketika dihadapkan kebesaran-Nya.
Perbuatan lahir diikuti oleh gerakan batin. Semua anggota tubuh mengucapkan puja dan puji atas berbagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Lidah tidak berhenti menyanjung-Nya, bertasbih dan bertakbir. Kita berdiri di hadapan-Nya dengan hati yang tunduk, menyadari dengan insaf bahwa kita hanyalah seorang hamba yang hina dan kecil tidak berarti apa-apa di hadapan kekuasaan-Nya yang luas dan tidak berujung.
Kita bersujud ke tanah dengan kening kita, bagian tubuh yang paling mulia dan kita hormati. Tetapi wajah itu kita tundukkan ke bawah. Untuk membuktikan kepada-Nya bahwa kening hanya kami izinkan untuk patuh kepada-Mu. Ya Rabb. Itulah seorang muslim, yang tidak pernah menundukkan kepala di hadapan siapapun, tetapi hanya tunduk dengan ridha kepada Allah SWT.
Kita berdiri, dan memohon kepada-Nya, dan kita rukuk tertunduk, di dalamnya kita memuji Dia. Kita bersujud, kita mengharapkan belas kasih-Nya. Kita duduk, kita memohon rahmat dan maghfirah dalam kehidupan kita. Demikianlah kita melakukan shalat sampai selesai.
Sebelum shalat selesai, kita mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW dan kepada kerabatnya, dan kepada Nabi Ibrahim dan kerabatnya. Karena merekalah yang telah menunjukkan dan merintis jalan ini. Lalu kita menoleh ke kanan dan ke kiri dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” kepada semua makhluk-Nya di sebelah kita.
Artinya, setelah kita kuatkan tali perhubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT Yang Maha Besar, kita bawa perasaan demikian ke tengah-tengah pergaulan hidup. Kita sebarkan perdamaian, ketenteraman dan rahmat di alam semesta.
Sebelum kita pergi, kita duduk sejenak, kita susun jari jemari kita, kita hamparkan sayap pengharapan dengan melantunkan bermacam-macam doa, semoga kiranya dikabulkan oleh-Nya. Setelah itu barulah kita berdiri dari tempat duduk, dengan hati yang suci, raut muka yang jernih, sudah sekian lamanya kita telah menghadap ke hadirat Rabbul ‘Izzati.
Adakah suatu ibadah yang lebih bagus dari gerakan shalat? Adakah jalan untuk mencapai kesempurnaan dan kemuliaan diri melebihi shalat? Adakah suatu tanda tunduk yang demikian kuat pengaruhnya melebihi dari shalat?
Ada sebagian orang yang berpandangan, mungkinkah kita mencapai kesucian dan memuji Allah SWT hanya dengan sebatas gerakan badan seperti itu ?. Betul, jika gerakan badan tidak diikuti gerakan batin secara simultan dan stimulan. Kalau kita hanya mensyukuri nikmat Allah SWT hanya dengan hati, tidak diikuti dengan lisan dan perbuatan, maka syukur kita tidak utuh. Sedangkan semua instrumen diri kita merasakan nikmat tersebut. Jadi bersyukur itu harus all out. Dengan hati, lisan dan amal shalih yang membuat pemberinya senang.
Kedua, kita diperintahkan pula mengeluarkan zakat,
jika harta kekayaan kita mencapai satu nishab. Yaitu dikeluarkan 2/5% dari jumlah harta. Dengan aturan itu semakin jelas bahwa syariat tidak hanya menekankan dalam memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Jadi, Islam memperkokoh hubungan kepada Allah SWT dan memperkuat interaksi sesama manusia (hablul minallah wa hablun minannas). Indikator seseorang itu dicintai oleh Allah SWT adalah dicintai sesama manusia.
Maka disyariatkan zakat. Zakat artinya suci. Mensucikan diri sendiri dari karat kekikiran. Membersihkan diri sendiri dari perasaan menyisihkan diri dari sesama manusia. Dan membersihkan harta itu sendiri agar tidak tercampur antara milik kita dan hak orang lain. Yaitu harta yang sepatutnya diterima yang berhak (mustahiq).
Tegasnya, membersihkan masyarakat dari perasaan berkapitalis. Zakat adalah sebuah pendidikan ilahi agar menusia tidak mementingkan diri sendiri, tetapi bersikap peduli dan empati kepada orang lain. Sehingga orang kaya menjadi pelindung si miskin. Tidak akan masuk surga seorang yang kenyang, sedangkan tetangganya dibiarkan kelaparan (al-Hadits). Sesungguhnya orang kafir takut terhadap apa yang diperbuat oleh mukmin yang kaya. Persoalan social akan mudah dipecahkan jika rukun Islam yang berupa zakat ini dilaksanakan.
Ketiga, puasa pada bulan Ramadhan.
Alangkah indah dan mulia ibadah puasa. Karena mengajarkan manusia mengelola hawa nafsu. Ia melepaskan manusia dari ikatan kebinatangan. Bukankah ahli ilmu pengetahuan, bahwa manusia itu serupa dengan binatang. Yang membedakan hanya akal pikirannya. Syariat puasa membangkitkan kesadaran manusia untuk melepaskan nafsu hewani. Bukankah manusia yang tidak bisa memimpin syahwat perut dan syahwat farjinya sama dengan binatang.
Bila syahwat sudah bisa dikendalikan, tertutuplah jalan-jalan yang semula terbuka digunakan oleh syetan untuk menjerumuskan manusia. Orang yang berpuasa menghentikan makan & minum yang halal, berhubungan dengan istri di siang hari untuk mematuhi perintah Allah SWT. Dari sini, terdapat pelajaran berkorban. Sekalipun lapar dan nafsu biologis bergejolak, asal Tuhan yang memerintahkan, akan bersikap sami’na wa ‘atha’na. Kita tahan dengan sakitnya lapar dan dahaga, tetapi tidak tahan dengan panasnya api neraka. Maka, akan berangsur-angsur hati merasa ringan untuk menjalankan perintah. Dan siap menunggu intruksi lanjutan yang lebih berat, jika waktunya tiba.
Adakah ibadah yang lebih efektif daripada puasa ?. Bukankah puasa itu membedakan antara manusia biasa dan manusia sejati ?. Bukankah ketika apabila perut sedang lapar, jiwa menjadi bersih, hati menjadi lemah lembut ?. Kecintaan dunia yang memberikan pengaruh yang keras di dalam hati manusia menjadi lunak dengan berpuasa.
Berpuasa bukan menyiksa diri, tetapi mengangkatnya menuju kemuliaan. Tiada perintah ibadah kecuali untuk kemaslahatan manusia. Dengan jalan menahan nafsu dalam berpuasa akan terbukalah kemenangan dalam perjuangan menegakkan kebenaran kelak.
Keempat, syariat haji juga mengandung hikmah yang luar biasa.
Tidak merasakan efeknya dalam kehidupan kecuali orang yang bersih. Mustahil orang mengumpulkan harta yang halal, dan siap menanggung resiko perjalanan jauh ke Makkah, jika tidak memiliki spirit berkorban untuk Allah SWT. Haji adalah wujud pengorbanan kongkrit secara lahir dan batin. Biaya untuk pergi haji akan diganti oleh Allah SWT (pasti kembali kepada pemiliknya), meminjam ungkapan orang yang telah melaksanakan rukun Islam yang kelima ini. Semakin banyak harta kekayaan yang dikeluarkan untuk Allah SWT akan dilipatgandakan dan menambah kebaikan dirinya.
Masjidil Haram adalah pusat dunia Islam. Disanalah terdapat pusaka-pusaka tua, jejak perjuangan yang telah ditempuh oleh Nabi Ibrahim, yang ridha menyembelih anaknya sendiri karena kecintaannya kepada Allah SWT. Jalan itu juga telah ditempuh Rasulullah SAW dalam menanggung berbagai kesulitan di negeri itu ketika membawa cahaya iman di tengah-tengah kegelapan jahiliyah. Bukan gelap mata tetapi kegelapan hati. Di sana terdapat berbagai syiar Allah SWT, berbagai ibrah dari kebesaran Allah SWT, untuk memperbaharui iman.

Wajar, jika Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang pergi mengerjakan haji dengan hati yang tulus, dosanya akan diampuni, sehingga bersih bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Bukankah apabila telah terikat tali kecintaan kita dengan seorang sahabat, maka ia akan merasa terhormat jika ia mengajak mampir (singgah) di dalam rumahnya, kita pun merasa bahagia pula bisa menyambut seruan itu ?. Sekarang, bagaimanakah perasaan kita jika yang kita cintai Tuhan kita sendiri. Dan Dia pula mencintai kita. Sebab, sudah sekian lama kita telah menjalin keakraban. Sejak mengucapkan dan melaksanakan tuntutan syahadat tauhid, dan syahadat rasul, melaksanakan ibadah shalat, zakat, puasa.
Indikator (bukti) keakraban hubungan dengan-Nya kita bersedia mampir ke rumah-Nya, baitullah. Kita dipersilahkan dengan hormat sebagai tamu-Nya (dhoifur rahman). Ketika memiliki kesanggupan. Di sana banyak barang yang mulia, sebagai peringatan, seperti Ka’bah itu sendiri disebut Baitullah (rumah Allah SWT), Maqam Ibrahim, Hajar Ismail, sumur Zam-Zam, jumratul ‘aqabah yang tiga, bukit Arafah dll. Diminta-Nya kita berkumpul bersama-sama ke Arafah, sehingga dapat disaksikan suatu pemandangan yang indah, betapa lautan manusia membuktikan keteguhan tali percintaan antara Allah SWT dengan mereka.
Jika demikian dalam rahasia yang dikandung dalam manasikul haji, maka ucapan yang kita lantunkan adalah : Labbaika, Allahumma labbaik ! La syarika laka labbaik ! Ini saya telah datang, aduhai kekasihku, inilah saya Tuhanku, aku tidak mempersekutukan kecintaanku kepada-MU dengan yang lain. Inilah saya.

Sudah sepatutnya, jika ada hadits nabi yang menjelaskan bahwa malaikat berdiri di tiap-tiap persimpangan jalan menghitung dan mencatat nama-nama orang yang pergi menjalankan haji, dan akan dilaporkan kepada Tuhan dan diampuni dosanya.

Labbaik Allahumma labbaik, innal hamda wal mulka laka, la syarika laka !. Inilah hamba-MU ya Tuhanku, segenap pujian dan kekuasaan tetaplah pada-MU, tak bersekutu Engkau dengan yang lain.
Banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Kita diperintah menanggalkan pakaian yang biasa kita pakai. Menggunakan kain yang tidak berjahit. Baik yang kaya ataupun yang miskin berabur menjadi satu. Disuruh menyederhanakan semua perbedaan-perbedaan. Masing-masing menunjukkan bahwa semuanya adalah hamba-Nya yang sama-sama rindu mengharap pintu rahmat dan maghfirah-Nya.
Kita disuruh membuka kepala, tidak boleh bertopi dan bermahkota. Tunjukkan persahabatan yang sejati dan sadarilah kamu bisa hidup dan mati karena kekuasaan-Nya. Kita disuruh thawaf, melempar jumrah. Itulah ibadah yang ghoiru ma’qulil makna (tidak rasional). Ibadah yang hanya menyentuh hati nurani. Demi, si pendosa mengatakan bahwa cinta itu membuat matamu buta. Biarlah mataku buta, sejak mata lahiriyahku tidak melihat alam lagi, tetapi mata batinku terus makrifat kepada Tuhanku.
Kelima, rukun islam disempurnakan dengan syariat Jihad (perlindungan Islam)
Jihad adalah tiang ibadah. Jihad adalah bukti faktual kecintaan hamba terhadap Al-Khalik. Tidak sedikit orang yang menjalin kecintaan tanpa berkorban. Betapa banyak orang yang senang menerima tetapi enggan memberi. Jihad adalah mengerahkan jiwa dan raga untuk membela agama Allah SWT dari serangan musuh-musuh-Nya. Hamba yang tercinta itu rela berkorban apa saja untuk yang dicintai-Nya. Sekiranya kematian yang diminta dan barang yang paling berharga dalam perjuangan itu, maka ia rela mati. Dan kalau boleh hidup kembali, ia akan hidup lagi agar dapat membuktikan cinta dengan kematian sekali lagi. Dia sudah melakukan transaksi jual beli dengan Allah SWT.

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِي
“Sesungguhnya Allah SWT telah membeli dari orang-orang beriman akan diri dan harta kekayaan mereka ialah untuk mereka surge mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah (9) : 111).

Jika sudah terbukti indicator (bukti) cinta sejati dengan bersedia berkorban apa saja terhadap yang dicintainya, maka kecintaannya harus utuh (tidak terbelah/bercabang). Agar tidak terjadi kecemburuan. Apakah hakikat jihad dalam Islam itu. Mengapa ia diwajibkan oleh Allah SWT kepada orang beriman?
Pertanyaan tersebut bisa diketahui dengan suatu permisalan yang berikut.
Andaikata ada seorang yang mengaku sebagai sahabat (teman dekat) yang mencintai kita. Tetapi perbuatannya pada setiap kecelakaan yang menimpa kita, menjadi saksi tidak mencintai kita. Ia tidak peduli dengan manfaat dan madharat yang menimpa kita. Ia tidak mau mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan ketika terjadi musibah. Bahkan tidak mencegah orang-orang yang mencelakai kita. Bahkan berserikat dengan orang lain/musuh untuk memojokkan kita. Apakah pengakuan dia sebagai sahabat kita akui?
Sekali-kali tidak. Ia mengaku sebagai sahabat hanya dengan lidah, tidak dengan hati yang tulus. Sahabat sejati adalah yang mencintai kita dengan siap berkorban apa saja untuk kita. Menolong dan membela kita dari musuh yang akan mencelakai kita. Jika semua persyaratan pertemanan tersebut tidak ada, maka ia adalah duri dalam daging kita (musuh dalam selimut). Apa arti syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji yang ia lakukan ?.
Maka kiaskanlah perumpamaan diatas dengan pengakuan kita sebagai muslim dan mukmin. Ketika kita mengaku muslim, adalah memiliki kesiapan untuk berkorban. Jadi, makna jihad adalah bahwa di dalam dirimu terdapat fanatisme Islam, kecemburuan (ghirah) terhadap keimanan, cinta kepada agama, dan nasihat yang tulus untuk saudara-saudaramu muslim (jihad ‘aini). Termasuk bagian dari fanatisme adalah jihad fi sabilillah dengan pengertiannya yang khusus, yaitu peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin di hadapan para penjajah peradaban (jihad kifai). Tidak ada yang memicu peperangan tersebut, selain mencari keridhaan Tuhan mereka. Mereka benar-benar telah membersihkan diri dari setiap motivasi duniawi yang rendah (Al Maududi, Mabadiul Islam, hal 118-119).*
Refrensi : majalah hidayatullah
Share:

Kamis, 27 Oktober 2011

ORANG-ORANG YANG SELALU DIDOAKAN OLEH MALAIKAT

http://farm1.static.flickr.com/227/465631886_5615b95ee4.jpg
Malaikat adalah makhluk Alloh yang taat beribadah kepada-Nya, bahkan berbeda dengan manusia, malaikat tidak memiliki nafsu, bersih dan suci dari kesalahan. Mereka memiliki berbagai tugas yang berbeda-beda, mulai dari mengatur alam hingga mencabut nyawa. Di antara mereka ada pula yang diberi kewenangan oleh Alloh untuk senantiasa berdoa, bisa kita bayangkan, betapa indah dan mulia do’a yang dilantunkan oleh para Malaikat yang terbebas dari salah dan lupa tersebut. Didalam tulisan ini saya mencoba membagikan kutipan karya Syaikh Dr. Fadhl Ilahi yang dikumpulkan dari hadits Nabi Muhammad SAW, semoga menginspirasi kita semua untuk senantiasa meningkatkan amal dan kebaikan.
Beruntung sekali orang-orang yang dido’akan malaikat, karena do’a malaikat pasti dikabulkan oleh Allah SWT karena mereka adalah makhluk yang suci dari dosa. Semoga kita termasuk orang-orang yang dido’akan oleh malaikat, jika anda ingin dido’akan oleh malaikat mari kita amalkan apa yang kita kaji dibawah ini , berikut diantara orang yang dido’akan oleh malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci kecuali para malaikat akan
mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang – orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,”Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
Wallahu ‘Alam
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive