"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2017

Sekolah SDN Sindangmulya 02, Gedung Mewah Tapi Murid Belajar Lesehan (Ndeprok) Di Lantai





 Ada pemandangan aneh ketika anda memasuki sekolah disalah satu wilayah bekasi ini tepatnya di SDN sindangmulya 02 bagaimana tidak? Sebagaimana telah diberitakan pojokjabar.com, Jika mengunjungi SDN Sindangmulya 02, Kecamatan Cibarusah, yang terbesit di pikiran mungkin kesan mewahnya. Karena sekolah ini memilki bangunan baru yang bertingkat, seperti di sekolah di kota-kota besar.Namun jika sudah masuk ke dalam kelas, siapapun tidak akan menyangka kalau sekolah ini masih banyak kekurangan, khususnya mebeler.Setiap hari, ratusan murid sekolah ini terpaksa belajar di lantai alias deprok. Kondisi itu tidak sebanding dengan bangunan sekolah yang tampak mewah dan megah.Murid-murid di sekolah ini belajarnya di lantai karena belum ada meja dan kursi.Setelah ditelisik, mebeler di sekolah ini ternyata belum dipenuhi oleh pemerintah daerah.

Alhasil, murid-murid setiap hari belajar deprok.Di SDN Sindangmulya 02 ada enam ruangan dari gedung baru yang tidak memiliki mebeler, lima di antaranya untuk kelas IV A dan B juga klas V A, B, dan C. Sedangkan satu ruangan lagi rencananya digunakan untuk perpustakan dan taman bacaan sekolah.Pihak sekolah mengaku sudah dua kali pengajuan proposal permohonan mebeler ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi pada pertengahan dan akhir 2016. Namun hingga gedung selesai dibangun, permohonan itu tidak juga dikabulkan.Kepala SDN Sindangmulya 02 Cibarusah, En Marhumah, mengatakan sudah sekitar dua bulan murid kelas IV dan V belajar deprok. Pembangunan gedung diserahterimakan sejak awal Januari kemarin.“Memang belum lama murid-murid belajar deprok dari semester dua, karena meja dan bangkunya tidak ada,” kata Marhumah saat ditemui Radar Bekasi, Selasa (31/01/2017). SDN Sindangmulya 02 memiliki 603 murid. Sebelum memiliki gedung baru, sekolah ini menerapkan sistem belajar dua sif, namun kini menjadi satu sif.

“Tapi kita kumpulkan dan sepakati wali murid, karena tidak adanya mebeler mau tidak anaknya sekolah deprok, dan sepakat mau sambil menunggu permintaan mebeler diberikan oleh pemerintah daerah,” ujarnya.
Murid-murid di sekolah ini belajarnya di lantai karena belum ada meja dan kursi. Murid-murid di sekolah ini belajarnya di lantai karena belum ada meja dan kursi, Kata Marhumah, banyak muridnya yang mengeluh lantaran belajar di lantai. Murid merasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Bahkan terkadang, ada murid yang merasakan dingin karena belajar di lantai.“Kita sih sudah suruh untuk bawa meja belajar yang dilipet supaya tidak tengkurep kalau nulis, tapi kan tidak semua orang tua mau membelinya untuk dibawa ke sekolah, makanya alakadarnya saja,” katanya.

Selain persoalan mebeler, Marhamah juga menyayangkan pihak kontraktor yang mengerjakan gedung baru. Karena tidak semuanya diselesaikan, termasuk pemasangan konblok di depan gedung baru, seperti janji dari kontraktor sebelum pembangunan.“Termasuk kunci pintu juga sudah banyak yang mau rusak padahal baru dua bulan selesai dikerjakan,” katanya.“Dinas Pendidikan juga seharusnya secepatnya memberikan mebeler ke sekolah ini karena kasihan juga banyak anak yang deprok sekolahnya,” lanjutnya. (pojokjabar)
Share:

Jumat, 17 Januari 2014

Konsep Pendidikan Karakter

A.    Konsep Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter  adalah  berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan  di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah  sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian  peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.
  
Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka  tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan  pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian  yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral.  Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989)  mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur  moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni:  perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Rabu, 03 Oktober 2012

Inilah Kerusakan Moral Remaja Indonesia


Oleh: Nunik Hartini

PERLU kita sadari bersama, saat ini negara kita sudah memasuki zaman yang penuh tantangan, cobaan serta hambatan. Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi maupun teknologi yang lain, kesemuanya mempunyai efek negatif yang ikut memperlancar kemaksiatan, kerusakan moral dan pelanggaran hukum agama. Ujung-ujungnya menjadi tantangan berat yang harus kita hadapi bersama.

Dampak yang nyata sekarang ini terjadi sebagian besar dialami oleh remaja atau istilah lain dikenal dengan remaja ABG (anak baru gede). Dalam usia ini umumnya remaja belum memiliki kematangan sosial (social maturity) sehingga masih labil dalam menentukan sikap, tingkah laku dan perbuatan.
Mereka masih mudah terkena pengaruh atau rangsangan-rangsangan dari luar. Dalam kondisi ini kadang-kadang dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan dengan memberikan ajaran-ajaran, ide-ide, motivasi-motivasi yang pada gilirannya bisa membentuk suatu sikap dan gaya hidup bahkan kepribadian.

Dengan pengaruh yang sangat besar itu setidak-tidaknya remaja harus diberi pembinaan langsung dari orang tua atau orang lain yang mengarah pada kebaikan. Jangan tinggal landas begitu saja masa bodoh, karena merasa sudah dewasa bisa mengurus dirinya sendiri. Kalau ini dibiarkan bisa berakibat fatal.

Remaja dengan mudah berbuat kemaksiatan-kemaksiatan karena jauh dari pengawasan. Bisa saja terjadi banyak anak remaja hamil di luar nikah. Betapa besar bahayanya sehingga masa depan anak jatuh, orang tua menanggung malu.

Pengaruh-pengaruh yang merangsang remaja yang hamil di luar nikah diantaranya, satu, mudahnya orang menyaksikan kemaksiatan lewat berbagai media baik cetak maupun elektronik. Majalah yang menampilkan gambar porno dengan mudah didapat, dijajakan oleh para pengasong di pinggir jalan, bacaan porno, demikian pula kaset VCD porno, hampir setiap rental menyediakan.
Dua, pergaulan laki-laki dan perempuan yang semakin bebas sehingga orang lebih mudah mendapatkan kenikmatan sesaat di berbagai tempat, di hotel-hotel, losmen, diskotek, kafe, panti pijat dan tempat-tempat biliar. Anak usia remaja banyak terjerumus menjadi budak pemuas nafsu setan. Disinyalir banyak kasus pelajar, mahasiswa-mahasiswa yang "nyambi" untuk menjual dirinya baik sebagai WTS atau gigolo.

Tiga, banyak remaja yang salah persepsi terhadap perbuatan dosa, karena informasi keliru yang diterimanya. Contoh pakar seksologi maupun psikologi mengatakan bahwa onani atau masturbasi wajar dilakukan oleh remaja, sehingga banyak remaja melakukannya. Padahal menurut hukum agama itu adalah perbuatan dosa besar.

Empat, hubungan seks yang dilakukan oleh sesama jenis laki-laki dengan laki-laki (homosex) dan perempuan dengan perempuan (lesbian), dan masih banyak contoh yang belum bisa disebutkan yang menyebabkan mengapa remaja banyak yang hamil di luar nikah.
Batas kenakalan remaja tidak hanya sampai di situ saja, bahkan sekarang remaja berani mencoba-coba menyalahgunakan narkoba yang baru ramai-ramainya diburu orang. Kalau seorang remaja telah kecanduan narkoba moralnya akan jadi kotor sehingga timbul kejahatan yang dialami remaja.

Remaja mulai berani pada orang tua, mabuk-mabukan, judi dan lain sebagainya. Ini sangat memprihatinkan. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut negara kita bisa hancur karena generasi remaja yang bobrok tak bermoral.

Masalah Narkoba

Menteri Urusan Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa di Jakarta 3 Februari tahun 2000 dulu pernah mengungkapkan, 64 dari 1024 SMU di Jakarta terdapat 290 kasus yang menyebabkan muridnya terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena ketergantungan narkoba dan menjadi pengedar narkoba. Bahkan di Jakarta ada suatu perguruan tinggi terkenal yang menurut perkiraan dosennya 50% mahasiswanya terlibat narkoba. Departemen Pendidikan Nasional juga mengungkapkan, 97% korban narkoba berusia 13-25 tahun. Masa itu adalah masa perkembangan remaja.

Bahaya seorang remaja yang telah kecanduan narkoba antara lain: 

a. Bisa merusak mental tingkah laku. Narkoba tersebut bila sudah diminum, dimakan dihisap atau disuntikkan maka zat akan beredar ke seluruh tubuh dan sebagian masuk kejaringan otak. Kegiatan syaraf manusia dan pusat pengatur/pengendali tingkah laku seseorang, maka apabila otaknya terganggu, kesemuanya ikut terganggu pula seperti sulit tidur, malas, mudah marah, badan jadi rusak dan tidak peduli dengan peraturan-peraturan, hukum-hukum dan norma-norma sehingga berani melakukan hal-hal yang tercela dan melanggar hukum.

b. Bisa menyebabkan kecelakaan, sebab pecandu obat-obat tersebut bisa mengalami distorsi ilusi/kesalahan dalam daya penglihatan. Kendaraan yang sudah dekat dikira masih jauh sehingga mengalami kecelakaan. Bisa juga jarak yang jauh dianggap dekat sehingga orang sedang mabuk narkoba, terjatuh dari gedung yang bertingkat tinggi, karena merasa jaraknya dengan tanah hanya setapak kaki saja sehingga akhirnya menemukan ajalnya.

c. Bisa menyebabkan kerugian harta benda dan waktu, sebab pecandu obat tersebut berani melakukan berbagai macam kejahatan tanpa merasa dirinya bersalah.

d. Menyebabkan kemelaratan sebab harga obat-obatan tersebut jelas sangat tinggi maka jumlah pengeluaran juga semakin meningkat. Akhirnya harta yang dimilikinya bisa terjual habis.

e. Bisa menyebabkan kematian. Pecandu obat tersebut setiap harinya harus mengkonsumsi dalam dosis yang selalu meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Kalau tidak badan bisa nyeri dan sakit yang luar biasa sehingga sampai kepalanya dibentur-benturkan ketembok atau lengannya disilet dan disedot darahnya sampai akhirnya menemui ajal.

f. Lebih-lebih bagi wanita, bahayanya lebih besar lagi sebab bisa mengganggu siklus menstruasi dan tidak haid selama memakai obat. Bisa kering rahim menyebabkan mandul dan menimbulkan kista (benjolan pada rahim). Bisa mengganggu alat reproduksi yang menyebabkan payudara mengecil / badan menjadi kurus, postur tubuh jadi kerempeng tidak menarik lagi. Nafsu makan berkurang sehingga badan menjadi kurus, tidak bercahaya dan tidak cantik lagi.

Ketagihan obat-obat terlarang bisa nekat melakukan apa saja untuk mendapatkannya termasuk menjual dirinya karena ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya mendapatkan obat-obatan tersebut. Secara hukum negara, pengedar, pengguna, pemilik narkoba bisa dikenai ancaman hukum, sampai dengan hukuman mati. Dalam UU No. 5/1997 tentang Psikotropika dan UU No. 22/1997 tentang Narkotika, dicantumkan hukuman minimal dan hukuman maksimal, denda Rp 750 juta sampai dengan hukuman mati.

 Sekelumit Solusi


Dengan melihat bahwa serta pengaruh yang sangat besar ini secepatnya pemerintah segera mengatasi dengan melihat sosok pemuda / remaja merupakan sosok generasi penerus dan harapan bangsa masa depan. Adapun solusi terbaik pertama yang harus ditempuh yaitu lewat jalur keluarga (Adanya komunikasi antara remaja dan orang tua.

Hal -hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
1) Keteladanan orang tua Pepatah lama mengatakan "Air cucuran atap jatuh kepelimbuhan juga" atau "Buah tidak akan jatuh dari pohonnya". Hal tersebut menggambarkan betapa pentingnya keteladanan orangtua dalam membina dan mengasuh membentuk watak anak-anaknya.

2) Kerukunan anggota rumah tangga. Dengan meningkatkan taraf hidup keluarga seringkali orangtua tidak mendidik anak-anak prihatin lagi, dengan alasan cukup saya sebagai orang tua yang susah. Anak-anak jadi manja karena diberi pembantu rumah tangga, kalau tidak ada pembantu, ibunya menjadi pembantu bagi anak-anaknya. Padahal pada waktu orangtuanya susah, anak-anak selalu diajak berpartisipasi di dalam kegiatan rumah tangga.

3) Perubahan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat berlawanan sikap orangtua yang otoriter (menang sendiri). Peran orangtua generasi pascakemerdekaan seringkali memaksakan atau mengeluh karena terjadi benturan nilai-nilai yang pada zamannya dengan nilai-nilai modernisasi di era globalisasi dewasa ini. Contoh, dalam sopan santun tata krama hubungan anak dengan orang tua, pada zaman sekarang dibesarkan dalam era demokratis, hak asasi manusia, konsumerisme, dan lain-lain.

Benang merah yang sangat fundamental dalam hubungan orang tua dengan anak yang dewasa ini semakin langka yaitu komunikasi dua arah/ timbal balik.Yang lebih banyak diterima oleh anak adalah pemaksaan dari orang tua bahwa anak harus begini harus begitu, tidak boleh ini tidak boleh itu, sementara sang anak lebih mengharapkan usapan kasih sayang di kepalanya serta perhatian dan sapaan yang halus dari orangtua.

4) Penciptaan kondisi kehidupan islami. Dalam rangka membina generasi muda yang mandiri dan produktif, pendidikan di lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan di keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan keluarga melandasi dan menjadi pondasi bagi generasi muda, terlebih-lebih menghadapi pola kehidupan modern yang mengarah kepada kehidupan yang bebas.

Penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini akan dapat membentengi generasi muda terhadap kemungkinan terjadinya perilaku negatif sebagai dampak dari kehidupan modern. Upaya menanamkan sikap mental yang mandiri dan produktif dapat dilakukan melalui latihan-latihan untuk mengembangkan rasa tanggungjawab, jiwa ulet, tangguh dan trengginas, antara lain dengan mengurus kebutuhan sendiri, seperti mencuci pakaian, memelihara kebersihan lingkungan, berkebun, dan lain-lain.

Jadikanlah kita semua ini menjadi generasi muda mandiri harus memiliki tekad yang kuat, tidak boleh loyo dan berputus asa.
Send articles as PDF to
Share:

Senin, 06 Agustus 2012

Awal Punahnya Peradaban Sebuah Bangsa




Pesatnya pertumbuhan pembangunan, pesatnya arus globalisasi dan modernisasi di berbagai daerah, menyebabkan lunturnya berbagai kebudayaan  daerah. Banyak kebudayaan yang Luhur, indah dan sangat bermakna tergantikan oleh budaya-budaya asing yang baru kita kenal dan tentunya banyak menyebabkan kerusakan moral.

  Namun, sebagian dari kita tidak menyadari akan hal tersebut. Karena masing-masing dari diri kita juga ikut "berpatisipasi" dalam melancarkan pelunturan "jati diri".  Karena kita masih berkiblat pada dunia barat yang memiliki budaya yang sangat bertentangan dengan budaya luhur kita. Beberapa faktor penyebab lunturnya kebudayaandaerah yang ditemui dan setiap hari ada di sekitar kita. Oleh karena itu, untuk menjaga agar budaya daerah kita tidak semakin memudar, perlu kita sadari serta berusaha untuk menyaring hal-hal yang kita dapatkan tiap harinya. Agar tidak kita ambil begitu saja dan melupakan kebudayaan sendiri. Akhirnya menjadi sebuah bangsa yang kehilangan jati diri. Kehilangan jati diri sama rendahnya seperti pelacur yang menjual diri dan tidak punya harga diri. Bangsa yang kehilangan jati diri menjadi bangsa budah negara lain !!. Sadarilah hal ini !!

Uneg-Uneg wong jowo

Dalam hal ini, saya mengambil contoh fenomena budaya jawa, bukan bermaksud kesukuan, tapi saya ambil contoh lingkungan di mana saya tinggal. Yaitu di kota batu jawa timur. Dekat saja, di lingkungan tempat tinggal saya merasa apresiasi masyarakat terhadap budaya jawa sudah mulai luntur. Apakah ini pengaruh dari globalisasi, mungkin salah satunya iya. Terhadap anak - anak kecil, orang tua sudah jarang berbahasa Jawa, tapi Indonesia, atau malah bahasa Inggris.

Mungkin karena mereka menganggap berbahasa Indonesia terkesan lebih terhormat begitu daripada berbahasa Jawa. Orang tua juga sibuk mengajari atau mengkursuskan anaknya bahasa asing sejak dini, bisa bahasa Inggris, Jepang atau malah Mandarin dan Jerman. Bila di tempat saya ada pelajaran muatan lokal yang dinamakan Bahasa Daerah,maka nilai raport di matpel itu akan di lihat belakangan. Menunjukkan betapa kurang pentingnya muatan lokal ini di mata mereka. Untuk orang -orang generasi saya saja ,sudah banyak di antara kami yang tidak bisa membedakan silsilah yang mana bahasa krama inggil,krama madya atau ngoko dan bingung kepada siapa saja kami harus menggunakan itu.

Di salah satu TV lokal, acara dansa nya berdurasi lebih lama daripada acara daerah seperti campur sari atau guyonan ala jawa timur. Anak - anak sekarang lebih kenal Harry Potter daripada cerita pewayangan atau babad tanah jawi. Mereka lebih kenal nyanyian Justin Bieber daripada ilir -ilir atau tembang macapat. Lebih mengenal sejarah berdirinya tembok china karena untuk pertahanan terhadap suku bar bar daripada sejarah keraton Yogyakarta atau keraton Solo. Tentu saja tidak buruk untuk mengenal peradaban dunia, tapi hendaknya sejarah daerah sendiri juga tidak dilupakan.

Sebenarnya sangat disayangkan sekali fenomena seperti ini terjadi, karena siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini kalo bukan kita sendiri. Bukankan salah satu pemicu munculnya Bhineka Tunggal Ika itu karena keragaman budaya seperti ini, kalo budaya sudah seragam kan ga ada yang namanya bhineka. Bukankah ini ciri khas, keragaman budaya kan bukan pemecah tapi malah memperkaya Indonesia. Kita sering heboh dan marah kalo budaya kita sudah di klaim negara lain. Oleh karena itu marilah kita kembali ke akar budaya kita, sambil juga belajar budaya dunia. Jangan pernah kita lupa akan kekayaan budaya sendiri.

Saudara-saudara kita yang di Suriname saja melestarikan. Bagaimana mereka begitu menghargai bahasa jawa,sekalipun sebagian besar mereka tidak pernah menginjak tanah jawa karena sudah lahir dan besar di sana. Karena mereka paham, Jawa adalah asal muasal mereka. Di salah satu acara TV, dapat kita lihat bahwa warga suriname terutama yang berasal dari Jawa masih sangat menjunjung budaya Jawa, entah itu melestarikan ludruk (drama jawa timur an),kuda lumping, reog, campur sari,dan beberapa menteri mereka yang keturunan Indonesia masih lancar dan fasih berbahasa Jawa sesuai etika. Padahal di negara mereka, beragam asal penduduknya , di sana orang jawa juga bukan mayoritas, tentu budaya dari banyak negara sangat mungkin membuat mereka lupa budaya asal. Tapi ternyata mereka, saudara - saudara yang berasal dari negara kita mampu mempertahankannya, tentunya jika kita mau, disini , di Indonesia lebih mudah untuk mempertahankan.


Kehidupan ala Barat dan Kerusakan Moral

Melihat kenyataan sekarang ini sungguh memprihatinkan. khususnya terhadap moral dan perilaku generasi penerus bangsa yang mulai gemar bertingkah laku dan perpakaian dan berbahasa gaul ala barat. Akan tetapi malu dengan budaya sendiri hanya karena malu dibilang "norak","kuno" "jadul" dan sebagainya. Inilah zaman modernisasi atau zaman globalisasi. Yang bercirikan cepatnya perubahan sosial dan teknologi informasi. Segalanya berlalu begitu cepat. Yang hari ini muncul dan hari besok sudah dibilang ketinggalan jaman. yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan cepat tertinggal peradaban modern. Bisa dibilang orang "gaptek" atau gagap teknologi (tidak tahu menahu seluk beluk teknologi dan informasi modern). Karena anak seusia TK saja barangkali jaman sekarang ini sudah kenal namanya chatting-an atau facebook-an apalagi yang ABG / remaja. Dan yang saya heran orang dewasa bahkan kakek nenekpun ikut-ikutan tren masa kini dengan bergaya ala remaja dengan membawa telepon genggam atau hp sambil chatingan dan sms atau facebookan dengan  teman mereka. Sungguh hal yang agak janggal namun tidak semua orang mau menyadari hal ini. Karena seharusnya yang lebih tua, yang dewasa, apalagi yang tua renta seharusnya menjadi panutan bagi generasi penerusnya supaya jangan sampai terlalu terperosok dalam arus kebudayaan barat namun melupakan jati dirinya sebagai orang indonesia. Bangsa kita adalah sebuah bangsa yang mempunyai perdaban dan budaya, adat istiadat  yang beragam. Namun sebanyak apapun kekayaan budaya yang kita miliki akan sirna ditelan jaman jika tak ada yang mau melestarikan.

Hanya sedikit orang yang mau menyelamatkan "identitas diri" atau "jati diri" ditengah cepatnya perubahan peradaban sosial. Yaitu segelintir diantara kita yang tidak terlalu mempersoalkan gengsi ala barat dan segala tiruannya namun lebih cenderung gemar melestarikan budaya adat istiadat sendiri. Sedangkan budaya asing yang masuk tidak langsung saja dikonsumsi mentah-mentah, melainkan disaring dan dicocokan dengan budaya luhur sendiri. Yang jelek dibuang, yang baik dipakai. dan juga tidak terlalu fanatik dengan budaya sendiri sehingga menjadi anti dengan teknologi akhirnya jadi orang yang gaptek. Orang gaptek dijaman sekarang ini akan mudah sekali tertipu orang lain dalam segala urusan.

Awal punahnya peradaban bangsa kita

Dan segala kerusakan moral para remaja kita sekarang ini sesungguhnya tidak lepas dari pengaruh globalisasi dan invasi budaya barat. Karena bodoh dan kolotnya bangsa kita adalah budaya yang jelek dari barat gemar ditiru namun budaya yang baik misalnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh barat jarang ditiru atau dipelajari. Yang ditiru hanya budaya yang galomur, ngawur dan amburadul. Misalnya budaya konsumtif belanja di Mall-Mall biar dikira orang kaya dan tidak mau belanja dipasar tradisional karena menganggap pasarnya orang miskin, kemudian budaya pacaran, budaya pergaulan bebas atau free sex, narkoba, miras, membuat gank-gank jalanan, tawuran, berpakaian ala rok mini dan sebagainya.

Akhirnya yang terjadi adalah bangsa kita menjadi bangsa yang semakin bodoh namun sombong dengan gengsi ala baratnya. Bangsa yang miskin namun sok kaya dengan kemana-mana nenteng laptop sama Hp padahal cuman untuk facebookan. Bangsa yang kaya akan budaya luhur namun telah menjadi bangsa yang miskin peradaban dan tengah dilanda krisis moral. Bangsa kita ini hakikatnya sedang dijajah habis-habisan dalam hal pemikiran dan budaya kehidupan. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa bangsa kita sedang menuju kehancuran. Seperti yang dialami kaum yang punah terdahulu karena berawal dari kerusakan moral yang meraja lela.

Agama sekarang ini hanya menjadi topeng untuk menutupi sebuah kebohongan. Dan banyak ilmu dicari bukan untuk membangun negri namun untuk merusak negri contohnya para koruptor bukankah mereka orang intelek dan terpelajar?. Mereka ramai-ramai berebut kursi jabatan lalu saling menonjok dan menjatuhkan. Mereka ramai-ramai dalam berbisnis tidak peduli caranya halal atau haram. Ditengah krisis moral seperti itu rakyat kecil hanya jadi korban kebuasan penguasa lalu fakir miskin, anak yatim, kaum lemah (dhuafa') dan anak-anak jalanan maupun tuna wisma hanya menjadi sebuah tontonan orang lewat dijalan raya. Tanpa ada sedikitpun segelintir manusia yang masih peduli dengan sesamanya.

Jika ini semua kita biarkan maka tak pelak bangsa yang besar dan beragam ini hanya tinggal cerita masa lalu bagi anak cucu. alias kiamat. seperti kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan oleh Allah karena kerusakan moral yang meraja lela dan tak ada sedikitpun manusia yang peduli dengan hal itu. Berpikirlah sejenak dan renungkan apa yang terjadi pada jaman anda sekarang ini. Sungguh sebuah tanda-tanda akhirnnya peradaban bangsa kita semakin mendekat !! Naudzubillah.

Wallahu'alam


Sumber rujukan :
~ Sosial budaya kompasiana
~ Jawaku situs
~ Opini penulis / admin


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Inilah Awal Punahnya Peradaban Bangsa Indonesia !




Pesatnya pertumbuhan pembangunan, pesatnya arus globalisasi dan modernisasi di berbagai daerah, menyebabkan lunturnya berbagai kebudayaan  daerah. Banyak kebudayaan yang Luhur, indah dan sangat bermakna tergantikan oleh budaya-budaya asing yang baru kita kenal dan tentunya banyak menyebabkan kerusakan moral.

  Namun, sebagian dari kita tidak menyadari akan hal tersebut. Karena masing-masing dari diri kita juga ikut "berpatisipasi" dalam melancarkan pelunturan "jati diri".  Karena kita masih berkiblat pada dunia barat yang memiliki budaya yang sangat bertentangan dengan budaya luhur kita. Beberapa faktor penyebab lunturnya kebudayaandaerah yang ditemui dan setiap hari ada di sekitar kita. Oleh karena itu, untuk menjaga agar budaya daerah kita tidak semakin memudar, perlu kita sadari serta berusaha untuk menyaring hal-hal yang kita dapatkan tiap harinya. Agar tidak kita ambil begitu saja dan melupakan kebudayaan sendiri. Akhirnya menjadi sebuah bangsa yang kehilangan jati diri. Kehilangan jati diri sama rendahnya seperti pelacur yang menjual diri dan tidak punya harga diri. Bangsa yang kehilangan jati diri menjadi bangsa budah negara lain !!. Sadarilah hal ini !!

Uneg-Uneg wong jowo

Dalam hal ini, saya mengambil contoh fenomena budaya jawa, bukan bermaksud kesukuan, tapi saya ambil contoh lingkungan di mana saya tinggal. Yaitu di kota batu jawa timur. Dekat saja, di lingkungan tempat tinggal saya merasa apresiasi masyarakat terhadap budaya jawa sudah mulai luntur. Apakah ini pengaruh dari globalisasi, mungkin salah satunya iya. Terhadap anak - anak kecil, orang tua sudah jarang berbahasa Jawa, tapi Indonesia, atau malah bahasa Inggris.

Mungkin karena mereka menganggap berbahasa Indonesia terkesan lebih terhormat begitu daripada berbahasa Jawa. Orang tua juga sibuk mengajari atau mengkursuskan anaknya bahasa asing sejak dini, bisa bahasa Inggris, Jepang atau malah Mandarin dan Jerman. Bila di tempat saya ada pelajaran muatan lokal yang dinamakan Bahasa Daerah,maka nilai raport di matpel itu akan di lihat belakangan. Menunjukkan betapa kurang pentingnya muatan lokal ini di mata mereka. Untuk orang -orang generasi saya saja ,sudah banyak di antara kami yang tidak bisa membedakan silsilah yang mana bahasa krama inggil,krama madya atau ngoko dan bingung kepada siapa saja kami harus menggunakan itu.

Di salah satu TV lokal, acara dansa nya berdurasi lebih lama daripada acara daerah seperti campur sari atau guyonan ala jawa timur. Anak - anak sekarang lebih kenal Harry Potter daripada cerita pewayangan atau babad tanah jawi. Mereka lebih kenal nyanyian Justin Bieber daripada ilir -ilir atau tembang macapat. Lebih mengenal sejarah berdirinya tembok china karena untuk pertahanan terhadap suku bar bar daripada sejarah keraton Yogyakarta atau keraton Solo. Tentu saja tidak buruk untuk mengenal peradaban dunia, tapi hendaknya sejarah daerah sendiri juga tidak dilupakan.

Sebenarnya sangat disayangkan sekali fenomena seperti ini terjadi, karena siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini kalo bukan kita sendiri. Bukankan salah satu pemicu munculnya Bhineka Tunggal Ika itu karena keragaman budaya seperti ini, kalo budaya sudah seragam kan ga ada yang namanya bhineka. Bukankah ini ciri khas, keragaman budaya kan bukan pemecah tapi malah memperkaya Indonesia. Kita sering heboh dan marah kalo budaya kita sudah di klaim negara lain. Oleh karena itu marilah kita kembali ke akar budaya kita, sambil juga belajar budaya dunia. Jangan pernah kita lupa akan kekayaan budaya sendiri.

Saudara-saudara kita yang di Suriname saja melestarikan. Bagaimana mereka begitu menghargai bahasa jawa,sekalipun sebagian besar mereka tidak pernah menginjak tanah jawa karena sudah lahir dan besar di sana. Karena mereka paham, Jawa adalah asal muasal mereka. Di salah satu acara TV, dapat kita lihat bahwa warga suriname terutama yang berasal dari Jawa masih sangat menjunjung budaya Jawa, entah itu melestarikan ludruk (drama jawa timur an),kuda lumping, reog, campur sari,dan beberapa menteri mereka yang keturunan Indonesia masih lancar dan fasih berbahasa Jawa sesuai etika. Padahal di negara mereka, beragam asal penduduknya , di sana orang jawa juga bukan mayoritas, tentu budaya dari banyak negara sangat mungkin membuat mereka lupa budaya asal. Tapi ternyata mereka, saudara - saudara yang berasal dari negara kita mampu mempertahankannya, tentunya jika kita mau, disini , di Indonesia lebih mudah untuk mempertahankan.


Kehidupan ala Barat dan Kerusakan Moral

Melihat kenyataan sekarang ini sungguh memprihatinkan. khususnya terhadap moral dan perilaku generasi penerus bangsa yang mulai gemar bertingkah laku dan perpakaian dan berbahasa gaul ala barat. Akan tetapi malu dengan budaya sendiri hanya karena malu dibilang "norak","kuno" "jadul" dan sebagainya. Inilah zaman modernisasi atau zaman globalisasi. Yang bercirikan cepatnya perubahan sosial dan teknologi informasi. Segalanya berlalu begitu cepat. Yang hari ini muncul dan hari besok sudah dibilang ketinggalan jaman. yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan cepat tertinggal peradaban modern. Bisa dibilang orang "gaptek" atau gagap teknologi (tidak tahu menahu seluk beluk teknologi dan informasi modern). Karena anak seusia TK saja barangkali jaman sekarang ini sudah kenal namanya chatting-an atau facebook-an apalagi yang ABG / remaja. Dan yang saya heran orang dewasa bahkan kakek nenekpun ikut-ikutan tren masa kini dengan bergaya ala remaja dengan membawa telepon genggam atau hp sambil chatingan dan sms atau facebookan dengan  teman mereka. Sungguh hal yang agak janggal namun tidak semua orang mau menyadari hal ini. Karena seharusnya yang lebih tua, yang dewasa, apalagi yang tua renta seharusnya menjadi panutan bagi generasi penerusnya supaya jangan sampai terlalu terperosok dalam arus kebudayaan barat namun melupakan jati dirinya sebagai orang indonesia. Bangsa kita adalah sebuah bangsa yang mempunyai perdaban dan budaya, adat istiadat  yang beragam. Namun sebanyak apapun kekayaan budaya yang kita miliki akan sirna ditelan jaman jika tak ada yang mau melestarikan.

Hanya sedikit orang yang mau menyelamatkan "identitas diri" atau "jati diri" ditengah cepatnya perubahan peradaban sosial. Yaitu segelintir diantara kita yang tidak terlalu mempersoalkan gengsi ala barat dan segala tiruannya namun lebih cenderung gemar melestarikan budaya adat istiadat sendiri. Sedangkan budaya asing yang masuk tidak langsung saja dikonsumsi mentah-mentah, melainkan disaring dan dicocokan dengan budaya luhur sendiri. Yang jelek dibuang, yang baik dipakai. dan juga tidak terlalu fanatik dengan budaya sendiri sehingga menjadi anti dengan teknologi akhirnya jadi orang yang gaptek. Orang gaptek dijaman sekarang ini akan mudah sekali tertipu orang lain dalam segala urusan.

Awal punahnya peradaban bangsa kita

Dan segala kerusakan moral para remaja kita sekarang ini sesungguhnya tidak lepas dari pengaruh globalisasi dan invasi budaya barat. Karena bodoh dan kolotnya bangsa kita adalah budaya yang jelek dari barat gemar ditiru namun budaya yang baik misalnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh barat jarang ditiru atau dipelajari. Yang ditiru hanya budaya yang galomur, ngawur dan amburadul. Misalnya budaya konsumtif belanja di Mall-Mall biar dikira orang kaya dan tidak mau belanja dipasar tradisional karena menganggap pasarnya orang miskin, kemudian budaya pacaran, budaya pergaulan bebas atau free sex, narkoba, miras, membuat gank-gank jalanan, tawuran, berpakaian ala rok mini dan sebagainya.

Akhirnya yang terjadi adalah bangsa kita menjadi bangsa yang semakin bodoh namun sombong dengan gengsi ala baratnya. Bangsa yang miskin namun sok kaya dengan kemana-mana nenteng laptop sama Hp padahal cuman untuk facebookan. Bangsa yang kaya akan budaya luhur namun telah menjadi bangsa yang miskin peradaban dan tengah dilanda krisis moral. Bangsa kita ini hakikatnya sedang dijajah habis-habisan dalam hal pemikiran dan budaya kehidupan. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa bangsa kita sedang menuju kehancuran. Seperti yang dialami kaum yang punah terdahulu karena berawal dari kerusakan moral yang meraja lela.

Agama sekarang ini hanya menjadi topeng untuk menutupi sebuah kebohongan. Dan banyak ilmu dicari bukan untuk membangun negri namun untuk merusak negri contohnya para koruptor bukankah mereka orang intelek dan terpelajar?. Mereka ramai-ramai berebut kursi jabatan lalu saling menonjok dan menjatuhkan. Mereka ramai-ramai dalam berbisnis tidak peduli caranya halal atau haram. Ditengah krisis moral seperti itu rakyat kecil hanya jadi korban kebuasan penguasa lalu fakir miskin, anak yatim, kaum lemah (dhuafa') dan anak-anak jalanan maupun tuna wisma hanya menjadi sebuah tontonan orang lewat dijalan raya. Tanpa ada sedikitpun segelintir manusia yang masih peduli dengan sesamanya.

Jika ini semua kita biarkan maka tak pelak bangsa yang besar dan beragam ini hanya tinggal cerita masa lalu bagi anak cucu. alias kiamat. seperti kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan oleh Allah karena kerusakan moral yang meraja lela dan tak ada sedikitpun manusia yang peduli dengan hal itu. Berpikirlah sejenak dan renungkan apa yang terjadi pada jaman anda sekarang ini. Sungguh sebuah tanda-tanda akhirnnya peradaban bangsa kita semakin mendekat !! Naudzubillah.

Wallahu'alam


Sumber rujukan :
~ Sosial budaya kompasiana
~ Jawaku situs
~ Opini penulis / admin

Share:

Rabu, 11 Juli 2012

Nasehat Ulama : Adab yang utama bagi pelajar


Dalam suatu pertemuan Habib abu bakar assegaf memberikan nasehat kepada pengikutnya “Ketahuilah bahwa Allah SWT akan memberikan kepada hamba- Nya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan niatnya. Menurutku, Allah niscaya akan mendatangkan segala nikmat- Nya di muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba- Nya yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba- Nya yang lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah SWT kecuali dari hati yang bersih. Ketahuilah, wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan sebagai hamba Allah yang sejati jika belum membersihkan hatinya!”

Dalam kesempatan lain pada Jum’at berikutnya di rumah kediaman Habib Abubakar di Gresik, ada suatu majelis yang dihadiri banyak orang dari dalam dan luar kota. Saat itu ia memberikan taushiyah, “Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini (sambil menunjuk ke dadanya) seperti rumah. Jika dihuni orang yang pandai merawatnya dengan baik, akan tampak nyaman dan hidup. Namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah SWT merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.”

Pada kesempatan lain pula, nasihat Habib Abubakar ditulis oleh Habib Muhammad bin Hud Assegaf, dalam sebuah majelis di Surabaya yang dihadiri oleh para tokoh ulama, di antaranya Habib Abdul Qadir bin Hadi Assegaf, yang membacakan nasihat dan kalam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tentang “Rahasia di dalam majelis-majelis yang mulia”.
Kemudian, Habib Abubakar menegaskan, “Saudara-saudaraku, dengarkanlah yang dikatakan Habib Ali. Beliau meminta kepada kita untuk selalu meluangkan waktu menghadiri majelis-majelis semacam ini. Ketahuilah, menghadiri suatu majelis yang mulia akan dapat mengantarkan kita pada suatu derajat yang tidak dapat dicapai oleh banyaknya amal kebajikan yang lain.”

Lalu ia menambahkan, “Simaklah apa yang dikatakan guruku tadi. Di zaman ini, hanya sedikit orang yang menunjukkan adab luhur dalam majelis. Jika ada seseorang yang datang, mereka berdiri dan bersalaman atau menghentikan bacaan, padahal orang itu datang ke majelis tersebut tidak lain untuk mendengarkan. Oleh karenanya, banyak kujumpai orang di zaman ini, jika datang seseorang, me¬reka berkata ‘Silakan kemari’ dan yang lain mengatakan juga ‘Silakan kemari’ sedang orang yang duduk di samping mengipasinya.

Gerakan-gerakan dan kegaduhan yang mereka timbulkan menghapus ke- berkahan majelis itu sendiri. Keberkahan majelis bisa diharapkan apabila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majelis itu pada intinya adalah adab, se¬dangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati.
Oleh karena itu, saUdara-saudaraku, aku anjurkan kalian, hadirilah majelis- majelis kebaikan. Ajaklah anak-anak kalian ke sana dan biasakan mereka untuk mendatanginya, agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majelis-majelis yang baik pula.” Pada kesempatan lain, ia menyampaikan nasihat perihal pendidikan pada anak-anak, “Saat-saat ini aku jarang melihat santri-santri atau siswa-siswa madrasah yang menghargai ilmu. Banyak kulihat, mereka membawa mushaf atau kitab-kitab ilmu yang lain dengan cara tidak menghormatinya, menenteng atau membawa di belakang punggungnya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat- tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu tapi mencintai nilai semata-mata. Mereka diajari pemikiran para filosof dan budaya pemikiran-pemikiran orang Yahudi dan Nasrani.

Apa yang akan terjadi pada generasi remaja masa kini? Ini tentu adalah tanggung jawab bersama. Habib Ali pemah merasakan kekecewaan yang sama seperti yang kurasakan. Padahal di zaman beliau aku melihat kota Seiwun dan Tarim sangat makmur, bahkan negeri Hadhramaut dipenuhi dengan para penuntut ilmu yang beradab, berakhlaq, menghargai ilmu dan orang alim. Bagaimana jika beliau mendapati anak-anak kita di sini yang tidak menghargai ilmu dan para ulama? Niscaya beliau akan menangis dengan air mata darah. Beliau menambahkan bahwa, ‘Aku akan meletakkan pada penuntut ilmu di atas kepalaku; dan jika aku bertemu murid yang membawa bukunya dengan rasa adab, ingin rasanya aku mencium kedua matanya’.”
Habib Abubakar melanjutkan, “Aku teringat suatu kalam seorang shalih yang mengatakan, ‘Tidak ada yang menyebabkan manusia rugi kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kehidupan kaum shalihin dan berkiblat pada buku-buku modern dengan pola pikir yang serba meringankan. Wahai saudara-saudaraku, ikutilah jalan salafush shalihin, sebab mereka adalah orang-orang suci yang beramal ikhlas.
Ketahuilah, salaf kita tidak menyukai ilmu kecuali yang dapat membuahkan amal shalih. Aku teringat pada suatu untaian mutiara nasihat Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas yang mengatakan, ‘Ilmu adalah alat, meskipun ilmu itu baik (hasan); tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Karenanya, ilmu harus diiringi adab, akhlaq, dan niat yang shalih. Ilmu demikianlah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi’.”

(Disadur dari Majalah Alkisah No. 22, 31 Okt -13 Nov 2011 hal. 135-137)




isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Jumat, 29 Juni 2012

Pendidikan Anak : Pengaruh permainan terhadap pendidikan

Pendahuluan


Apakah diantara kita (orang dewasa)  masih ada yang suka bermain, tentu saja bila ada diantara kita begitu  pasti ada orang lain yang nyeletuk "itu orang kekanak-kanakan. Tapi berbeda pandangan para psikolog, ternyata bermain adalah sesuatu yang mempengaruhi psikologi manusia dan dampaknya juga bagus yaitu orang yang banyak bermain ternyata bisa lebih terhindar dari stress yang menyempitkan hidup itu, lalu bagaimana dampaknya kepada anak-anak?. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Dalam pandangan seorang ahli filsafat yaitu Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda pada tahun 1938 menulis sebuah buku Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture. Dari buku itu kemudian populer istilah Homo Ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Huizinga bahkan menyatakan bahwa “Play is Older Than Culture”, bahwa permainan itu lebih tua dari kebudayaan. Terlepas dari kontroversi pernyataan itu, nyatanya dalam setiap komunitas baik primitif maupun modern selalu terdapat permainan sebagai bagian dari kebudayaan manusia, tiap zaman memiliki tipikal permainannya sendiri. Tentu saja, karena permainan adalah bagian dari kebudayaan, jenis permainan itu terkait erat dengan perkembangan budaya masyarakat setempat.

Kita disini tidak akan membahas tentang budaya tapi adalah bagaimana pengaruh permainan dengan pendidikan psikologi anak. Dan orang tua patut mewaspadai, punahnya permainan tradisional seperti petak umpet, main kelereng, layang-layang dan sebagainya dan terganti dengan permainan modern seperti playstation, game online, internet dan sebagainya ternyata dampaknya juga buruk bagi pendidikan anak.


Pengaruh bermain bagi perkembangan anak adalah : 
  1. Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak 
  2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi
  3. Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
  4. Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
  5. Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
  6. Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak


1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.


Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif


1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif


1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.
Dikutip dari: Temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa Anak dan Remaja


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Kamis, 21 Juni 2012

Beasiswa Pendidikan Islam S1 PAI

Segala puji bagi Alloh SWT l, Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhamammad n, keluarga dan para sahabatnya yang mulia serta para pengikutnya yang setia.
            Jika kita ingin mengetahui kualitas suatu bangsa, maka lihatlah pendidikanya. Jika pendidikan suatu bangsa mulia dan baik, maka mulia dan baiklah pula bangsa itu. Sebaliknya, jika pendidikan suatu bangsa hina dan buruk, maka hina dan buruk pula bangsa itu.

Telah Dibuka
Program Beasiswa Pendidikan Islam STAI AL HIDAYAH
Angkatan ke 11 ( Sebelas ) Tahun 2012
Informasi pendaftaran hubungi :
Sukarman, Lc. 0812 9848 2291 atau Faishol Hamzah, Lc. 
0852-1878-8597 email : pmb@beasiswapendidikanislam.com 
 alamat Kampus : Komplek Yayasan Islam Al-Huda Jl. Raya Cimanglid no. 61 , Sukamantri Tamansari Bogor 

Syarat Pendaftaran

Persyaratan Umum
  • Laki-laki Muslim
  • Lulus SMA/ sederajat tahun 2012
  • Nilai rata-rata raport semester terakhir minimal 7,5
  • Sehat jasmani dan rohani
  • Siap diasramakan selama masa pendidikan
  • Mendapatkan Izin orang tua
  • Berkelakuan baik
Persyaratan Pendaftaran
  • Photo copy Raport semester terakhir.
  • Pas photo berwarna 2x3, 3x4 dan 4x6 @: 3 Lembar.
  • SKCK (Surat keterangan catatan kepolisian)
  • Surat keterangan sehat dari dokter.
  • Surat keterangan izin orang tua.
  • Masa Pendaftaran

    Pendaftaran                         : 25 Mei s/d 1 Juli 2012
    Tes                                         : 2 s/d 4 Juli 2012
    Pengumuman kelulusan   : 5 Juli 2012
    Awal perkuliahan                : 9 Juli 2012
     

Teknis Pendaftaran

  • Isi Formulir yang ada di www.beasiswapendidikanislam.com lalu kirim via e-mail ke: pmb@beasiswapendidikanislam.com 
  • Berkas yang dipersyaratkan diserahkan langsung ke Kampus Program Beasiswa PAI dengan alamat:
KOMPLEK YAYASAN ISLAM AL-HUDA 
Jl. Cimanglid Gg.Purnama, Sukamantri Tamansari Bogor. telp (0251) 8388696
Atau dikirim via pos/kurir ke:
Yayasan Islam Al-Huda bogor PO Box 01 ciomas kode pos 16610
  • Contact Person:  Sukarman,Lc. 081298482291, Faisal Hamzah, Lc. (0852-1878-8597)

Fasilitas

  • Ruang kuliah yang nyaman
  • Buku-buku penunjang KBM.
  • Perpustakaan yang menyediakan buku-buku ilmiyah bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dan buku-buku pengetahuan umum yang menunjang kesuksesan program, serta dilengkapi dengan CD-CD berisi ceramah-ceramah ilmiyah dari para da’i dalam dan luar negeri
  • Laboratorium Bahasa dan Komputer.
  • Asrama Mahasiswa dengan kapasitas 500 orang dengan fasilitas yang lengkap.
  • Masjid besar di lingkungan kampus.
  • Sport Centre, berupa lapangan indoor dan outdoor.
  • Lingkungan kampus yang representatif.

Keunggulan

  1. Metodologi yang diterapkan berasas pada metodologi ilmiah dan sumber-sumber yang murni, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Rasululloh Shollollohu alaihi wasallam
  2. Mahasiswa mendapatkan fasilitas Asrama, KBM dan tarbiyah Islamiyah secara gratis
  3. Dosen lulusan dalam dan luar negeri yang telah berpengalaman dalam dunia pendidikan
  4. Aktivitas tarbawiyah yang variatif: Seminar pendidikan, Daurah & Training, Kajian Tafsir, Olah Raga, Out Bond, dll
  5. Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari dilingkungan kampus
  6. Kegiatan ekstra kampus, seperti kegiatan jurnalistik (Radio, Rumah Produksi Seni Islami, Majalah Islami, dll)
  7. Akses Internet
Daftarkan Segera..!! Jadikan Diri Anda Pribadi Yang Beruntung Dengan Mendapatkan Fasilitas Unggulan

sumber : http://www.beasiswapendidikanislam.com/ 
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive