"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Rabu, 15 Agustus 2012

Cerita Novel Musashi Bag. 25



Kepekaan Akan Segala Sesuatu
  

Musashi mengatakan itulah badai terburuk yang pernah dilihatnya.

Iori menatap murung halaman-halaman buku yang sudah basah kuyup, compang-camping, dan berantakan itu. Pikirnya sedih, "Tak bisa lagi belajar."

Dua hari di musim gugur—hari kedua ratus sepuluh dan kedua ratus dua puluh dalam satu tahun—khusus ditakuti oleh para petani. Pada kedua hari itu, topan kemungkinan menghancurkan tanaman padi. Iori, yang lebih terbiasa menghadapi bahaya daripada gurunya, sudah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan mengikat atap dan memberatinya dengan batu karang. Namun malam hari angin merenggutkan atap itu, dan ketika hari sudah cukup terang untuk memeriksa kerusakan yang menimpa, jelaslah bahwa pondok itu tak ada harapan lagi untuk diperbaiki.

Ingat akan pengalaman di Hotengahara, Musashi berangkat sebentar sesudah fajar. Melihat ia pergi, Iori berpikir, "Apa gunanya dia melihat sawah para tetangga? Tentu saja sawah-sawah itu kebanjiran. Apa rumahnya sendiri tidak menunjukkan hal itu?"

Ia membuat api dengan potongan-potongan dan pecahan-pecahan dinding dan lantai, lalu memanggang buah berangan dan bangkai burung untuk makan pagi. Asap membuat pedas matanya.

Musashi pulang tak lama sesudah tengah hari. Sekitar sejam kemudian, serombongan petani yang mengenakan mantel hujan dari jerami tebal datang mengucapkan terima kasih-atas bantuannya pada seorang yang sakit, atas pertolongannya mengeringkan air banjir, dan atas sejumlah pelayanan lain. Satu orang tua mengatakan, "Kami selalu bertengkar pada waktu-waktu seperti ini; dan ini selalu terjadi, karena semua orang terburu-buru hendak menyelesaikan masalahnya sendiri lebih dahulu. Tapi hari ini kami mengikuti nasihat Anda dan bekerja sama."

Mereka juga membawa pemberian makanan-gula-gula, asinan, dan kue betas yang sangat menggembirakan Iori. Memikirkan hal itu, Iori mengambil kesimpulan bahwa hari itu ia mendapat pelajaran: kalau orang melupakan dirinya dan bekerja untuk kelompok, maka makanan dengan sendirinya akan datang.

"Kami akan membuatkan Anda rumah baru," seorang petani menjanjikan. "Rumah yang takkan terbawa angin." Untuk sementara ini, ia mengundang Musashi dan Iori tinggal di rumahnya, rumah tertua di kampung itu. Sampai di sana, istri orang itu menggantungkan pakaian mereka untuk dikeringkan, dan ketika mereka hendak tidur, pada mereka ditunjukkan dua kamar berlainan.

Sebelum jatuh tertidur, Iori mendengar suara yang menggelitik perhatiannya. Sambil menoleh menghadap kamar Musashi, bisiknya lewat shoji, "Pak, dengar suara itu?"

"Hm."

"Coba Bapak dengarkan. Bapak bisa mendengarnya—genderang untuk tarian kuil. Aneh, ya, ada tarian keagamaan pada malam sesudah topan?" Satu-satunya jawaban Musashi adalah bunyi napasnya yang dalam.

Pagi harinya, Iori bangun pagi-pagi, dan bertanya kepada tuan rumah tentang genderang itu. Kembali ke kamar Musashi, kata Iori girang, "Kuil Mitsumine di Chichibu tidak begitu jauh dari sini, kan?"

"Kupikir tidak."

"Saya senang kalau Bapak mau membawa saya ke sana. Buat menyatakan hormat."

Musashi bertanya keheranan, kenapa tiba-tiba Iori demikian berminat. Ia mendapat jawaban bahwa para penabuh genderang itu pemusik-pemusik dari kampung sebelah, yang biasa bermain untuk Tarian Suci Asagaya. Tarian itu kekhususan rumah tangga mereka semenjak zaman kuno.

Tiap bulan mereka pergi mengadakan pertunjukan pada Pesta Kuil Mitsumine.

Iori mengenal keindahan musik dan tarian hanya melalui tarian shinto ini. Senang sekali dengan tarian-tarian itu, maka ketika didengarnya bahwa tarian-tarian Mitsumine adalah satu dari tiga jenis besar tradisi tari ini, ia bertekad menontonnya.

"Mau Bapak mengajak saya pergi?" mohonnya. "Paling tidak, perlu waktu lima atau enam hari untuk menyelesaikan rumah itu."

Kesungguhan hati Iori mengingatkan Musashi pada Jotaro yang sering kali ribut sendiri—merengek, mencebik, menggeram—untuk dapat memperoleh apa yang diinginkannya. Iori, karena sudah demikian dewasa dan mandiri, walau umurnya masih muda, jarang menggunakan taktik-taktik serupa itu. Musashi memang tidak khusus memikirkannya, tapi orang lain barangkali akan melihat pengaruh dirinya pada anak itu. Satu hal yang dengan sengaja diajarkannya pada Iori adalah membuat perbedaan tegas antara diri anak itu dan gurunya.

Semula ia menjawab tanpa menyatakan pendapat, tapi sesudah berpikir sebentar, katanya, "Baik, akan kuajak kau."

Iori melompat-lompat, serunya, "Dan cuaca bagus pula." Dalam lima menit ia sudah mengabarkan rasa senangnya itu pada tuan rumah, lalu minta bekal makanan dan mencari sandal jerami yang baru. Kemudian ia kembali ke hadapan gurunya lagi, dan tanyanya, "Apa tidak berangkat sekarang?"

Petani itu melepas kepergian mereka, dengan janji akan menyelesaikan rumah mereka pada waktu mereka pulang.

Mereka melewati tempat-tempat di mana topan meninggalkan sejumlah kolam, bahkan boleh dikatakan danau-danau kecil. Kalau tak ada semua itu, orang sukar mempercayai bahwa langit melampiaskan kemarahannya hanya dua hari sebelum itu. Burung-burung jagal terbang rendah di langit biru cerah.

Malam pertama, mereka memilih penginapan murah di kampung Tanashi dan lekas pergi tidur. Hari berikutnya, jalan membawa mereka lebih jauh memasuki Dataran Musashino yang luas.

Perjalanan mereka terhambat beberapa jam di Sungai Iruma yang membengkak sampai tiga kali besarnya yang biasa. Hanya sepotong kecil jembatan tanah yang masih berdiri tanpa guna di sungai itu.

Sementara Musashi memperhatikan sekelompok petani yang datang membawa tiang-tiang pancang baru dari kedua tepi sungai untuk membuat penyeberangan sementara, Iori melihat beberapa ujung anak panah tua dan bicara tentangnya, "Dan ada bagian atas topi baja juga. Mestinya pernah terjadi pertempuran di sini." Ia menghibur diri di tepi sungai itu, sambil menggali-gali ujung anak panah, patahan-patahan pedang yang sudah berkarat, dan aneka ragam pecahan logam yang sudah tua dan tak dapat ditentukan macamnya.

Tiba-tiba ia menarik tangannya dari benda putih yang semula hendak dipungutnya.

"Oh, tulang manusia!" serunya.

"Bawa kemari," kata Musashi.

Iori tak berselera untuk menyentuhnya lagi. "Akan Bapak apakan?"

"Kuburkan di tempat yang takkan diinjak-injak orang."

"Tapi bukan hanya beberapa tulang yang ada di sini. Banyak sekali."

"Bagus. Berarti kita dapat kerjaan. Bawa semua yang kautemukan."

Sambil membelakangi sungai, katanya, "Kau dapat menguburkannya di sana, di tempat bunga gentian itu."

"Saya tak punya sekop."

"Kau bisa pakai patahan pedang."

Ketika lubang sudah cukup dalam, Iori memasukkan tulang-tulang itu ke dalamnya, kemudian ia kumpulkan semua ujung panah dan pecahan logam, dan ia kuburkan bersama tulang-tulang itu. "Beres?" tanyanya.

"Taruhkan batu di atasnya. Bikin tanda peringatan yang pantas."

"Kapan terjadi pertempuran itu di sini?"

"Kau sudah lupa? Kau tentunya sudah membaca tentangnya. Buku Taiheiki bercerita tentang dua pertempuran hebat, tahun 1333 dan 1352, di tempat yang namanya Kotesashigahara. Tempat itu kira-kira tempat kita berada sekarang ini. Di satu pihak, Keluarga Nitta yang mendukung Istana Selatan, dan di pihak lain, tentara yang besar di bawah pimpinan Ashikaga Takauji."

"Oh, pertempuran Kotesashigahara. Saya ingat sekarang."

Atas desakan Musashi, Iori melanjutkan. "Buku itu menerangkan pada kita bahwa Pangeran Munenaga lama tinggal di daearah timur dan mempelajari Jalan Samurai, tapi dia terkejut ketika Kaisar menunjuknya sebagai shogun."

"Sajak apa yang dikarangnya mengenai kejadian itu?" tanya Musashi.

Iori menengadah ke arah seekor burung yang sedang membubung tinggi di langit biru, lalu berdeklamasi:



"Bagaimana mungkin aku tahu Apakah akan pernah aku menjadi ahli Busur katalpa?

Bukankah kutempuh Hidup ini

Tanpa menyentuhnya?"



"Dan sajak dalam bab yang menceritakan bagaimana dia melintasi Provinsi Musashi dan bertempur di Kotesashigahara?"

Anak itu ragu-ragu dan menggigit bibir, kemudian memulai, sebagian besar dengan kata-kata yang disusunnya sendiri:



"Kalau begitu, kenapa aku mesti bergayut

Pada hidup yang sudah jadi,

Padahal hidup itu dengan khidmat diberikan

Demi tuan kita yang agung

Dan demi orang banyak?"



"Dan artinya?"

"Saya sudah mengerti."

"Kau yakin?"

"Orang yang tidak dapat mengerti kalau tidak dijelaskan kepadanya, dia itu bukan benar-benar orang Jepang, walaupun dia seorang samurai. Betul begitu?"

"Ya, kalau begitu coba terangkan, Iori, kenapa kau bersikap seolah dengan memegang tulang-tulang itu, tanganmu menjadi kotor?"

"Tapi, apa Bapak merasa senang memegang tulang-tulang orang yang sudah meninggal?"

"Orang-orang yang meninggal di sini para prajurit. Mereka berkelahi dan tewas demi perasaan yang diungkapkan dalam sajak Pangeran Munenaga itu. Jumlah samurai seperti itu tak terhitung. Tulang-tulang mereka yang terkubur dalam bumi menjadi dasar pembangunan negeri ini. Kalau tidak karena mereka, sekarang kita masih belum mendapat kedamaian atau harapan kesejahteraan.

"Peperangan sudah berlalu, seperti halnya topan yang baru kita alami. Tanah secara keseluruhan tidak berubah, tapi kita tidak boleh melupakan utang kita kepada tulang-tulang putih di bawah itu."

Iori mengangguk pada hampir setiap patah kata gurunya. "Saya mengerti sekarang. Apa saya mesti memberikan persembahan bunga dan membungkuk kepada tulang-tulang yang baru saya kuburkan?"

Musashi tertawa. "Membungkuk itu tak perlu benar, kalau kau telah mengenangnya dalam hati."

"Tapi..." Karena merasa tak puas benar, anak itu mengumpulkan bunga dan meletakkannya di depan onggokan batu itu. Ia hendak mengatupkan tangan dengan sikap patuh, tapi tiba-tiba datang pikiran lain mengganggunya. "Semua ini baik saja, kalau tulang-tulang ini benar-benar tulang yang setia kepada Kaisar. Tapi bagaimana kalau mereka itu sisa-sisa pasukan Ashikaga Takauji? Tak ingin saya menyatakan hormat pada mereka."

Iori menatap, menanti jawaban. Musashi tengah memandang seiris bulan siang hari. Namun tak terpikir olehnya jawaban yang memuaskan.

Akhirnya ia berkata, "Dalam agama Budha, ada penyelamatan untuk orang-orang yang bersalah telah melakukan sepuluh kejahatan dan lima dosa besar. Hati itu sendiri adalah pencerahan. Sang Budha mengampuni si jahat, asalkan dia membuka mata terhadap kebijaksanaan."

"Artinya, prajurit yang setia dan pemberontak yang jahat sama saja, sesudah mereka mati?"

"Tidak!" kata Musashi tegas. "Seorang samurai menjunjung tinggi namanya yang suci. Kalau dia menodainya, tidak ada penebusan sepanjang zaman."

"Kalau begitu, kenapa sang Budha sama saja dalam memperlakukan orang yang jahat dan pembantu yang setia?"

"Karena semua manusia pada dasarnya sama. Ada orang-orang yang demikian dibutakan oleh kepentingan diri sendiri dan hasrat, hingga mereka menjadi pemberontak dan perompak. Sang Budha bersedia mengabaikan saja hal itu. la mendorong semua orang untuk menerima pencerahan, membuka mata mereka pada kebijaksanaan sejati. Ini pesan seribu kitab suci. Tentu saja, apabila orang mati, semuanya menjadi kehampaan."

"Saya mengerti," kata Iori, walaupun tidak betul-betul mengerti. la renungkan soal itu beberapa menit lamanya, kemudian tanyanya, "Tapi untuk samurai, tidak demikian, kan? Tidak semuanya menjadi kehampaan, kalau seorang samurai mati."

"Kenapa kau bilang begitu?"

"Namanya akan hidup terus, kan?"

"Itu betul."

"Kalau namanya jelek, nama itu tinggal jelek. Kalau nama itu baik, dia tinggal baik, biarpun samurai itu sudah tinggal tulang-tulang. Apa bukan begitu?"

"Ya, tapi soalnya tidak sesederhana itu," kata Musashi. Sementara itu, ia bertanya-tanya sendiri, apakah ia dapat dengan baik menyalurkan rasa ingin tahu muridnya itu. "Dalam persoalan seorang samurai, ada yang dinamakan penilaian terhadap kepekaan akan segala sesuatu. Seorang pejuang yang tidak memiliki kepekaan ini sama saja dengan semak di tengah padang pasir. Menjadi seorang jago yang hebat, semata-mata adalah seperti topan. Itu sama dengan pemain pedang yang hanya memikirkan pedang, pedang, dan pedang. Seorang samurai sejati, seorang pemain pedang murni, mempunyai hati yang mengandung belas kasihan. Dia mengerti kepekaan hidup."

Tanpa berkata-kata lagi, Iori menyusun kembali bunga-bunga itu dan mengatupkan kedua tangannya.




Dua Pemukul Genderang

DI tengah jalan gunung, sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-hentinya mendaki seperti semut, ditelan lingkaran awan tebal. Sampai di dekat puncak, tempat berdirinya Kuil Mitsumine, mereka disambut oleh langit tak berawan.

Ketiga puncak gunung itu, Kumotori, Shiraiwa, dan Myohogatake, mengangkangi keempat provinsi di timur. Di dalam kompleks Shinto itu terdapat kuil-kuil dan pagoda Budha, juga berbagai bangunan lain dan pintu gerbang. Di luarnya terdapat kota kecil yang sedang berkembang pesat, dengan warung-warung teh dan toko-toko cendera mata, kantor-kantor pendeta tinggi, dan rumah-rumah sekitar tujuh puluh petani, yang hasil produksinya disimpan untuk digunakan oleh kuil.

"Dengar! Mereka sudah mulai menabuh genderang besar," kata Iori gembira, sambil menelan nasi dan buncis merahnya. Musashi duduk di depannya, sedang makan dengan santai.

Iori menjatuhkan sumpitnya. "Musik sudah mulai," katanya. "Mari kita pergi melihat."

"Aku sudah cukup melihat semalam. Pergi sana sendiri."

"Tapi semalam mereka cuma mempertunjukkan dua tarian. Apa Bapak tak ingin lihat yang lain?"

"Ingin, tapi kalau buru-buru, tidak."

Melihat bahwa mangkuk kayu gurunya masih setengah penuh, Iori berkata dengan nada lebih tenang, "Beribu-ribu orang sudah datang dari kemarin. Sungguh sayang kalau hujan."

"Oh?"

Ketika akhirnya Musashi mengatakan, "Kita pergi sekarang?" Iori langsung berlari ke pintu depan, seperti anjing baru dilepas. Ia meminjam sandal jerami, dan meletakkannya di ambang pintu, untuk gurunya.

Di depan Kannon'in, yaitu kuil bawahan tempat mereka menginap dan di kiri-kanan gerbang utama tempat suci, menyala beberapa api unggun besar. Setiap rumah memasang obor menyala. Di depan seluruh wilayah yang tingginya beberapa ribu kaki di atas permukaan laut itu, suasana terang benderang seperti siang. DI atas, di langit yang berwarna telaga dalam, Sungai Surga berkilau-kilauan seperti asap ajaib, sedangkan di jalan rombongan lelaki dan perempuan berjalan berduyun-duyun menuju panggung tempat ditampilkannya tari-tarian suci, tanpa memedulikan dinginnya udara gunung. Seruling dan genderang-genderang besar menggema dalam tiupan angin gunung. Panggung itu sendiri kosong, kecuali panji-panji yang mengepak-ngepak pelan, yang nanti akan menjadi latar belakang pertunjukan.

Karena didesak-desak orang banyak, Iori jadi terpisah dari Musashi, tapi ia cepat dapat menembus orang banyak itu, sampai akhirnya terlihat olehnya Musashi berdiri di dekat sebuah bangunan, sedang menengadah memandang daftar penyumbang. Iori memanggil namanya, berlari kepadanya, dan menarik lengan kimononya, tapi perhatian Musashi sedang terpusat pada sebuah piagam yang lebih besar daripada yang lain-lain. Papan itu lebih menonjol karena besarnya sumbangan yang diberikan oleh "Daizo dari Narai, Kampung Shibaura, Provinsi Musashi."

Derum genderang semakin meninggi.

"Tarian sudah mulai," pekik Iori, sementara hatinya terbang ke paviliun tarian suci. "Sensei, apa yang Bapak perhatikan?"

Musashi tersadar dari lamunan, dan katanya. "Oh, tak ada yang khusus.... Aku cuma ingat sesuatu yang mesti kulakukan. Pergi sana, lihat tarian. Aku datang nanti."

Musashi pergi mencari kantor para pendeta Shinto. Di sana ia disambut oleh seorang tua.

"Saya ingin mencari keterangan tentang seorang penyumbang," kata Musashi.

"Maaf, tapi kami di sini tak ada hubungannya dengan itu. Anda mesti pergi ke tempat kediaman kepala pendeta Budha. Akan saya tunjukkan tempatnya."

Tempat Suci Mitsumine itu tempat suci Shinto, tapi pengawasan umum atas seluruh bangunan itu berada di tangan seorang pendeta tinggi Budha. Papan nama di atas pintu gerbang berbunyi, Kantor Pendeta Tinggi yang Bertugas, dengan huruf-huruf besar serasi.

Di ruang depan, orang tua itu berbicara agak lama dengan pendeta yang bertugas. Selesai itu, pendeta mengundang Musashi masuk, dengan sangat sopan mengantarnya ke sebuah ruang dalam. Teh dihidangkan, disertai senampan kue-kue lezat. Berikutnya datang nampan kedua, yang sebentar kemudian disusul oleh datangnya seorang calon pendeta muda yang tampan, membawa sake. Tak lama kemudian, muncul seorang tokoh yang tak kurang dari seorang kepala pendeta sementara.

"Selamat datang di gunung kami," katanya. "Saya kuatir kami hanya menyuguhkan makanan kampung pada Anda. Saya harap Anda mau memaafkan kami. Anggaplah seperti di rumah sendiri."

Musashi bingung mendapat perlakuan yang demikian penuh perhatian. Tanpa menyentuh sake, katanya, "Saya datang untuk mencari keterangan tentang salah seorang penyumbang Anda."

"Apa?" Wajah ramah pendeta yang bulat gemuk dan berumur sekitar lima puluh tahun itu berubah sedikit. "Mencari keterangan?" tanyanya curiga.

Berturut-turut Musashi mengajukan pertanyaan tentang kapan Daizo datang ke kuil itu, Apakah ia sering datang ke situ, apakah ia pernah membawa serta orang lain, dan kalau ya, macam apa orang itu.

Semakin banyak pertanyaan itu, semakin besar rasa tak senang si pendeta, sampai akhirnya la berkata, "Jadi, Anda datang kemari bukan untuk memberikan sumbangan, tapi hanya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang orang yang menyumbang?" Wajahnya memperlihatkan kejengkelan yang amat sangat.

"Bapak tua tadi tentunya salah mengerti tentang saya. Saya tidak bermaksud memberikan sumbangan. Saya hanya ingin bertanya tentang Daizo."

"Anda dapat memperoleh keterangan jelas tentang itu di pintu masuk," kata si pendeta dengan pongah. "Menurut penglihatan saya, Anda seorang ronin. Saya tidak tahu siapa Anda, atau dari mana Anda datang. Anda mesti mengerti, saya tak dapat memberikan keterangan tentang penyumbang kami pada sembarang orang."

"Percayalah, takkan terjadi sesuatu."

"Yah, Anda terpaksa bertemu dengan pendeta yang bertugas menangani soal-soal itu." Dengan wajah seolah sudah dirampok, pendeta itu melepas Musashi.

Daftar penyumbang ternyata tidak banyak membantu, karena di situ hanya dicatat bahwa Daizo datang ke sana beberapa kali. Musashi mengucapkan terima kasih kepada pendeta, dan pergi.

Di dekat paviliun tarian, ia memandang berkeliling, mencari Iori, tapi sia-sia. Sekiranya ia mau menengadah, ia akan melihatnya, karena anak itu berada hampir tepat di atas kepalanya. Ia memanjat sebatang pohon agar dapat melihat lebih baik.

Memandang adegan di panggung, Musashi terkenang kembali akan masa kecilnya, akan pesta malam hari di Kuil Sanumo di Miyamoto. Ia melihat bayangan orang banyak itu, melihat bayangan wajah putih Otsu di tengah mereka. Ia melihat bayangan Matahachi yang selalu mengunyah makanan, bayangan Paman Gon yang berjalan ke sana kemari dengan penuh lagak. Samar-samar terbayang wajah ibunya yang cemas karena ia masih berada di luar, di malam selarut itu, dan karena itu ibunya datang mencarinya.

Para pemusik yang mengenakan pakaian yang lain dari yang lain, dengan maksud menirukan keanggunan pengawal kerajaan zaman dulu, mengambil tempat di panggung. Dalam sinar api, dandanan mereka yang mentereng dan berkilauan oleh bercak-bercak kain emas itu mengingatkan orang pada jubah dalam mitos di zaman dewa-dewa. Pukulan genderang yang kulitnya agak kendur menggema melintasi hutan kriptomeria, kemudian seruling dan papan yang dipukul berirama dengan kayu-kayu kecil memperdengarkan musik pendahuluan. Guru tart maju ke depan, mengenakan topeng kuno. Topeng berupa wajah aneh itu sudah banyak mengelupas pernisnya di bagian pipi dan dagu, dan bergerak-gerak pelan ketika orang ins menvamvikan kata-kata dari Kamiasobi, tarian dewa-dewa.

Di atas Gunung Mimuro yang suci Dengan pagarnya yang saleh, Di hadapan dewata yang agung, Dedaunan pohon sakaki Tumbuh berlimpah-ruah, Tumbuh berlimpab-ruah.

Tempo genderang meningkat, dan alat-alat lain pun ikut serta. Segera kemudian, lagu dan tari menyatu dalam irama yang hidup, penuh senggakan.

Dari mana datangnya lembing ini? Inilah lembing kediaman suci Putri Toyooka di Surga... Lembing kediaman suci.

Musashi mengenal sebagian dari lagu-lagu itu. Ketika masih kecil, ia pernah menyanyikannya, mengenakan topeng serta ambil bagian dalam acara tarian di Kuil Sanumo.



Pedang yang melindungi rakyat,

Rakyat segala negeri.

Mari kita gantungkan dia penuh pesta di hadapan dewata,

Kita gantungkan dia penuh pesta di hadapan dewata.



Ilham itu seperti kilat datangnya. Selama itu, Musashi memang terus memperhatikan tangan salah seorang pemukul genderang, yang asyik memainkan kedua pemukul genderang pendek berbentuk pentung. Tiba-tiba ia menarik napas dan berseru lepas, "Itu dia! Dua pedang!"

Kaget oleh suara itu, cukup lama Iori mengalihkan pandangannya dari panggung ke bawah, dan katanya, "Oh, Bapak ada di situ!"

Musashi sendiri tak jua menengadah. Ia memandang langsung ke depan, bukan dengan wajah bermimpi karena tergiur, seperti biasa terjadi pada orang-orang lain, melainkan dengan pandangan mata hampir-hampir menembus, mengerikan.

"Dua pedang!" ulangnya. "Prinsipnya sama saja. Dua pemukul genderang, dengan hanya satu bunyi." Ia melipat kedua tangannya lebih erat, dan memperhatikan baik-baik setiap gerakan pemain genderang itu.

Ditinjau dari satu sudut pandangan, hal itu biasa saja. Manusia dilahirkan dengan dua tangan, jadi kenapa pula ia tidak menggunakan keduanya? Tapi kenyataannya, para pemain pedang hanya berkelahi dengan sebuah pedang, dan sering kali hanya dengan satu tangan. Hal itu masuk akal saja, asalkan setiap orang berbuat demikian juga. Tapi kalau seorang jago menggunakan dua pedang sekaligus, lalu berapa kesempatan menang bagi lawan yang hanya menggunakan sebilah pedang saja?

Ketika melawan Perguruan Yoshioka di Ichijoji dulu, Musashi menggunakan pedang panjang di tangan kanan, dan pedang pendek di tangan kiri. Ia mencengkeram kedua senjata itu secara naluriah saja, tanpa sadar, masing-masing tangan bertugas melindungi diri sebaik-baiknya. Dalam perkelahian antara hidup dan mati waktu itu, ia bereaksi dengan cara yang tidak lazim. Tapi tiba-tiba kini dasar pemikirannya itu terasa wajar, kalau tak hendak dikatakan tak terhindarkan.

Kalau dua barisan tentara saling berhadapan dalam suatu pertempuran, menurut aturan Seni Perang, tidak masuk akal kalau yang dikerahkan hanya satu sayap saja, sementara sayap yang lain dibiarkan menganggur. Bukankah prinsip itu tak bisa disepelekan oleh pemain pedang yang sendirian? Semenjak pengalamannya di Ichijoji, Musashi merasa penggunaan kedua tangan dan kedua pedang itu adalah cara yang normal, cara manusia. Hanya kebiasaanlah yang membuat hal itu kelihatan tidak normal, dan kebiasaan itu sudah berabad-abad diikuti, tanpa banyak protes. Kini ia merasa telah sampai pada kebenaran yang tak tertahankan: kebiasaan telah membentuk hal yang tidak wajar, dan sebaliknya.

Kebiasaan dibentuk oleh pengalaman sehari-hari, sedangkan berada di perbatasan hidup dan mati hanya dapat terjadi beberapa kali selama hidup. Namun tujuan terakhir Jalan Pedang adalah untuk mampu berdiri di tabir maut, setiap saat. Menghadapi maut dengan tepat, pantang mundur, haruslah sama akrabnya dengan semua pengalaman hidup sehari-hari lainnya. Dan proses itu pun haruslah sesuatu yang disadari. Meski demikian, gerakan yang dibuat mesti bebas, seolah bersifat refleks semata.

Gaya dua-pedang itu harus bersifat demikian pula-sadar, tapi sekaligus otomatis, bagaikan refleks, sama sekali bebas dari batasan-batasan yang biasanya menyertai tindakan sadar. Musashi telah beberapa waktu mencoba menyatukan apa yang ia ketahui secara naluriah itu dengan apa yang ia pelajari secara intelektual, dalam suatu prinsip yang benar. Sekarang ia sudah hampir dapat merumuskannya dengan kata-kata. Hal itu akan membuatnya termasyhur di seluruh negeri, selama bergenerasi-generasi mendatang.

Dua pemukul genderang, satu bunyi. Pemain genderang itu sadar akan kiri dan kanannya, kanan dan kirinya, tapi sekaligus tak sadar akan keduanya. Dan kini, di hadapan matanya, terpapar suasana Budha bagi berlangsungnya proses saling susup dan bebas. Musashi merasa mengalami pencerahan, mengalami pemuasan.

Kelima tarian suci, yang dimulai dengan lagu dari guru tari, berlangsung terus dengan pertunjukan para pemain lain. Ada tarian Iwato yang lebar dan luas geraknya, kemudian tarian Ara Mikoto no Hoko. Nada-nada seruling semakin cepat, lonceng-lonceng mendering dalam irama yang hidup.

Musashi menengadah kepada Iori, dan katanya. "Apa kau belum mau pulang?"

"Belum," terdengar jawaban melamun. Jiwa Iori kini sudah menjadi bagian dari tarian itu, dan ia merasa dirinva sebagai salah seorang pemain.

"Pulang sekarang, nanti terlambat. Besok akan kita daki puncak itu, ke kuil bagian dalam."







Penjaga Setan

  

ANJING-ANJING Mitsumine adalah jenis binatang liar. Kata orang, mereka hasil persilangan antara anjing yang didatangkan oleh kaum imigran Korea lebih dari seribu tahun lalu, dengan anjing liar dari Pegunungan Chichibu. Tingkat hidup anjing-anjing itu hanya selangkah terpisah dari tingkat binatang liar lain, dan mereka mengembara di lereng gunung, dan memangsa binatang liar lain di daerah itu. Tapi karena anjing-anjing itu dianggap utusan dewata dan dikatakan orang sebagai "penjaga" dewata, sering kali para pemuja membawa pulang gambaran mereka itu dalam bentuk cetakan atau pahatan, sebagai jimat keberuntungan.

Anjing hitam yang membuntuti Musashi bersama lelaki itu ukurannya sebesar anak sapi.

Ketika Musashi masuk Kannon'in, orang itu menoleh, katanya, "Jalan sini," dan memberi isyarat dengan tangannya yang tidak memegang tali.

Anjing itu menggeram, menyentakkan tali pengikatnya yang berupa seutas tali tebal, dan mulai mendengus.

Sambil memukulkan tali itu ke punggung anjing, orang itu berkata, "Sst! Tenang, Kuro!"

Orang itu sekitar lima puluh tahun umurnya, tubuhnya pejal, tapi gemulai. Seperti anjingnya, ia tidak begitu jinak, tapi ia berpakaian rapi. Disamping memakai kimono yang tampak seperti jubah pendeta atau pakaian resmi samurai, ia mengenakan juga obi datar dan hakama dari rami. Sandal jeraminya, yang biasa dipakai orang pada pesta-pesta, masih baru talinya.

"Baiken?" Perempuan itu mundur menghindari anjing.

"Balik!" perintah Baiken sambil mengetuk kepala anjing itu dengan keras. "Aku senang kau dapat mengenali dia, Oko."

"Jadi, memang dia?"

"Tidak sangsi lagi."

Untuk sesaat mereka berdiri diam, sambil memandang lewat celah awan, ke arah bintang-bintang. Mereka mendengar bunyi musik tarian suci itu, tapi tidak menyimaknya.

"Apa yang akan kita lakukan?"

"Akan kupikirkan."

"Kita tak boleh melewatkan kesempatan kali ini lolos sia-sia." Oko memandang Baiken penuh harapan. "Apa Toji ada di rumah?" tanyanya. "Ya, mabuk oleh sake di pesta itu, dan jatuh tertidur."

"Bangunkan dia."

"Kau sendiri bagaimana?"

"Aku ada pekerjaan. Sesudah keliling, aku datang lagi ke tempatmu."

Di luar gerbang utama tempat suci itu, Oko mulai menderap. Sebagian besar dari kedua puluh atau tiga puluh rumah itu adalah toko cendera mata atau warung teh. Ada juga beberapa rumah makan kecil. Dari dalam rumah-rumah makan terdengar suara gembira orang-orang yang bersuka ria. Di ujung atap gubuk yang dimasuki Oko, tergantung papan bertuliskan Rumah Istirahat. Di salah satu bangku, di kamar depan yang berlantai tanah, duduk seorang gadis pelayan yang sedang tidur-tidur ayam.

"Masih tidur?" tanya Oko.

Gadis yang merasa akan mendapatkan makian itu menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Maksudku bukan kau, tapi suamiku."

"Oh, ya, masih tidur."

Sambil mendecap tak senang, Oko menggerutu, "Pesta masih berjalan, dia tidur. Ini satu-satunya warung yang tidak penuh pembeli."

Di dekat pintu, seorang lelaki dan seorang perempuan tua sedang mengukus nasi dan buncis dengan tungku tanah. Nyala api menjadi satusatunya nada gembira di dalam ruangan yang murung itu.

Oko mendekati lelaki yang sedang tidur di bangku dekat dinding, menepuk bahunya, dan katanya, "Bangun! Buka matamu buat selingan."

"Hah?" gumam orang itu sambil menegakkan badan sedikit.

"Oh, oh!" seru Oko sambil mundur. Kemudian ia tertawa dan katanya, "Maaf, saya kira suami saya."

Sepotong tikar meluncur jatuh ke lantai. Orang muda bermuka bundar dan bermata besar mengandung tanda tanya itu memungutnya kembali, menutupkannya ke wajahnya, dan membaringkan badan kembali. Kepalanya di atas bantal kayu, dan sandalnya berlepotan lumpur. Di atas meja di dekatnya terletak baki dan mangkuk nasi yang kosong. Di dekat dinding terdapat bungkusan perjalanan, topi anyaman, dan tongkat.

Sambil kembali mendekati gadis itu, Oko berkata, "Apa dia pembeli?"

"Ya. Katanya, dia mau masuk kuil bagian dalam pagi-pagi sekali, dan minta tidur di sini."

"Di mana Toji?"

"Aku di sini, goblok!" Terdengar suara Toji dari belakang shoji yang koyak. Dengan badan disandarkan di kamar sebelah, dan satu kaki menjulur ke dalam warung, katanya muram, "Kenapa pula mencari-cari orang yang mau tidur sebentar? Ke mana saja kau? Mestinya kau mengurusi warung."

Tahun-tahun itu lebih banyak mendatangkan kedukaan pada Oko, daripada kepada Toji. Tidak hanya pesona umur mudanya sudah tidak lagi kelihatan, tapi menyelenggarakan Warung Teh Oinu itu menuntut kerja keras lelaki, agar ia dapat menanggung hidup suaminya yang pemalas. Penghasilan Toji dari berburu di musim dingin kecil sekali, dan di luar itu ia hanya sedikit bekerja. Sesudah Musashi membakar persembunyiannya yang berkamar rahasia di Celah Wada itu, semua anak buahnya sudah meninggalkannya.

Mata Toji yang merah buram sedikit demi sedikit melihat tong air. Ia memaksakan diri berdiri, mendekati tong, dan meneguk penuh seciduk air.

Oko bersandar pada sebuah bangku dan menolehkan kepala kepadanya. "Masa bodoh pesta itu! Sudah waktunya kau belajar berhenti minum. Beruntung kau tidak ditembus pedang, selagi tak sadar tadi."

"Hah?"

"Kukasih tahu sekarang, ada baiknya kau lebih hati-hati."

"Aku tak mengerti, apa yang kaubicarakan ini."

"Kau tidak tahu Musashi ada di pesta itu?"

"Musashi? Miyamoto... Musashi?" Toji jadi sepenuhnya terjaga. Katanya, "Kau sungguh-sungguh? Kalau begitu, lebih baik kau sembunyi di belakang."

"Jadi, cuma itu yang bisa kaupikirkan... sembunyi?" "Aku tak ingin kejadian di Celah Wada itu terulang lagi."

"Pengecut. Apa kau tak ingin membalas? Bukan hanya untuk itu, tapi juga untuk membalas perbuatannya terhadap Perguruan Yoshioka? Aku sendiri, aku cuma seorang perempuan."

"Ya, tapi jangan lupa, waktu itu kita punya banyak orang untuk membantu. Sekarang cuma kita berdua." Toji tidak ikut berada di Ichijoji, tapi ia mendengar bagaimana Musashi berkelahi di sana. Ia tidak berani membayangkan, siapa yang akhirnya mati, kalau mereka berdua berjumpa lagi.

Sambil mendekat ke samping suaminya, Oko berkata, "Nah, di situlah kau keliru. Ada orang lain lagi di sini, kan? Dia juga membenci Musashi, seperti kau!"

Toji tahu, yang dimaksud Oko adalah Baiken yang mulai mereka kenal, ketika akhirnya pengembaraan mereka membawa mereka sampai ke Mitsumine.

Karena tidak ada pertempuran lagi, menjadi bromocorah tidak lagi menguntungkan, karena itu Baiken membuka bengkel besi di Iga, tapi dari sana ia terusir, ketika Yang Dipertuan Todo mengetatkan kekuasaannya atas provinsi itu. Karena bermaksud mencari peruntungan di Edo, ia membubarkan gerombolannya. Dengan diantar seorang teman, ia kemudian menjadi penjaga di gedung harta kuil.

Sampai sekarang pun, pegunungan yang terletak di antara Provinsi Musashi dan Kai itu masih penuh bandit. Dengan mempekerjakan Baiken sebagai pengawal gedung harta, yang berisi harta keagamaan dan uang tunai hasil sumbangan, berarti para pimpinan kuil memerangi api dengan api. Baiken memiliki kelebihan, karena ia mengenal dengan baik cara-cara kerja para bandit, dan ia sendiri ahli dalam menggunakan senjata rantaibola-sabit. Sebagai penemu Gaya Yaegaki, dapat kiranya ia menarik perhatian seorang daimyo, sekiranya ia bukan saudara Tsujikaze Temma. Bertahun-tahun silam, kedua bersaudara itu telah menteror daerah yang terletak di antara Gunung Ibuki dan daerah Yasugawa. Perubahan zaman tak ada artinya sama sekali bagi Baiken. Menurut jalan pikirannya, kematian Temma di tangan Takezo adalah asal-usul segala kesulitan yang kemudian menimpanya.

Oko sudah lama menyampaikan pada Baiken tentang dendam mereka terhadap Musashi. Ia membesar-besarkan kebenciannya agar dapat memantapkan persahabatannya dengan orang itu. Baiken menyambutnya dengan memaki, katanya, "Suatu hari nanti..."

Oko baru saja selesai menyampaikan apa yang dilihatnya kepada Toji. Katanya, ia melihat Musashi di warung teh, kemudian Musashi menghilang di tengah orang banyak. Mengikuti nalurinya, ia pergi ke Kannon'in, dan tiba di sana tepat ketika Musashi dan Iori baru berangkat ke tempat suci bagian luar. Informasi ini segera ia sampaikan pada Baiken.

"Oh, jadi begitu," kata Toji. Ia kini mulai mendapat keberanian, karena tahu bahwa sekutu yang dapat diandalkan sudah tampil. la tahu, dengan senjata kesayangannya itu, Baiken telah mengalahkan semua pemain pedang dalam pertandingan di tempat suci baru-baru ini. Kalau Baiken menyerang Musashi, kemungkinan besar ia menang. "Dan apa katanya, waktu kausampaikan kepadanya?"

"Dia akan datang, begitu selesai keliling."

"Musashi bukan orang bodoh. Kalau kita tidak hati-hati..." Toji bergidik, dan dari mulutnya terdengar suara kasar, tak tertangkap maknanya. Oko mengikuti pandangan matanya ke arah orang yang tidur di bangku. "Siapa itu?" tanya Toji.

"Cuma pembeli," jawab Oko.

"Bangunkan dia, dan suruh pergi dari sini!"

Oko meneruskan perintah itu kepada gadis pelayan. Gadis pelayan pergi ke sudut sana dan mengguncangkan tubuh orang itu, sampai orang itu duduk.

"Keluar!" kata gadis itu langsung. "Kami mau tutup sekarang."

Orang itu berdiri, meregangkan badan, dan katanya, "Uh, enak sekali tidur di sini." Sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata, ia bergerak capat, namun halus, membungkuskan anyaman tikar ke bahunya, mengenakan caping, dan membenahi letak bungkusannya. Ia kempit tongkatnya, katanya, "Terima kasih banyak." Ia membungkuk dan berjalan cepat ke luar pintu.

Dari pakaian dan tekanan bicaranya, Oko menilai orang itu bukan petani setempat, tapi kelihatannya tidak berbahaya. "Lucu kelihatannya," katanya. "Aku ingin tahu, apa dia membayar belanjaannya."

Oko dan Toji sedang menggulung kerai dan memberesi warung, ketika Baiken datang bersama Kuro.

"Senang saya melihat Anda," kata Toji. "Mari kita masuk kamar belakang."

Tanpa berkata-kata, Baiken melepaskan sandal dan mengikuti mereka. Sementara itu, anjingnya mengendus-endus mencari remah makanan. Kamar belakang itu hanya berupa ruang tambahan yang sudah rusak. Dindingnya hanya dilapisi adukan kasar, tapi berada di luar jarak pendengaran orang dalam warung.

Ketika lampu sudah dinyalakan, Baiken berkata, "Tadi malam, di depan panggung tarian, saya dengar Musashi mengatakan pada anak itu, mereka akan pergi ke tempat suci bagian dalam besok pagi. Kemudian saya pergi ke Kannon'in dan mengeceknya."

Oko dan Toji menelan ludah dan memandang ke luar jendela. Puncak gunung tempat bertenggernya kuil bagian dalam itu membayang kabur, dengan latar belakang langit berbintang.

Karena tahu siapa yang akan dihadapinya, Baiken punya rencana menyerang dan mengerahkan bala bantuan. Dua pendeta dan para pengawal gedung harta sudah setuju menolong, dan sudah langsung menyiapkan lembingnya. Ada juga satu orang dari Perguruan Yoshioka yang memimpin dojo kecil di tempat suci itu. Baiken memperhitungkan ia dapat mengerahkan barangkali sepuluh bromocorah, orang-orang yang telah dikenalnya di Iga, dan sekarang bekerja di sekitar tempat itu. Toji akan membawa senapannya, sedangkan Baiken akan menggunakan senjata rantai-bola-sabit.

"Jadi, Anda sudah mempersiapkan semua itu?" tanya Toji tak percaya.

Baiken menyeringai, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi.



Bulan yang cuma sepotong kecil, tinggi di atas lembah, tersembunyi di balik kabut tebal. Puncak agung itu masih tertidur. Hanya gemercik dan deru air sungai yang menegaskan ketenangan suasana waktu itu. Segerombolan sosok hitam berdesak-desak di atas jembatan Kosaruzawa.

"Toji?" bisik Baiken serak.

"Di sini."

"Jaga supaya sumbu tetap kering."

Yang paling mencolok di antara awak yang beraneka ragam itu adalah kedua pendeta berlembing. Mereka menyingsingkan jubah, siap beraksi. Yang lain-lain mengenakan berbagai macam pakaian, tapi semuanya bersepatu, agar dapat bergerak cekatan.

"Ini sudah semua?"

"Ya."

"Berapa semuanya?"

Mereka menghitung kepala: tiga belas.

"Bagus," kata Baiken. Dan ia mengulangi perintahnya pada mereka. Mereka mendengarkan tanpa kata-kata, sambil mengangguk sekali-sekali. Setelah mendapat isyarat, mereka bergegas masuk kabut untuk mengambil kedudukan di sepanjang jalan. Di ujung jembatan, mereka melewati tonggak jarak yang berbunyi: Enam Ribu Meter ke Kuil Bagian Dalam.

Ketika jembatan kosong kembali, serombongan monyet muncul dari persembunyian, melompat dari dahan-dahan, memanjat tumbuhan jalar, dan berkumpul di jalanan. Mereka berlari masuk jembatan, merangkak di bawahnya, dan melemparkan bebatuan ke dalam jurang. Kabut bermain dengan mereka, seolah-olah ikut memeriahkan acara bersenang-senang itu. Sekiranya seorang makhluk Taois yang Baka muncul dan memberikan isyarat, barangkali mereka akan berubah menjadi awan-awan yang terbang dengannya ke surga.

Salak seekor anjing bergema menembus pegunungan. Monyet-monyet menghilang seperti daun pohon damar diembus angin musim gugur.

Kuro muncul di jalan, menyeret-nyeret Oko. Akhirnya anjing itu berhasil membebaskan dirinya. Meskipun Oko dapat menangkap kembali tall itu, ia tetap tak dapat memaksa anjing itu kembali. Oko tahu, Toji tak ingin anjing itu membuat bunyi di sekitar tempat itu, karena itu Oko berpikir mungkin ia dapat menyingkirkan Kuro dengan membiarkannya naik ke kuil.

Ketika kabut yang terns bergerak itu mulai menetap di dalam lembah, seperti salju, ketiga puncak Mitsumine dan gunung-gunung yang lebih kecil di antara Musashino dan Kai bangkit dengan latar belakang langit beserta segala kebesarannya. Jalan yang berkelok-kelok tampak putih, dan burungburung mulai menggelepar-geleparkan sayap mereka, mencicit-cicit menyambut fajar.

Iori berkata, setengah kepada diri sendiri, "Kenapa begitu?"

"Apanya yang kenapa?" tanya Musashi.

"Hari mulai terang, tapi saya tak dapat melihat matahari."

"Ya, karena kau memandang ke barat."

"Oh," Iori melontarkan pandangan sekilas ke bulan yang sedang terbenam di belakang puncak-puncak gunung yang jauh itu. "Iori, rupanya banyak temanmu di pegunungan ini."

"Di mana?"

"Di sana itu." Musashi tertawa sambil menunjuk kera-kera yang bergerombol di sekitar induknya.

"Saya mau jadi salah satu dari mereka."

"Kenapa begitu?"

"Paling tidak, mereka punya induk."

Dengan diam mereka mendaki bagian jalan yang terjal, dan masuk ke petak tanah yang agak datar. Musashi melihat rumput di situ habis diinjakinjak sejumlah besar kaki.

Selesai mengitari gunung sebentar lagi, sampailah mereka di sebuah dataran; di situ mereka menghadap ke timur.

"Coba lihat," seru Iori sambil menoleh pada Musashi. "Matahari naik."

"Ya, betul."

Gunung Kai dan Kozuke menjulang seperti pulau-pulau di tengah lautan awan di bawahnya. Iori berhenti, dan berdiri tak bergerak-gerak, kakinya berimpitan, tangannya di samping badan, dan bibirnya terkatup erat. Dengan sangat terpesona ia menatap benda keemasan yang besar itu, dan membayangkan dirinya sebagai putra matahari. Sekonyong-konyong ia berseru dengan suara sangat keras, "Itu Amaterasu Omikami! Bukan begitu?" Ia memandang Musashi, meminta persetujuan.

"Betul."

Anak itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepalanya, dan menyaring cahaya yang berkilauan itu dengan jemarinya. "Darah saya!" serunya. "Warnanya sama dengan darah matahari." Sambil menepukkan tangan, seperti nanti dilakukannya di kuil untuk menyeru dewata, ia menundukkan kepala sebagai tanda sembah tanpa kata, dan pikirnyal "Monyet-monyet itu punya induk. Aku tak punya. Tapi aku punya dewi, sedangkan mereka tak punya apa-apa."

Ilham itu membuatnya penuh dengan kegembiraan. Seraya berurai air mata, ia serasa mendengar dari sebelah awan-awan itu musik tari-tarian di kuil. Bunyi genderang berdentam-dentam di telinganya, sedangkan lagu tambahan yang dimainkan seruling mengapung mengiringi melodi Tarian Iwato. Kaki Iori menangkap iramanya, dan kedua tangannya berayun anggun. Dari bibirnya keluar kata-kata yang baru ia ingat malam sebelumnya.



"Busur katalpa...

Setiap kali musim semi datang,

Ingin aku melihat tarian Beribu dewa,

Oh, betapa ingin aku melihatnya menari... "



Tiba-tiba disadarinya bahwa Musashi sudah jauh berjalan di depan, maka ia tinggalkan tarian itu dan berlari mengejarnya.

Cahaya pagi belum lagi menembus hutan yang kini mereka masuki. Di sekitar kuil bagian dalam ini, pohon-pohon kriptomeria berbaris membentuk lingkaran besar, dan semuanya hampir sama tingginya. Bunga-bunga putih kecil tumbuh di tengah bercak-bercak lumut yang bergayut pada pepohonan itu. Karena mengira pepohonan itu sudah kuno-lima ratus tahun umurnya, atau barangkali bahkan seribu tahun—Iori ingin membungkuk kepadanya. Di sana-sini tampak olehnya pohon mapel berwarna merah cemerlang. Rumpun bambu yang rendah bergaris-garis tumbuh ke tengah jalan, hingga menyempitkan jalan itu menjadi jalan setapak.

Sekonyong-konyong bumi yang mereka injak seolah berguncang. Sekejap sesudah letusan itu, terdengar jeritan yang melemahkan semangat, diiringi hujan gema yang tajam. Iori menutup telinga dengan tangannya dan menyuruk ke dalam rumpun bambu.

"Iori! Tetap tiarap!" perintah Musashi dari balik sebatang pohon besar. "Jangan bergerak, biarpun mereka menginjakmu!"

Cahaya yang hanya remang-remang itu seolah penuh dengan lembing dan pedang. Mendengar teriakan itu, para penyerang semula mengira peluru telah menemukan sasaran, tapi tak seorang pun kelihatan. Karena tidak tahu pasti apa yang terjadi, mereka terpaku.

Iori berada di pusat lingkaran mata dan pedang terhunus. Di tengah kesunyian mencekam yang berlangsung sesudah itu, ia mulai tak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya. Pelan-pelan ia mengangkat kepala ke atas rumpun bambu. Beberapa meter dari tempatnya, tampak sebilah pedang terjulur dari belakang pohon, berkilau oleh sinar matahari.

Lepas dari segala kendali, Iori berteriak sekuat paru-parunya. "Sensei! Ada orang sembunyi di situ!" Sambil berteriak, ia bangkit berdiri dan berlarl mencari selamat.

Pedang pun melompat dari balik bayangan, dan bergantung seperti iblis di atas kepalanya. Tapi cuma sesaat. Belati Musashi langsung terbang ke arah kepala pemain pedang itu, dan bersarang di pelipisnya.

"Ya-a-h!"

Salah seorang pendeta menyerang Musashi dengan lembingnya. Musashi menangkap lembing itu dan mencengkeramnya erat-erat dengan satu tangan.

Sekali lagi terdengar jeritan maut, seolah-olah mulut orang itu tersumbat batu karang. Terpikir oleh Musashi, apakah mungkin para penyerangnya saling serang, dan ia menajamkan penglihatannya. Pendeta lain membidikkan lembingnya, lalu menyerbu ke arahnya. Musashi menangkap juga lembingnya dan menguncinya dengan tangan kanan.

"Serang dia sekarang!" jerit salah seorang pendeta, karena tahu bahwa kedua tangan Musashi terpakai.

Dengan suara nyaring, teriak Musashi, "Siapa kalian' Sebutkan diri kalian, kalau tidak, aku anggap kalian semua musuh. Sungguh memalukan, menumpahkan darah di tanah suci ini, tapi bagaimana lagi kalau tak ada pilihan lain?"

Musashi memutar kedua lembing di tangannya, lalu melepaskannya hingga kedua pendeta terlontar ke arah yang berbeda, kemudian ia melecutkan pedangnya, menetak seorang dari mereka sebelum orang itu sempat berhenti terhuyung. Dan ketika Musashi memutar tubuh, ia dapati dirinya berhadapan dengan tiga bilah pedang lain, berbaris di seberang jalan sempit itu. Tanpa beristirahat terlebih dahulu, ia hampiri mereka dengan sikap mengancam, selangkah demi selangkah. Dua orang lagi muncul dan mengambil tempat di samping ketiga orang pertama.

Musashi maju ke depan, tapi semua lawannya mundur. Waktu itu terlihat sekilas olehnya pendeta pemain lembing lain memperoleh kembali senjatanya, dan sedang mengejar Iori. "Berhenti kau, pembunuh!" pekiknya. Tapi begitu ia membalik untuk menyelamatkan Ion, kelima orang itu melolong menyerang. Musashi menerjang, menyambut mereka. Akibatnya seperti tabrakan antara dua gelombang yang sedang mengamuk, tapi semprotan yang keluar di sini semprotan darah, bukan semprotan air asin. Musashi berpusing dari satu lawan ke lawan lain, dengan kecepatan angin topan. Terdengar dua jeritan yang membekukan darah, kemudian yang ketiga. Mereka jatuh seperti pohon tumbang, masing-masing terpotong di tengah badan. DI tangan kanan Musashi tergenggam pedang panjang, di tangan kirinya pedang pendek.

Sambil memekik ngeri, kedua orang yang terakhir membalikkan badan dan lari, dikejar oleh Musashi.

"Ke mana kalian lari?" pekik Musashi sambil membelah kepala salah seorang dari mereka dengan pedang pendek. Percikan darah hitam mengenai mata Musashi. Dengan gerak refleks ia angkat tangan kirinya ke depan, dan pada saat itu juga ia mendengar bunyi logam di belakangnya.

Ia ayunkan pedang panjang untuk menangkis benda itu, tetapi efeknya ternyata berlainan sekali dengan yang diinginkannya. Ia tercengkeram rasa panik, melihat bola dan rantai membelit pedangnya di dekat pelindung tangan. Ia telah lengah.

"Musashi!" teriak Baiken. Ia tarik kuat-kuat rantai itu. "Kau sudah lupa padaku?"

Sesaat Musashi menatapnya, lalu serunya, "Shishido Baiken dari Gunung Suzuka?"

"Betul. Saudaraku Temma yang memanggilmu dari lembah neraka. Kujamin, kau akan lekas sampai ke sana!"

Musashi tak dapat membebaskan pedangnya. Sedikit demi sedikit, Baiken meraih rantai dan bergerak mendekat, untuk menggunakan sabit yang setajam pisau cukur itu. Musashi mencari peluang untuk memegang pedang pendeknya, dan sadarlah ia seketika, bahwa kalau tadi ia berkelahi hanya dengan pedang pendek, pasti ia sudah sama sekali tanpa pertahanan sekarang.

Leher Baiken membengkak sampai hampir sebesar kepalanya. Sambil berteriak genting, ia renggutkan rantai itu sekuat-kuatnya.

Musashi telah berbuat kesalahan. Ia tahu itu. Rantai-bola-sabit itu adalah senjata yang luar biasa, namun Musashi bukan tak kenal dengannya. Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah dibuat kagum, ketika pertama kali melihat senjata neraka itu di tangan istri Baiken. Tapi melihat senjata itu lain sekali dengan menghadapinya.

Baiken bermegah-megah kini. Ia menyeringai lebar dan jahat. Musashi tahu, tinggal satu kesempatan terbuka baginya: ia harus membebaskan pedang panjangnya. Dan ia mencari saat yang tepat.

Sambil melolong garang, Baiken melompat dan menyapukan sabitnya ke arah kepala Musashi. Serambut lagi, pasti sabit itu mengenai sasaran. Musashi berhasil melepaskan pedangnya, diiringi geraman keras. Baru saja sabit selesai ditarik, bola sudah datang mendesing di udara. Kemudian ganti sabit, bola, sabit....

Menghindari sabit berarti menempatkan diri langsung di arah gerak bola. Musashi tak dapat mendekat untuk melakukan pukulan. Dengan kalut ia bertanya pada diri sendiri, berapa lama ia dapat bertahan dengan cara demikian. "Jadi, begini ini rupanya?" tanyanya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan sadar, tapi karena ketegangan yang makin meningkat, tubuhnya jadi sukar dikendalikan, dan reaksinya jadi bersifat psikologis semata. Tidak hanya otot-ototnya, melainkan juga kulitnya kini hanya berkelahi secara naluriah. la begitu ketat memusatkan perhatian, hingga aliran keringat berminyak itu terhenti. Seluruh bulu tubuhnya tegak.

Terlambat sudah untuk lari ke balik pohon. Kalau sekarang ia lari ke sana, barangkali ia akan bertemu dengan musuh lain.

Terdengar olehnya suara teriakan yang jelas dan sayu, dan ia pun berpikir, "Hah? Iori?" la ingin melihat, walaupun dalam hatinya ia sudah merelakan anak itu.

"Mati kau! Bajingan!" Teriakan itu datang dari belakang Musashi. Kemudian, "Musashi, kenapa begitu lama? Saya sedang membereskan kutu di belakang ini."

Musashi tidak mengenali suara itu, tapi kini ia merasa dapat memusatkan perhatian pada Baiken.

Bagi Baiken, faktor terpenting adalah jarak dengan lawan. Keunggulannya terletak dalam memanfaatkan panjangnya rantai. Kalau Musashi dapat bergerak satu kaki saja ke luar jangkauan rantai, atau menghampiri satu kaki saja lebih dekat, Baiken akan mengalami kesulitan. Ia harus berusaha sebaik-baiknya agar Musashi tidak melakukan kedua hat itu.

Musashi kagum akan teknik rahasia orang itu, tapi sambil kagum, tibatiba terpikir olehnya bahwa itulah prinsip dua pedang. Rantai menjadi panjang, bola berfungsi sebagai pedang kanan, sabit pedang kiri.

"Ya! Tentu!" serunya penuh kemenangan. "Itulah dia Gaya Yaegaki!" Dan dengan keyakinan akan menang, ia melompat mundur, membuat jarak dua meter dengan musuhnya. Ia pindahkan pedangnya ke tangan kanan, lalu ia lontarkan lurus ke depan, seperti anak panah.

Baiken berkelit dan pedang pun melesat, menghunjam ke akar sebatang pohon, tak jauh dari situ. Tapi ketika la berkelit, rantai membelit tubuhnya.

Belum lagi ia sempat berteriak, Musashi sudah mengempaskan seluruh berat tubuhnya ke atasnya. Baiken mengulurkan tangan sampai sejauh gagang pedangnya, tapi Musashi mematahkan usahanya dengan tetakan tajam ke atas pergelangannya. Sebagai kelanjutan gerakan tersebut, ia tarik senjata itu hingga membelah tubuh Baiken, seperti kilat membelah pohon. Sambil menurunkan pedang, ia berkelit sedikit.

"Sayang," pikir Musashi. Menurut cerita orang kemudian, ia bahkan mengeluh iba, ketika penemu Gaya Yaegaki itu mengembuskan napas terakhir.

"Irisan karatake," terdengar suara kagum. "Langsung menyusur tubuh. Tak beda dengan bambu dibelah. Ini pertama kali saya lihat."

Musashi menoleh, katanya, "Oh, kalau tak salah... Gonnosuke dari Kiso. Apa kerja Anda di sini?"

"Lama tak jumpa, ya? Tentunya Dewa Mitsumine yang sudah mengatur, dan barangkali dengan bantuan ibu saya, yang sudah banyak mengajar saya sebelum meninggal."

Mereka mulai mengobrol, tapi tiba-tiba Musashi berhenti bicara dan berseru, "Iori!"

"Dia baik-baik saja. Saya selamatkan dia dari si pendeta babi itu, kemudian saya suruh naik pohon."

Iori, yang memperhatikan mereka dari cabang tinggi itu, hendak mulai berbicara, tapi tiba-tiba ia memayungi matanya dan memandang ke arah dataran kecil di ujung hutan. Kuro, yang terikat pada sebatang pohon, telah berhasil menggigit lengan kimono Oko. Oko mati-matian menyentakkannya. Dalam sekejap mata lengan kimono itu sobek, dan Oko lari.

Satu-satunya orang yang selamat, yaitu pendeta kedua itu, berjalan terpincang-pincang bertongkatkan lembing. Darah mengalir dari luka di kepalanya. Anjing yang barangkali sudah menggila oleh bau darah itu mulai ribut luar biasa. Sejenak suaranya terpantul ke sana kemari, tapi kemudian tali itu putus, dan anjing itu pun mengejar Oko. Sampai di dekat pendeta, si pendeta mengangkat lembing dan membidik kepala anjing itu. Kena lehernya, dan binatang itu lari masuk hutan.

"Perempuan itu lari," teriak Iori.

"Tak apa-apa. Kau boleh turun sekarang."

"Ada pendeta yang luka di sana. Apa tidak ditangkap?"

"Lupakan. Tak ada lagi artinya."

"Perempuan itu barangkali orang dari Warung Teh Oinu itu," kata Gonnosuke. Ia menjelaskan alasan kedatangannya, juga peristiwa kebetulan yang memungkinkan ia datang membantu Musashi.

Dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya, Musashi berkata, "Anda membunuh orang yang menembakkan senapan itu?"

"Tidak," kata Gonnosuke, tersenyum. "Bukan saya, tapi tongkat saya. Saya tahu biasanya Anda dapat melayani orang-orang macam itu, tapi karena mereka mulai menggunakan senapan, terpaksa saya bertindak. Jadi, saya datang kemari mendahului mereka dan menyelinap ke belakang orang itu, ketika hari masih gelap."

Mereka memeriksa mayat-mayat itu. Tujuh orang terbunuh dengan tongkat, hanya lima yang dengan pedang. Musashi berkata, "Yang saya lakukan tadi tak lain dari mempertahankan diri. Daerah ini termasuk tempat suci. Saya rasa, saya mesti menjelaskan segala sesuatunya kepada pejabat pemerintah yang bertugas. Kemudian dia dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membereskan peristiwa ini."

Dalam perjalanan turun gunung, mereka berpapasan dengan kesatuan pejabat bersenjata di jembatan Kosaruzawa. Musashi menyampaikan laporannya. Kapten yang bertugas itu mendengarkan, agaknya dengan perasaan heran, namun ia perintahkan juga mengikat Musashi.

Musashi jadi terkejut, dan ia bertanya kenapa ia ditindak, padahal ia bermaksud melaporkan hal itu pada mereka.

"Jalan!" perintah kapten itu.

Musashi marah, karena diperlakukan sebagai penjahat biasa, tapi masih ada hal lain yang mengejutkan. Di bawah sana ternyata ada lebih banyak lagi pejabat. Ketika mereka sampai di kota, orang yang mengawalnya tak kurang jumlahnya dari seratus orang.

Sesama Murid

 "AYOLAH, tak usah menangis lagi!" Gonnosuke mendekap Iori ke dadanya. "Kau lelaki, kan?"

"Justru karena saya lelaki... saya menangis." Iori mengangkat kepalanya, membuka mulut lebar-lebar, dan menangis sambil menengadah.

"Bukan mereka yang menahan Musashi. Dia yang menyerahkan diri." Kata-kata lunak Gonnosuke itu menyembunyikan keprihatinannya sendiri yang dalam. "Ayolah, kita pergi sekarang."

"Tidak, sebelum mereka mengembalikan dia!"

"Tak lama lagi mereka akan melepaskannya. Harus! Apa kau mau kutinggalkan di sini sendirian?" Gonnosuke menjauh beberapa langkah.

Iori tak bergerak. Justru pada waktu itu anjing Baiken datang menyerbu dari dalam hutan, dengan moncong merah berdarah. "Tolong!" jerit Iori sambil berlari ke samping Gonnosuke.

"Kau capek, ya? Mau digendong?"

Iori dengan senang bergumam menyatakan terima kasih, lalu naik ke punggung yang ditawarkan kepadanya, dan mendekapkan kedua tangannya ke bahu yang lebar itu.

Habis pesta malam kemarin, para tamu pergi. Angin lembut meniupkan sisa-sisa bungkusan dari daun bambu dan carik-carik kertas di sepanjang jalanan sepi itu.

Lewat Warung Teh Oinu, Gonnosuke menoleh ke dalam, maksudnya hendak lewat saja, tanpa diperhatikan orang.

Tapi Iori berseru, "Itu perempuan yang lari tadi!"

"Aku bisa mengerti, mestinya memang dia di sini." Gonnosuke berhenti, dan menyatakan keheranannya, "Kalau para pejabat bisa menyeret Musashi, kenapa mereka tidak menahan orang ini?"

Melihat Gonnosuke, mata Oko menyala-nyala karena marah.

Melihat perempuan itu terburu-buru mengumpulkan barang miliknya, Gonnosuke tertawa. "Mau bepergian, ya?" tanyanya.

"Bukan urusanmu. Jangan sangka aku tidak kenal kau, bajingan tukang campur tangan! Kau sudah membunuh suamiku!"

"Kalian sendiri penyebabnya."

"Hari-hari ini juga kubalas kau."

"Iblis perempuan!" seru Iori dari atas kepala Gonnosuke.

Sambil mengundurkan diri ke kamar belakang, Oko tertawa menghina,

"Apa kalian pikir kalian orang baik-baik, berani-berani mengata-ngatai aku? Kan kalian pencuri yang masuk gedung harta?"

"Apa?" Gonnosuke segera menurunkan Iori ke tanah, dan masuk ke dalam warung. "Siapa yang kausebut pencuri?"

"Tak bisa kau membohongi aku!"

"Katakan sekali lagi, dan..."

"Pencuri!'

Gonnosuke mencengkeram tangan Oko, tapi waktu itu juga Oko membalikkan badan dan menusukkan belati ke arahnya. Tanpa mengusik tongkatnya, Gonnosuke mencoba merebut belati dari tangan Oko dan menyurukkan perempuan itu lewat pintu depan.

Oko cepat berdiri dan menjerit, "Tolong! Pencuri! Aku dikeroyok!"

Gonnosuke membidik, dan melontarkan belatinya. Menancap di punggung Oko, ujungnya menyembul di dada. Oko jatuh tertelungkup.

Entah dari mana datangnya, Kuro langsung muncul dan mengangkangi tubuh itu. Pertama, ia menghirup darahnya dengan lapar, kemudian mengangkat kepala dan melolong ke langit.

"Lihat matanya itu!" seru Iori ngeri.

Teriakan Oko tadi sampai ke telinga orang-orang kampung yang sedang heboh. Sesaat sebelum fajar, memang ada orang menyerobot masuk gedung harta kuil. Jelas perbuatan itu dilakukan oleh orang luar, karena harta keagamaan seperti pedang-pedang tua, cermin, dan barang lain semacam itu tidak dijamah, sedangkan kekayaan dalam bentuk emas urai, emas lantakan, dan uang tunai yang disimpan bertahun-tahun lamanya, hilang. Berita itu lambat sekali bocornya, dan belum ditegaskan kebenarannya. Akibat jeritan Oko, yang sedemikian jauh merupakan bukti paling nyata itu, sungguh cepat.

"Itu mereka!"

"Dalam Warung Oinu!"

Teriakan-teriakan itu memikat lebih banyak lagi orang yang bersenjatakan bambu runcing, senapan babi hutan, tongkat, dan batu. Dalam sekejap mata saja seluruh kampung sudah mengepung warung teh itu dengan sikap haus darah.

Gonnosuke dan Iori lari dari pintu belakang, dan beberapa jam berikutnya berturut-turut mereka terusir dari persembunyian yang satu ke persembunyian yang lain. Tapi kini mereka mendapat kejelasan: Musashi ditahan bukan karena "kejahatan" yang akan diakuinya, melainkan karena pencurian. Baru sesudah sampai di Celah Shomaru mereka berhasil melepaskan diri dari rombongan pencari yang terakhir.

"Bapak dapat melihat Dataran Musashino dari sini," kata Iori. "Ingin tahu juga rasanya, apa guru saya selamat."

"Hmm. Kukira dia ada di penjara sekarang, dan sedang diperiksa."

"Apa tak ada jalan menyelamatkan dia?"

"Harusnya ada."

"Saya mohon, tolonglah."

"Tak perlu kau memohon. Dia semacam guru juga buatku. Tapi, Iori, tak banyak yang bisa kaulakukan di sini. Apa kau bisa pulang sendiri?"

"Saya kira bisa, kalau memang terpaksa." "Bagus."

"Bapak sendiri bagaimana?"

"Aku akan kembali ke Chichibu. Kalau mereka menolak melepaskan Musashi, akan kukeluarkan dia, entah dengan cara bagaimana, biar mesti meruntuhkan penjara." Untuk menekankan kata-katanya, ia hantamkan tongkatnya satu kali ke tanah. Iori sudah menyaksikan tenaga senjata itu, dan ia cepat mengangguk menyetujui. "Kau anak baik. Pulanglah dan urus segalanya, sampai aku membawa Musashi pulang dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa." Sambil mengepit tongkatnya, Gonnosuke berbalik menuju Chichibu.

Iori tidak merasa kesepian atau takut. Ia juga tidak kuatir akan tersesat. Tapi ia mengantuk bukan main. Sementara berjalan di bawah matahari panas itu, ia hampir tak dapat membuka matanya. Di Sakamoto, ia melihat patung Budha di tepi jalan, dan berbaringlah ia di bawah bayangannya.

Ketika sinar matahari sore makin menggelap, ia terbangun mendengar suara-suara pelan di sebelah patting. Karena merasa agak bersalah mendengarkan percakapan orang, ia berpura-pura masih tidur.

Ada dua orang-yang satu duduk di atas tunggul potion, yang lain di atas batu. Tidak jauh dari situ, ada dua ekor kuda tertambat pada pohon, dengan peti-peti pernis tergantung di kedua sisi pelananya. Label kayu yang tertera pada salah satu peti itu bertuliskan: Dari Provinsi Shimotsuke. Untuk pembangunan lingkar barat. Leveransir Bahan Pernis untuk Shogun.

Bagi Iori, yang sekarang menoleh ke sekitar patung, kedua orang itu tidak mirip kawanan pejabat kuil yang makmur. Mata mereka terlalu tajam, dan tubuh mereka terlalu berotot. Yang lebih tua tampak tegap, umurnya lebih dari lima puluh tahun. Sinar matahari terakhir terpantul tajam dari topi yang menutupi kedua telinganya, dan topi itu menjorok ke depan, menutupi wajahnya.

Temannya seorang pemuda ramping dan kokoh, dengan jambul yang cocok untuk wajahnya yang kekanak-kanakan. Kepalanya tertutup saputangan bercelup Suo dan diikatkan di bawah dagu.

"Bagaimana peti-peti pernis itu?" tanya yang muda. "Bagus juga, kan?"

"Ya, bagus. Orang bisa menduga kita ada hubungan dengan pekerjaan yang sedang berlangsung di kuil. Takkan terpikir olehku hal itu."

"Terpaksa saya mengajarkan soal-soal ini pada Bapak, sedikit demi sedikit."

"Hati-hati kau! Jangan menertawakan orang tua. Tapi siapa tahu? Barangkali dalam empat atau lima tahun, Daizo tua ini akan menerima perintah darimu!"

"Ya, orang muda tumbuh dewasa. Orang tua terus tambah tua, tak peduli berapa keras mereka berusaha untuk tetap muda."

"Kaupikir, itu yang kulakukan?"

"Jelas, kan? Bapak selalu berpikir tentang umur Bapak, dan itu yang menyebabkan Bapak berusaha keras agar misi Bapak itu terlaksana."

"Rupanya kau sudah betul-betul mengenal diriku."

"Apa kita tidak berangkat?"

"Ya, jangan sampai keburu malam."

"Saya tak mau sampai tertangkap."

"Ha, ha. Kalau kau begitu cepat takut, kau tak bisa punya keyakinan penuh akan apa yang kaulakukan."

"Saya belum lama terjun dalam urusan ini. Bunyi angin pun kadang-kadang membuat saya gugup."

"Itu karena kau masih berpikir tentang dirimu sebagai pencuri biasa. Kalau kau berpikir bahwa yang kaulakukan adalah untuk kebaikan negerimu, perasaanmu akan tenang."

"Bapak selalu bilang begitu. Saya percaya pada Bapak, tapi ada yang selalu mengingatkan saya, bahwa yang saya lakukan ini tidak benar."

"Kau mesti punya keberanian berpendirian!" Namun nasihat itu terdengar kurang meyakinkan, seakan-akan Daizo sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Pemuda itu melompat ringan ke atas pelana, dSaya mohon, tolonglah.an berjalan mendahului. "Bapak perhatikan saya," serunya sambil menoleh ke belakang. "Kalau saya melihat apa-apa, akan saya beri isyarat."

Jalan itu turun melandai ke selatan. Iori memperhatikan dari balik patung Budha sejenak, kemudian memutuskan untuk mengikuti mereka. Bagaimanapun, ia yakin mereka itulah pencuri-pencuri gedung harta.

Sekali-dua kali, mereka menoleh ke belakang dengan hati-hati. Karena merasa tak ada tanda-tanda bahaya, sebentar kemudian mereka sepertinya sudah tampak melupakan Iori. Tak lama sesudah itu, cahaya petang lenyap, dan keadaan pun jadi terlalu gelap, hingga susah melihat beberapa meter ke depan.

Kedua penunggang kuda hampir sampai ke ujung Dataran Musashino, ketika pemuda itu menuding dan berkata, "Nah, di sana Pak Kepala bisa melihat lampu Ogimachiya." Jalanan jadi mendatar. Tidak berapa jauh di depan, tampak Sungai Iruma berkilauan seperti perak oleh sinar bulan, berkelok-kelok seperti obi yang tercecer.

Iori kini bersikap hati-hati, agar tetap tidak menjadi perhatian. Dugaannya bahwa orang-orang itu pencuri telah semakin besar, dan ia kenal segala sesuatu tentang bandit, semenjak ia tinggal di Hotengahara. Bandit adalah orang-orang jahat yang tega berbuat aniaya hanya karena sebutir telur atau secuil buncis merah. Pembunuhan tanpa alasan bukanlah apa-apa bagi mereka.

Segera mereka masuk kota Ogimachiya. Daizo mengangkat satu tangannya dan berkata, "Jota, kita berhenti di sini buat makan. Kuda mesti diberi makan, dan aku ingin merokok."

Mereka mengikatkan kuda di depan warung yang lampunya remangremang, dan masuk. Jota menempatkan diri di dekat pintu, dan terns menatapkan matanya ke peti-peti itu, selama ia makan. Begitu selesai, ia keluar dan memberi makan kudanya.

Ion masuk warung makanan di seberang jalan, dan ketika kedua orang itu berangkat lagi, ia sambar gumpalan terakhir nasinya, dan ia makan seraya berjalan.

Kedua orang itu kini berjalan berdampingan. Jalanan gelap, tapi rata. "Apa kau sudah kirim kurir ke Kiso, Jota?" "Ya, sudah."

"Kapan kausebutkan waktunya?"

"Tengah malam. Kita mesti sampai di sana menurut jadwal."

Di malam tenang itu, Iori cukup dapat menangkap percakapan mereka, hingga ia pun tahu bahwa Daizo memanggil temannya dengan nama anak-anak, sedangkan Jota menyebut orang yang lebih tua itu dengan "Kepala". Artinya tidak lain bahwa orang itu kepala gerombolannya. Tetapi, bagaimanapun, Iori mendapat kesan bahwa mereka itu bapak dan anak. Ini berarti mereka bukan sekadar bandit, melainkan bandit turunan, yang tidak dapat ia tangkap sendirian. Tapi kalau ia dapat menghampiri mereka cukup dekat, ia dapat melaporkan tempat mereka kepada pejabat.

Kota Kawagoe sedang tertidur lelap, tenang seperti rawa-rawa di tengah malam buta. Sesudah melewati baris-baris rumah yang sudah gelap, kedua penunggang kuda itu meninggalkan jalan raya dan mulai mendaki bukit. Sebuah tanda dari batu di bawah kuil menyatakan: Hutan Bukit Kuburan Kepala-di Atas.

Iori mendaki lewat semak-semak di sepanjang jalan setapak, dan sampal lebih dahulu di puncak. Di sana ada sebatang pohon pinus besar. Seekor kuda tertambat pada pohon itu. Tiga orang berpakaian ronin jongkok di bawah, dengan tangan dilipat di atas lutut. Mereka memandang penuh harapan ke arah jalan setapak.

Baru saja Iori menyembunyikan diri, salah seorang dari orang-orang itu menegakkan badan, katanya, "Itu Daizo." Ketiga orang itu berlari ke depan, dan bertukar salam gembira dengan Daizo. Daizo dan sekongkolnya memang sudah hampir empat tahun lamanya tidak berjumpa.

Sebentar kemudian, mereka mulai bekerja. Atas petunjuk Daizo, mereka menggelindingkan sebuah batu besar ke sisi, dan mulai menggali. Tanah ditumpuk di satu sisi, sedangkan timbunan emas dan perak di sisi lain. Jota menurunkan peti-peti itu dari punggung kuda dan mengeluarkan isinya yang, seperti diduga Iori, terdiri atas harta Kuil Mitsumine yang hilang itu. Kalau ditambahkan pada simpanan sebelumnya, barang rampokan itu tentunya bernilai puluhan ribu ryo.

Barang logam berharga itu dituangkan ke dalam karung-karung jerami biasa, kemudian dimuatkan ke punggung tiga ekor kuda. Peti-peti pernis yang sudah kosong, bersama-sama barang lain yang sudah memenuhi tugasnya itu, dimasukkan ke dalam lubang. Tanah diratakan kembali, dan batu pun dikembalikan pada kedudukan semula.

"Cukuplah ini," kata Daizo. "Sekarang waktunya merokok." Ia duduk di samping pohon pinus dan mengeluarkan pipanya. Yang lain-lain mengibaskan pakaian dan menggabungkan diri dengannya.

Selama empat tahun melakukan apa yang dinamakan ziarah itu, Daizo telah menjelajahi Dataran Kanto secara menyeluruh. Hanya sedikit kuil atau tempat suci yang tidak memiliki piagam yang menyebutkan kedermawanannya yang sudah tidak lagi menjadi rahasia. Namun aneh juga, tak seorang pun terpikir untuk menanyakan, bagaimana ia memperoleh seluruh uang itu.

Daizo, Jotaro, dan ketiga orang dari Kiso itu duduk melingkar sekitar satu jam lamanya, membicarakan rencana-rencana masa depan. Tak sangsi lagi, sekarang ini berbahaya bagi Daizo untuk kembali ke Edo, namun seorang dari mereka harus pergi ke sana. Dalam gudang di Shibaura ada emas yang mesti diambil dan dokumen-dokumen yang mesti dibakar. Dan ada yang mesti dilakukan untuk mengurus Akemi.

Tepat sebelum matahari terbit, Daizo dan ketiga orang itu mulai menuruni jalan raya Koshu, menuju Kiso. Jotaro berjalan kaki menuju arah berlawanan.

Bintang-bintang yang ditatap Iori tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, "Siapa yang harus dikuntit?"

Di bawah langit musim gugur yang biru cerah, sinar tegas matahari petang seakan-akan tenggelam langsung ke dalam kulit Jotaro. Dengan kepala dipenuhi pikiran mengenai perannya di masa mendatang, ia melangkah santai melintasi Dataran Musashino, seakan-akan dialah pemiliknya.

Sambil melontarkan pandang agak kuatir ke belakang, pikirnya, "Dia masih di sana." Karena mengira anak lelaki itu ingin bicara dengannya, beberapa kali ia berhenti, tapi anak itu tidak berusaha menyusulnya.

Jotaro memutuskan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia bersembunyi di balik serumpun elalia.

Sampai di bagian jalan tempat ia terakhir kali melihat Jotaro, mulailah Iori menoleh ke sekelilingnya dengan gelisah.

Sekonyong-konyong Jotaro berdiri dan berseru, "Hei, orang kerdil!"

Iori tergagap, tapi sekejap kemudian sudah pulih kembali. Karena merasa tak dapat meloloskan diri, ia berjalan terus dan bertanya acuh tak acuh. "Apa maumu?"

"Kau mengikuti aku, kan?"

"Tidak!" Ion menggelengkan kepala dengan sikap tak bersalah. "Aku mau pergi ke Juniso Nakano."

"Bohong! Kau tadi mengikuti aku."

"Aku tak mengerti apa yang kaubicarakan itu." Iori mulai angkat kaki dan lari, tapi Jotaro menangkap belakang kimononya. "Katakan!"

"Tapi... aku... aku tidak tahu apa-apa!"

"Pembohong!" kata Jotaro sambil mengetatkan cengkeramannya. "Ada yang menyuruhmu mengikuti aku. Kau mata-mata."

"Dan kau... kau pencuri jelek!"

"Apa?" pekik Jotaro dengan muka hampir menyentuh muka Iori.

Iori membungkukkan badan sampai hampir menyentuh tanah, bebas, dan lari.

Sejenak Jotaro ragu-ragu, tapi kemudian mengejarnya.

Iori membelok ke samping, dan dari situ terlihat olehnya atap lalang tersebar di sana-sini, seperti sarang lebah. Ia melintasi ladang yang ditumbuhi rumput musim gugur kemerahan. Beberapa timbunan tanah tempat tikus mondok tertendang olehnya.

"Tolong! Tolong! Pencuri!" teriak Iori.

Kampung kecil yang dimasukinya itu dihuni sejumlah keluarga yang bertugas memadamkan kebakaran di dataran itu. Iori dapat mendengar bunyi palu dan paron seorang pandai besi. Orang banyak datang berlarian dari dalam kandang dan rumah yang gelap. Di rumah-rumah itu bergantung buah kesemek dikeringkan. Sambil melambai-lambaikan tangan, Iori berteriak terengah-engah, "Orang yang pakai ikat kepala... dan mengejar saya... itu pencuri. Tangkap dia! Ayolah! ... Oh, oh! Ini dia kemari!"

Orang-orang kampung menatap kebingungan, Sebagian memandang takut pada kedua pemuda itu, tapi Iori kecewa karena mereka tidak bergerak menangkap Jotaro.

Di tengah kampung, Iori berhenti karena sadar bahwa ternyata satu-satunya yang mengganggu suasana damai itu adalah teriakannya. Kemudian ia berlari lagi, dan menemukan tempat untuk bersembunyi dan mengambil napas.

Jotaro pelan-pelan menenangkan diri, sampai akhirnya dapat kembali berjalan normal, sebagai orang yang bermartabat. Orang-orang kampung memperhatikannya tanpa mengatakan apa-apa. Ia memang tidak mirip perampok atau ronin yang bermaksud jahat. Sesungguhnya ia tampak seperti pemuda baik-baik, yang tak mungkin melakukan kejahatan.

Karena merasa muak bahwa orang-orang kampung-orang-orang dewasa itu tak hendak menindak pencuri, Iori memutuskan untuk segera kembali ke Nakano. Di sana, setidaknya ia dapat menyampaikan urusannya pada orang-orang yang dikenalnya.

Ia meninggalkan jalan, lalu memotong dataran. Begitu melihat rumpun kriptomeria di belakang rumah, berarti tinggal satu kilometer lagi jarak yang mesti ditempuhnya. Dengan perasaan puas, Ia ubah langkahnya, dari menderap jadi berlari penuh.

Tiba-tiba ia melihat jalannya dihalangi oleh seorang lelaki yang merentangkan kedua tangannya.

Tak sempat ia membayangkan, bagaimana Jotaro bisa mendahuluinya, tapi sekarang ia berada di daerah sendiri. Ia melompat mundur dan menarik pedangnya.

"Bajingan!" pekiknya.

Jotaro menyerbu ke depan dengan tangan kosong dan menangkap kerah Iori, tapi anak itu berhasil membebaskan diri dan melompat sepuluh kaki ke samping.

"Bangsat!" gumam Jotaro, yang merasa darah hangat mengalir turun di tangan kanannya, oleh luka sepanjang lima sentimeter.

Iori mengambil jurus, dan memusatkan pikiran pada pelajaran yang dulu didengung-dengungkan Musashi kepadanya: Mata... Mata... Mata. Kekuatannya terpusat dalam kedua bola matanya. Keseluruhan dirinya seperti tersalur ke dalam sepasang matanya yang berapi-api.

Karena kalah beradu pandang, Jotaro menebaskan pedangnya sendiri. "Terpaksa aku membunuhmu!" gertaknya.

Kembali mendapat keberanian karena kemenangan yang baru didapatnya, Iori menyerang. Itulah serangan yang selalu dipergunakannya terhadap Musashi.

Jotaro terpaksa berpikir sekali lagi. Tadinya ia tak percaya Iori dapat mempergunakan pedang. Kini ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk berkelahi. Demi kawan-kawannya, ia harus menyingkirkan anak yang suka campur tangan ini. Ia mendesak maju, agaknya tanpa memperhatikan serangan Iori, dan ia mengayunkan pedang dengan ganas, namun meleset.

Sesudah dua-tiga kali menangkis, Iori membalik, kemudian lari, berhenti, dan menyerang lagi. Apabila Jotaro menghadapinya, ia mundur lagi. Ia senang melihat taktiknya berhasil. Dengan cara itu, ia memikat lawan memasuki wilayahnya.

Sambil beristirahat untuk menarik napas, Jotaro menoleh ke sekitar semak yang gelap, lalu berteriak, "Ke mana kau, bajingan bodoh?" Jawabannya ternyata hujan dari pohon dan daun. Jotaro menegakkan kepala, dan berteriak, "Aku melihatmu!" sekalipun yang ia lihat di tengah dedaunan itu sebenarnya hanyalah sepasang bintang.

Jotaro memanjat ke arah bunyi gemeresik yang ditimbulkan Iori, ketika Iori berpindah tempat ke cabang lain. Sayang sekali, dari sana tak ada lagi jalan untuk lari.

"Kena kau sekarang! Lebih baik kau menyerah, kecuali kalau kau punya sayap. Kalau tidak, mati kau!"

Diam-diam Iori kembali ke sebuah titik percabangan dua batang, pelan, hati-hati. Ketika Jotaro menggapai untuk menangkapnya, kembali Iori berpindah tempat ke salah satu batang. Sambil menggeram, Jotaro menangkap sebuah cabang dengan kedua tangannya dan mengangkat badannya ke atas. Dengan demikian, ia memberikan kesempatan kepada Iori, kesempatan yang memang dinantikan anak itu. Dengan bunyi berderak, pedangnya menetak cabang yang digantungi Jotaro. Cabang itu patah, dan Jotaro jatuh terjerembap ke tanah.

"Bagaimana rasanya, pencuri?" tanya Iori dengan bangga.

Jotaro jatuh terhalang dahan-dahan di bawah, karena itu ia tidak terluka parah, hanya terluka harga dirinya. Ia memaki-maki dan mulai memanjat lagi, kali ini dengan kecepatan seekor macan tutul. Sampai di kaki Iori lagi, Iori menebaskan pedangnya ke sana kemari, agar Jotaro tidak sempat mendekat.

Sementara mereka terkunci dalam jalan buntu, nada-nada sendu shakuhachi terdengar oleh telinga mereka. Sesaat mereka berdua berhenti dan mendengarkan.

Kemudian Jotaro memutuskan untuk mencoba bicara baik-baik dengan lawannya. "Baiklah," katanya, "kau sudah menunjukkan kemampuan berkelahi lebih baik dari yang kuduga. Aku kagum padamu. Kalau kau mengatakan siapa yang memerintahkanmu mengikutiku, akan kulepaskan kau."

"Akui, kau kalah!"

"Kau gila, ya?"

"Mungkin saja aku belum besar, tapi namaku Misawa Iori, satu-satunya murid Miyamoto Musashi. Minta belas kasihan itu hinaan buat nama baik guruku. Menyerahlah kau!"

"A-apa?" tanya Jotaro tak percaya. "K-katakan itu sekali lagi!" suaranya nyaring dan tidak mantap.

"Dengar baik-baik," kata Iori bangga. "Aku Misawa Iori, satu-satunya murid Miyamoto Musashi. Apa itu membuatmu heran?"

Jotaro kini bersedia mengakui kekalahan. Dengan rasa sangsi, bercampur ingin tahu, ia bertanya, "Bagaimana guruku itu? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia?"

Dengan kaget Iori menjawab, namun tetap menjaga jarak dari Jotaro, yang sementara itu terus mendekat. "Ha! Sensei tak akan punya murid seorang pencuri."

"Jangan sebut aku pencuri. Apa Musashi tak pernah menyebut Jotaro?"

"Jotaro?"

"Kalau kau betul-betul murid Musashi, pasti kau pernah mendengar dia menyebut namaku sekali-sekali. Aku seumurmu waktu itu."

"Bohong!"

"Tidak bohong! Betul!"

Penuh dengan rasa nostalgia, Jotaro mengulurkan tangan kepada Iori, dan mencoba menjelaskan bahwa mereka berdua mesti bersahabat, karena mereka murid dari guru yang sama. Namun Iori tetap bersikap waspada, dan melayangkan pukulan ke arah rusuk Jotaro.

Karena terjepit antara dua dahan, hampir Jotaro tak berhasil mencengkeramkan tangannya ke pergelangan Iori. Entah karena apa, Iori melepaskan cabang yang selama itu dipegangnya. Mereka pun jatuh bersama, satu di atas yang lain, dan kedua-duanya pingsan.



Cahaya di rumah baru Musashi itu tampak dari segala jurusan, karena sekalipun atapnya sudah terpasang, dinding-dindingnya belum dibuat.

Takuan datang sehari sebelumnya, untuk melakukan kunjungan seusai badai, dan ia memutuskan untuk menanti kembalinya Musashi. Tepat malam tadi, kenikmatan yang diperolehnya dari lingkungan sepi itu diganggu oleh seorang pendeta pengemis yang minta air panas untuk makan malam.

Pendeta tua itu makan kue berasnya yang sederhana, lalu mulai bermain shakuhachi untuk Takuan. Dengan gerak tertegun-tegun dan gaya amatiran, ia mainkan alat itu dengan jari-jarinya. Mendengar permainannya, Takuan merasa bahwa musik yang didengarnya itu mengandung nada-nada murni, sekalipun terdengar juga nada-nada klise, seperti sering terungkap dalam sajak orang-orang yang bukan penyair. Ia merasa juga, bahwa ia dapat menangkap emosi yang hendak dinyatakan oleh si pemain dengan alatnya. Musik itu murung. Dari nada sumbang yang pertama sampai yang terakhir, terasa lolongan penyesalan.

Terasa oleh Takuan, semua itu seperti cerita tentang kehidupan orang itu sendiri, dan ia bayangkan bahwa cerita itu tentunya tidak jauh berbeda dari hidupnya sendiri. Besar atau kecil seseorang, tidak banyak beda pengalaman hidup rohaninya. Perbedaannya hanyalah bagaimana masing-masing dari mereka menangani kelemahan-kelemahan manusia yang umum sifatnya. Bagi Takuan, ia dan orang lain itu pada dasarnya hanyalah seikat khayal yang terbungkus daging manusia.

"Saya yakin pernah melihat Anda, entah di mana," gumam Takuan merenung.

Pendeta itu mengedip-ngedipkan matanya yang hampir tak melihat, dan katanya, "Sesudah Anda mengucapkan kata itu, saya jadi kenal suara Anda. Bukankah Anda Takuan Soho dari Tajima?"

Ingatan Takuan menjadi terang kini. Sambil mendekaikan lampu ke wajah orang itu, katanya, "Anda Aoki Tanzaemon, kan:

"Kalau begitu, Anda betul Takuan. Oh, alangkah ingin saya merangkak ke dalam lubang, dan menyembunyikan diri saya yang celaka ini."

"Aneh sekali, kita berjumpa di tempat semacam ini. Sudah hampir sepuluh tahun berlalu, sejak peristiwa di Kuil Shippoji itu, kan?"

"Oh, menggigil saya, kalau memikirkan masa itu." Kemudian katanya kaku, "Sesudah menjadi pengembara dalam kegelapan, onggokan tulang sial ini hanya punya satu penunjang semangat hidupnya, yaitu kenangan akan anak."

"Anda punya anak?"

"Orang bilang, anak saya hidup bersama orang yang diikat pada pohon kriptomeria tua dulu itu. Takezo namanya, kan? Saya dengar namanya sekarang Miyamoto Musashi. Kata orang, keduanya pergi ke timur."

"Maksud Anda, anak Anda itu murid Musashi?"

"Begitulah kata orang. Saya malu sekali. Tak mungkin saya menghadapi Musashi, karena itu saya putuskan untuk menghilangkan saja anak itu dari pikiran saya. Tapi... ah, umurnya sudah tujuh belas tahun sekarang. Sekiranya saya dapat melihatnya sekali saja, dan tahu akan menjadi orang macam apa dia nanti, siaplah dan maulah saya mati."

"Jadi, Jotaro itu anak Anda? Saya tidak tahu," kata Takuan.

Tanzaemon mengangguk. Tak ada tanda-tanda pada tubuhnya yang mengeriput itu, bahwa ia kapten angkuh yang bernafsu terhadap Otsu dulu. Takuan memandangnya dengan perasaan iba, dan sedih melihat Tanzaemon yang demikian tersiksa oleh kesalahannya sendiri.

Sekalipun mengenakan pakaian pendeta, orang itu jelas tidak mendapatkan ketenangan dalam keyakinan keagamaan, maka Takuan memutuskan langkah pertama yang harus diambilnya adalah menghadapkan pendeta itu kepada Budha Amida, yang dengan keampunan tanpa batas dapat menyelamatkan mereka yang telah bersalah melakukan sepuluh tindak kejahatan dan lima dosa tak berampun. Sesudah ia sembuh dari rasa putus asanya, masih akan cukup waktu untuk mencari Jotaro.

Takuan memberikan kepadanya nama sebuah kuil Zen di Edo. "Kalau Anda katakan pada mereka bahwa saya yang mengirim Anda ke sana, mereka akan mengizinkan Anda tinggal di sana berapa lama pun Anda suka. Begitu ada waktu nanti, saya akan datang, dan kita akan berbicara panjang-lebar. Saya dapat menduga di mana anak Anda berada. Akan saya usahakan sebisa-bisanya agar Anda dapat bertemu dengannya tidak lama lagi. Sementara itu, tinggalkan pengembaraan Anda. Sesudah berumur lima puluh atau enam puluh tahun pun, orang masih bisa mengenal kebahagiaan, bahkan juga melakukan kerja yang bermanfaat. Anda bisa hidup bertahuntahun lagi. Bicarakan soal ini dengan pendeta-pendeta di sana, kalau Anda sampai di kuil itu."

Takuan mengusir Tanzaemon ke luar pintu, tanpa banyak upacara dan rasa simpati, tapi Tanzaemon rupanya menghargai sikapnya yang tanpa perasaan itu. Sesudah beberapa kali membungkuk sebagai tanda terima kasih, ia memungut topi buluh dan shakuhachi-nya, lalu pergi.

Karena takut tergelincir, Tanzaemon memilih jalan lewat hutan, di mana jalan setapak lebih melandai. Akhirnya tongkatnya menyinggung suatu rintangan. Ketika ia meraba-raba dengan kedua tangannya, terkejutlah ia menepuk dua tubuh yang terbaring tak bergerak-gerak di tanah lembap itu.

Ia lekas-lekas kembali ke pondok tadi. "Takuan! Apa Anda bisa membantu saya? Saya menemukan dua anak lelaki pingsan di hutan." Takuan bangkit dan pergi ke luar. Sambung Tanzaemon, "Saya tidak bawa obat, dan penglihatan saya tidak begitu baik untuk mengambilkan mereka air."

Takuan mengenakan sandalnya dan berseru ke arah dasar bukit. Suaranya mengalun lepas. Seorang petani menjawab dan bertanya kepadanya, apa yang dikehendakinya. Takuan minta ia membawa obor, juga beberapa orang lelaki dan sedikit air. Sambil menanti, ia menyatakan pada Tanzaemon bahwa jalan itu adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk ditempuh. la lukiskan jalan itu dengan terperinci, dan ia anjurkan Tanzaemon jalan terus. Di tengah jalan menuruni bukit, Tanzaemon berpapasan dengan orang-orang yang naik.

Ketika Takuan tiba dengan petani itu, Jotaro sudah tersadar dan duduk di bawah pohon, tampaknya bingung. Sebelah tangannya terletak di atas tangan Iori, dan ia bimbang: menyadarkan Iori dan mencoba mengetahui apa yang dikehendakinya, ataukah pergi dart sana? Melihat obor datang, ia bereaksi seperti binatang malam, menegangkan otot-otot, siap untuk lari.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Takuan. la memperhatikan segalanya lebih teliti, dan minatnya yang bercampur rasa ingin tahu berubah menjadi sikap heran, sama seperti Jotaro. Anak muda itu jauh lebih tinggi dari anak yang pernah dikenal Takuan, dan wajahnya berubah sedikit.

"Kau Jotaro, kan?"

Pemuda itu meletakkan kedua tangannya ke tanah, membungkuk. "Betul," katanya tertegun, hampir-hampir dengan sikap takut. Ia mengenal Takuan seketika itu juga.

"Oh, kau memang sudah tumbuh menjadi pemuda tampan." Sambil mengalihkan perhatian kepada Iori, Takuan merangkulnya dan memastikan bahwa anak,itu masih hidup.

Iori sadar kembali. Sesudah menoleh sekeliling beberapa detik lamanya dengan keheranan, ia pun menangis.

"Ada apa?" tanya Takuan dengan nada menghibur. "Apa kau luka?"

Iori menggelengkan kepala, menangis, "Saya tidak luka. Tapi mereka membawa guru saya. Dia di penjara Chichibu sekarang." Karena tangisnya itu, sukar Takuan menangkap maksud kata-katanya, tapi kemudian ceritanya pun menjadi jelas. Sadar akan seriusnya keadaan itu, Takuan jadi hampir sama sedihnya dengan Iori.

Jotaro pun sangat gelisah. Dengan suara bergetar, katanya tiba-tiba, "Pak Takuan, ada yang hendak saya sampaikan pada Bapak. Apa kita bisa pergi ke tempat lain untuk bicara?"

"Dialah salah seorang pencuri itu," kata Iori. "Bapak jangan percaya dia. Apa saja yang dikatakannya pasti bohong." Ia menunjuk Jotaro dengan nada menuduh, dan mereka saling tatap.

"Diam kalian berdua! Biar kuputuskan siapa yang benar dan siapa yang salah." Takuan membawa mereka kembali ke rumah, dan memerintahkan mereka membuat api di luar.

Takuan duduk di samping api, dan ia perintahkan mereka untuk berbuat demikian juga. Iori ragu-ragu. Air mukanya jelas-jelas menyatakan bahwa ia tak ingin bersahabat dengan pencuri. Tapi, melihat Takuan dan Jotaro berbicara akrab mengenai masa lalu, ia merasa iri, dan sambil menggerutu mengambil tempat duduk di dekat mereka.

Jotaro merendahkan suaranya, dan seperti perempuan yang sedang mengaku dosa kepada sang Budha, ia menjadi sangat sungguh-sungguh.

"Selama empat tahun ini saya menerima latihan dari orang bernama Daizo. Dia berasal dari Narai di Kiso. Saya sudah tahu apa yang menjadi keinginannya, dan apa yang dia kehendaki untuk dunia ini. Kalau perlu, saya bersedia mati untuk dia. Itu sebabnya saya mencoba membantu pekerjaannya... Yah, memang sakit disebut pencuri, tapi saya masih menjadi murid Musashi. Biarpun saya terpisah darinya, dalam semangat saya tak pernah terpisah, sehari pun tidak."

Ia bicara terus dengan tergesa-gesa, tak mau menanti diberi pertanyaan. "Daizo dan saya sudah bersumpah kepada dewa-dewa di langit dan di bumi, tidak akan mengatakan pada orang lain, apa tujuan hidup kami. Kepada Bapak pun tak dapat saya sampaikan. Tapi saya tak bisa tinggal diam kalau Musashi dijebloskan dalam penjara. Saya akan pergi ke Chichibu besok, dan mengaku."

Takuan berkata, "Jadi, kamu dan Daizo yang merampok gedung harta itu."

"Ya," jawab Jotaro tanpa sedikit pun nada bersalah.

"Kalau begitu, kau memang pencuri," kata Takuan.

Jotaro menundukkan kepala untuk menghindari mata Takuan.

"Tidak... tidak," gumamnya tertegun-tegun. "Kami bukan pencuri biasa."

"Aku tidak tahu bahwa pencuri ada macam-macam jenisnya."

"Tapi, maksud saya, kami lakukan ini bukan untuk keuntungan sendiri. Kami lakukan semua ini untuk orang banyak. Soalnya adalah memindahkan kekayaan umum untuk kepentingan umum."

"Aku tak mengerti jalan pikiran macam itu. Maksudmu, perampokan yang kalian lakukan itu kejahatan yang bisa dibenarkan? Maksudmu, kalian ini sejenis pahlawan bandit dalam novel-novel Cina? Kalau memang demikian, sungguh tiruan yang jelek!"

"Tak bisa saya menjawab pertanyaan itu tanpa membuka persetujuan rahasia dengan Daizo."

"Ha, ha. Jadi, kau tak mau mengakui dirimu ditipu, kan?"

"Tak peduli saya, apa yang Bapak katakan. Saya akan mengaku, cuma untuk menyelamatkan Musashi. Saya harap Bapak menyatakan hal yang baik tentang saya kepadanya nanti."

"Aku takkan dapat menemukan kata yang baik untuk disampaikan. Musashi tidak bersalah. Kau mengaku atau tidak, dia akan bebas juga. Menurutku, jauh lebih baik bagimu datang kepada sang Budha. Gunakan diriku sebagai perantara, dan akui segalanya kepadanya."

"Budha?"

"Betul. Katamu kau melakukan sesuatu yang besar untuk kepentingan orang lain. Jadi, kau menempatkan dirimu di hadapan orang lain. Apa tak terpikir olehmu bahwa kau mengakibatkan sejumlah orang tidak bahagia?"

"Orang tak mungkin memikirkan dirinya, kalau dia bekerja demi masyarakat."

"Tolol!" Takuan memukul pipi Jotaro keras-keras dengan tinjunya. "Diri seseorang itu adalah dasar segalanya. Setiap tindakan adalah ungkapan diri seseorang. Orang yang tidak kenal dirinya tak dapat melakukan apa pun buat orang lain."

"Maksud saya... saya bertindak bukan buat memuaskan keinginan saya sendiri."

"Tutup mulut! Apa kau tidak lihat, dirimu itu baru saja dewasa? Tak ada yang lebih mengerikan daripada orang sok pahlawan yang baru setengah matang, yang tak tahu apa-apa tentang dunia ini, tapi berani mengatakan pada dunia apa yang baik untuk dunia itu. Tak perlu lagi kau bercerita tentang apa yang kau dan Daizo lakukan. Aku mendapat gagasan yang sangat bagus... Apa yang kautangiskan? Buang ingusmu itu!"

Jotaro diperintahkan pergi tidur, dan dengan patuhnya ia membaringkan diri, tapi la tak dapat tidur karena memikirkan Musashi. Ia tangkupkan kedua tangannya di dada, dan diam-diam ia memohon pengampunan. Air mata mengalir masuk telinganya. Ia miringkan badan, dan mulailah ia memikirkan Otsu. Pipinya terasa sakit, tapi air mata Otsu tentulah lebih menyakitkan lagi. Namun membukakan janji rahasianya kepada Daizo tidaklah mungkin baginya, sekalipun Takuan akan mencoba mengoreknya dari dirinya pagi nanti. Hal itu ia yakini benar.

Ia berdiri tanpa bersuara, kemudian pergi ke luar, memandang bintang-bintang. Ia mesti cepat bertindak. Malam hampir lewat.

"Berhenti!" Suara itu membuat Jotaro berdiri mematung di tempatnya. Di belakang menyusul bayangan Takuan yang sangat besar.

Pendeta itu datang ke sisinya dan merangkulnya. "Apa kau bertekad pergi mengaku?"

Jotaro mengangguk.

"Perbuatan yang tidak begitu pintar!" kata Takuan dengan nada bersimpati. "Kau bisa mati seperti anjing. Rupanya kau mengira kalau kau menyerahkan diri, Musashi akan dilepaskan, padahal soalnya tidak sesederhana itu. Pejabat-pejabat itu akan tetap menahan Musashi di penjara, sampai kau menceritakan semuanya yang kausembunyikan dariku. Dan kau... kau akan disiksa sampai kau bicara, tak peduli akan makan waktu setahun, dua tahun, atau lebih."

Jotaro menundukkan kepala.

"Apa kau ingin mati seperti anjing? Kau tak punya pilihan lain sekarang: kau mengakui segalanya dengan siksaan, atau kau menceritakan segalanya padaku. Sebagai murid sang Budha, aku takkan ikut mengadili. Aku akan menyampaikannya kepada Amida."

Jotaro tidak mengatakan apa-apa.

"Tapi ada cara lain lagi. Kebetulan sekali semalam aku bertemu ayahmu. Dia sekarang menjadi pendeta pengemis. Tentu saja aku tak menyangka kau ada di sini juga. Kusuruh dia pergi ke kuil di Edo. Kalau kau sudah mantap untuk mati, sebaiknya kau menjumpai dia dulu. Dan kalau bertemu dengannya, kau dapat bertanya padanya, apakah tidak betul pendapatku ini.

"Jotaro, ada tiga jalan terbuka buatmu. Kau mesti memilih sendiri, yang mana akan kautempuh." Takuan membalikkan badan, dan kembali masuk ke rumah.

Sadarlah Jotaro bahwa shakuhachi yang didengarnya kemarin malam itu tentu shakuhachi ayahnya. Tanpa diberitahu, ia dapat membayangkan sendiri wajah dan perasaan ayahnya, sementara ia mengembara dari tempat yang satu ke tempat lain.

"Takuan, tunggu! Saya akan bicara. Akan saya sampaikan semuanya kepada sang Budha, termasuk janji saya pada Daizo." Jotaro mencengkeram lengan baju pendeta itu, dan keduanya masuk ke dalam belukar.

Jotaro mengaku dalam bentuk monolog panjang. Tak ada yag dilewatkannya. Takuan tak bergerak ataupun berbicara.

"Hanya itu," kata Jotaro.

"Sudah semuanya?"

"Sudah semuanya."

"Bagus."

Takuan tetap diam, sampai satu jam penuh. Fajar merekah. Burung gagak mulai berkaok-kaok. Embun berkilauan di mana-mana. Takuan duduk di pangkal pohon kriptomeria. Jotaro menyandarkan diri ke pohon lain dengan kepala tertunduk, menanti makian yang pasti datang.

Ketika akhirnya Takuan berbicara, tampak ia tak ragu lagi, "Mesti kukatakan, kau sudah terlibat dengan orang-orang yang bukan main! Semoga Tuhan membantu mereka. Mereka tak mengerti, ke mana arah dunia berputar. Baik sekali kau sudah menceritakannya sebelum keadaan menjadi lebih buruk." Ia merogohkan tangan ke dalam kimono. Mengherankan juga, dari situ la mengeluarkan dua keping uang emas dan memberikannya pada Jotaro. "Lebih baik kau pergi selekas-lekasnya. Sedikit saja tertunda, bisa mendatangkan bencana, tidak hanya buat dirimu, tapi juga buat ayahmu dan gurumu. Pergilah sejauh-jauhnya, tapi jangan mendekati jalan raya Koshu atau Nakasendo. Tengah hari ini mereka melakukan pemeriksaan ketat pada semua orang yang lewat."

"Apa yang akan terjadi dengan Sensei nanti? Tak bisa saya pergi meninggalkan dia di tempatnya sekarang."

"Serahkan padaku. Setahun-dua tahun lagi, kalau segalanya mereda, kau bisa datang bertemu dengannya, meminta maaf. Waktu itulah akan kusampaikan berita baik buatmu."

"Selamat tinggal."

"Tunggu sebentar."

Ya?"

"Pergilah ke Edo dulu. Di Azabu ada kuil Zen bernama Shojuan. Ayahmu mestinya di sana sekarang. Bawa materai yang kuterima dari Daitokuji ini. Mereka akan tahu, ini milikku. Minta untuk dirimu dan ayahmu topi dan pakaian pendeta, juga surat-surat kepercayaan yang diperlukan. Sudah itu, kau dapat berjalan dengan menyamar."

"Kenapa saya mesti pura-pura jadi pendeta?"

"Kau benar-benar bodoh, ya? Dengar, sahabat muda yang konyol, kau ini agen suatu kelompok yang punya rencana membunuh shogun, membakar benteng di Suruga, mengacaukan seluruh daerah Kanto, dan mengambil alih pemerintahan. Singkatnya, kau ini seorang pengkhianat. Kalau kau tertangkap, hukuman yang pasti adalah mati digantung."

Jotaro ternganga.

"Sekarang pergilah!"

"Boleh saya mengajukan pertanyaan? Kenapa orang yang hendak menggulingkan Keluarga Tokugawa mesti dianggap pengkhianat? Kenapa orang-orang yang sudah menggulingkan Keluarga Toyotomi dan merebut kekuasaan atas negeri ini bukan pengkhianat?"

"Jangan tanya aku," jawab Takuan dengan pandangan dingin.

Buah Delima





TAKUAN dan Iori tiba di tempat semayam Yang Dipertuan Hoko Ujikatsu di Ushigome, hari itu juga. Seorang abdi muda yang bertugas di pintu gerbang menyampaikan kedatangan Takuan, dan beberapa menit kemudian Shinzo keluar.

"Ayah saya sedang di Benteng Edo," kata Shinzo. "Apa tak ingin Anda masuk dan menunggu?"

"Di benteng?" tanya Takuan. "Kalau begitu saya terus saja, karena itulah tujuan saya. Bagaimana kalau saya tinggalkan Iori ini pada Anda?"

"Boleh saja," jawab Shinzo, disertai senyuman dan pandangan cepat ke arah Iori. "Boleh saya pesankan joli untuk Anda?"

"Kalau tidak keberatan."

Baru saja joli berpernis itu hilang dari pandangan, Iori sudah berada di kandang kuda, memperhatikan satu demi satu kuda-kuda cokelat dan kelabu berbintik-bintik yang terpelihara baik, milik Yang Dipertuan Ujikatsu. la terutama mengagumi wajah kuda-kuda itu. Menurut pendapatnya, wajah kuda-kuda itu jauh lebih bangsawan daripada wajah kuda-kuda kerja para kenalannya. Namun di sini tersembunyi tanda tanya besar; bagaimana mungkin golongan prajurit menyimpan kuda dalam jumlah besar, dan semua kuda itu hanya menganggur, dan tidak digunakan untuk kerja di ladang?

Baru saja ia mulai membayangkan tentara berkuda berbaris menuju pertempuran, suara Shinzo yang keras mengalihkan perhatiannya. Ia memandang ke arah rumah, dengan dugaan akan dicaci maki, tapi ternyata terlihat olehnya bahwa sasaran kemarahan Shinzo adalah seorang perempuan tua kurus yang bertongkat, dan wajahnya tampak keras kepala.

"Pura-pura keluar?" teriak Shinzo. "Buat apa ayah saya berpura-pura pada seorang perempuan tua yang jelek dan tak dikenalnya?"

"Oh, jadi Anda marah?" kata Osugi, menyindir tajam. "Kalau tak salah. Anda anak Yang Dipertuan. Apa Anda tahu, berapa kali sudah saya datang kemari untuk bertemu ayah Anda? Percayalah, bukan hanya beberapa kali, tapi tiap kali saya diberitahu dia pergi!"

Shinzo sedikit bingung, tapi katanya, "Tak peduli sudah berapa kali Nyonya datang. Ayah saya tak suka menerima tamu. Kalau dia tak suka menemui Nyonya, kenapa pula Nyonya terus datang?"

Tanpa rasa takut, Osugi mengoceh, "Tak suka menerima tamu! Kalau begitu, kenapa dia hidup di tengah orang banyak?" Dan ia menyeringai.

Terpikir oleh Shinzo untuk memaki-maki perempuan itu, dan memberikan kesempatan padanya mendengar detak pedang dilepas dari sarungnya, tapi ia tak ingin memperlihatkan kemarahan yang tidak pada tempatnya, lagi pula ia tak yakin sikap itu akan mencapai sasaran.

"Ayah saya tak ada di sini," katanya dengan nada biasa. "Bagaimana kalau Nyonya duduk di sini, dan menceritakan apa persoalannya?"

"Yah, saya pikir akan saya terima tawaran Anda yang baik itu. Sudah jauh saya berjalan, dan kaki saya sudah lelah." Ia duduk di ujung tangga dan mulai menggosok-gosok lututnya. "Karena Anda bicara lembut pada saya, saya jadi malu telah bicara keras. Nah, tolong sampaikan apa yang akan saya katakan pada ayah Anda, kalau dia pulang nanti."

"Dengan senang hati akan saya sampaikan."

"Saya datang untuk menceritakan kepadanya soal Miyamoto Musashi."

Dengan wajah bertanya-tanya, Shinzo berkata, "Ada apa dengannya?"

"Tidak, saya hanya ingin ayah Anda tahu, orang macam apa dia itu. Ketika berumur tujuh belas tahun, Musashi pergi ke Sekigahara dan ikut bertempur melawan orang Tokugawa. Melawan orang Tokugawa! Tuan dengar itu? Dan lebih dari itu, dia sudah melakukan banyak kejahatan di Mimasaka, sampai tak seorang pun di sana bicara baik tentangnya. Dia sudah membunuh beberapa orang, dan dia melarikan diri dari saya bertahun-tahun lamanya, karena itu saya berusaha membalas dendam kepadanya, yang memang menjadi hak sava. Musashi itu gelandangan yang tak ada gunanya, dan dia berbahava!"

"Tunggu..."

"Tidak, Anda dengarlah dulu! Musashi itu main-main dengan perempuan yang menjadi tunangan anak sava. Dia mencuri tunangan anak saya itu dan lari dengannya."

"Berhenti dulu," kata Shinzo, mengangkat satu tangan sebagai protes. "Buat apa Nyonya berkata begitu tentang Musashi?"'

"Saya lakukan ini untuk kepentingan negeri ini," kata Osugi puas diri.

"Apa gunanya memfitnah Musashi buat negeri ini?"

Osugi membenahi dirinya kembali, katanya, 'Saya dengar bajingan berlidah licin itu akan segera ditunjuk menjadi instruktur keluarga shogun."

"Di mana Nyonya dengar itu?"

"Dari seorang lelaki di dojo Ono. Saya dengar dengan telinga saya sendiri."

"Begitu?"

"Babi macam Musashi itu tidak boleh dibiarkan ada dekat shogun, apalagi ditunjuk jadi guru. Guru Keluarga Tokugawa berarti guru seluruh bangsa. Memikirkan hal itu saja saya sudah muak. Saya ada di sini buat memperingatkan Yang Dipertuan Hojo, karena saya dengar dia yang mengusulkan Musashi. Anda mengerti sekarang?" Ia mengisap air liur dari sudut-sudut mulutnya, dan lanjutnya, "Memperingatkan ayah Anda itu saya yakin balk buat negeri ini. Dan ada baiknya saya peringatkan Anda juga. Hati-hatilah, supaya Anda tidak terkecoh mulut manis Musashi."

Karena takut Osugi akan terus bicara seperti itu berjam-jam lamanva. Shinzo mengerahkan kesabarannya yang terakhir, kemudian menarik napas berat, dan katanya, "Terima kasih. Saya mengerti maksud Nyonya. Akan saya sampaikan semua itu pada ayah saya."

"Ya, tolonglah sampaikan!"

Dengan wajah puas, karena akhirnya mencapai tujuan yang diidamidamkan, Osugi pun bangkit dan menuju pintu gerbang dengan sandalnya yang mendetap-detap di jalan.

"Perempuan tua jelek kotor!" terdengar teriakan kekanak-kanakan.

Osugi terperanjat, dan langsung menyalak, "Apa?... Apa?" sambil menoleiu ke sekitar, hingga akhirnya ia melihat Iori di antara pepohonan, sedang menyeringai seperti kuda.

"Makan ini!" seru Iori, dan melemparkan buah delima ke Osugi. Buah itu begitu keras menghantamnva, hingga pecah.

"Ow-w-w!" jerit Osugi, mencengkeram dadanya.

Ia membungkuk memungut benda itu, untuk dilemparkan pada Iori. tapi Iori sudah lari dan tidak kelihatan lagi. Kini Osugi lari ke kandang. Baru saja ia memandang ke dalam, seonggok tahi kuda yang masih lunak tepat menimpa wajahnya.

Sambil menggerutu dan meludah, ia hapus kotoran itu dari mukanva dengan jari-jarinya. Air matanya mulai mengalir. Sungguh menyedihkan bahwa sesudah menjelajahi negeri untuk kepentingan anaknya, akhirnva beginilah kesudahannya!

Iori memperhatikan dari jarak yang cukup aman, di belakang sebatang pohon. Melihat Osugi menangis seperti anak kecil, tiba-tiba ia merasa malu sekali pada dirinya. Ia setengah ingin pergi meminta maaf kepada Osugi. sebelum Osugi keluar pintu gerbang, tapi rasa marah mendengar perempuan itu memfitnah Musashi belum lagi reda. Ia berdiri saja beberapa waktu lamanya, sambil menggigit kuku, terombang-ambing antara rasa kasihan dan dendam.

"Coba sini, Iori. Sekarang kau bisa lihat Gunung Fuji yang merah itu." Suara Shinzo datang dari sebuah ruangan di atas bukit.

Iori berlari ke sana dengan perasaan lega luar biasa. "Gunung Fuji." Bayangan tentang puncak gunung yang tercelup warna merah akibat cahaya petang itu mengosongkan kepalanya dari segala macam pikiran lain.

Shinzo pun kelihatannya sudah lupa akan percakapannya dengan Osugi.

Bersambung>>>
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive