"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Senin, 13 Agustus 2012

Cerita Novel Musashi Bag. 15




Bag. 15


Merenung.
  
 DI warung minum kecil di luar kota itu, bau kayu terbakar dan makanan yang sedang direbus memenuhi udara. Warung itu cuma gubuk tak berlantai. Ada papan pengganti meja dan beberapa bangku di sana-sini. Di luar, cahaya terakhir matahari terbenam membuat seolah ada bangunan di kejauhan yang sedang terbakar. Burung-burung gagak yang mengelilingi pagoda Toji tampak seperti abu hitam yang membubung dari nyala kebakaran.

Tiga atau empat pemilik warung dan seorang biarawan pengembara duduk di meja darurat tadi, sedangkan di sebuah sudut ada beberapa pekerja berjudi dengan taruhan minuman. Gasing yang mereka putar adalah mata uang tembaga yang lubangnya ditusuk dengan sepotong kayu.

"Yoshioka Seijuro betul-betul kesulitan sekarang ini!" kata salah seorang pemilik warung. "Dan aku senang sekali melihatnya. Mari kita minum!"

"Aku ikut minum," kata yang lain.

"Sake lagi!" kata yang lain lagi pada pemilik warung.

Para pengunjung warung itu minum dengan cepat dan terus-menerus. Lama-kelamaan hanya cahaya temaram yang menerangi tirai warung. Seorang di antaranya melenguh, "Tak kelihatan lagi, mangkuk ini sampai hidung atau mulut? Terlalu gelap di sini. Bagaimana kalau pasang lampu?"

"Tunggu sebentar. Akan kupasang," kata pemilik dengan letih.

Dari tungku tanah yang terbuka segera menjulang nyala api. Makin gelap di luar, makin merah sinar api itu.

"Bikin gila tiap kali memikirkannya," kata orang pertama tadi. "Berapa banyak uang diutang orang-orang itu buat ikan dan arang! Jatuhnya besar juga. Lihat saja besarnya perguruan itu! Aku sudah bersumpah akan mendapatkan kembali uang itu pada akhir tahun, tapi apa yang terjadi waktu aku sampai di sana? Tukang-tukang gertak Yoshioka menghadang di pintu masuk, menggertak dan mengancam semua orang. Berani betul mereka itu mengusir penarik rekening, pemilik-pemilik warung yang jujur, yang ber­tahun-tahun memberinya kredit!"

"Tak ada gunanya menangisi sekarang. Yang sudah terjadi sudahlah. Dan lagi, sesudah pertarungan di Rendaiji itu, merekalah sekarang yang lebih punya alasan menangis, bukan kita."

"Ah, aku tak marah lagi sekarang. Mereka sudah mendapatkan ganjarannya."

"Coba bayangkan, Seijuro ditundukkan hampir tanpa pertarungan!"

"Apa kau melihat sendiri?"

"Tidak, tapi aku dengar dari orang yang lihat. Musashi bikin lumpuh dia hanya dengan satu pukulan. Dan dengan pedang kayu pula! Cacat seumur hidup dia sekarang."

"Bagaimana jadinya perguruan itu?"

"Kelihatannya kurang baik juga. Semua murid sekarang menuntut darah Musashi. Kalau mereka tidak membunuh Musashi, mereka bisa kehilangan muka sama sekali. Nama Yoshioka terpaksa runtuh. Musashi begitu kuat. Tiap orang merasa satu-satunya yang akan dapat mengalahkan dia hanya Denshichiro. Mereka sedang mencarinya sekarang."

"Aku tidak tahu Seijuro punya adik."

"Memang hampir tak ada yang tahu, tapi dia pemain pedang yang lebih baik, menurut yang kudengar. Dialah berandal keluarga itu. Dia tak pernah memperlihat-kan muka di perguruan itu, kecuali kalau butuh uang. Buang waktu dengan makan dan minum dan memanfaatkan namanya sendiri. Hidup dari orang-orang yang menghormati ayahnya."

"Bukan main pasangan itu. Bagaimana orang terkemuka macam Yoshioka Kempo bisa memperanakkan orang-orang macam itu?"

"Itu berarti darah bukan segala-galanya!"

Seorang ronin teronggok setengah sadar di dekat tungku. Sudah beberapa waktu lamanya ia di situ, dan pemilik warung membiarkannya saja, tapi sekarang dibangunkannya. "Pak, tolong mundur sedikit," katanya sambil menambahkan ranting-ranting kayu api. "Api ini bisa membakar kimono Bapak."

Mata Matahachi yang sudah merah oleh sake itu terbuka pelan-pelan. "Mm, mm, aku tahu, aku tahu. Biarkan aku sendiri."

Warung sake ini bukan satu-satunya tempat Matahachi mendengar tentang pertarungan di Rendaiji itu. Peristiwa tersebut dibicarakan setiap orang, dan semakin terkenal Musashi, semakin murung temannya yang bertingkah itu.

"Hei, kasih lagi," panggilnya. "Tak usah dipanaskan, tuangkan saja ke mangkukku."

"Bapak tak apa-apa, ya? Wajah Bapak pucat sekali."

"Apa urusanmu? Ini mukaku sendiri, kan?"

Ia menyandarkan diri ke dinding lagi dan menyilangkan tangan di dada. "Sebentar lagi akan kutunjukkan pada mereka," pikirnya. "Keahlian main pedang bukan satu-satunya jalan menuju sukses. Dengan menjadi kaya, atau memiliki gelar, atau menjadi bajingan, sama saja, asal sampai di puncak. Musashi dan aku sama-sama berumur dua puluh tiga. Orang yang punya nama pada umur itu tak banyak yang jauh jalannya. Umur tiga puluh tahun mereka sudah tua dan sempoyongan—‘si  anak pandai yang menua."

Kabar pertarungan di Rendaiji itu telah menyebar di Osaka, dan mendorong Matahachi datang ke Kyoto. Sekalipun belum punya tujuan jelas, kemenangan Musashi itu berat menekan jiwanya, hingga ia mesti melihat sendiri bagaimana keadaannya. "Dia sedang menanjak sekarang," pikir Matahachi benci, "tapi pasti dia akan jatuh." Banyak orang yang cakap di perguruan Yoshioka itu—Sepuluh Pemain Pedang, Denshichiro, dan banyak lagi yang lain..." Hampir-hampir ia tak dapat menanti, kapan Musashi akan menerima pembalasan. Sementara itu nasibnya sendiri pasti sudah berubah.

"Oh, haus!" katanya keras. Dengan menopang, menggeser, dan punggung bersandar pada dinding, ia berhasil berdiri. Semua mata memperhatikan ketika ia membungkuk ke tong air di sudut ruangan dan mencelupkan kepalanya, lalu menenggak beberapa tegukan besar dengan ciduk. Ciduk dilemparkannya ke samping, digesernya tirai warung, dan keluarlah ia tertatih-tatih.

Setelah menganga keheranan, pemilik warung segera tersadar dan lari mengejar tubuh yang berjalan gontai itu. "Pak, Bapak belum bayar!" panggilnya.

"Apa?" kata Matahachi tak jelas.

"Saya pikir ada yang Bapak lupakan."

"Aku tidak lupa apa-apa."

"Maksud saya, uang sake itu. Ha, ha!"

"Begitu, ya?"

"Maaf sudah mengganggu."

"Aku tak punya uang."

"Tak punya uang?"

"Ya, tak punya sama sekali. Aku punya sampai beberapa hari yang lalu, tapi..."

"Oh, lalu kenapa Bapak duduk minum-minum di sana...! Bapak... Bapak... „

"Diam kamu!" Matahachi meraba-raba dalam kimononya, kemudian mengeluarkan kotak obat samurai yang sudah mati itu dan melemparkannya kepada orang itu. "Jangan banyak ribut! Aku samurai dengan dua pedang. Kamu lihat sendiri, kan? Aku belum bangkrut dan tidak akan ngeluyur tanpa bayar. Barang itu lebih mahal daripada sake yang kuminum. Boleh kembaliannya kamu simpan!"

Kotak obat tepat mengenai muka orang itu. Ia memekik kesakitan dan menutup mukanya dengan tangan. Para pembeli lain yang melongokkan kepala lewat celah tirai warung berteriak marah. Seperti kebanyakan orang mabuk, mereka marah melihat pemabuk lain ingkar membayar.

"Bajingan!"

"Penipu busuk!"

"Mari kita hajar dia!"

Mereka berlari mengepung Matahachi.

"Bajingan! Bayar! Tidak bisa kamu pergi begitu saja!"

"Brengsek! Kamu rupanya biasa begitu terus, ya? Kalau kamu tak bisa bayar, kami gantung kamu!"    

Matahachi menjamah pedangnya untuk menakut-nakuti mereka. "Kalian pikir kalian bisa?" gertaknya. "Akan menarik sekali ini. Boleh coba! Apa kalian sudah tahu, siapa aku?"

"Kami tahu macam apa kamu itu—ronin kotor dari tumpukan sampah, yang harga dirinya lebih rendah dari pengemis, tingkahnya lebih dari pencuri:"

"Jadi, kalian belum tahu!" teriak Matahachi memandang tajam dan mengerutkan kening dengan ganas. "Bicara kalian akan lain kalau kalian tahu namaku."

"Namamu? Apa istimewanya nama itu?"

"Aku Sasaki Kojiro, murid seangkatan Ito Ittosai, pemain pedang Gaya Chujo. Kalian pasti sudah mendengar tentangku!"   

"Jangan bikin aku ketawa! Tak perlu itu nama-nama khayal, bayar saja."

Satu orang mengulurkan tangan untuk mencekal Matahachi, tapi Matahachi berteriak, "Kalau kotak obat itu tak cukup, akan kuberi kamu sedikit pedangku buat tambahan!" Ia cepat menarik senjatanya, menebas tangan orang itu sampai putus.

Melihat bahwa ternyata mereka tadi terlalu menyepelekan musuh, yang lain beraksi seolah darah mereka sendiri yang sudah tercurah. Mereka pun melarikan diri ke dalam kegelapan.

Dengan wajah penuh kemenangan Matahachi menantang. "Kembali kalian, kutu-kutu! Akan kutunjukkan pada kalian cara Kojiro menggunakan pedang kalau sedang serius. Sinilah, akan kupotong kepala kalian."

Ia memandang ke langit dan tertawa terpingkal-pingkal, giginya yang putih berkilau di tengah kegelapan, girang atas suksesnya. Kemudian tiba-tiba sikapnya berubah. Wajahnya berselimut kesedihan. Ia seperti mencucurkan air mata. Dengan kaku ia entakkan pedangnya kembali masuk ke sarungnya dan pergilah ia dengan gontai.    

Kotak obat di tanah itu berkelip-kelip di bawah sinar bintang. Kotak itu terbuat dari kayu cendana dengan tatahan kulit kerang; kelihatannya tidak terlalu berharga, tetapi kilat kulit kerang mutiara yang biru itu menyinarkan keindahan lembut, seperti sekelompok kecil kunang-kunang.

Ketika keluar dari gubuk, si biarawan pengembara melihat kotak obat itu dan memungutnya. Ia berjalan terus, tapi kemudian kembali dan berdiri di bawah ujung atap warung. Dalam cahaya redup yang keluar dari celah dinding ia amat-amati pola dan tali kotak itu dengan saksama. "Hmmm,° pikirnya. "Ini pasti milik guru itu. Dia tentu sedang membawanya ketika terbunuh di Kuil Fushimi. Ya, ini namanya, Tenki, tertulis di dasarnya."

Biarawan itu segera mengejar Matahachi. "Sasaki!" panggilnya. "Sasaki Kojiro!"

Matahachi mendengar nama itu, tapi dalam keadaan bingung ia tak mampu menghubungkannya dengan dirinya. Ia terhuyung terus dari Jalan Kujo ke Jalan Horikawa.

Biarawan itu berhasil mengejarnya dan memegang ujung sarung pedangnya. "Tunggu, Kojiro," katanya. "Tunggu sebentar."

"Hah?" kata Matahachi tersentak, "Maksudmu aku?"

"Anda Sasaki Kojiro, kan?" Sinar tajam menyala dalam mata biarawan itu. Matahachi sedikit sadar sekarang.

"Ya, aku Kojiro. Apa urusannya itu denganmu?"

"Saya mau mengajukan satu pertanyaan."

"Nah, pertanyaan apa itu?"

"Di mana Anda mendapat kotak obat ini?"

"Kotak obat?" tanya Matahachi kosong.

"Ya. Di mana Anda mendapatkannya? Itu yang ingin saya ketahui. Bagaimana kotak ini bisa menjadi milik Anda?" Biarawan itu berbicara agak resmi. Ia masih muda, barangkali baru sekitar dua puluh enam tahun, dan tampaknya bukan biarawan pengemis yang tak bersemangat, yang mengembara dari kuil ke kuil dan hidup dari derma. Sebelah tangannya memegang tongkat kayu ek bulat, lebih dari enam kaki panjangnya.

"Tapi siapa kamu ini?" tanya Matahachi, wajahnya mulai tampak prihatin.

"Itu tak penting. Kenapa tidak Anda nyatakan saja dari mana ini datangnya?"

"Tidak dari mana-mana. Selamanya itu milikku."

"Anda bohong! Katakan yang sebenarnya!"

"Sudah kukatakan yang sebenarnya."

"Anda menolak mengakuinya?"

"Mengakui apa?" tanya Matahachi tak bersalah.

"Kau bukan Kojiro!" Seketika tongkat di tangan biarawan itu membelah udara.

Naluri Matahachi mendorongnya bergerak mundur, tapi ia masih terlampau pening untuk cepat beraksi. Tongkat mengenai sasaran, dan melolong kesakitan ia sempoyongan ke belakang lima belas atau dua puluh kaki jauhnya, dan jatuh telentang. Begitu bangkit lagi, ia langsung lari.

Si biarawan mengejarnya, dan beberapa langkah kemudian melontarkan lagi tongkat ek itu. Matahachi mendengar tongkat itu terbang ke arahnya. Ia meren-dahkan kepala. Peluru terbang itu melayang lewat telinganya. Karena ketakutan, ia melipatgandakan kecepatannya.

Si biarawan meraih senjata yang terjatuh itu, mengambilnya, dan sesudah membidik baik-baik, melontarkannya lagi, tapi sekali lagi Matahachi merunduk.

Sesudah berlari dengan kecepatan tinggi lebih dari satu setengah kilometer, Matahachi melewati Jalan Rokujo dan mendekati Jalan Gojo. Akhirnya ia lepas dari kejaran dan berhenti. Terengah-engah ia mengetuk-ngetuk dadanya. "Tongkat itu... senjata mengerikan! Orang mesti berhati-hati sekarang ini."

Sudah tenang benar tapi haus bukan main, ia mencari sumur. Ia temukan sumur itu di ujung sebuah jalan sempit. Ia angkat satu timba dan ia reguk air sepuas-puasnya, kemudian ia taruh ember di tanah dan berkecipaklah ia membasahi wajahnya dan berkeringat.

"Siapa pula orang itu?" pikirnya, "Dan apa maunya?" Tapi begitu merasa normal kembali, datanglah kembali rasa murung itu. Di ruang matanya tampaklah wajah mayat tak berdagu yang kelihatan menderita sekali di Fushimi.

Hati nuraninya terasa sakit, karena ia menggunakan uang orang mati itu. Bukan untuk pertama kalinya ia bermaksud menebus perbuatan keliru itu. "Kalau aku punya uang," sumpahnya, "yang pertama akan kulakukan adalah membayar kembali utangku. Barangkali nanti setelah aku sukses akan kudirikan batu peringatan untuknya."

Cuma sertifikat itu yang tinggal. Barangkali aku mesti melepaskannya. Kalau nanti orang yang tidak tepat tahu aku yang memilikinya, bisa timbul kesulitan." Ia meraba ke dalam kimononya dan menyentuh gulungan yang selama itu selalu diselipkan di perut, di bawah obi, sekalipun terasa tak enak.

Bahkan kalaupun ia memang tak dapat mengubahnya menjadi uang dalam jumlah banyak, sertifikat itu dapat menjadi pembuka ke anak tangga ajaib yang pertama menuju sukses. Jadi, pengalaman sial dengan Akakabe Yasoma tidak menyembuhkan-nya dari penyakit mimpi.

Sertifikat itu sudah menjadi amat berguna. Dengan menunjukkannya ke dojo-dojo kecil tak bernama atau kepada orang kota yang polos dan ingin belajar main pedang, ia dapat memperoleh penghormatan dari mereka bahkan juga mendapat makan bebas dan tempat menginap, walaupun tidak dimintanya. Begitulah cara ia hidup selama enam bulan terakhir ini.

"Tidak ada alasan membuangnya. Ah, apa yang terjadi dengan diriku ini? Rupanya makin lama aku makin jadi penakut. Barangkali itulah vang menghalangiku mencapai kemajuan di dunia ini. Dari sekarang aku takkaa berbuat seperti itu lagi! Aku akan jadi besar dan berani, seperti Musash. Akan kutunjukkan pada mereka!"

Ia menoleh ke sekitar, ke pondok-pondok yang mengitari sumur. Orang-orang yang tinggal di situ membuatnya iri. Memang rumah mereka melengkung akibat beratnya lumpur dan rumput liar di atapnya, tapi setidaknya mereka memiliki peneduh. Ia mengintip, melihat beberapa di antara keluarga itu. Di satu rumah ia lihat sepasang suami-istri duduk menghadapi kuali berisi makan malam mereka yang sederhana. Di dekat mereka duduk anak lelaki dan perempuan bersama nenek mereka yang sedang memotong­-motong.

Sekalipun miskin dalam hal keduniaan, mereka memiliki semangat kesatuan keluarga, suatu kekayaan yang tidak dimiliki bahkan oleh orang-orang besar seperti Hideyoshi dan Ieyasu. Matahachi merasa bahwa semakin orang menderita kemiskinan, semakin kuat rasa saling cinta. Orang miskin juga dapat memahami kegembiraan sebagai manusia.

Dengan rasa malu ia teringat benturan kemauan yang menyebabkan ia pergi meninggalkan ibunya sendiri di Sumiyoshi. "Mestinya aku tak boleh berlaku demikian terhadapnya," pikirnya. "Apa pun kesalahannya, tak bakal ada orang lain yang cintanya padaku seperti cintanya."

Selama seminggu tinggal bersama, berjalan dari tempat suci ke kuil, dan dari kuil ke tempat suci yang sangat menjengkelkan itu, Osugi berkali-kali berbicara kepadanya tentang daya-daya ajaib Kannon di Kiyomizudera. "Tak ada bodhisatwa di dunia ini yang dapat menciptakan keajaiban lebih besar daripada dia," demikian ibunya meyakinkannya. "Kurang dari tiga minggu sesudah aku pergi berdoa ke sana, Kannon memimpin Takezo datang padaku membawanya langsung ke kuil itu. Aku tahu engkau tak begitu peduli dengan agama, tapi lebih baik engkau percaya kepada Kannon."

Sekarang hal itu terpikir oleh Matahachi, dan teringat olehnya ibunya mengatakan bahwa sesudah tahun baru ia punya rencana akan pergi ke Kiyomizu, meminta perlindungan Kannon atas keluarga Hon'iden. Jadi, ke sanalah ia mesti pergi! Malam itu ia tak punya tempat untuk tidur. Ia dapat menginap di beranda, ada kemungkinan bisa bertemu dengan ibunya kembali.

Ketika menyusuri jalan-jalan gelap menuju Jalan Gojo, ia diikuti segerombolan anjing kampung liar yang menyalak-nyalak, yang sialnya bukan dari jenis yang dapat dibungkam dengan melemparkan sebutir dua butir batu. Untungnya ia sudah biasa digonggong anjing, jadi tidak ada halangan anjing-anjing itu menggeram kepadanya dan memperlihatkan gigi mereka.

Di Matsubara, sebuah hutan pinus dekat Jalan Gojo, ia melihat kawanan anjing kampung lain berkumpul sekitar sebatang pohon. Anjing-anjing yang mengawalnya itu berlari menggabungkan diri dengan mereka. Jumlahnya lebih banyak dari yang dapat dihitungnya. Semuanya begitu gaduh. Sebagian ada yang melompat-lompat sampai setinggi dua meter ke batang itu.

Ia menajamkan mata, dan tampak olehnya seorang gadis meringkuk gemetar di sebuah cabang pohon itu. Paling tidak, ia cukup yakin orang itu seorang gadis.

Ia mengacung-acungkan tinju dan berteriak mengusir anjing-anjing itu. Ketika dilihatnya tanpa hasil, ia lemparkan batu-batuan, tapi juga tak berhasil. Kemudian ia ingat kata orang, cara menakuti anjing adalah dengan merangkak dan meraung keras. la pun berbuat demikian. Tapi ini pun tak ada hasilnya. Barangkali jumlah anjing itu demikian banyaknya, melompat ke sana kemari seperti ikan dalam jaring. Ada yang mengibas-ngibaskan ekor, mencakar-cakar kulit pohon, dan melolong kejam.

Tiba-tiba terpikir olehnya, seorang perempuan bisa menganggap lucu bahwa seorang pemuda dengan dua bilah pedang merangkak menirukan binatang. Sambil memaki ia meloncat berdiri. Sesaat kemudian seekor anjing melolong untuk terakhir kali dan mati. Ketika yang lain-lain melihat pedang Matahachi yang berdarah itu teracung di atas kepalanya, mereka pun menarik diri berdekatan, hingga punggung mereka yang kurus-kurusitu berombak naik-turun seperti ombak samudra. "Mau lagi, ya?"

Takut akan ancaman pedang itu, anjing-anjing buyar ke segala jurusan. "Hai, yang di atas itu!" seru Matahachi. "Turun kamu sekarang."

Dari tengah dedaunan pinus itu ia dengar denting logam kecil yang manis. "Oh, Akemi," gagapnya. "Akemi, kau, ya?"

Dan terdengar Akemi berseru ke bawah, "Siapa kamu?"

"Matahachi. Apa kau tidak kenal suaraku?"

"Mana mungkin! Kamu bilang Matahachi?"

"Apa kerjamu di atas itu? Kamu bukan orang yang gampang takut dengan anjing."

"Aku di atas ini bukan karena anjing."

"Nah, apa pun sebabnya, turunlah."

Dari tempat bertenggernya, Akemi meninjau ke sekitar, ke tengah kegelapan yang tenang. "Matahachi!" katanya mendesak. "Pergi kamu dari sini. Kukira dia datang mencariku."

"Dia? Siapa dia itu?"

"Tak ada waktu membicarakannya. Seorang lelaki. Dia menawarkan bantuan padaku akhir tahun lalu, tapi ternyata dia binatang. Semula kukira dia baik, tapi kemudian dilakukannya segala macam tindakan kejam padaku. Malam ini kulihat kesempatan lari."

"Apa bukan Oko yang mengejarmu?"

"Bukan, bukan Ibu. Lelaki!"

"Gion Toji, barangkali?"

"Jangan melucu begitu, aku tidak takut pada Gion Toji.... Oh, oh, dia sudah di sana. Kalau kamu tetap di situ, dia nanti menemukan aku. Dan dia akan berbuat yang mengerikan juga padamu! Cepat sembunyi!"

"Jadi, maumu aku lari hanya karena muncul seorang lelaki?" Matahachi tetap berdiri, gelisah oleh sikap ragu-ragunya sendiri. Ia setengah ingin melakukan perbuatan gagah berani. Ia seorang lelaki. Ada perempuan dalam bahaya. Ia ingin menebus malu karena merangkak ketika hendak mengusir anjing tadi. Semakin Akemi mendesaknya bersembunyi, semakin ingin Matahachi memperlihatkan kejantanannya, baik kepada Akemi maupun kepada diri sendiri.

"Siapa di situ!"

Kata-kata itu serentak diucapkan oleh Matahachi dan Kojiro. Kojiro menatap pedang Matahachi dan darah yang masih menetes-netes darinya. "Siapa engkau?" tanyanya dengan sikap bermusuhan.

Matahachi diam saja. Mendengar nada takut dalam suara Akemi tadi, ia menjadi tegang. Tapi sesudah memperhatikan lagi ketegangan pun mereda. Orang baru itu jangkung dan tegap tubuhnya, tapi tak lebih tua dari Matahachi sendiri. Dari potongan rambut dan pakaiannya, Matahachi menduga orang itu bawahan yang masih buruk kelakuan dan matanya pun tampak merendahkan. Biarawan tadi memang telah membuat ia ketakutan, tapi ia yakin takkan kalah oleh pemuda pesolek itu.

"Apa ini orang kejam yang sudah menyiksa Akemi?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Kelihatannya begitu hijau seperti labu. Cerita seluruhnya belum kudengar, tapi kalau memang dia orang yang bikin susah itu, kukira lebih baik kuberi dia satu-dua pelajaran."

"Siapa engkau?" tanya Kojiro lagi. Daya ucapan itu demikian rupa, hingga seolah dapat mengusir kegelapan sekitar mereka.

"Aku?" jawab Matahachi menggoda. "Aku cuma manusia." Dan dengan sengaja ia menyeringai.

Wajah Kojiro merah oleh amarah. "Jadi, engkau tak punya nama rupanya," katanya. "Atau barangkali kau malu dengan namamu?"

Matahachi merasa gusar, namun tidak takut, dan jawabnya pedas, "Aku tak melihat perlunya memberikan nama kepada orang asing yang barangkali juga takkan mengenali nama itu."

"Jaga lidahmu itu!" bentak Kojiro. "Tapi mari kita tunda dulu perkelahian antara kita. Aku mau menurunkan gadis dari atas pohon itu dan mengembalikannya ke tempat semestinya. Tunggu di sini."

"Jangan bicara macam orang tolol! Bagaimana kau bisa menduga akan kubiarkan kau mengambil gadis itu?"

“Lho, ada hubungan apa denganmu?"

"Ibu gadis itu dulu istriku, dan aku takkan membiarkannya dibikin cedera. Kalau kau meletakkan satu jari saja padanya, akan kurajang kau."

"Oh, menarik. Engkau rupanya mengkhayalkan dirimu sebagai samurai. Terpaksa kukatakan di sini, lama aku tak melihat samurai yang begini kurus. Tapi ada yang perlu kauketahui. Galah Pengering di punggungku ini terus menangis dalam tidurnya, karena sejak diturunkan sebagai pusaka belum sekali pun merasa puas minum darah. Dan sudah sedikit karatan juga, jadi kupikir sekarang akan kugosok dia sedikit dengan bangkaimu yang kurus itu. Dan jangan coba-coba lari!"

Matahachi tak punya kemampuan menilai bahwa ini bukan gertak sambal, karenanya ia berkata mengejek, "Cukup omongan besar itu! Kalau engkau mau berpikir sekali lagi, sekarang ini waktunya. Pergi dari sini. selagi kau masih melihat jalan. Akan kuselamatkan nyawamu."

"Sama juga denganmu, hai manusia tampan. Kamu membanggakan diri bahwa namamu terlalu bagus untuk disebutkan kepada orang-orang macam aku. Coba sebutkan, siapa namamu yang indah itu? Menyebutkan nama itu bagian dari etiket dalam berkelahi. Atau kamu tak tahu itu?"

"Aku tidak keberatan menyebutnya, tapi jangan kaget kalau kamu mendengarnya."

"Aku akan menguatkan diri untuk tidak terkejut. Tapi lebih dulu, apa gaya main pedangmu?"

Matahachi membayangkan bahwa orang yang mengoceh secara itu tak mungkin pemain pedang berarti, maka taksirannya terhadap lawannya pun lebih turun lagi.

"Aku punya sertifikat Gaya Chujo, cabang dari Gaya Toda Seigen," jelas Matahachi.

Kojiro kaget, tapi mencoba menyembunyikannya.

Matahachi percaya bahwa ia lebih unggul, karenanya ia berpendapat. tolol sekali kalau ia tidak menekan terus. Menirukan orang yang bertanya kepadanya, katanya, "Sekarang sebutkan, apa gayamu? Itu bagian etiket dalam perkelahian, Iho!"

"Nanti. Tapi dari mana kamu belajar Gaya Chujo itu?"

"Dari Kanemaki Jisai, tentu saja," jawab Matahachi fasih. "Dari siapa lagi?"

"Oh?" ucap Kojiro yang sekarang benar-benar heran. "Dan apa kamu kenal Ito Ittosai?"

"Tentu saja." Menurut tafsiran Matahachi, pertanyaan-pertanyaan Kojiro itu membuktikan bahwa cerita yang dikarangnya ada hasilnya, dan ia merasa yakin bahwa orang muda itu akan segera mengajukan kompromi. Untuk lebih menekan sedikit lagi, katanya, "Kukira tak ada alasan menyembunyikan hubunganku dengan Ito Ittosai. Dia pendahuluku. Yang kumaksud, kami berdua belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Kenapa kamu tanyakan?"

Kojiro mengabaikan saja pertanyaan itu. "Kalau begitu, boleh aku tanva lagi, siapa kamu?"

"Aku Sasaki Kojiro."

"Katakan lagi!"

"Aku Sasaki Kojiro," ulang Matahachi dengan sopan sekali.

Setelah terdiam sejenak karena tercengang, Kojiro pun memperdengarkan suara geram dan memperlihatkan lesung pipitnya.

Matahachi menatapnya. "Kenapa kamu pandang aku macam itu? Apa namaku mengejutkanmu?"

"Kukira begitu."

'Baiklah... sekarang pergi!" Matahachi memerintah dengan nada mengancam. dengan dagu ditegakkan.

"Ha, ha, ha, ha! Oh! Ha, ha, ha!" Kojiro memegang perutnya agar tidak roboh karena tawa. Ketika akhirnya ia dapat mengendalikan diri kembali, katanva, "Sudah banyak kutemui orang dalam perjalananku, tapi belum pernah aku mendengar hal seperti ini. Nah, Sasaki Kojiro, sekarang sudilah kamu menyatakan padaku, siapa aku ini?"

“Mana aku tahu?"

"Kamu mesti tahu! Kuharap sikapku tidak terasa kasar, tapi untuk memastikan bahwa pendengaranku benar, harap sebut namamu sekali lagi."

"Apa kamu tidak bertelinga? Aku Sasaki Kojiro."

“Dan aku...?"

“Manusia lain, kukira."

"Tentu saja, tapi siapa namaku?"

"Bajingan kamu, apa kamu mau mempermainkan aku?"

"Tentu saja tidak. Aku sungguh-sungguh. Belum pernah aku lebih serius dari sekarang. Katakan padaku, Kojiro, siapa namaku?"

"Kenapa bikin susah diri sendiri? Jawab sendiri pertanyaan itu."

"Baik. Aku akan bertanya pada diriku sendiri siapa namaku, dan kemudian, meskipun  bisa kelihatan lancang, akan kusampaikan nama itu padamu."

"Baik. "

"Jangan terkejut!"

"Orang goblok!"

"Aku Sasaki Kojiro, dan dikenal juga sebagai Ganryu."

"A-apa?"

"Sejak zaman nenek moyangku, keluargaku sudah tinggal di Iwakuni. Nama Kojiro itu kuterima dari orangtuaku. Akulah orang yang di kalangan pemain pedang dikenal dengan nama Ganryu. Nah, kapan dan bagaimana bisa menurutmu, di dunia ini terdapat dua Sasaki Kojiro?"

"Kalau begitu kamu... kamu...?

"Ya, sekalipun banyak sekali orang mengadakan perjalanan di pedesaan, kamulah orang pertama yang kutemui memakai namaku. Yang pertama sekali! Apa bukan suatu kebetulan aneh bahwa kita bertemu?"

Matahachi berpikir cepat.

"Ada apa? Kamu kelihatan gemetar." Matahachi jadi ngeri.

Kojiro mendekat, menepuk bahunya, dan katanya, "Mari kita berteman." Dengan muka pucat pasi Matahachi melepaskan diri dan mendengking. "Kalau kamu lari, kubunuh kau!" Suara Kojiro itu menembus seperti lembing langsung ke wajah Matahachi.

Galah Pengering mendesis di atas bahu Kojiro bagai ular perak. Satu pukulan saja, tak lebih. Dengan sekali lambungan Matahachi mental hampir tiga meter. Seperti serangga yang diembuskan dari selembar daun, ia cerjungkir balik tiga kali dan jatuh telentang tak sadarkan diri.

Kojiro malahan tak melihat ke arah jatuhnya Matahachi. Pedang yang panjangnya tiga kaki dan masih tak berdarah itu masuk kembali ke dalam sarungnya.

"Akemi!" panggil Kojiro. "Turunlah! Takkan kulakukan hal itu lagi karena itu kembalilah ke penginapan denganku. Oh, kurobohkan temanmu. tapi aku tidak betul-betul melukainya. Turun sini, dan rawatlah."

Tak ada jawaban. Karena tak melihat apa-apa di cabang-cabang gelap itu, Kojiro memanjat pohon, tapi kemudian dilihatnya ia hanya sendirian. Akemi sudah lari lagi.

Angin bertiup lembut lewat dedaunan pinus. Ia duduk diam di ala, dahan, bertanya-tanya pada diri sendiri, ke mana terbangnya burung layang-layang yang kecil itu. Ia tak dapat menduga, kenapa Akemi begitu takut kepadanya. Tidakkah ia mencurahkan cintanya dengan cara terbaik yang dikenalnya? Memang mungkin caranya memperlihatkan kasih sedikit kasar. tapi ia tak sadar bahwa cara itu berlainan dengan cara orang lain dalam bercinta.

Jawaban atas soal itu barangkali dapat ditemukan dalam sikapnya terhadap seni pedang. Selagi kanak-kanak ia memasuki sekolah Kanemaki Jisai. Ia memperlihat-kan kemampuan besar dan diperlakukan sebagai anak ajaib. Caranya mempergunakan pedang sungguh luar biasa. Tetapi yang lebih luar biasa lagi adalah kegigihannya. Ia menolak menyerah sama sekali. Kalau berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, semakin ketat lagi ia berusaha.

Pada zaman ini, cara yang dipergunakan seorang pesilat untuk menang jadi jauh kurang penting dibandingkan dengan kemenangan itu sendiri. Tak seorang pun mempertanyakan cara-cara itu dengan saksama, dan kecenderungan Kojiro untuk bertahan dengan jalan apa pun sampai akhirnya menang tidak dianggap sebagai cara yang kotor. Lawan-lawannya mengeluh karena ia masih terus saja menyerang mereka, padahal kalau orang lain sudah mengaku kalah, tapi tak seorang pun menganggapnya tidak jantan.

Pada suatu kali, ketika ia masih kanak-kanak, sekelompok murid yang lebih besar dan terang-terangan ia benci menghajarnya dengan pedang kayu sampai pingsan. Karena kasihan kepadanya, salah seorang penyerangnya memberinya air dan menunggunya sampai sadar kembali. Waktu itulah Kojiro merebut pedang kayu orang yang telah menolongnya itu dan memukulnya sampai mati.

Kalau ia kalah dalam pertarungan, tak pernah ia melupakannya. Ia akan mengintai terus sampai musuh itu lengah-di tempat gelap, saat musuhnya berada di tempat tidur, atau bahkan di kamar kecil dan diserangnya musuh itu dengan sehebat-hebatnya. Mengalahkan Kojiro sama saja dengan menciptakan musuh kepala batu.

Setelah dewasa, ia biasa bicara tentang dirinya sebagai seorang jenius. Memang ini bukan sekadar bualan, dan baik Jisai maupun Ittosai membenarkannya. Ketika ia menyatakan telah belajar menebas burung layang-layang yang sedang terbang dan menciptakan gayanya sendiri, ia memang tidak mengada-ada. Itu pula yang menyebabkan orang menganggapnya "tukang sihir", suatu pujian yang ia terima dengan senang hati.

Tak seorang pun tahu, apa wujud keinginannya yang keras itu, ketika Kojiro jatuh cinta kepada seorang perempuan. Tapi tak mungkin ada keraguan bahwa di situ pun ia akan menempuh jalannya yang biasa. Namun ia sendiri tak melihat ada hubungan apa pun antara kemampuannya bermain pedang dengan caranya bercinta. Tak dapat ia memahami, kenapa Akemi tidak menyukainya, padahal ia demikian cinta kepada gadis itu.

Ketika sedang merenungkan masalah cintanya itu, ia lihat sesosok tubuh berjalan ke sana kemari di bawah pohon, tanpa menyadari kehadiran Kojiro.

"Ada orang menggeletak di sini," kata orang baru itu. Ia membungkuk untuk melihat lebih jelas, kemudian serunya, "Oh, ini bangsat dari warung sake itu!"

Orang itu biarawan pengembara. Ia menurunkan bungkusan dari punggungnya, ucapnya, "Kelihatannya tidak luka. Dan tubuhnya hangat." Ia meraba-rabanya dan menemukan tali di bawah obi Matahachi. Tali dilepaskan dan diikatnya tangan Matahachi ke punggung. Kemudian ia tekankan lututnya pada lekuk pinggang Matahachi dan ia sentakkan bahu Matahachi ke belakang. Bersamaan dengan itu, ia tekan keras saraf simpatisnya. Matahachi sadar kembali, merintih tak jelas. Biarawan itu mengangkatnya seperti sekarung kentang ke sebatang pohon dan menyandarkannya di situ.

"Berdiri!" katanya tajam. Ditegaskannya perintahnya itu dengan tendangan. "Berdiri kamu!"

Matahachi yang sudah setengah jalan ke neraka itu memperoleh kembali kesadarannya, tapi belum dapat memahami apa yang sedang terjadi. Masih dalam keadaan pusing, ia paksakan dirinya berdiri.

"Bagus," kata si biarawan. "Berdiri saja begitu." Kemudian ia ikat kaki dan dada Matahachi ke pohon.

Matahachi membuka mata sedikit dan berteriak heran.

"Hei, penipu," kata orang yang menangkapnya, "kau membuatku lari mengejar, tapi semuanya sudah lewat sekarang." Pelan-pelan ia mulai menggarap Matahachi. Ditamparnya dahinya beberapa kali hingga kepala Matahachi membentur-bentur pohon. "Di mana kau mendapat kotak obat itu?" tanyanya. "Katakan yang sebenarnya. Ayo!"

Matahachi tidak menjawab.

"Kaupikir kau bisa terus bertahan dengan tak tahu malu begitu, ya?" Dengan marah biarawan itu menjepitkan jempol dan jari telunjuknya ke hidung Matahachi dan mengguncangkan kepalanya ke depan ke belakang.

Matahachi tersengal-sengal, dan ketika ia kelihatan mencoba berbican, biarawan itu melepaskan hidunganya. "Aku akan bicara," kata Matahachi putus asa. "Akan kuceritakan semuanya."

Air matanya meleleh. "Peristiwa itu terjadi musim panas lalu...," mulainya, lalu diceritakannya seluruh peristiwa itu, yang akhirnya dengan permintaan ampun. "Saya tak dapat membayar uang itu sekarang juga, tapi saya berjanji, kalau Bapak tidak membunuh saya, saya akan kerja keras dan mengembalikannya nanti. Akan saya berikan janji tertulis, yang ditandatangani dan diberi meterai."

Mengakui kesalahan seperti mengeluarkan nanah dari luka yang mesti disembunyikannya. Kini, setelah tak ada lagi yang mesti disembunyikan, tak ada lagi yang mesti ditakutkan. Paling tidak, itulah dugaan Matahachi.

"Benar begitu?" tanya si biarawan.

"Benar." Matahachi menundukkan kepala penuh sesal.

Sesudah beberapa menit mereka diam, biarawan itu menarik pedang pendek dan menudingkannya ke muka Matahachi.

Matahachi berteriak sambil cepat menolehkan muka ke samping, "Bapak mau bunuh saya?"

"Ya, kau mesti mati."

"Sudah saya ceritakan semuanya pada Bapak dengan penuh kejujuran. Sudah saya kembalikan kotak obat itu, dan akan saya serahkan kepada Bapak sertifikat itu. Tak lama lagi akan saya bayar kembali uang itu. Saya bersumpah! Kenapa saya mesti dibunuh?"

"Aku percaya padamu, tapi kedudukanku sangat sulit. Aku tinggal di Shimonida, di Kozuke, dan aku pembantu Kusanagi Tenki. Dia samurai yang tewas di Kuil Fushimi itu. Biar aku berpakaian biarawan, aku ini samurai. Namaku Ichinomiya Gempachi."

Matahachi tidak mendengarkan kata-kata itu. Ia mencoba melepaskan diri dan lari. "Saya minta ampun," katanya hina dina. "Saya tahu sudah melakukan perbuatan salah, tapi saya tidak bermaksud apa-apa. Saya bermaksud menyampaikan semuanya itu pada keluarganya, tapi kemudian, yah, kemudian saya kehabisan uang, dan yah, saya tahu tak boleh saya melakukan itu, tapi saya sudah menggunakannya. Saya mau minta ampun bagaimana saja menurut keinginan Bapak, tapi mohon jangan bunuh saya."

"Rasanya lebih baik kamu tidak minta ampun," kata Gempachi yang kelihatan sedang bergulat dalam batinnya. Ia menggeleng-geleng sedih, lanjutnya, "Aku sudah pergi ke Fushima menyelidiki ini. Semuanya cocok dengan yang kaukatakan. Tapi aku mesti membawa pulang sesuatu untuk penghibur keluarga Tenki. Bukan uang. Aku cuma butuh sesuatu buat menunjukkan bahwa pembalasan sudah dilaksana-kan. Tapi tak ada satu penjahatnya, tak ada satu orang tertentu yang sudah membunuh Tenki. Jadi, bagaimana aku dapat membawa kepala pembunuh itu buat mereka?"

"Tapi saya... saya... saya tidak membunuh dia. Jangan Bapak salah."

"Aku tahu kau tidak membunuh dia. Tapi keluarga dan teman-temannya tidak tahu dia dikeroyok dan dibunuh pekerja. Dan lagi itu bukan cerita yang akan bikin dia terhormat. Tak suka aku menceritakan pada mereka hal yang sebenarnya. Jadi, biarpun aku kasihan padamu, kupikir kau mesti dijadikan orang yang bersalah itu. Akan lebih baik keadaannya kalau kau setuju aku membunuhmu."

Sambil merenggangkan tali-tali yang mengikatnya, Matahachi berteriak, "Lepaskan saya! Saya tak mau mati!"

"Dengan sendirinya. Tapi coba tinjau soal ini dari sudut lain. Kamu tak dapat membayar sake yang kauminum. Itu berarti kau tidak cakap menghidupi dirimu sendiri. Daripada kelaparan dan menjalani hidup memalukan di dunia yang kejam ini, apa tidak lebih baik kau istirahat dengan damai di dunia lain? Kalau uang yang jadi persoalanmu, aku punya sedikit. Dengan senang hati aku akan mengirimkan kepada orangtuamu sebagai sumbangan penguburan. Dan kalau kau mau, aku dapat mengirimkannya ke kuil leluhurmu sebagai sumbangan peringatan. Aku jamin, uang akan disampaikan sebaik-baiknya."

"Gila. Aku tak perlu uang; aku mau hidup! Tolong!"

"Aku sudah menjelaskan semuanya baik-baik. Setuju atau tidak, kau terpaksa berperan selaku pembunuh tuanku. Menyerahlah, kawan. Anggap saja ini nasib." Ia mencengkeram pedangnya dan melangkah mundur, agar ada ruang baginya untuk menebas.

"Gempachi, tunggu!" seru Kojiro.

Gempachi menengadah dan teriaknya, "Siapa di situ?"

"Sasaki Kojiro."

Gempachi mengulang nama itu pelan-pelan dengan curiga. Apakah ada Kojiro palsu lain lagi turun dari langit? Namun suara itu mirip sekali dengan suara manusia, bukan suara hantu. Ia melompat menghindari pohon dan mengangkat pedang tegak-tegak.

"Ini keterlaluan," katanya sambil tertawa. "Rupanya tiap orang menyebut dirinya Sasaki Kojiro sekarang ini. Di bawah sini ada satu, yang kelihatan begitu sedih. Ah, ya! Sekarang aku mulai mengerti. Kau teman orang ini, ya?”

"Bukan, aku Kojiro. Dengar, Gempachi, engkau sudah siap memotongku jadi dua kalau aku turun, ya?"

"Ya. Bawa sini berapa saja Kojiro palsu itu semaumu. Akan kuhadapi mereka semua."

"Cukup adil. Kalau kau dapat memotongku, bolehlah kau yakin aku yang palsu, tapi kalau kau yang mati, yakinlah bahwa aku Kojiro sejati. Aku turun sekarang, dan kuperingatkan kamu, kalau kau tak dapat melukaiku di udara, Galah Pengering akan membelahmu seperti sepotong bambu."

"Tunggu. Rasanya aku ingat suaramu. Kalau pedangmu bernama Galah Pengering yang terkenal itu, benar engkau Kojiro."

"Kau percaya sekarang?"

"Ya, tapi apa kerjamu di atas itu?"

"Kita bicarakan nanti."

Kojiro melompat lewat wajah Gempachi yang tengadah dan mendarat di belakangnya, disertai hujan daun pinus. Perubahan sosok Kojiro itu mengagumkan Gempachi. Kojiro, menurut ingatannya di sekolah Jisai itu. anak yang hitam kulitnya dan kikuk. Pekerjaan satu-satunya waktu itu menimba air, dan sesuai dengan kecintaan Jisai akan kesederhanaan, tidak pernah Kojiro menggunakan pakaian lain kecuali yang paling sederhana.

Kojiro duduk di pangkal pohon dan mengajak Gempachi berbuat demikian juga. Gempachi kemudian bercerita bahwa Tenki dikira mata-mata dari Osaka dan dilempari batu sampai mati, dan bahwa sertifikatnya jatuh ke tangan Matahachi.

Kojiro senang sekali mengetahui ada orang yang memakai namanya, tapi ia mengatakan tak ada untungnya membunuh orang yang demikian lemah. Ada cara lain untuk menghukum Matahachi. Kalau Gempachi kuatir dengan keluarga Tenki atau reputasinya, Kojiro sendiri akan pergi ke Kozuke dan mengatur segala sesuatunya agar majikan Gempachi dianggap sebagai prajurit berani dan terhormat. Tak perlu membuat Matahachi sebagai kambing hitam.

"Engkau setuju, Gempachi?" tutup Kojiro.

"Kalau demikian, kukira ya."

"Baiklah kalau begitu. Aku mesti pergi sekarang, tapi kukira kau mesti pulang ke Kozuke."

"Memang aku mau pulang. Aku akan langsung pulang."

"Terus terang, aku agak buru-buru. Aku sedang mencari gadis yang tiba-tiba meninggalkanku.”

"Apa tak ada yang kaulupakan?"

"Kukira tidak."

"Bagaimana dengan sertifikat itu?"

"Oh, itu."

Gempachi menggerayangi Matahachi dan mengambil gulungan itu. Matahachi merasa ringan dan lepas dari beban. Kini ia merasa hidupnya akan selamat, dan ia senang terlepas dari dokumen itu.

"Hmm," kata Gempachi. "Coba pikirkan, barangkali kejadian malam ini memang diatur roh Jisai dan Tenki, hingga aku bisa mendapatkan kembali sertifikat ini dan memberikannya padamu."

"Aku tak mau," kata Kojiro.

"Kenapa?" tanya Gempachi tak percaya.

"Aku tidak memerlukannya."

"Aku tak mengerti."

"Aku tak perlu kertas macam itu."

"Apa yang kaukatakan! Apa engkau tidak merasa berterima kasih kepada gurumu? Bertahun-tahun Jisai mempersiapkan diri untuk memutuskan apakah dia akan memberikan sertifikat ini padamu. Dan dia tidak juga mengambil keputusan, sebelum akhirnya berada di ranjang kematian. Dia menugaskan Tenki untuk menyerahkannya padamu, tapi lihatlah sendiri apa yang terjadi dengan Tenki. Engkau mesti malu bersikap begitu."

"Apa yang dilakukan Jisai itu urusannya sendiri. Aku punya ambisi sendiri."

"Bukan begitu mestinya bicara."

"Jangan engkau salah mengerti."

"Engkau menghina orang yang sudah mengajarmu?"

"Sama sekali tidak, tapi aku dilahirkan dengan bakat-bakat yang lebih besar daripada dia. Aku bermaksud lebih maju daripada dia. Menjadi pemain pedang yang tak dikenal di daerah pedesaan bukanlah tujuanku."

"Engkau bersungguh-sungguh?"

"Tidak salah lagi." Kojiro tidak menyesal mengungkapkan ambisi-ambisinya, sekalipun menurut ukuran biasa tak patut. "Aku berterima kasih pada Jisai, tapi sertifikat dari sekolah desa yang tidak begitu dikenal itu lebih merugikan diriku daripada menguntungkan. Ito Ittosai menerima sertifikatnya, tapi dia tidak meneruskan Gaya Chujo. Dia menciptakan gayanya yang baru. Aku bermaksud berbuat demikian juga. Kepentinganku adalah menciptakan Gaya Ganryu. Tak lama lagi nama Ganryu akan sangat terkenal. Engkau lihat, dokumen itu tak ada artinya buatku. Bawa itu kembali ke Kozuke dan minta kuil di sana menyimpannya bersama catatan kelahiran dan kematian." Tak ada sama sekali nada kesederhanaan ataupun kerendahan hati dalam bicara Kojiro.

Gempachi memandangnya benci.

"Tolong sampaikan salamku untuk keluarga Kusanagi," kata Kojiro sopan. "Beberapa lama lagi aku akan pergi ke timur dan mengunjungi mereka. Yakinlah." Dan ia akhiri kata-kata perpisahan itu dengan senyum lebar.

Bagi Gempachi, pameran kesopanan yang terakhir itu mengandung sikap menggurui. Ia berpikir untuk menegur Kojiro atas sikapnya yang tak kenal terima kasih dan tidak hormat kepada Jisai itu, tapi sesudah mempertimbangkannya lagi sejenak, ia menganggap buang-buang waktu saja. Maka pergilah ia menghampiri bungkusannya, memasukkan sertifikat ke dalamnya, dan mengucapkan selamat berpisah singkat dan pergi.

Sesudah ia pergi, Kojiro tertawa senang sekali. "Aduh, aduh, dia marah rupanya. Ha, ha, ha, ha!" Kemudian ia menoleh kepada Matahachi. "Nah, apa sekarang katamu tentang dirimu sendiri, orang palsu tak berguna?"

Matahachi tentu saja tak bisa bicara apa-apa.

"Jawab pertanyaanku! Kamu mengaku mencoba memalsukan aku, kan?"

"Ya..”

"Aku tahu namamu Matahachi, tapi siapa nama lengkapmu?"

"Hon'iden Matahachi."

"Apa kamu ronin?"

"Ya."

"Ambil pelajaran dariku, keledai tak bertulang punggung! Kaulihat aku mengembalikan sertifikat itu, kan? Kalau orang lelaki tak punya keberanian berbuat seperti itu, tak bakal dia dapat melakukan apa-apa sendiri. Tapi! coba lihat dirimu itu! Kamu pakai nama orang lain, mencuri sertifikatnya. dan ke sana kemari hidup dengan reputasinya. Apa ada yang lebih keji daripada itu? Barangkali pengalaman malam ini memberikan pelajaran kepadamu: kucing bisa saja mengenakan kulit macan, tapi tetap saja dia kucing."

"Saya akan berhati-hati sekali di masa depan."          

"Aku menahan diri tidak membunuhmu, tapi kukira lebih baik kamu membebaskan dirimu sendiri, kalau kau bisa." Tapi tiba-tiba Kojiro mendapat pikiran baru. Ia hunus belati dari sarungnya dan ia pun mengorek-ngorek kulit pohon di atas kepala Matahachi. Serpihan kulit pohon berjatuhan ke leher Matahachi. "Aku butuh alat tulis," gumam Kojiro.

"Ada kantong kuas dan tempat tinta dalam obi saya," kata Matahachi ingin membantu.

"Bagus! Kupinjam sebentar."

Kojiro membasahi kuas itu dengan tinta dan menulis di atas petak batang pohon yang sudah ia korek kulitnya. Kemudian ia mundur sedikil mengagumi hasil kerjanya. "Orang ini," bunyinya, "adalah penipu lihai. Dengan menggunakan nama saya, ia pergi ke sana kemari di pedesaan. melakukan perbuatan tidak terhormat. Saya sudah menangkapnya, dan saya meninggalkannya di sini untuk diejek-ejek oleh siapa saja. Nama saya, dan nama pedang saya yang menjadi milik saya seorang, adalah Sasaki Kojiro, Ganryu."

"Cukup begini," kata Kojiro puas.

Di hutan gelap itu angin menderu seperti air pasang. Kojiro pergi sambil memikirkan ambisi masa depannya dan kembali menempuh jalur aksinya waktu itu. Matanya menyala ketika ia menerobos hutan, seperti seekor macan tutul.


 Adik


SEMENJAK zaman kuno, orang-orang kelas tertinggi dapat naik joli. Baru belakangan saja joli jenis sederhana dapat dipergunakan oleh orang kebanyakan. Joli itu sedikit lebih besar dari keranjang besar bersisi rendah yang diikatkan pada pikulan. Supaya penumpang tidak jatuh keluar, ia harus berpegangan erat pada tali di depan dan belakang. Para pemikul yang biasanya menyanyi berirama untuk menyamakan langkah, mempunyai kecenderungan memperlakukan penumpangnya sebagai muatan. Orang-orang yang memilih bentuk kendaraan ini dinasihatkan untuk menyesuaikan napasnya dengan irama pemikul, terutama apabila para pemikul berlari.

Joli yang berjalan cepat ke arah hutan pinus di Jalan Gojo itu diiringi tujuh atau delapan orang. Baik pemikul maupun orang-orang lainnya terengah-engah, seakan hendak memuntahkan jantung mereka.

"Kita sampai di Jalan Gojo."

"Apa ini bukan Matsubara?"

"Tidak jauh lagi."

Walaupun lentera-lentera yang mereka bawa berbulu jambul seperti yang biasa dipakai para pelacur bersurat ijin di wilayah Osaka, penumpangnya bukanlah kupu-kupu malam.

"Pak Denshichiro!" seru salah seorang pembantu di depan. "Kita hampir sampai di Jalan Shijo."

Denshichiro tidak mendengar. Ia tertidur, kepalanya berayun-ayun naik turun seperti kepala macan kertas. Kemudian keranjang itu tersentak, dan seorang pemikul mengeluarkan tangan untuk menahan penumpangnya agar tidak jatuh.

Sambil membuka matanya yang besar, Denshichiro berkata, "Aku haus. Kasih aku sake!"

Senang karena mendapat kesempatan beristirahat, para pemikul menurunkan joli ke tanah dan mulai menghapus keringat lengket dari wajah dan dada mereka yang berambut dengan saputangan.

"Sake tinggal sedikit lagi," kata seorang pembantu sambil menyerahkan tabung bambu pada Denshichiro.

Denshichiro mengosongkannya dengan sekali teguk, kemudian mengeluh. "Dingin sekali, sampai ngilu gigiku." Tapi sake itu cukup menyegarkannya karena ia menyatakan, "Masih gelap. Rupanya jalan kita cepat sekali."

"Kalau menurut kakak Bapak, tentunya lambat sekali. Dia begitu ingin bertemu dengan Bapak, hingga tiap menit seperti setahun."

"Kuharap dia masih hidup."

"Dokter bilang dia akan sembuh. Tapi dia gelisah, dan lukanya terus mengeluarkan darah. Itu berbahaya."

Denshichiro mengangkat tabung kosong itu ke bibirnya dan menjungkirkannya. "Musashi!" katanya muak sambil melemparkan tabung. "Mari jalan!" lenguhnya. "Lekas!"

Denshichiro memang peminum kuat, tapi ia pesilat yang lebih kuat lagi dan cepat marah. Ia hampir merupakan kebalikan dari kakaknya. Ketika Kempo masih hidup pun sudah ada orang-orang yang berani menyatakan bahwa ia lebih mampu daripada ayahnya. Pemuda itu sendiri sependapat dengan pandangan orang tentang bakat-bakatnya itu. Ketika ayah mereka masih hidup, kedua bersaudara tersebut berlatih bersama di dojo, dan di situ mereka dapat bekerja sama, tapi begitu Kempo meninggal, Denshichiro tidak lagi ambil bagian dalam kegiatan sekolah, dan bahkan sampai pernah langsung mengatakan kepada Seijuro bahwa Seijuro harus mundur dan menyerahkan segala yang menyangkut permainan pedang kepadanya.

Semenjak keberangkatannya ke Ise tahun lalu, orang memberitakan bahwa ia menghabiskan waktunya di Provinsi Yamato. Barulah sesudah terjadi bencana di Rendaiji, orang dikirim untuk mencarinya. Sekalipun tak suka kepada Seijuro, Denshichiro langsung sepakat untuk kembali.

Dalam perjalanan tergesa-gesa kembali ke Kyoto itu, ia memburu-buru para pemikul demikian hebatnya, hingga tiga atau empat kali mereka mesti diganti. Tapi ada saja waktunya buat berhenti di setiap pemberhentian di jalan raya untuk membeli sake. Barangkali alkohol itu dibutuhkannya untuk menenangkan saraf, karena memang ia dalam ketegangan luar biasa.

Ketika mereka baru akan berangkat lagi, anjing-anjing yang menggonggong di hutan gelap itu memikat perhatian mereka.

"Apa itu kira-kira?"

"Cuma segerombolan anjing."

Kota itu memang penuh anjing liar. Bergerombol-gerombol mereka masuk kota, karena tidak ada lagi pertempuran yang menyediakan daging manusia buat mereka.

Denshichiro berteriak marah agar orang-orang tidak membuang-buang waktu lagi, tapi salah seorang murid berkata, "Tunggu dulu; ada yang aneh di sana."

"Coba lihat, ada apa," kata Denshichiro yang kemudian pergi sendiri mendahului.

Sesudah Kojiro pergi, anjing-anjing itu datang kembali. Tiga atau empat kawanan anjing di sekitar Matahachi dan pohon tempat ia terikat itu heboh besar. Kalau saja anjing-anjing bisa mengungkapkan perasaan, mungkin dapat dibayangkan bahwa mereka sedang melakukan balas dendam atas kematian seekor dari kawannya.

Namun yang lebih mungkin adalah mereka sekadar menyiksa korban yang menurut mereka dalam keadaan tak berdaya. Semuanya tampak lapar, seperti serigala-perutnya cekung, tulang punggungnya tajam seperti pisau, dan giginya demikian tajam, seperti dikikir.

Matahachi jauh lebih takut pada anjing-anjing itu daripada kepada Kojiro atau Gempachi. Karena tak dapat menggunakan tangan dan kakinya, senjatanya tinggal wajah dan suaranya.

Semula dengan naif ia mencoba mengajak bicara binatang-binatang itu, tapi kemudian ia mengubah taktik. Ia melolong seperti binatang liar. Anjing-anjing itu menjadi takut dan mundur sedikit. Tapi kemudian hidung Matahachi mulai beringus dan efek lolongannya segera menurun.

Berikutnya ia membuka mulut dan mata selebar mungkin, dan menatap tanpa mengedip. Ia kerutkan muka dan ia julurkan lidahnya hingga dapat menyentuh ujung hidung, tapi ia justru jadi cepat kehabisan tenaga. Dengan mengerahkan kekuatan otaknya kembali, ia berpura-pura menjadi seekor dari mereka dan tidak memusuhi mereka. Ia menyalak, bahkan membayangkan dirinya memiliki ekor untuk dikibas-kibaskan.

Gonggongan makin lama makin keras. Anjing-anjing yang terdekat memperlihat-kan gigi ke muka Matahachi dan menjilati kakinya.

Dengan harapan dapat menenangkan anjing-anjing itu dengan musik, mulailah Matahachi menyanyikan bagian yang terkenal dari dongeng tentang Heike, menirukan tukang nyanyi yang biasa keliling membawakan cerita itu dengan iringan kecapi.  



Kemudian kaisar yang menyendiri itu memutuskan

Pada musim semi tahun kedua

Melihat vila luar kota Kenreimon'in,

Di pegunungan dekat Ohara.

Tetapi selama bulan kedua dan ketiga

Angin bertiup kencang, dan udara dingin mengepung,

Dan salju putih di puncak gunung pun tidak mencair.



Dengan mata terpejam, muka menegang menyeringai kesakitan, Matahachi menyanyi keras hingga hampir memekakkan dirinya sendiri. Ia masih menyanyi ketika Denshichiro dan teman-temannya datang dan anjing-anjing itu lari cerai-berai.

Lupa akan harga dirinya, Matahachi berteriak, "Tolong! Selamatkan saya!"

"Saya pernah lihat orang ini di Yomogi," kata salah seorang samurai.

"Ya, ini suami Oko."

"Suami? Seharusnya dia tak punya suami."

"Itu ceritanya pada Toji."

Karena kasihan kepada Matahachi, Denshichiro memerintahkan orang-orang itu berhenti bergunjing dan membebaskannya.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, Matahachi mengarang cerita. Sifat-sifatnya yang luhur dilukiskan dengan baik sekali, sedangkan kelemahankelemahannya tak disinggung sama sekali. Mengambil keuntungan dari pembicaraannya dengan pengikut Yoshioka, ia menampilkan nama Musashi. Ia ungkapkan bahwa di masa kecil ia dan Musashi bersahabat, sampai kemudian Musashi melarikan tunangannya dan melumuri keluarganya dengan aib yang tak dapat dilukiskan. Ibunya yang gagah berani sudah bersumpah takkan pulang. Baik ibunya maupun dirinya bertekad akan menemukan Musashi dan menghancurkannya. Suatu hal yang jauh dari kebenaran kalau orang mengatakan bahwa ia suami Oko. Ia memang lama tinggal di Warung Teh Yomogi, tapi itu bukan karena ada hubungan pribadi dengan pemiliknya. Buktinya Oko jatuh cinta kepada Gion Toji.

Kemudian ia menjelaskan kenapa ia terikat pada pohon itu. Ia diserang kawanan perampok yang merampas uangnya. Tentu saja ia tidak melakukan perlawanan. Ia mesti berhati-hati agar tidak terluka justru karena kewajiban terhadap ibunya.

Dengan harapan mereka percaya akan semua itu, kata Matahachi, "Terima kasih. Saya merasa barangkali nasiblah yang mempertemukan kita. Ada satu orang yang sama-sama menjadi musuh kita, musuh yang tak bisa kita biarkan hidup di bawah naungan langit kita. Malam ini Anda sekalian datang justru pada saat yang tepat. Saya berterima kasih untuk selamanya.

"Dari penampilan Anda, saya menduga Anda Denshichiro. Saya merasa pasti Anda punya rencana menghadapi Musashi. Siapa di antara kita yang akan membunuhnya lebih dahulu tidak dapat saya katakan, tapi saya berharap akan mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Anda."

Ia tak ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, karena itu ia bergegas pergi. "Osugi, ibu saya, sedang berziarah ke Kiyomizudera untuk berdoa demi suksesnya pertempuran kami melawan Musashi. Saya dalam perjalanan menjumpainya sekarang. Tak lama lagi pasti saya berkunjung ke rumah di Jalan Shijo untuk menyatakan penghormatan saya. Sementara itu, izinkan saya memohon maaf karena menghambat Anda yang sedang demikian terburu-buru."

Dan pergilah ia cepat-cepat, hingga para pendengarnya terheran-heran, seberapa benar isi cerita itu.

"Siapa pula badut itu?" dengus Denshichiro sambil mendecapkan lidah, menyesali waktunya yang terbuang.



Seperti dikatakan dokter, beberapa hari pertama akan merupakan hari-hari terberat. Waktu itu hari keempat. Malam sebelumnya Seijuro sudah merasa sedikit lebih ringan.

Pelan-pelan ia membuka mata dan bertanya-tanya malamkah itu atau siang. Lampu bertutup kertas di samping bantalnya hampir mati. Dari kamar sebelah terdengar suara dengkur. Orang-orang yang menjaganya jatuh tertidur.

"Aku mestinya masih hidup," pikirnya. "Hidup tapi dalam keadaan malu sekali!" Ia menarik selimut ke wajahnya dengan jari-jari gemetar. "Bagaimana aku dapat menghadapi orang lain sesudah ini?" ia menelan ludah keraskeras untuk menindas air matanya. "Habislah semuanya!" rintihnya. "Ini akhir diriku dan akhir Keluarga Yoshioka."

Seekor ayam jantan berkokok dan lampu man dengan suara mendetik. Ketika cahaya fajar yang redup menjalar ke dalam ruangan, ia terkenang kembali akan pagi di Rendaiji itu. Pandangan mata Musashi! Kenangan itu membuatnya menggigil. Terpaksa ia mengakui bahwa ia bukanlah tandingan orang itu. Kenapa ia tidak membuang saja pedang kayunya, mengaku kalah, dan berusaha menyelamatkan reputasi keluarganya?

"Terlalu tinggi aku menilai diriku," rintihnya. "Padahal selain menjadi anak Yoshioka Kempo, apa yang pernah kulakukan untuk meningkatkan diriku?"

Bahkan ia menyadari bahwa cepat atau lambat akan tiba saat keruntuhan Keluarga Yoshioka jika ia tetap memegang kendalinya. Dengan terjadinya perubahan suasana, tidak mungkin keluarga itu terus sejahtera.

"Pertarunganku dengan Musashi itu sekadar mempercepat keruntuhan. Kenapa.aku tidak mati saja di sana? Kenapa pula aku hidup?"

Ia mengerutkan kening. Bahunya yang tak berlengan berdenyut-denyut sakit. Hanya beberapa detik sesudah terdengar ketukan di gerbang depan, satu orang masuk membangunkan samurai di kamar Seijuro. "Denshichiro?" tanya suatu suara kaget.

"Ya, dia baru saja datang."

Dua orang bergegas menjumpainya, seorang lagi berlari ke sisi Seijuro.

"Pak! Berita baik! Denshichiro pulang."

Daun jendela dibuka, arang dimasukkan ke anglo, dan sebuah bantal ditata di lantai. Sebentar kemudian suara Denshichiro terdengar dari sebelah shoji, "Kakakku ada di sini?"

Seijuro terkenang masa lalu. "Lama sudah waktu itu." Walaupun ia minta berjumpa dengan Denshichiro, ia takut dilihat dalam keadaannya sekarang, terutama oleh adiknya. Ketika Denshichiro masuk Seijuro menengadah lemah dan mencoba tersenyum, namun tak berhasil.

Denshichiro berbicara bersemangat. "Lihat, kan?" ia tertawa. "Kalau engkau dalam kesulitan, adikmu yang tak berguna ini datang menolongmu. Kutinggalkan segalanya dan aku datang selekas-lekasnya. Kami berhenti di Osaka untuk membeli perbekalan, kemudian jalan lagi sepanjang malam. Aku di sini sekarang, jadi engkau dapat merasa tenang. Apa pun yang terjadi, takkan kubiarkan seorang pun menjamahkan jari ke sekolah ini...

"Apa ini?" katanya kasar sambil menoleh pada seorang pelayan yang membawakan teh. "Aku tak perlu teh! Sana pergi ambil sake." Kemudian ia berteriak pada seseorang supaya menutup pintu-pintu luar. "Apa kalian semua gila? Apa tidak kalian lihat kakakku kedinginan?"

Ia duduk mencangkung ke anglo serta memandang diam wajah si sakit. "Jurus apa yang engkau pergunakan dalam pertarungan itu?" tanyanya. "Kenapa kau kalah? Mungkin saja Miyamoto Musashi sedang menanjak sekarang, tapi dia tak lebih dari pemula biasa, kan? Bagaimana bisa engkau membiarkan dirimu lengah diserang oleh orang tak punya nama macam dia?"

Salah seorang murid menyebut nama Denshichiro dari pintu masuk. "Nah, ada apa?"

"Sake sudah siap."

"Bawa masuk!"

"Sudah saya siapkan di kamar lain. Tuan mau mandi dulu, kan?"

"Aku tak mau mandi! Bawa sake itu ke sini."

"Di samping tempat tidur Tuan Muda?"

"Kenapa tidak? Aku sudah beberapa bulan tidak melihat dia, dan aku ingin bicara dengannya. Hubungan kami memang selalu kurang baik, tapi tak ada yang lebih baik dari saudara, kalau kita memerlukannya. Aku minum di sini dengan dia."

Ia menuang untuk dirinya semangkuk penuh, kemudian semangkuk lagi. dan bermangkuk-mangkuk lagi. "Oh, enak. Kalau kau sehat, kutuangkan juga untukmu."

Seijuro menyabarkan diri beberapa menit lamanya, kemudian mengangkat mata dan katanya, "Bagaimana kalau kau tidak minum di sini?"

"Ha?"

"Bikin teringat hal-hal yang tak menyenangkan."

"Oh?"

"Terpikir olehku ayah kita. Dia takkan senang melihat caramu dan caraku memperturutkan hati. Dan apa gunanya bagi kita?"

"Kenapa kau ini?"

"Barangkali kau belum lagi melihatnya, tapi sementara berbaring di tempat ini, aku sudah sempat menyesali hidupku yang terbuang sia-sia."

Denshichiro tertawa. "Bicaralah atas nama dirimu sendiri! Sejak dulu kau selalu gugup dan sensitif. Itu sebabnya kau tak akan menjadi jago pedang sejati. Kalau kau mau mendengar yang sebenarnya, kupikir salah engkau menghadapi Musashi. Tapi sesungguhnya tak ada bedanya, apa itu Musashi atau yang lain. Berkelahi tak ada dalam darahmu. Kau mesti menganggap kekalahan ini sebagai pelajaran, dan kau mesti melupakan permainan pedang. Seperti kukatakan dulu, kau mesti mengundurkan diri. Kau masih mengepalai Keluarga Yoshioka. Jika ada orang menantangmu hingga engkau tak dapat menghindarinya, aku yang akan berkelahi untukmu. Tinggalkan dojo itu padaku dari sekarang. Akan kubuktikan aku dapat membuatnya beberapa kali lebih berhasil dari zaman ayah kita. Kalau engkau mau menyingkirkan kecurigaanmu bahwa aku mencoba merebut perguruanmu, akan kutunjukkan padamu apa yang dapat kulakukan." Ia tuangkan sisa sake yang terakhir ke dalam mangkuknya.

“Denshichiro?" teriak Seijuro. Ia mencoba bangkit dari kasur jeraminya, menepiskan selimut pun ia tak dapat. Ia rebah kembali, kemudian mengulurkan tangan dan menangkap pergelangan adiknya.

“Awas!" gerutu Denshichiro. "Bisa tumpah." Ia memindahkan mangkuknya ke tangan lain.

“Denshichiro, dengan senang hati akan kuserahkan perguruan ini kepadamu, tapi engkau mesti menerima juga kedudukanku sebagai kepala rumah.”

“Baik, kalau itu yang kaukehendaki."

“Engkau jangan menerima beban itu demikian gampang. Lebih baik pikirkan dulu. Aku sendiri lebih suka... menutup tempat ini daripada mengulangi kesalahan yang kuperbuat dan mendatangkan aib yang lebih besar lagi kepada ayah kita."

“Jangan edan begitu. Aku tidak seperti kau."

“Apa kau berjanji akan memperbaiki cara-cara hidupmu?"

“Tunggu! Aku akan minum kapan aku mau kalau itu yang kaumaksudkan."

“Aku tidak keberatan engkau minum, asalkan tidak sampai keterlaluan bagaimana, kesalahan-kesalahan yang telah kubuat sebenarnya tidak, babkan oleh sake”

“Aku berani bertaruh, kesulitanmu itu menyangkut perempuan. Yang mesti kaulakukan kalau nanti engkau sembuh adalah kawin dan menetap.

“Tidak. Aku memang akan meninggalkan pedang, tapi belum waktunya berpikir tentang beristri. Namun ada satu orang yang mesti mendapat perhatianku. Tapi kalau aku bisa mendapat keyakinan bahwa dia bahagia, tak ada lagi yang kuminta. Aku puas hidup sendiri di sebuah gubuk beratap ilalang di hutan."

"Siapa dia itu?"

"Tak usahlah, karena tak ada urusannya denganmu. Sebagai samurai aku mesti bertahan dan mencoba menebus diriku. Tapi aku bisa menindas harga diriku. Ambillah tanggung jawab perguruan ini."

"Akan kulakukan, aku berjanji. Aku juga bersumpah, tak lama lagi akan kujernihkan namamu. Tapi di mana Musashi sekarang?"

"Musashi?" Seijuro tercekik. "Kukira engkau takkan memerangi Musashi! Baru saja kuperingatkan engkau untuk tidak berbuat kesalahan yang sama dengan yang kubuat."

"Mana boleh aku memikirkan yang lain? Apa bukan ini sebabnya kau memanggilku? Kita mesti menemukan Musashi, sebelum dia meloloskan diri. Kalau bukan karena itu, ada urusan apa aku begini cepat pulang?"

"Kau tidak mengerti apa yang kubicarakan." Seijuro menggelengkan kepala. "Kularang engkau melawan Musashi!"

Nada bicara Denshichiro mengandung kebencian. Selamanya ia jengkel menerima perintah kakaknya.

"Kenapa?"

Rona merah muda muncul di pipi Seijuro yang pucat. "Engkau takkan bisa menang!" katanya singkat.

"Siapa takkan bisa menang?" Muka Denshichiro jadi kebiruan.

"Kau. Takkan bisa engkau melawan Musashi."

"Kenapa begitu?"

"Engkau tak cukup kuat."

"Omong kosong!" Dengan sengaja Denshichiro memperdengarkan tawanya hingga bahunya berguncang. Dilepaskannya tangannya dari Seijuro dan dibalikkannya guci sake. "Hei, bawa sake sini!" lenguhnya.

"Tak ada sisa lagi."

Ketika seorang murid masuk membawa sake, Denshichiro sudah tidak ada lagi di dalam kamar, sedangkan Seijuro tengkurap di bawah selimut. Ketika murid itu menelentangkannya dan menaruh kepalanya di atas bantal, kata Seijuro pelan, "Panggil dia lagi kemari. Ada yang mau kukatakan lagi kepadanya."

Merasa senang karena majikannya bicara jelas, orang itu berlari ke luar mencari Denshichiro. Ia menemukannya sedang duduk di lantai dojo dengan Ueda Ryohei dan Miike Jurozaemon, Nampo Yoichibei, Otaguro Hyosuke, dan beberapa murid senior.

Satu orang bertanya, "Bapak sudah ketemu Seijuro?"

"Ya, aku barusan di kamarnya."

"Dia tentu senang melihat Bapak."

"Kelihatannya tidak begitu senang. Sebelum masuk kamarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi dia sedang murung dan uring-uringan. karena itu kukatakan saja apa yang ingin kukatakan. Kami jadi bertengkar, seperti biasa."

"Bapak bertengkar dengannya? Mestinya tak usah. Dia baru mulai sembuh."

"Tunggu sampai kaudengar seluruh ceritanya."

Denshichiro dan murid-murid senior itu sudah seperti sahabat lama. Ia mencekal bahu Ryohei yang mencela tadi dan ia guncangkan bahu itu dengan sikap bersahabat.

"Dengar apa yang dikatakan kakakku," mulainya. "Dia bilang aku tak boleh menjernihkan namanya dengan melawan Musashi, karena aku tak dapat mengalahkan Musashi! Dan kalau aku kalah, Keluarga Yoshioka akan runtuh. Dia bilang dia akan mengundurkan diri dan menerima tanggung jawab aib yang terjadi. Dia tak ingin aku melakukan yang lain kecuali melanjutkan pekerjaannya dan kerja keras menegakkan kembali sekolah."

"Oh, begitu?"

"Apa maksudmu berkata begitu?" Ryohei diam saja.

Ketika mereka sedang duduk diam, murid itu masuk dan berkata pada Denshichiro, "Bapak Seijuro minta Anda kembali ke kamarnya."

Denshichiro memberengut. "Bagaimana dengan sake itu?" detapnya.

"Saya tinggalkan di kamar Pak Seijuro."

"Nah, bawa kemari."

"Bagaimana dengan kakak Anda?"

"Dia rupanya menderita kegugupan. Kerjakan seperti kukatakan."

Protes dari yang lain-lain bahwa mereka tak ingin minum dan bahwa ini bukan waktu minum, membikin jengkel Denshichiro, dan ia menyerang mereka. "Apa yang terjadi dengan kalian semua? Apa kalian takut kepada Musashi juga?"

Rasa terguncang, rasa sakit, dan rasa sedih tergambar jelas pada wajah mereka. Sampai tiba ajal mereka, mereka akan tetap ingat, bagaimana guru mereka dibikin cacat hanya dengan satu pukulan pedang kayu, dan perguruan mereka dibikin malu. Namun demikian, tak dapat mereka menyusun satu rencana aksi. Setiap pembicaraan tentang tiga hari lalu itu memecah mereka menjadi dua kelompok, sebagian menyetujui dilontarkannya tantangan kedua, sebagian lagi menyatakan lebih baik membiarkan saja pengalaman buruk yang lalu itu. Sekarang beberapa orang yang lebih tua dapat menerima pendapat Denshichiro, sedangkan sebagian lagi, termasuk Ryohei, cenderung setuju dengan guru mereka yang telah dikalahkan. Sayangnya, anjuran Seijuro untuk bersabar itu sukar sekali disetujui para murid, terutama di hadapan adik yang berkepala panas itu.

Melihat keraguan sikap mereka, Denshichiro mengatakan, "Biarpun kakakku sudah luka, tak perlu dia berlaku seperti pengecut. Macam perempuan saja! Bagaimana mungkin aku diminta mendengarkan kata-katanya, apalagi menyetujuinya?"

Sake datang, ia menuangkannya seorang semangkuk. Sekarang, karena ia yang akan memegang kendali, ia bermaksud membawakan gaya yang ia sukai: semua orang ini harus merupakan kesatuan manusia sejati.

"Dan inilah yang akan kulakukan," katanya mengumumkan. "Aku akan melawan Musashi dan mengalahkannya! Tak peduli apa yang dikatakan kakakku. Kalau menurutnya kita mesti membiarkan orang ini lepas setelah melakukan perbuatannya itu, tidak mengherankan kalau dia kalah. Jangan sampai siapa pun di antara kalian berbuat kesalahan dengan menyangka aku ini masih hijau macam dia."

Nampo Yoichibei angkat bicara. "Tak ada persoalan tentang kemampuan Anda. Kami semua yakin, tapi..."

"Tapi apa? Apa yang terpikir olehmu?"

"Nah, kakak Anda rupanya berpendapat Musashi tidak penting. Dia benar, kan? Pikirkan risikonya..."

"Risiko?" lolong Denshichiro.

"Eh, maksud saya bukan begitu! Saya cabut kembali kata-kata saya.,” gagap Yoichibei.

Tapi sudah terlambat. Denshichiro melompat dan menangkap tengkuk Yoichibei, lalu membenturkannya keras-keras ke dinding. "Keluar dari sini! Pengecut!"

"Saya tadi keliru mengucapkan. Yang saya maksud..."

"Tutup mulutmu! Keluar! Orang lemah tak pantas minum denganku."

Yoichibei pucat, kemudian diam berlutut menghadap semua yang lain. "Saya ucapkan terima kasih kepada Anda sekalian yang mengizinkan sava berada di tengah Anda sekalian demikian lama," katanya pendek. Ia pergi ke tempat suci Shinto di belakang kamar, membungkuk, dan pergi.

Tanpa menoleh lagi ke arahnya, Denshichiro berkata, "Mari sekarang kita semua minum. Sesudah itu, kuminta kalian mencari Musashi. Kukira dia belum meninggalkan Kyoto. Barangkali dia masih berkeliaran membanggakan kemenangannya.

"Dan satu hal lagi. Kita akan kembali memberikan semangat kepada dojo ini. Aku minta kalian masing-masing berlatih keras dan mengajak murid lain berbuat demikian juga. Sesudah beristirahat, aku sendiri mulai berlatih. Dan ingat satu hal ini: Aku bukan orang lunak macam kakakku. Murid yang termuda pun kuminta berusaha sebaik-baiknya."



Tepat seminggu kemudian, seorang di antara murid yang masih muda datang berlari-lari masuk dojo, membawa berita, "Saya sudah menemukannya!"

Sesuai dengan ucapannya, Denshichiro berlatih dengan keras hari demi hari. Tenaganya yang seakan tak ada habis-habisnya itu membikin para murid kagum. Sekelompok di antara mereka sedang memperhatikan bagaimana ia menangani Otaguro, salah seorang dari murid yang paling berpengalaman, seakan-akan murid itu masih kanak-kanak.

"Kita berhenti sekarang," kata Denshichiro sambil menarik pedang dan duduk di ujung petak latihan. "Kamu bilang sudah menemukannya?"

"Ya." Murid itu mendekat dan berlutut di depan Denshichiro.

"Di mana?"

"Di timur Jissoin, di Jalan Hon'ami. Musashi tinggal di rumah Hon'ami Koetsu. Saya yakin."

"Aneh. Bagaimana mungkin orang kasar macam Musashi sampai kenal orang macam Koetsu?"

"Saya tidak tahu, tapi dia di situ."

"Baiklah, mari mengejarnya. Sekarang!" salak Denshichiro sambil melangkah mempersiapkan diri. Otaguro dan Ueda yang mengikutinya mencoba mencegahnya.

"Menyergap dia bisa tampak seperti perkelahian umum. Orang-orang takkan menyetujuinya, biarpun kita menang."

"Tidak apa. Etiket itu untuk dojo. Dalam pertempuran sebenarnya yang menang itulah yang menang!"

"Betul, tapi bukan itu cara yang dipakai orang bebal itu mengalahkan kakak Anda. Apa menurut Anda tidak lebih cocok buat pemain pedang kalau mengirimkan surat kepadanya untuk menetapkan waktu dan tempat, kemudian mengalahkannya dengan adil dan jujur?"

"Barangkali juga engkau benar. Baik, akan kita lakukan demikian. Sementara itu, aku tak ingin siapa pun di antara kalian memberikan peluang kepada kakakku mempengaruhi kalian untuk melawanku. Aku akan melawan Musashi, apa pun yang dikatakan Seijuro atau yang lain lagi."

"Sudah kita singkirkan semua orang yang tidak sependapat dengan Anda, juga orang-orang yang tak kenal terima kasih dan ingin pergi."

"Bagus! Jadi, kita sudah jauh lebih kuat sekarang. Kita tidak butuh orang-orang brengsek macam Gion Toji atau orang-orang penakut macam Nampo Yoichibei."

"Apa akan kita sampaikan pada kakak Anda sebelum kita kirimkan surat?"

"Jangan! Aku sendiri tak akan menyampaikannya."

Ketika ia pergi ke kamar Seijuro, yang lain-lain pun berdoa semoga takkan terjadi lagi bentrokan antara dua bersaudara. Keduanya memang tak mau sedikit pun mundur dalam persoalan Musashi: Ketika ternyata tidak terdengar suara-suara dari kamar sesudah beberapa waktu lewat, para murid pun mulai membicarakan waktu dan tempat untuk konfrontasi kedua dengati musuh bebuyutan mereka.

Tapi waktu itulah suara Denshichiro terdengar berderai, "Ueda! Miike! Otaguro... semua kalian! Sini!"

Denshichiro berdiri di tengah kamar dengan pandangan murung dan air mata bercucuran. Tak seorang pun pernah melihatnya dalam keadaan seperti itu.

"Coba kalian semua lihat ini."

Ia angkat tinggi-tinggi sepucuk surat yang sangat panjang, dan katanya dengan kemarahan dipaksakan, "Coba lihat apa yang sudah diperbuat kakakku yang goblok itu. Dia mengemukakan lagi pendapatnya padaku, tapi dia pergi selamanya.... Bahkan tidak menyebutkan ke mana perginya."



Cinta Seorang Ibu
  

OTSU menurunkan jahitannya dan berseru, "Siapa itu?"

Dibukanya shoji yang menghadap beranda, tapi tak seorang pun kelihatan Semangatnya terbang. Tadinya ia mengharap orang itu Jotaro. Sekarang in: ia butuh sekali anak itu, lebih butuh dari kapan pun.

Lagi satu hari yang penuh kesepian. la tak dapat mencurahkan perhatiannya kepada kerja menjahit itu.

Di bawah Kiyomizudera ini, di kaki Bukit Sannen, jalan-jalan kotor sekali, tetapi di belakang rumah-rumah dan warung terdapat rumpunrumpun bambu dan ladang-ladang kecil, bunga-bunga kamelia yang sedang berkembang, prem yang mulai berjatuhan. Osugi suka sekali penginapan khusus ini. Ia selalu tinggal di situ bila berada di Kyoto, dan pemilik penginapan selalu menyediakan baginya rumah kecil, terpisah, dan tenang ini. Di belakangnya terdapat petak pohon-pohon, bagian dari kebun rumah sebelah. Di depan terdapat kebun sayuran kecil dan di sebelahnya dapur penginapan yang selalu sibuk.

"Otsu!" terdengar suara dari dapur. "Sudah waktunya makan siang. Boleh kubawa masuk sekarang?"

"Makan siang?" tanya Otsu. "Aku akan makan dengan nyonya tua itu saja, kalau nanti dia kembali."

"Dia sudah bilang takkan lekas pulang. Barangkali sampai malam."

"Aku tidak lapar."

"Tak mengerti aku, bagaimana engkau bisa tahan, makan begitu sedikit. "

Asap kayu pinus mengepul masuk ruangan dari tempat pembakaran tembikar di sekitar tempat itu. Pada hari-hari pembakaran selamanya banyak asap. Tetapi sesudah udara bersih, langit awal musim semi itu lebih biru daripada biasa.

Dari jalan terdengar suara kuda, langkah kaki, dan suara para peziarah yang sedang dalam perjalanan ke kuil. Dari orang-orang lewat itulah cerita tentang kemenangan Musashi atas Seijuro sampai di telinga Otsu. Wajah Musashi terbayang di depan matanya. "Jotaro tentunya ada di Rendaiji hari itu," pikirnya. "Oh, coba kalau dia datang dan menceritakannya padaku."

Ia tak yakin anak itu mencarinya dan tak dapat menemukannya. Dua puluh hari telah berlalu, dan Jotaro tahu ia tinggal kaki Bukit Sannen itu. Jotaro kemungkinan sakit, tapi ia tak yakin Jotaro sakit. Jotaro bukan jenis orang yang biasa sakit. "Barangkali dia sedang main layang-layang menyenangkan diri," katanya pada diri sendiri. Pikiran itu membuatnya sedikit kesal.

Mungkin Jotaro-lah yang justru menunggu. Memang Otsu tidak kembali ke rumah Karasumaru, walaupun ia berjanji kepada Jotaro akan segera kembali.

Sekarang Otsu tak dapat pergi ke mana-mana, karena dilarang meninggalkan penginapan tanpa izin Osugi. Osugi rupanya minta kepada pemilik penginapan dan para pembantu untuk mengawasinya. Baru ia memandang ke jalan saja orang sudah bertanya, "Engkau akan pergi, Otsu?" Pertanyaan dan nada pertanyaan itu terasa polos, tapi ia mengerti maknanya. Satu-satunya jalan baginya untuk mengirimkan surat adalah dengan mempercayakannya kepada orang-orang penginapan, yang sudah diberi instruksi untuk menyimpan baik-baik surat apa saja yang mungkin hendak dikirimnya.

Osugi cukup terkenal di wilayah itu, dan orang di situ gampang disuruh melaksanakan perintahnya. Sebagian pemilik warung, pemikul tandu, dan kusir gerobak di sekitar tempat itu ikut menyaksikan aksi Osugi tahun lalu ketika ia menantang Musashi di Kiyomizudera. Melihat sifatnya yang gampang marah itu, mereka memandangnya dengan perasaan kagum bercampur kasihan.

Ketika Otsu sekali lagi hendak menyelesaikan jahitan pakaian perjalanan Osugi yang telah dilepas jahitannya untuk dicuci, sebuah bayangan muncul di luar. Ia mendengar suara yang tak dikenalnya mengatakan, "Ah, apa saya keliru?"

Seorang perempuan muda masuk gang dari jalan, dan waktu itu sedang berdiri di bawah potion prem antara dua petak tanaman bawang. la kelihatan bingung, sedikit malu, tapi enggan kembali.

"Apa ini bukan penginapan? Ada lentera di pintu masuk gang, menyatakan ini penginapan," katanya kepada Otsu.

Hampir Otsu tak dapat mempercayai matanya, dan demikian menyakitkan kenangan yang tiba-tiba timbul padanya.

Dengan nada bersalah, Akemi bertanya malu-malu, "Boleh tanya, yang mana yang penginapan?" Kemudian, ketika ia menoleh ke sekitar, terlihat olehnya kembang prem dan ia berseru, "Aduh, bukan main bagusnya!"

Otsu memandang saja gadis itu tanpa menjawab.

Seorang pegawai yang dipanggil salah seorang gadis dapur datang terburuburu melewati sudut penginapan. "Engkau mencari jalan masuk?" tanyanya.

"Ya."

"Di sudut situ, sebelah kanan gang."

"Penginapan ini langsung menghadap jalan itu?"

"Betul, tapi kamar-kamarnya tenang."

"Saya ingin tempat yang dapat dipakai keluar-masuk tanpa dilihat orang. Saya pikir tadinya penginapan ini jauh dari jalan. Apa rumah kecil itu bukan bagian dari penginapan?"

"Ya."

"Kelihatannya tenang dan enak."

"Kami ada juga kamar-kamar yang sangat enak di bangunan utama."

"Kelihatannya ada perempuan yang meninggalinya, tapi apa tak bisa saya tinggal di sana juga?"

"Tapi di situ ada lagi seorang nyonya. Dia sudah tua dan agak penggugup.

"Ah, tak apa-apa, asal dia mau."

"Akan saya tanya dia, kalau nanti kembali. Lagi pergi sekarang."

"Boleh saya minta kamar buat istirahat sambil menanti?"

"Tentu saja."

Pegawai itu mengantar Akemi turun gang, meninggalkan Otsu. Otsu menyesal kenapa ia tidak menggunakan kesempatan tadi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Alangkah baiknya kalau ia bisa sedikit lebih agresif pikirnya sedih.

Untuk meredakan rasa cemburunya, berkali-kali Otsu mencoba meyakinkan dirinya bahwa Musashi bukan jenis lelaki yang biasa main-main dengan perempuan lain. Tetapi sejak hari itu ia jadi kecil hati. "Dia lebih banyak punya kesempatan berada dekat Musashi.... Barangkali dia jauh lebih pandai dari aku, dan lebih tahu bagaimana merebut hati lelaki."

Sebelum hari itu, kemungkinan adanya perempuan lain tidak terlintas dalam pikirannya. Sekarang ia sibuk memikirkan hal yang menurut anggapannya merupakan kelemahannya sendiri. "Aku tidak cantik.... Dan tidak cemerlang.... Aku tak punya orangtua atau sanak keluarga yang menunjangku dalam perkawinan." Kalau ia membandingkan dirinya dengan perempuan lain, terasa olehnya cita-cita hidupnya itu sesungguhnya berada di luar jangkauannya. Adalah suatu kesombongan memimpikan Musashi sebagai miliknya. Dan ia tak dapat lagi mengarahkan keberanian seperti yang pernah memungkinkannya memanjat pohon kriptomeria tua di tengah badai besar itu.

"Alangkah baiknya kalau aku mendapat bantuan Jotaro!" demikian sesalnya. Ia bahkan membayangkan dirinya telah kehilangan kemudaannya. "DI Shippoji itu aku masih memiliki sebagian dari kepolosan yang sekarang ada pada Jotaro. Itu sebabnya waktu itu aku dapat membebaskan Musashi." Dan ia menangis bersama jahitannya.



"Kamu di situ, Otsu?" tanya Osugi angkuh. "Apa kerjamu duduk dalam gelap itu?"

Senja telah turun, tapi gadis itu tidak menyadarinya, "Oh, akan saya menyalakan lampu sekarang juga," katanya minta maaf sambil bangkit dan kemudian pergi ke kamar kecil di belakang.

Ketika akhirnya ia masuk dan duduk, Osugi melemparkan pandangan dingin ke punggung Otsu.

Otsu meletakkan lampu di samping Osugi dan membungkuk. "Nenek tentunya lelah," katanya. "Apa yang Nenek lakukan tadi?"

"Kau mestinya tahu, tanpa mesti tanya."

“Bagaimana kalau saya pijat kaki Nenek?"

"Kakiku tidak begitu capek, tapi bahuku kaku sudah empat atau lima hari terakhir ini. Barangkali karena udara. Kalau mau pijatlah sedikit." Kepada diri sendiri ia menyatakan ia mesti bersabar menghadapi gadis mengerikan ini sebentar lagi, sampai nanti ia bertemu Matahachi dan menyuruhnya membereskan cacat cela masa lalu itu.

Otsu berlutut di belakangnya dan mulai memijat bahunya. "Memang kaku bahunya. Tentunya sakit buat bernapas."

"Kadang-kadang rasanya dadaku tersumbat. Tapi aku memang sudah tua. Tak lama lagi barangkali aku dapat serangan jantung dan mati."

"Ah, tak akan terjadi. Nenek punya lebih banyak semangat hidup daripada kebanyakan orang muda."

"Mungkin juga, tapi aku teringat Paman Gon. Dia masih segar bugar waktu itu, tapi kemudian semua itu lewat dalam sedetik. Manusia memang tak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Tapi tak ada yang keliru tentang satu hal itu. Supaya aku tetap menjadi diriku, aku mesti berpikir tentang Musashi."

"Dugaan Nenek tentang Musashi itu keliru. Dia bukan orang jahat."

"Ya, ya, betul," kata perempuan tua itu, mendengus sedikit. "Biar bagaimana, dia lelaki yang begitu kaucintai, sampai kau meninggalkan anakku. Sudahlah, aku takkan bicara jelek tentang dia padamu."

“Oh, bukan itu maksud saya!"

“Bukan, begitu? Kau lebih cinta pada Musashi daripada pada Matahachi, kan? Kenapa tidak diakui saja?"

Otsu terdiam, dan perempuan itu melanjutkan, "Kalau nanti kita temukan Matahachi, aku akan bicara dengan dia dan memutuskan semuanya sesuai dengan keinginanmu. Tapi kukira sesudah itu kau akan langsung lari kepada Musashi dan selanjutnya kalian berdua memfitnah kami."

"Kenapa Nenek berpikir begitu? Saya bukan manusia macam itu. Saya takkan melupakan banyak hal yang telah Nenek lakukan untuk saya di walau lalu."

“Begitulah cara gadis-gadis muda sekarang bicara! Tak tahulah bagaimana kamu bisa bicara begitu manis. Aku sendiri orang jujur. Aku tak dapat menvembunyikan perasaanku dengan kata-kata halus. Kau tahu, kalau kau kawin dengan Musashi, kau jadi musuhku. Ha, ha, ha! Tentunya menjengkelkan memijat bahuku ini."

Otsu tak menjawab.

"Kenapa kau menangis?"

"Saya tidak menangis."

"Air apa yang jatuh ke leherku?"

"Maaf. Saya tak tahan."

"Hentikan! Rasanya seperti bangsat merayap ke sana kemari. Tak usah lagi merana karena Musashi dan keraskan pijatanmu!"

Di halaman tampak cahaya. Otsu mengira itu pelayan yang biasanya membawa makan malam mereka sekitar waktu itu, tapi ternyata seorang pendeta.

"Maaf," katanya sambil masuk beranda. "Apa ini kamar Nyonya Hon' iden? Oh, Nyonya sendiri." Lentera yang dibawanya bertulisan "Kiyomizudera di Gunung Otowa".

"Baiklah saya jelaskan," mulainya. "Saya pendeta dari Shiando, di atas bukit sana." Ia turunkan lentera dan ia ambil surat dari dalam kimononya. "Saya tak kenal orang itu, tapi petang tadi, sebelum matahari terbenam, seorang ronin datang ke kuil dan bertanya apakah seorang wanita tua dari Mimasaka ada di sana. Saya katakan tidak, tapi seorang pemuja taat menjawab bahwa Anda kadang-kadang memang datang. Dia lalu minta kuas dan menulis surat ini. Dia minta saya menyerahkannya pada wanita itu kalau datang. Saya mendengar Nyonya tinggal di sini, dan karena saya dalam perjalanan ke Jalan Gojo, saya singgah menyampaikannya kepada Nyonya."

"Terima kasih banyak," kata Osugi hormat. Ia menawarkan bantal kepada tamu itu, tapi pendeta itu langsung minta diri.

"Apa pula ini?" pikir Osugi. Ia buka surat itu. Sementara membaca, warna mukanya berubah.

"Otsu," panggilnya.

"Ada apa, Nek?" jawab gadis itu dari kamar belakang.

"Tak usah menyuguhkan teh. Dia sudah pergi."

"Sudah? Kalau begitu Nenek saja yang minum."

"Berani-berani kamu menyuguhi aku teh yang kamu buat untuk dia! Aku bukan comberan. Lupakan teh itu, dan sekarang berpakaian!"

"Apa kita akan pergi?"

"Ya. Malam ini kita akan sampai di tempat yang kamu harapkan."

"Oh, kalau begitu surat itu dari Matahachi."

"Bukan urusanmu."

"Baiklah, saya akan minta orang menyiapkan makan malam."

"Apa kamu belum makan?"

"Belum, saya menanti Nenek datang tadi."

"Kamu memang tolol. Aku sudah makan waktu pergi tadi. Nah, makanlah nasi dan acar. Tapi cepat!"

Ketika Otsu berangkat ke dapur, kata perempuan tua itu, "Di gunung akan dingin nanti malam. Apa kamu sudah selesai menjahit jubahku?"

"Sedikit lagi saya selesaikan jahitan kimono Nenek."

"Yang kubicarakan bukan kimono, tapi jubah. Sudah kuminta tadi kamu mengerjakannya juga. Dan apa sudah kaucuci kausku? Tali sandalku itu kendur. Ambil yang baru."

Perintah-perintah itu datang begitu bertubi-tubi, hingga tak sempat Otsu menjawab, apalagi menuruti, namun ia merasa tak berdaya untuk berontak.

Semangatnya seperti runtuh, takut, dan putus asa menghadapi perempuan tua jelek itu. Makanan tak sempat pula dimakan. Dalam beberapa menit saja Osugi sudah menyatakan siap berangkat.

Sambil meletakkan sandal baru di beranda, kata Otsu, "Nenek berangkat saja dulu. Saya menyusul."

"Kamu bawa lentera?"

"Tidak."

"Dungu! Jadi, maumu aku tersandung-sandung di sisi glinting itu tanpa lampu? Pinjam sana sama penginapan."

"Maaf, saya tak ingat."

Otsu ingin tahu ke mana mereka akan pergi, tapi ia tidak bertanya, karena tahu hal itu akan membangkitkan kemarahan Osugi. Ia mengambil lentera, lalu berjalan diam mendahului di muka, mendekati Bukit Sannen. Walaupun mendapat macam-macam hal menjengkelkan, ia tetap merasa riang. Surat itu tentunya dari Matahachi, dan ini berarti masalah yang telah mengganggunya bertahun-tahun lamanya akan terpecahkan malam itu. "Begitu semuanya sudah dibicarakan," demikian pikirnya, "aku akan pergi ke rumah Karasumaru. Aku mesti ketemu Jotaro."

Mendaki bukit itu bukan pekerjaan ringan. Mereka harus berjalan hatihati menghindari batu-batu jatuhan dan lubang-lubang di tengah jalan. Di tengah ketenangan alam itu, air terjun terdengar lebih keras daripada di slang hari.

Beberapa waktu kemudian Osugi berkata, "Aku yakin ini tempat suci buat dewa gunung ini. Oh, ini papan namanya, 'Pohon Ceri Dewa Gunung'."

"Matahachi!" panggilnya ke tengah kegelapan. "Matahachi! Ibu di sini!" Suara yang gemetar dan wajah yang penuh ungkapan kecintaan ibu itu terasa bagai wahyu bagi Otsu. Ia tak pernah menduga akan melihat Osugi demikian tenggelam dalam keprihatinan terhadap anaknya.

"Jangan sampai lentera itu mati!" bentak Osugi.

"Akan saya jaga," jawab Otsu penuh tanggung jawab.

Perempuan tua itu menggerutu dan terengah-engah. "Dia tak ada. Dia betul-betul tak ada." Ia sudah mengelilingi pekarangan kuil, tapi dikelilinginya sekali lagi.

"Dalam surat dia bilang aku mesti datang ke aula Dewa Gunung."

"Apa dikatakannya malam ini?"

"Dia tidak bilang malam ini atau besok atau kapan lagi yang lain. Aku ingin lihat juga, apa dia jadi lebih besar. Heran juga, kenapa dia tidak datang ke penginapan. Barangkali dia malu karena kejadian di Osaka itu.'

Otsu menarik lengan kimononya, katanya, "Ssst! Barangkali itu dia. Ada orang naik bukit."

"Kamu itu, Matahachi?" tanya Osugi.

Orang itu melewati mereka tanpa menoleh dan langsung menuju belakang kuil kecil itu. Tapi sebentar kemudian ia kembali dan berhenti di samping mereka dan menatap muka Otsu dengan terang-terangan. Ketika ia lewat tadi, Otsu tak mengenalinya, tapi sekarang ia ingat-dialah samurai yang dulu duduk di bawah jembatan pada Hari Tahun Baru.

"Kalian berdua baru saja naik?" kata Kojiro.

Pertanyaan itu demikian mendadak, hingga baik Otsu atau Osugi tak menjawab. Keheranan mereka menjadi lengkap melihat pakaian Kojiro yang sangat mencolok itu.

Sambil menudingkan jari ke wajah Otsu, lanjut Kojiro, "Aku mencari gadis yang seumurmu. Namanya Akemi. Lebih kecil daripada kau, dan wajahnva sedikit lebih bundar. Dia terlatih kerja di warung teh, dan tingkahnya sedikit lebih dewasa dari umurnya. Apa kalian melihat dia di sekitar sini?"

Mereka menggelengkan kepala, tak menjawab.

"Aneh sekali. Ada yang bilang dia kelihatan di tempat ini. Aku yakin dia menginap di salah satu ruangan kuil." Ia menunjukkan perhatian pada mereka, tapi sepertinya ia bicara kepada diri sendiri. Kemudian ia menggumamkan beberapa kata lagi dan pergi.

Osugi mendecapkan lidahnya. "Satu lagi manusia sampah. Pedangnya dua, jadi mestinya samurai, tapi coba kaulihat pakaiannya! Dan mencari perempuan pula malam begini! Mestinya dia sudah melihat sendiri, kita bukan orang yang dicarinya."

Otsu tidak mengatakannya kepada Osugi, tapi ia menduga keras gadis yang dicari orang itu adalah yang tersesat di penginapan sore tadi. Hubungan apakah yang ada antara Musashi dan gadis itu dengan orang ini?

"Mari kita pulang," kata Osugi, suaranya terdengar kecewa dan pasrah.

Di depan Hongando, di mana pernah terjadi konfrontasi antara Osugi dan Musashi, mereka berpapasan lagi dengan Kojiro. Kojiro memandang mereka dan mereka memandangnya, tapi tak terjadi percakapan. Osugi melihat orang itu naik ke Shiando, kemudian membelok dan berjalan langsung turun Bukit Sannen.

"Mata orang itu menakutkan," bisik Osugi. "Macam mata Musashi.Justru pada waktu itu mata Osugi melihat gerakan samar, dan bahunya yang bungkuk itu tersentak tegak. "Oww!" pekiknya seperti burung hantu. Dari belakang pohon kriptomeria besar kelihatan tangan memanggil.

"Matahachi," bisik Osugi. Terpikir olehnya, sungguh mengharukan bahwa Matahachi tak mau dilihat orang lain kecuali ibunya sendiri.

Ia berseru kepada Otsu yang sekarang delapan belas atau dua puluh meter di bawahnya. "Kamu jalan saja terus, Otsu. Tapi jangan jauh-jauh. Tunggu aku di tempat yang namanya Chirimazuka. Beberapa menit lagi aku datang."

"Baik," kata Otsu.

"Tapi jangan pergi ke mana-mana! Aku melihatmu. Tak perlu kamu lari."

Osugi cepat-cepat lari ke pohon itu. "Matahachi, apa itu kamu?"

"Ya, Bu." Tangan Matahachi keluar dari kegelapan dan menggenggarn tangan ibunya, seakan-akan sudah bertahun-tahun ia menantikan pertemuan itu.

"Apa kerjamu di belakang pohon itu? Oh, tanganmu dingin seperti es!" Hampir ia mencucurkan air mata merasakan kekuatirannya sendiri.

"Aku mesti sembunyi," kata Matahachi, sedangkan matanya gugup memandang ke sana kemari. "Orang yang lewat tempat ini semenit yang lalu, Ibu lihat, kan?"

"Orang yang pakai pedang panjang itu?"

"Ya."

"Apa kamu kenal dia?"

"Boleh dibilang begitu. Orang itu Sasaki Kojiro."

"Apa? Bukan kamu yang Sasaki Kojiro?"

"Hah?"

"Di Osaka kautunjukkan padaku sertifikat. Nama itu tertulis di sertifikat itu. Itu nama yang kaupakai, kan?"

"Begitu, ya? Ah, tidak benar itu.... Tadi, ketika dia naik, kulihat dia. Kojiro sudah bikin aku susah beberapa hari yang lalu, karena itu aku sembunyi menghindari dia. Kalau dia kembali lewat jalan ini, aku bisa kesulitan."

Osugi demikian terguncang, hingga tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Tapi ia lihat Matahachi lebih kurus daripada sebelumnya. Hal itu, dan ditambah lagi kegelisahan anaknya, membuatnya lebih mencintainya lagisetidaknya untuk sementara waktu.

Dengan pandangan yang menyatakan tak ingin mendengar cerita seluruhnya, katanya, "Semua itu tak apa-apa. Sekarang coba katakan, Nak, apa kau sudah tahu Paman Gon meninggal?"

"Paman Gon...?

"Ya, Paman Gon. Dia meninggal di sana itu, di Pantai Sumiyoshi, tepat sesudah engkau meninggalkan kami."

"Aku belum dengar."

"Yah, begitulah kejadiannya. Persoalannya sekarang, apa engkau memahami kematiannya yang tragis itu, dan kenapa aku meneruskan misi yang panjang dan sedih ini, biarpun umurku sudah setua ini."

"Ya, hal itu sudah terukir dalam pikiranku sejak malam di Osaka, ketika Ibu... mengingatkan aku tentang kekurangan-kekuranganku."

"Jadi, engkau ingat, ya? Nah, sekarang aku punya berita untukmu, berita yang akan bikin kau senang."

"Berita apa itu?"

"Otsu."

"Oh! Gadis yang dengan Ibu itu!"

Matahachi mulai berjalan mengitari ibunya, tetapi Osugi menghadang jalannya dan tanyanya mencela, "Ke mana engkau pergi?"

"Kalau dia Otsu, ingin aku bertemu dengan dia. Begitu lama sudah." Osugi mengangguk. "Kubawa dia kemari dengan maksud menyuruhmu bertemu dengannya. Tapi coba katakan pada ibumu ini, apa rencanamu?"

"Akan kusampaikan kepadanya aku menyesal. Aku sudah memperlakukan dia dengan buruk sekali, dan kuharap dia memaafkan aku."

"Sudah itu?"

"Kemudian... nah, kemudian akan kukatakan aku takkan berbuat kesalahan macam itu lagi. Ibu katakanlah juga begitu padanya atas namaku."

"Lalu apa lagi?"

"Lalu akan seperti sebelumnya."

"Apa yang akan seperti sebelumnya?"

"Aku dan Otsu. Aku ingin bertemu lagi dengan dia. Aku ingin mengawini dia. Oh, ibu, apa menurut Ibu dia masih..."

"Anak tolol!" Dan ditamparnya Matahachi keras-keras.

Matahachi rebah dan memegang pipinya yang pedas. "K—Kenapa, Bu, ada apa?" gagapnya.

Osugi tampak lebih marah dari yang pernah ia lihat semenjak ia disapih. Geramnya, "Baru saja engkau meyakinkan ibumu takkan melupakan apa yang kukatakan di Osaka, kan?"

Matahachi menundukkan kepala.

"Apa pernah aku bicara tentang minta maaf kepada anjing yang tak ada gunanya itu? Bagaimana mungkin engkau mohon maaf kepada setan perempuan itu, sesudah dia membuang dirimu dan lari dengan lelaki lain? Kau akan bertemu dengan dia, bolehlah, tapi kau tak boleh minta maaf! Sekarang dengarkan aku!" Osugi menangkap Matahachi dengan kedua tangannya dan mengguncangkannya. Dengan kepala terombang-ambing, Matahachi menutup matanya, dan dengan takut-takut mendengarkan cacian yang panjang sekali.

"Apa ini?" jerit Osugi. "Kau nangis? Kau masih cinta pada pelacur itu, sampai engkau menangisinya? Kalau betul begitu, engkau bukan anakku!" Dibantingnya Matahachi ke tanah, kemudian ia sendiri pun rebah.

Beberapa menit lamanya keduanya duduk menangis.

Tetapi kesedihan Osugi tak dapat lama berada di permukaan. Ia berdiri, katanya, "Sudah saatnya kau mengambil keputusan. Aku takkan lama lagi hidup. Dan kalau aku mati, kau takkan dapat bicara denganku macam ini, biarpun kau ingin.

"Pikirkan, Matahachi. Otsu bukan satu-satunya gadis di dunia ini." Kemudian suaranya menjadi lebih tegang. "Kau tak boleh membiarkan dirimu merasa terikat kepada orang yang sudah berbuat seperti dia itu. Cari gadis yang kau sukai dan aku akan menjemputnya untukmu, biarpun aku terpaksa mengunjungi orangtuanya sampai seratus kali—biarpun akan bikin aku lelah dan mati."

Matahachi tetap murung dan diam.

"Lupakan Otsu, demi nama Hon'iden. Apa pun jalan pikiranmu, dia tak dapat diterima dari sudut keluarga. Jadi, kalau engkau sama sekali tak dapat lepas dari dia, potong saja kepalaku yang sudah tua ini. Sudah itu kau dapat berbuat semaumu. Tapi selama aku masih hidup..."

"Sudah, Bu!"

Dahsyatnya nada Matahachi itu membuat bulu kuduk Osugi meremang. "Kau berani sekali membentakku!"

"Coba sekarang Ibu jawab: perempuan yang akan kukawini itu akan menjadi istriku atau istri Ibu?"

"Tolol sekali omonganmu itu!"

"Tapi kenapa aku tak boleh memilih sendiri?"

"Nah, nah. Sejak dulu kau memang keras kepala. Kaupikir berapa umurmu itu? Kau bukan lagi anak-anak, atau kau sudah lupa?"

"Tapi... yah, memang betul Ibu ini ibuku, tapi Ibu terlalu banyak menuntut dariku. Itu tak adil."

Perbedaan pendapat di antara mereka memang sering kali seperti itu, dimulai dengan bentrokan perasaan keras, diikuti oleh bergulatnya perlawanan yang keras pula. Saling pengertian sudah runtuh sebelum sempat tumbuh.

"Itu tak adil?" desis Osugi. "Kau pikir kau itu anak siapa? Kau pikir dari perut siapa engkau lahir?"

"Tak ada gunanya bicara macam itu, Bu. Aku mau kawin dengan Otsu! Dialah orang yang kucintai!" Karena tak tahan melihat kerutan dahi ibunya yang kelabu itu, Matahachi menujukan kata-katanya ke langit.

"Anakku, apa betul yang kau katakan itu?" Osugi menarik pedang pendeknya dan mengacungkan mata pedang itu ke tenggorokannya sendiri.

"Bu, apa yang Ibu lakukan ini?"

"Cukuplah. Jangan coba mencegahku! Sekarang tunjukkan kesopananmu dan berikan padaku tusukan terakhir."

"Jangan lakukan itu di depanku! Aku anakmu! Aku tak bisa berdiri di sini membiarkan Ibu berbuat begitu!"

"Baik. Mau tidak kau meninggalkan Otsu-sekarang juga?'

"Kalau itu yang Ibu inginkan dariku, kenapa Ibu bawa dia kemari? Kenapa Ibu menggodaku dengan memamerkannya di depanku? Tak mengerti aku."

"Coba dengar, buatku gampang sekali membunuh dia, tapi kau yang rugi. Sebagai ibumu, kupikir lebih baik kuserahkan padamu pelaksanaan hukuman itu. Menurutku, engkau pasti berterima kasih karenanya."

"Ibu minta aku membunuh Otsu?"

"Kau tidak mau, ya? Kalau memang tidak mau, katakan tak mau! Tapi bulatkan pikiranmu!"

"Tapi... tapi, Bu..."

"Jadi, kau masih tak dapat meninggalkan dia, kan? Baik, kalau memang begitu perasaanmu, engkau bukan anakku, dan aku bukan ibumu. Kalau kau tak bisa memotong kepala perempuan nakal itu, paling tidak penggal kepalaku ini! Jatuhkan tebasan terakhir!"

Anak-anak memang bisa merepotkan orangtuanya, tapi kadang-kadang sebaliknya yang terjadi, demikian renung Matahachi. Osugi tidak hanya membuatnya takut, melainkan juga telah menempatkannya pada kedudukan yang paling sukar dalam hidupnya. Pandangan liar pada wajah ibunya itu sungguh mengguncangkannya.

"Bu, berhenti! Jangan lakukan! Baik, akan kulakukan kemauan Ibu. Akan kulupakan Otsu!"

"Cuma itu?"

"Aku akan menghukum dia. Aku berjanji akan menghukum dia dengan tanganku sendiri."

"Kau akan membunuhnya?"

"Ah, ya, aku akan membunuhnya."

Dengan penuh kemenangan Osugi menangis gembira. Sambil menyingkirkan pedangnya, ia mencekal tangan anaknya. "Bagus! Sekarang kau sudah kelihatan seperti calon kepala Keluarga Hon'iden. Leluhurmu akan bangga denganmu."

"Apa betul begitu menurut Ibu?"

"Pergi laksanakan sekarang! Otsu menunggu di bawah sana, di Chirimazuka. Cepat!"

Mm.

"Akan kita kirimkan surat ke Shippoji bersama kepalanya. Dari situ semua orang di kampung akan tahu aib kita sudah berkurang separuh. Dan kalau Musashi mendengar Otsu mati, harga dirinya memaksanya datang pada kita. Betapa hebat!... Matahachi, cepat!"

"Ibu tunggu aku di sini, kan?"

"Tidak. Aku ikut kamu, tapi dari tempat yang tidak kelihatan. Kalau nanti Otsu melihatku, dia akan merengek supaya aku ingat janjiku. Kalau begitu bisa kikuk."

"Ah, dia kan cuma perempuan tak berdaya," kata Matahachi sambil bangkit pelan-pelan. "Tak ada susahnya membereskan dia, jadi lebih baik Ibu tinggal di sini saja. Akan kubawa ke sini kepalanya. Tak perlu kuatir. Takkan kubiarkan dia lolos."

"Tapi bisa saja kau kurang hati-hati. Memang dia cuma perempuan, tapi kalau melihat mata pedangmu, dia bisa melawan."

"Tak usah kuatir. Ini soal gampang."

Sambil menguatkan hatinya, berangkatlah Matahachi turun bukit; ibunya berjalan di belakang dengan wajah kuatir. "Ingat," katanya, "jangan sampai kurang waspada!"

"Ibu masih ikut? Kupikir Ibu akan tinggal di tempat yang kelihatan." "Chirimazuka masih jauh di bawah sana."

"Aku tahu, Bu! Kalau Ibu mau terus juga, pergi saja sendiri. Aku tunggu di sini."

"Kenapa pula kamu ragu-ragu?"

"Dia manusia. Kan sukar aku menyerangnya kalau aku merasa seperti membunuh anak kucing tak berdosa?"

"Aku mengerti perasaanmu. Walaupun tidak setia, dia dulu tunanganmu. Baiklah, kalau kau tak ingin kuawasi, pergilah sendiri. Aku tinggal di sini." Matahachi pergi tanpa mengucapkan apa pun.

Otsu semula bermaksud melarikan diri, tapi kalau ia melarikan diri, segala kesabaran yang telah ditahankannya selama dua puluh hari itu akan sia-sia. Ia memutuskan bertahan sebentar lagi. Untuk melewatkan waktu, ia memikirkan Musashi, kemudian Jotaro. Cintanya kepada Musashi menyalakan berjuta-juta bintang terang dalam hatinya. Ia menghitung berbagai harapan yang dicita-citakannya bagi masa depannya, seakan dalam mimpi. Dan terkenang olehnya janji-janji Musashi kepadanya-di Celah Nakayama, di Jembatan Hanada. Sekalipun bertahun-tahun telah berlalu, ia percaya dengan segenap hatinya bahwa Musashi takkan meninggalkannya.

Kemudian bayangan Akemi datang mengganggunya, menggelapkan harapan-harapannya dan membuatnya gelisah. Tapi cuma sesaat. Rasa takutnya pada Akemi tidak berarti dibandingkan dengan kepercayaannya yang tak terbatas kepada Musashi. Ia ingat pula, Takuan pernah mengatakan ia mesti dikasihani. Tapi itu tak ada artinya. Bagaimana mungkin Takuan memandang kegembiraannya yang abadi itu dalam arti demikian?

Sekarang pun, ketika ia berada di tempat sepi menantikan orang yang tak ingin ia lihat, impiannya yang mengasyikkan mengenai masa depan tetap menguatkannya agar dapat menahan derita macam apa pun.

"Otsu!"

"Siapa... itu?" kata Otsu.

"Hon'iden Matahachi."

"Matahachi?" gagap Otsu.

"Kau sudah lupa suaraku?"

"Tidak, aku ingat lagi sekarang. Kau sudah ketemu ibumu?"

"Ya, dia menungguku. Kau tidak berubah, ya? Kau kelihatan seperti waktu di Mimasaka."

"Kau di mana? Begini gelap, sampai aku tak lihat."

"Boleh aku lebih dekat? Aku berdiri di sini. Aku malu sekali berhadapan denganmu. Apa yang kaupikirkan tadi?"

"Oh, tidak ada, tak ada yang khusus."

"Kau memikirkan aku, ya? Aku tak pernah tidak memikirkan engkau." Ketika Matahachi pelan-pelan mendekatinya, Otsu merasa sedikit kuatir.

"Matahachi, apa ibumu sudah menjelaskan semuanya?"

"Sudah."

"Nah, karena engkau sudah mendengar semuanya," kata Otsu puas sekali, "cobalah kau memahami perasaanku, tapi aku sendiri minta kau meninjau soal-soal itu dari sudut pandangku. Mari kita lupakan masa lalu. Semua itu tak disengaja."

"Ah, jangan seperti itu, Otsu." Matahachi menggeleng. Walaupun ia tak tahu apa yang disampaikan ibunya pada Otsu, tapi ia merasa cukup yakin hal itu dimaksudkan untuk menipu Otsu. "Sakit rasanya kalau masa lalu disebut-sebut. Sukar bagiku menegakkan kepala di depanmu. Tapi karena sebab-sebab tertentu, tak mungkin aku berpikir akan melepaskan engkau."

"Matahachi, gunakan akalmu. Tak ada apa pun sekarang antara hatimu dan hatiku. Kita dipisahkan oleh lembah yang besar."

"Betul. Dan lebih dari lima tahun lewat lembah itu."

"Tepat. Tahun-tahun itu tak akan kembali lagi. Tak ada jalan untuk menangkap kembali perasaan yang pernah kita punyai."

"Oh, tidak! Kita dapat menangkapnya kembali! Kita dapat!"

"Tidak, semuanya sudah hilang buat selamanya."

Matahachi menatapnya, takjub oleh dinginnya wajah Otsu dan tandasnya nada bicaranya. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah itu gadis yang dahulu seperti sinar matahari musim semi apabila sudah mau mengungkapkan perasaan cintanya? Kini ia merasa seperti sedang mengusap batu pualam putih yang bersalju. Di manakah sikap keras ini tersembunyi di masa lalu?

Teringat olehnya beranda Shippoji. Teringat olehnya Otsu duduk di sana dengan mata jernih melamun, sering sampai setengah hari atau lebih, diam meninjau ke ruang kosong. Seakan di tengah awan-awan itu ia melihat ayah-ibunya, melihat saudara-saudaranya.

Matahachi lebih mendekat lagi. Dengan sikap takut-takut, seperti sedang berada di tengah duri ketika memetik kuncup mawar putih, bisiknya, "Mari kita coba lagi, Otsu. Memang tak ada jalan mengembalikan lima tahun yang sudah lewat itu, tapi marilah kita mulai lagi, sekarang ini, kita berdua."

"Matahachi," kata Otsu tenang, "apa engkau berkhayal? Aku bukan bicara tentang panjangnya waktu, aku bicara tentang jurang yang memisahkan hati kita, hidup kita."

"Aku tahu. Tapi yang kumaksud adalah mulai sekarang ini juga aku hendak merebut kembali cintamu. Barangkali tak perlu aku mengatakan hal itu, tapi apakah kesalahan yang kuperbuat bukan kesalahan hampir setiap pemuda?"

"Bicaralah semaumu, tapi aku tak akan dapat lagi menerima kata-katamu dengan sungguh-sungguh."

"Otsu, aku tahu aku salah! Aku lelaki, tapi lihatlah, aku minta maaf pada seorang perempuan. Apa engkau tak mengerti, betapa berat ini bagiku?"

"Hentikan! Kalau kau seorang lelaki, kau mesti berbuat seperti lelaki."

"Tapi tak ada di dunia ini yang lebih penting bagiku. Kalau kau mau, aku akan berlutut dan memohon maaf padamu. Aku berikan sumpahku. Aku mau bersumpah demi apa pun yang kausukai."

"Tak peduli aku, apa yang kaulakukan!"

"Kuminta jangan engkau marah. Lihatlah, ini bukan tempat buat bicara. Mari kita pergi ke tempat lain."

"Tidak."

"Aku tak mau ibuku melihat kita. Mari kita pergi. Aku tak dapat membunuhmu. Mana bisa aku membunuhmu."

Matahachi memegang tangannya, tapi Otsu melepaskannya. "Jangan sentuh aku!" teriaknya marah. "Lebih baik aku dibunuh daripada hidup denganmu!"

"Kau tak mau pergi denganku?"

"Tidak, tidak, tidak."

"Itu keputusan terakhir?"

"Ya!"

"Artinya kau masih cinta pada Musashi?"

"Ya, aku cinta padanya. Aku akan mencintainya dalam hidup ini dan hidup yang akan datang."

Tubuh Matahachi menggeletar. "Bukan begitu mestinya kau bicara, Otsu."

"Ibumu sudah tahu. Dan dia bilang akan menyampaikannya padamu. Dia berjanji kita akan membicarakan ini bersama-sama dan mengakhiri masa lalu itu."

"Oh, begitu. Dan kukira Musashi memerintahkan engkau menemuiku dan menyampaikan semua itu! Begitu, kan?"

"Tidak, tidak begitu! Musashi tak perlu menyuruhku melakukan apa pun."

"Kau tahu aku punya harga diri. Semua lelaki punya harga diri. Kalau memang begitu perasaanmu terhadapku..."

"Apa yang akan kaulakukan?" teriak Otsu.

"Aku lelaki juga seperti Musashi. Kalau soal ini menyeret seluruh hidupku, akan kucegah kau bersatu dengan dia. Takkan kuizinkan!"

"Memangnya kau siapa, sampai mesti memberi izin?"

"Takkan kubiarkan kau kawin dengan Musashi! Ingat, Otsu, bukan Musashi tunanganmu."

"Kau bukan orang yang mesti mengemukakan hal itu."

"Kenapa tidak? Engkau dijanjikan jadi istriku. Tak bisa kau kawin dengan siapa pun, kalau aku tidak menyetujui."

"Kau pengecut, Matahachi! Aku kasihan padamu. Bagaimana kau bisa menurunkan derajat seperti itu? Sudah lama aku menerima surat darimu dan dari perempuan yang namanya Oko itu, yang isinya memutuskan pertunangan."

"Aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Aku tidak mengirimkan surat itu. Oko mestinya yang melakukannya, atas namanya sendiri."

"Bohong. Satu surat ditulis dengan tulisanmu sendiri, dan mengatakan aku mesti melupakanmu dan mencari orang lain sebagai suami."

"Mana surat itu? Tunjukkan itu padaku!"

"Tak ada lagi. Ketika Takuan membacanya, dia tertawa dan membuang ingus dengannya, dan membuangnya."

"Dengan kata lain, engkau tak punya bukti, dan tak seorang pun akan mempercayaimu. Semua orang di kampung tahu kau tunanganku. Aku punya segala bukti untuk itu, sedangkan kau tidak. Ingat. Otsu, kalau kau memutuskan diri dari semua orang agar dapat bersatu dengan Musashi, kau takkan pernah bahagia. Rupanya Oko mengganggumu, tapi aku bersumpah, tak ada lagi sama sekali hubunganku dengan dia."

"Kau buang-buang waktu saja."

"Kau tak mau mendengarkan, biarpun aku minta maaf?"

"Matahachi, apa tadi kau tidak menyombongkan diri sebagai lelaki? Kenapa kau tidak berbuat sebagai lelaki? Tak ada perempuan yang mau menyerahkan hatinya kepada orang yang lemah, tak tahu malu, dan pengecut yang suka berbohong. Perempuan tidak kagum pada orang lemah."

"Jaga kata-katamu!"

"Lepaskan aku! Lengan kimonoku sobek nanti!"

"Sundal plin-plan... kamu!"

"Hentikan!"

"Kalau kau sayang hidupmu, berjanjilah akan meninggalkan Musashi!" Matahachi melepaskan lengan kimono Otsu untuk menarik pedangnya. Dan sekali sudah ditarik, pedang itu seperti menguasainya. Ia seperti kesetanan, matanya memancarkan sinar liar. Otsu menjerit, bukan karena senjata itu, melainkan karena pandangan Matahachi.

"Anjing!" teriak Matahachi ketika Otsu membalik untuk lari. Pedangnya menebas, menyerempet simpul obi Otsu. "Tak boleh lolos!" pikirnya, lalu mengejar sambil memanggil ibunya.

Osugi datang berlari-lari turun bukit. "Apa dia berbuat ceroboh?" pikir ibunya sambil mencabut pedangnya sendiri.

"Dia di sana. Tangkap dia, Bu!" seru Matahachi. Tapi segera kemudian ia berlari balik dan berhenti mendadak ketika hampir bertubrukan dengan perempuan tua itu. Dengan mata membelalak, tanyanya, "Ke mana tadi larinya?"

"Kau tidak membunuh dia?"


"Tidak, dia lari."

"Tolol!"

"Lihat, dia di bawah itu. Itu dia. Itu!"

Otsu yang berlari menuruni tepi curam itu terpaksa berhenti untuk melepaskan lengan kimononya dari sangkutan ranting pohon. Ia tahu ia sudah dekat dengan air terjun, karena suaranya terdengar keras sekali. Ketika ia berlari lagi sambil memegang lengan kimononya yang sobek, Matahachi dan Osugi menghampirinya, dan ketika Osugi berteriak, "Kita berhasil menjebaknya," maka kata-kata itu terdengar persis di belakangnya.

Di dasar lembah itu kegelapan merajalela seperti dinding, mengepung Otsu.

"Matahachi, bunuh dia! Itu dia di situ, berbaring di tanah."

Matahachi menyerahkan diri seluruhnya kepada pedang sekarang. Sambil melompat ke muka, ia membidik sosok hitam itu dan menjatuhkan mata pedangnya dengan kejam. "Setan perempuan!" jeritnya.

Bersama gemertaknya ranting dan cabang pohon terdengar pula jeritan maut.

"Terima ini, terima ini!" Matahachi menebas tiga kali, empat kaliberulang-ulang, sampai kedengarannya pedang membelah menjadi dua. Ia jadi mabuk darah, matanya memancarkan api.

Kemudian lewat sudah segalanya. Menyusul ketenangan.

Dengan lesu ia memegang pedangnya yang berdarah. Sedikit demi sedikit ia sadar kembali akan dirinya, dan wajahnya jadi hampa. Ia pandangi kedua tangannya dan ia melihat darah di situ. Ia raba wajahnya. Di situ ada darah juga, begitu pula di seluruh pakaiannya. Ia jadi pucat pasi dan pening. Terpikir olehnya setiap tetes darah itu adalah darah Otsu.

"Bagus, Nak! Akhirnya engkau melaksanakannya." Dengan napas terengah-engah, yang lebih disebabkan kegembiraan daripada pengerahan tenaga, Osugi berdiri di belakang Matahachi, dan sambil melongok dari atas bahu Matahachi ia pandangi daun-daun yang sudah rusak terobrak-abrik. "Sungguh senang aku melihat ini," katanya gembira. "Sudah kita laksanakan, Nak. Sudah terangkat separuh bebanku, dan sekarang aku dapat menegakkan kepala lagi di kampung. Ada apa denganmu? Lekas! Potong kepalanya!"

Melihat anaknya mau muntah, Osugi tertawa. "Kau ini tak punya nyali. Kalau kau tak sampai hati memotong kepalanya, aku akan melakukannya untukmu. Menyingkir kamu."

Matahachi berdiri diam, sampai perempuan tua itu berjalan menuju semak. Waktu itulah ia mengangkat pedangnya dan menjotoskan gagangnya ke bahu ibunya.

"Apa pula ini!" teriak Osugi sambil terhuyung ke depan. "Apa kau sudah gila?"

"Ibu!"

"Apa?"

Dari tenggorokan Matahachi terdengar bunyi aneh berceguk-ceguk. Ia menghapus mata dengan tangannya yang berlumuran darah. "Aku sudah... sudah membunuh dia. Aku sudah membunuh Otsu!"

"Dan itu tindakan yang patut dipuji! Oh, kau menangis."

"Aku tak tahan. Oh, orang sinting, orang tua sinting, gila, fanatik!"

"Kau menyesal?"

"Ya... ya! Kalau bukan karena Ibu, mestinya aku dapat membawa Otsu kembali. Ibu mestinya sudah mati sekarang ini! Persetanlah dengan kehormatan keluarga itu!"

"Hentikan ocehan itu. Kalau dia memang begitu tinggi harganya di matamu, kenapa tidak kaubunuh saja aku dan kaulindungi dia?"

"Seandainya dapat aku melakukan itu, aku... oh, apakah ada yang lebih menyedihkan selain punya ibu yang jadi maniak keras kepala?"

"Berhenti! Dan berani amat kau bicara begitu padaku!"

"Mulai sekarang aku mau hidup menurut kemauanku sendiri. Kalaupun ngawur, itu bukan urusan orang lain, tapi urusanku sendiri."

"Itulah selalu kelemahanmu, Matahachi. Kau gelisah, lalu bikin gaduh, cuma untuk bikin sulit ibumu."

"Memang aku akan bikin sulit, babi betina tua! Kau ini tukang sihir! Aku benci padamu!"

"Oh, oh! Bukan main marahnya dia... Menyingkir! Akan kuambil dulu kepala Otsu, sudah itu kuberi kau sedikit pelajaran!"

"Omong lagi? Aku takkan mendengarkan."

"Aku ingin kau melihat dengan kepalamu sendiri, bagaimana macamnya perempuan kalau sudah mati. Tak lain dari tulang. Aku ingin kau memahami bodohnya nafsu itu."

"Tutup mulut!" Matahachi menggeleng-geleng hebat. "Kalau dipikir-pikir, yang kuinginkan itu Otsu. Ketika aku mengambil kesimpulan tak bisa terus hidup seperti yang sudah-sudah, ketika aku mencoba mencari jalan untuk berhasil dan mulai menempuh jalan benar kembali, semua itu karena aku ingin mengawini dia bukan demi kehormatan keluarga, dan bukan demi perempuan tua yang mengerikan!"

"Berapa lama kau akan menyesali hal yang sudah terjadi? Akan lebih bermanfaat kalau kau menyanyikan kitab-kitab sutra. Hidup Amida Budha!"

Osugi meraba-raba di antara ranting-ranting patah dan rumput kering yang penuh percikan darah, kemudian membungkuk ke rumput dan berlutut di atasnya. "Otsu," katanya, "jangan kamu membenci aku. Sekarang tak ada lagi dendamku padamu, karena kau sudah mati. Semua yang lalu itu suatu keharusan. Istirahatlah kamu dalam damai."

Ia meraba-raba dengan tangan kirinya dan mencekam rambut yang hitam itu.



Suara Takuan terdengar berderai-derai. "Otsu!" Terbawa angin gelap ke dalam ceruk itu, terdengar seolah sumber suara itu pohon-pohon dan bintang-bintang sendiri.

"Belum juga Anda temukan?" tanyanya dengan suara agak tegang.

"Belum, dia tak ada di sekitar tempat ini." Pemilik penginapan tempat Osugi dan Otsu tinggal itu menghapus keringat dari keningnya.

"Anda yakin apa yang Anda dengar itu betul?"

"Yakin betul. Sesudah kedatangan pendeta dari Kiyomizudera tadi, nyonya itu mendadak pergi, katanya akan ke aula Dewa Gunung. Gadis itu ikut." Keduanya melipat tangan di dada sambil berpikir.

"Barangkali mereka naik terus, atau menyimpang ke tempat yang jauh dari jalan," kata Takuan.

"Kenapa Bapak begitu kuatir?"

"Saya kira Otsu telah diperdayakan."

"Apa betul perempuan tua itu begitu jahat?"

"Tidak," kata Takuan bingung. "Dia orang yang baik sekali."

"Oh, tidak, kalau mendengar apa yang baru Bapak ceritakan itu. Sekarang saya ingat sesuatu."

"Apa itu?"

"Tadi saya lihat gadis itu menangis di kamarnya."

"Tapi itu mungkin tak banyak artinya."

"Perempuan tua itu bilang gadis itu tunangan anaknya."

"Tentu dia akan bilang begitu."

"Dari cerita Bapak, kelihatannya dendam kesumat yang membuat perempuan tua itu menyiksa gadis itu."

"Itu satu hal. Tap hal lain adalah kenapa dia membawa gadis itu ke gunung pada malam gelap begini. Saya takut Osugi berencana membunuhnya."

"Membunuh? Lalu bagaimana Bapak bisa mengatakan tadi dia perempuan baik?"

"Sebab dialah yang disebut baik oleh dunia ini. Dia sering pergi memuja di Kiyomizudera, kan? Pada waktu dia duduk di hadapan Kannon sambil memegang tasbih, tentunya jiwanya dekat sekali dengan Kannon."

"Saya dengar dia berdoa juga untuk Budha Amida."

"Di dunia ini banyak orang Budhis seperti itu. Mereka disebut orang-orang yang percaya. Mereka melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, lalu mereka pergi ke kuil dan berdoa untuk Amida. Mereka rupanya memikirkan perbuatan-perbuatan setani untuk dapat diampuni Amida. Dengan senang hati mereka membunuh orang, dan yakin benar bahwa kalau sesudah itu mereka datang kepada Amida, dosa-dosa mereka akan dihapuskan dan sesudah mati mereka masuk -Surga- Barat. Orang-orang baik macam ini memang jadi masalah."



Matahachi menoleh ngeri ke sekitar, dan bertanya-tanya dalam hati dari mana datangnya suara itu.

"Dengar itu, Bu?" tanyanya gelisah.

"Kau kenal suara itu?" Osugi mengangkat kepala, tapi gangguan itu tak begitu merisaukannya. Tangannya masih mencengkeram rambut itu, dan pedangnya tetap dalam kedudukan siap membabat.

"Dengar! Lagi!"

"Aneh. Kalau ada yang mencari Otsu, tentunya anak yang namanya Jotaro."

"Itu suara lelaki."

"Ya, aku tahu, dan kupikir sudah pernah aku mendengar suara itu."

"Berat ini kelihatannya. Sekarang lupakan kepala itu, Bu. Bawa lentera itu. Ada orang datang!"

"Kemari?"

"Ya, dua orang. Ayo kita lari."

Bahaya menyatukan ibu dan anak itu seketika, tapi Osugi tidak juga dapat melepaskan diri dari tugasnya yang berlumuran darah itu.

"Tunggu sebentar," katanya. "Aku tak bisa kembali tanpa kepala ini, padahal sudah pergi sejauh ini. Kalau tidak kubawa, bagaimana aku bisa membuktikan sudah membalas dendam? Sebentar lagi aku menyusul."

"Oh!" keluh Matahachi gemas.

Tiba-tiba dari bibir Osugi tercetus teriakan ngeri. Ia jatuhkan kepala itu. Ia setengah berdiri, terhuyung-huyung, dan rebah di tanah.

"Bukan dia!" jeritnya. la menebas-nebaskan tangannya dan mencoba berdiri, tapi jatuh kembali.

Matahachi melompat mendekat untuk melihat, dan gagapnya, "A-a-apa?"

"Lihat, ini bukan Otsu! Ini lelaki... pengemis... cacat..."

"Lho, mustahil," seru Matahachi. "Aku kenal orang ini."

"Apa? Temanmu?"

"Bukan! Dia yang memperdayakan aku supaya menyerahkan semua uangku padanya," ucapnya. "Apa kerja penipu kotor macam Akakabe Yasoma ini di dekat-dekat kuil?"

"Siapa di sana?" seru Takuan. "Otsu, kamu, ya?" Tiba-tiba ia sudah berdiri di belakang mereka.

Kaki Matahachi lebih cekatan daripada kaki ibunya. Cepat ia berlari dan hilang dari pandangan, tapi Takuan berhasil mengejar ibunya dan mencengkeram kerahnya.

"Tepat seperti dugaanku. Dan aku yakin, anakmu tercinta yang lari itu. Matahachi! Apa maksudmu lari meninggalkan ibumu? Orang udik tak kenal terima kasih! Balik sini!"

Osugi menggeliat-geliat sengsara di lutut Takuan, tapi tak sedikit pun ia kehilangan keberanian. "Siapa kamu?" tanyanya marah. "Apa maumu?"

Takuan melepaskannya, dan katanya, "Lupa padaku, Nek? Nenek sudah pikun tentunya."

"Takuan!"

"Heran, ya?"

"Kenapa mesti heran. Pengemis macam kamu dapat pergi ke mana kau suka. Cepat atau lambat kau pasti hanyut ke Kyoto."

"Betul, Nek," sahut Takuan menyeringai. "Tepat seperti yang Nenek katakan. Aku sudah mengembara ke Lembah Koyagyu dan Provinsi Izumi, tapi kemudian tiba di ibu kota, dan semalam di rumah seorang teman aku mendengar berita yang menguatirkan. Kusimpulkan berita itu penting sekali dan aku harus bertindak."

"Apa hubungannya itu denganku?"

"Kukira Otsu bersamamu, dan aku sedang mencarinya."

"Huh!"

"Nek!"

"Apa?"

"Di mana Otsu?"

"Aku tak tahu."

"Tak percaya."

"Pak," kata pemilik warung. "Ada darah tumpah di sini. Masih segar." Dan ia mendekatkan lenteranya ke mayat itu.

Kening Takuan mengerut kaku. Melihat ia sibuk berpikir, Osugi bangkit dan melarikan diri. Tanpa bergerak sedikit pun pendeta itu berseru, "Tunggu, Nek! Nenek tinggalkan rumah buat membersihkan nama, kan? Apa Nenek mau pulang sekarang dengan nama yang lebih kotor lagi? Nenek bilang sayang anak. Apa Nenek mau meninggalkan dia padahal sudah bikin dia sengsara?" Daya suaranya yang menggelegar itu melingkupi Osugi, membuat ia berhenti seketika.

Dengan wajah buruk akibat kerut-merut menantang, Osugi berteriak, "Menodai nama keluarga dan bikin anak tidak bahagia? Apa maksudmu?"

"Tepat seperti yang kukatakan ini."

"Sinting!" Dan ia tertawa singkat mencemooh. "Siapa kau ini? Kau ke sana kemari makan makanan orang lain, hidup di kuil-kuil orang lain, buang air di lapangan terbuka. Apa yang kauketahui tentang kehormatan keluarga? Apa pengetahuanmu tentang cinta ibu pada anaknya? Pernah kau menanggung derita seperti yang dipikul orang biasa? Sebelum menasihati orang lain apa yang mesti dikerjakannya, coba dulu kerja dan beri makan dirimu sendiri, seperti semua orang lain."

"Ucapan Nenek mengena sekali, dan aku memang merasakannya. Ada memang pendeta-pendeta lain di dunia ini yang mesti kukatai demikian juga. Tapi aku sudah mengatakan, aku bukan tandingan Nenek dalam perang kata-kata, dan kulihat lidah Nenek masih tajam seperti dulu."

"Dan masih ada hal-hal penting lain yang mesti kulakukan di dunia ini. Tak usah kau menduga bahwa satu-satunya kebiasaanku ini cuma ngomong."

"Sudah. Sekarang aku mau bicara tentang yang lain-lain dengan Nenek."

"Soal apa itu?"

"Malam ini Nenek suruh Matahachi membunuh Otsu, kan? Dan kuduga kalian berdua sudah membunuhnya."

Sambil menjulurkan lehernya yang sudah berkerut, Osugi tertawa menghina. "Takuan, kau boleh saja terus membawa lentera dalam hidup ini, tapi tak ada faedahnya buatmu kalau kau tidak membuka matamu. Apa artinya mata itu? Apa sekadar lubang di kepalamu atau hiasan lucu?"

Takuan, yang merasa sedikit tidak enak, akhirnya memperhatikan tempat terjadinya pembunuhan.

Selagi ia menengadah lega, perempuan tua itu berkata, kali ini dengan sikap benci, "Kukira kau senang yang terbunuh bukan Otsu. Tapi jangan kira aku lupa, kaulah comblang kotor yang mempertemukan Otsu dan Musashi, dan menyebabkan kesulitan ini."

"Kalau begitu perasaan Nenek, bagus. Tapi aku tahu Nenek orang saleh, dan menurutku Nenek tak boleh pergi meninggalkan tubuh ini tergeletak di sini."

"Tadi orang itu sudah hampir mati dan menggeletak di situ. Matahachi membunuhnya, tapi itu bukan kesalahan Matahachi."

"Ronin ini memang agak sinting," kata pemilik warung. "Beberapa hari terakhir dia sempoyongan di kota, mulutnya mengeluarkan air liur. Di kepalanya ada benjolan besar sekali."

Osugi tak memperlihatkan peduli sama sekali, dan membalikkan tubuh untuk pergi. Takuan minta pemilik warung mengurus mayat itu, lalu mengikuti Osugi. Osugi jengkel sekali karenanya, tapi ketika ia menoleh untuk melecutkan lagi lidahnya yang berbisa, Matahachi memanggilnya pelan, "Ibu."

Ia mendekati suara itu dengan gembira. Bagaimanapun, Matahachi anak baik. Ia tetap tinggal di situ untuk meyakinkan dirinya bahwa ibunya selamat. Mereka berbisik-bisik, dan agaknya mengambil kesimpulan bahwa mereka belum sama sekali lepas dari bahaya akibat hadirnya si pendeta, karena itu mereka lari secepat-cepatnya ke kaki bukit.

"Tak ada gunanya," bisik Takuan. "Melihat perbuatannya, mereka takkan mendengarkan apa pun yang kukatakan. Oh, sekiranya dunia dapat dilepaskan dari macam-macam salah pengertian yang tolol, orang yang menderita tidak akan sebanyak ini."

Tapi sekarang ini ia mesti menemukan Otsu. Otsu berhasil meloloskan diri. Semangat Takuan meningkat sedikit, tapi ia belum dapat benar-benar merasa tenang sebelum yakin Otsu selamat. Ia memutuskan meneruskan pencarian, sekalipun suasana gelap.

Pemilik warung sudah lebih dahulu mendaki bukit, dan kini ia turun kembali disertai tujuh atau delapan orang yang membawa lentera. Para penjaga malam di kuil itu datang membawa sekop, siap membantu penguburan. Tak lama kemudian Takuan mendengar bunyi galian kubur yang tak menyenangkan itu.

Ketika kira-kira lubang sudah cukup dalam, ada orang berteriak, "Hai, lihat, di sini ada tubuh lain! Tubuh gadis manis!" Orang itu sekitar sepuluh meter jauhnya dari kuburan, di ujung sebuah paya.

"Mati?"

"Tidak, cuma tidak sadar."



Tukang yang Santun

  
SAMPAI hari meninggalnya, ayah Musashi tak berhenti mengingatkan Musashi akan leluhurnya. "Aku memang hanya samurai desa," katanya, "tapi jangan sekali-kali lupa, marga Akamatsu pernah terkenal dan perkasa. Hal itu mesti menjadi sumber kekuatan dan kebanggaanmu."

Karena berada di Kyoto, Musashi memutuskan untuk mengunjungi Kuil Rakanji. Di dekat kuil itu Keluarga Akamatsu pernah memiliki rumah. Marga itu sudah lama runtuh, tapi ada kemungkinan Musashi menemukan catatan tentang leluhurnya di kuil itu. Seandainya tak dapat menemukannya, ia masih dapat membakar dupa untuk mengenang mereka.

Sampai Jembatan Rakan yang melintasi Kogawa Hilir, ia merasa sudah sampai dekat kuil itu, karena kata orang kuil itu terletak agak ke timur dari tempat beralihnya Kogawa Hulu menjadi Kogawa Hilir. Ia bertanya pada orang-orang sekitar tempat itu, tapi tidak berhasil. Tak seorang pun pernah mendengar tentang kuil itu.

Ia kembali ke jembatan, berdiri memandang air jernih dangkal yang mengalir di bawahnya. Belum lama Munisai meninggal, tapi rupanya kuil itu sudah dipindahkan atau hancur, tidak ada lagi sisa-sisanya atau kenangannya.

Dengan malas ia memandang pusaran putih yang sekali muncul sekali menghilang, kemudian muncul dan menghilang kembali. Melihat lumpur yang menetes-netes dari petak berumput di tepi kiri, ia menyimpulkan bahwa lumpur itu berasal dari bengkel pengasah pedang.

"Musashi!"

Musashi menoleh, dan tampaklah olehnya biarawati tua Myoshu kembali dari melakukan tugas.

"Terima kasih kamu datang kemari," serunya. Disangkanya Musashi ada di situ untuk berkunjung. "Koetsu ada di rumah hari ini. Dia pasti senang bertemu kamu." Ia mengantar Musashi melewati gerbang rumah yang tak jauh letaknya dari situ dan menyuruh seorang pesuruh menjemput anaknya.

Koetsu menyambut tamunya dengan hangat, katanya, "Saat ini aku sedang sibuk melakukan asahan penting, tapi nanti kita akan dapat mengobrol leluasa. "

Musashi merasa senang melihat kedua ibu dan anak itu bersikap akrab dan wajar, sebagaimana waktu mereka pertama kali bertemu. Sore dan malam itu ia mengobrol dengan mereka, dan ketika mereka mendesaknya

untuk bermalam, ia menerimanya. Hari berikutnya, ketika Koetsu memperlihatkan kepadanya bengkelnya dan menjelaskan teknik mengasah pedang, ia minta Musashi tinggal di sana seberapa lama ia suka.

Rumah yang gerbangnya tampak sederhana itu berdiri di sebuah sudut tenggara reruntuhan Jissoin. Di seputar tempat itu terdapat beberapa rumah milik saudara sepupu dan kemenakan Koetsu, atau orang-orang lain yang sama pekerjaannya. Semua anggota Keluarga Hon'ami hidup dan bekerja di sini, seperti gaya marga-marga di provinsi besar di masa lalu.

Keluarga Hon'ami berasal dari keluarga militer yang cukup terkemuka dan menjadi abdi para shogun Ashikaga. Dalam hierarki sosial sekarang, keluarga itu tergolong kelas tukang, tapi dilihat dari kekayaan dan prestisenya, Koetsu dianggap anggota kelas samurai. Ia bergaul rapat dengan kaum bangsawan tinggi istana dan pernah diundang oleh Tokugawa Ieyasu datang ke Benteng Fushimi.

Kedudukan seperti yang dimiliki keluarga Hon'ami itu tidak istimewa. Kebanyakan tukang-tukang dan saudagar-saudagar kaya zaman itu-di antaranya Suminokura Soan, Chaya Shirojiro, dan Haiya Shoyu-adalah keturunan samurai. Di bawah para shogun Ashikaga, nenek moyang mereka itu diserahi pekerjaan yang ada hubungannya dengan pembuatan barang atau perdagangan. Keberhasilan yang mereka capai dalam bidang-bidang itu sedikit demi sedikit mengakibatkan putusnya hubungan mereka dengan kelas militer, dan ketika perusahaan swasta mulai mendatangkan untung, mereka tidak lagi tergantung pada upah feodal mereka. Sekalipun tingkat sosial mereka lebih rendah daripada tingkat sosial prajurit, mereka itu kuat sekali.

Untuk bisnis, status samurai lebih bersifat menghalangi daripada membantu. Dan lagi ada keuntungan-keuntungan yang pasti kalau orang menjadi orang biasa, terutama dalam hal kestabilan. Apabila meletus pertempuran, saudagar-saudagar besar biasanya dilindungi kedua pihak yang bertempur. Benar, mereka kadang-kadang dipaksa menyediakan perbekalan militer dengan pembayaran kecil atau tanpa pembayaran, tapi mereka menganggap beban ini sebagai sekadar pembayaran untuk mengganti harta benda yang hancur selama perang.

Selama berlangsungnya perang Onin tahun 1460-an dan 1470-an, seluruh daerah sekitar reruntuhan Jissoin diratakan dengan tanah, bahkan sekarang orang-orang yang menanam pohon di sana sering masih menemukan bagian-bagian pedang atau topi baja yang berkarat. Gedung kediaman Hon'ami adalah satu dari yang pertama dibangun di sekitar tempat icu sesudah perang.

Cabang Sungai Arisugawa mengalir melintasi tempat itu, mula-mula berkelok-kelok melintasi sekitar satu ekar kebun sayuran, kemudian menghilang ke tengah semak, dan akhirnya muncul lagi dekat sumur tak jauh dari depan bangunan utama. Ada satu cabangnya yang mengalir menuju sebuah warung teh sederhana dan kasar, di mana air jernihnya dipergunakan untuk upacara teh. Sungai itu merupakan sumber air bagi bengkel tempat pedang yang ditempa ahli seperti Masamune, Muramasa, dan Osafune, digosok dengan cermat. Karena bengkel itu suci bagi keluarga itu, maka ada tali yang digantungkan di atas jalan masuknya, seperti di kuil-kuil Shinto.

Hampir tanpa sepengetahuannya empat hari telah berlalu, dan Musashi memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum ia mendapat kesempatan menyampaikannya, Koetsu sudah berkata, "Kami barangkali tak banyak menghiburmu, tapi kalau engkau tidak bosan, tinggallah di sini semaumu. Di kamar belajarku ada buku-buku tua dan barang-barang menarik. Kalau kau suka memperhatikannya, lihatlah dengan sebebasnya. Sehari-dua hari lagi aku akan membakar mangkuk dan pinggan teh. Mungkin engkau akan suka melihatnya. Engkau akan melihat nanti bahwa keramik hampir sama menariknya dengan pedang. Mungkin engkau dapat membuat satu-dua model sendiri."

Tersentuh oleh ramahnya undangan dan kata-kata tuan rumah bahwa takkan ada orang tersinggung kalau ia memutuskan untuk pergi seketika, Musashi memutuskan tinggal di situ dan menikmati suasana santai itu. Ia jauh dari merasa bosan. Kamar belajar itu berisi buku-buku dalam bahasa Cina dan Jepang, lukisan-lukisan gulung dari zaman Kamakura, salinansalinan kaligrafi dari ahli-ahli Cina, dan berlusin-lusin karya lain lagi yang masing-masing dapat dengan senang dinikmati oleh Musashi untuk sehari atau lebih. Terutama la tertarik pada sebuah lukisan yang tergantung di ceruk kamar. Lukisan itu berjudul Buah Berangan oleh pelukis ulung Liangk'ai dari zaman Sung. Lukisan itu kecil, sekitar enam puluh senti tingginya dan lima belas senti lebarnya, sudah demikian tua, sehingga tak mungkin orang mengatakan jenis kertas apa yang dipakai melukis.

Musashi duduk memandangnya pada jam-jam tertentu. Akhirnya pada suatu hari ia menyatakan pada Koetsu, "Saya yakin tak ada pelukis amatir awam yang dapat membuat lukisan seperti yang Bapak lukis, tapi ingin tahu juga saya, apakah saya tak dapat membuat lukisan sesederhana itu?"

"Sebaliknya," jelas Koetsu. "Orang dapat belajar melukis seperti aku. Tetapi di dalam lukisan Liang-k'ai itu terdapat kedalaman dan keagungan spiritual yang tak dapat dicapai hanya dengan mempelajari seni."

"Apakah benar demikian?" tanya Musashi heran. Dan ia pun diyakinkan bahwa memang demikianlah adanya.

Lukisan itu hanya memperlihatkan seekor bajing yang memperhatikan dua buah berangan yang jatuh. Yang satu terbuka dan yang lain masih utuh, seakan-akan ia ingin mengikuti dorongan alamiahnya untuk melalap buah berangan itu, tetapi ragu-ragu karena takut pada durinya. Karena lukisan itu dibuat bebas sekali dengan tinta hitam, maka mulanya Musashi merasa lukisan itu tampak naif. Tapi sesudah berbicara dengan Koetsu, semakin diperhatikannya semakin jelas ia melihat bahwa seniman itu benar.

Pada suatu sore, Koetsu datang dan berkata, "Engkau memperhatikan lukisan Liang-k'ai lagi? Rupanya kau suka sekali dengannya. Kalau nanti kau pergi, gulung itu dan bawa pulang. Aku senang engkau memilikinya."

Tapi Musashi keberatan. "Berat rasanya saya menerimanya. Terlalu lama tinggal di rumah ini saja sudah kurang baik buat saya. Tentunya lukisan ini pusaka keluarga!"

"Tapi engkau menyukainya, kan?" Orang tua itu tersenyum ramah. "Kau boleh memilikinya, kalau kau mau. Aku betul-betul tidak membutuhkannya. Lukisan mesti dimiliki oleh orang-orang yang betul-betul mencintai dan menghargainya. Aku yakin itulah yang diinginkan oleh si seniman."

"Kalau demikian pendapat Bapak, saya bukan orangnya yang mesti memiliki lukisan seperti itu. Terus terang, sudah beberapa kali saya berpikir, senang rasanya memilikinya, tapi kalau saya memilikinya, apa yang akan saya buat dengannya? Saya hanya pemain pedang pengembara. Saya tak pernah tinggal di satu tempat."

"Saya kira memang repot sekali membawa-bawa lukisan ke mana kita pergi. Pada umur seperti sekarang ini barangkali engkau pun belum ingin memiliki rumah sendiri, tapi kupikir setiap orang mesti memiliki tempat yang dia pandang sebagai rumahnya, sekalipun tak lebih dari sebuah gubuk kecil. Tanpa rumah, orang bisa kesepian-merasa bingung. Bagaimana kalau engkau mengumpulkan balok dan kemudian membangun pondok di sudut kota yang tenang?"

"Tak pernah saya memikirkan hal itu. Saya ingin melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh, pergi ke ujung terjauh Kyushu, dan melihat bagaimana orang hidup di bawah pengaruh asing di Nagasaki. Dan saya ingin sekali melihat ibu kota baru yang sedang dibangun oleh shogun di Edo; juga melihat gunung-gunung besar dan sungai-sungai di Honshu Utara. Barangkali di dalam hati ini, saya hanya seorang pengelana."

"Engkau sama sekali bukan satu-satunya. Itu wajar sekali, tapi kau harus menghindari godaan untuk berpikir bahwa impian-impian itu hanya dapat ditujukan di tempat yang jauh letaknya. Kalau engkau berpikir seperti itu, engkau akan mengabaikan kemungkinan dalam lingkunganmu yang terdekat. Aku kuatir kebanyakan orang muda memang berpikir demikian, lalu kecewa dengan hidupnya." Koetsu tertawa. "Tapi orang tua malas macam aku ini tak ada urusan berkhotbah kepada orang muda. Bagaimanapun, aku datang kemari bukan untuk bicara tentang itu. Aku datang untuk mengajakmu pergi malam ini. Pernah engkau pergi ke daerah lokalisasi?"

"Daerah geisha?"

"Ya. Aku punya teman, namanya Haiya Shoyu. Walaupun umurnya sudah lanjut, selalu ada saja yang dilakukannya. Baru saja aku menerima suratnya yang mengundangku ikut dia di dekat Jalan Rokujo malam ini. Aku ingin tahu apa engkau mau ikut."

"Tidak, saya kira tidak."

"Kalau engkau benar-benar tak ingin, aku takkan memaksa, tapi kupikir akan menarik untukmu."

Myoshu, yang diam-diam datang mendekat dan mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian, menyela, "Kupikir kau mesti pergi, Musashi. Kesempatan melihat hal yang belum kaulihat. Haiya Shoyu bukan orang yang mesti dihadapi dengan kaku dan resmi, dan aku percaya kau akan menikmati pengalaman itu. Biar bagaimana, pergilah!"

Biarawati tua itu pergi ke lemari dan megeluarkan kimono dan obi. Pada umumnya orang-orang tua berusaha benar mencegah orang muda membuang-buang waktu luangnya di rumah geisha, tapi Myoshu begitu bersemangat, seakan ia sendiri pun siap pergi.

"Nah, coba lihat, mana kimono yang kamu suka?" tanyanya. "Obi ini cocok, tidak?" Sambil terus mengoceh, ia sibuk mengeluarkan barangbarang untuk Musashi, seakan Musashi anaknya. Ia pilih kotak obat pernis, sebilah pedang pendek dekoratif, dan sebuah dompet brokat. Kemudian ia ambil beberapa mata uang emas dari laci uang dan ia masukkan dalam dompet itu.

"Yah," kata Musashi yang kini hampir hilang enggannya, "kalau Ibu mendesak, saya akan pergi, tapi saya takkan pantas dengan barang-barang bagus itu. Saya memakai kimono tua yang saya pakai ini saja. Saya tidur dengan kimono ini, kalau sedang di udara terbuka. Saya terbiasa dengannya."

"Oh, kamu tak boleh begitu!" kata Myoshu tegas. "Kau sendiri barangkali tak apa-apa, tapi pikirkan orang-orang lain! Di kamar yang indah itu nanti kau bisa kelihatan tak lebih dari gombal kotor. Orang pergi ke sana untuk bersenang-senang dan melupakan kesulitan hidup. Mereka ingin dilingkari barang-barang bagus. Jangan mengira ke sana itu cuma bersolek supaya kau tampak seperti orang lain. Dan lagi pakaian ini tidak seindah yang dipakai orang-orang lain. Cuma bersih dan rapi. Nah, pakailah sekarang!"

Musashi menurut.

Sesudah ia berpakaian, kata Myoshu riang, "Nah, kelihatan tampan sekali kamu sekarang."

Ketika akan berangkat, Koetsu pergi ke altar Budha di rumah dan menyalakan lilin di situ. Ia dan ibunya anggota setia sekte Nichiren.

Di pintu depan, Myoshu meletakkan dua pasang sandal dengan tali baru. Ketika mereka sedang mengenakannya, Myoshu berbisik-bisik dengan salah seorang pembantu yang berdiri menanti untuk menutup gerbang depan sesudah mereka pergi.

Koetsu mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, tapi ibunya cepat memandangnya, katanya, "Tunggu sebentar." Wajahnya tampak kusut karena kerutan kekuatiran.

"Ada apa?"

"Dia bilang tiga samurai bertampang angker baru saja datang dan bicara kasar sekali. Apa menurutmu penting?"

Koetsu memandang Musashi dengan nada bertanya.

"Tak ada alasan untuk takut," kata Musashi menenangkan. "Mereka barangkali dari Keluarga Yoshioka. Mereka bisa menyerang saya, tapi mereka tak punya soal dengan Bapak."

"Salah seorang pembantu itu mengatakan beberapa hari lalu terjadi hal serupa. Cuma seorang samurai, tapi dia datang lewat gerbang tanpa dipersilakan dan melongok lewat pagar dekat jalan ke warung teh, ke arah bagian rumah tempat kamu tinggal."

"Kalau begitu, saya yakin mereka orang-orang Yoshioka."

"Kupikir juga begitu," kata Koetsu menyetujui. Ia menoleh kepada penjaga gerbang yang gemetaran. "Apa kata mereka?"

"Para pekerja sudah pulang semua, dan saya baru saja mau menutup gerbang, tapi tiba-tiba samurai itu mengepung saya. Seorang dari mereka yang kelihatan gampang marah mengeluarkan surat dari dalam kimononya dan memerintahkan saya menyampaikan surat itu kepada tamu yang tinggal di sini."

"Dia tidak bilang Musashi?"

"Ya, kemudian dia bilang 'Miyamoto Musashi'. Dan dia bilang Musashi sudah tinggal di sini beberapa hari."

"Lalu apa katamu?"

"Bapak sudah kasih perintah tidak bicara tentang Musashi kepada orang lain, jadi saya menggeleng dan bilang tak ada orang dengan nama itu di sini. Dia marah dan menyebut saya pembohong, tapi seorang dari mereka yang agak lebih tua dan selalu senyum menenangkan dia dan mengatakan mereka akan mencari jalan menyampaikan surat itu langsung. Saya tak mengerti apa yang dia maksud, tapi kedengarannya seperti ancaman. Lalu mereka pergi ke sudut di sana itu."

"Bapak sebaiknya berjalan sedikit di depan saya," kata Musashi. "Saya tak ingin Bapak terluka atau terlibat kesulitan karena saya."

Koetsu menjawab dengan tertawa, "Tak perlu kuatir dengan aku, terutama kalau kau yakin mereka itu orang-orang Yoshioka. Aku sama sekali tidak takut pada mereka. Mari jalan."

Sesudah berada di luar, Koetsu kembali melongokkan kepala ke pintu kecil pada gerbang dan memanggil, "Bu!"

"Ada yang terlupa?" tanya ibunya.

"Tidak, cuma terpikir olehku, kalau Ibu kuatir denganku aku dapat menyuruh orang ke Shoyu, mengatakan padanya aku tak dapat datang malam ini."

"Oh, tidak. Aku lebih takut akan terjadi apa-apa dengan Musashi. Tapi kupikir dia takkan kembali, biarpun kau mencoba menghentikannya. Pergilah. dan mudah-mudahan senang!"

Koetsu menyusul Musashi, dan ketika mereka sudah berjalan santai menyusuri tepi sungai, Koetsu berkata, "Rumah Shoyu di sana, di Jalan Ichijo dan Jalan Horikawa. Barangkali dia sudah siap-siap sekarang, jadi mari kita menjemputnya. Rumahnya di tengah perjalanan."

Hari masih terang. Berjalan sepanjang sungai itu menyenangkan, lebih-lebih karena sedang senggang sekali pada waktu semua orang lain sedang sibuk.

Kata Musashi, "Saya sudah pernah mendengar nama Haiya Shoyu, tapi saya tidak tahu apa-apa tentang dia."

"Aku heran kau belum pernah mendengar tentangnya. Dia terkenal ahli dalam membuat sajak berangkai."

"Oh! Jadi, dia penyair!"

"Ya, tapi tentu saja dia tidak hidup dari menulis sajak. Dia berasal dari keluarga saudagar Kyoto lama."

"Dari mana dia mendapat nama Haiya?"

"Itu nama usahanya."

"Apa yang dia jual?"

"Namanya itu artinya 'penjual abu', dan memang itu yang dia jual abu."

"Abu?"

"Ya, abu itu dipakai untuk mencelup kain. Oh, itu usaha besar. Dia menjualnya pada serikat-serikat pencelup besar di seluruh negeri. Pada permulaan zaman Ashikaga, perdagangan abu dikendalikan oleh agen shogun, tapi kemudian diserahkan kepada grosir swasta. Di Kyoto ada tiga rumah grosir besar, dan Shoyu satu di antaranya. Dia sendiri tentu saja tidak perlu kerja. Dia sudah berhenti kerja dan hidup tenteram. Lihat ke sana itu, kau bisa melihat rumahnya yang gerbangnya bergaya itu."

Sementara mendengarkan, Musashi mengangguk-angguk, tapi perhatiannya teralih kepada rasa di lengan kimononya. Lengan sebelah kanan melambailambai ringan oleh angin, tapi lengan kiri tak bergerak sama sekali. Ia masukkan tangannya dan ia keluarkan sebuah benda, cukup untuk melihat barang apa itu-tali kulit ungu yang baik samakannya, seperti yang biasa dipakai para prajurit untuk mengikat lengan kimono waktu berkelahi. "Myoshu," pikirnya. "Hanya dia yang mungkin memasukkannya."

Ia menoleh ke belakang dan tersenyum pada orang-orang lelaki di belakang mereka. Sepengetahuannya, sejak ia dan Koetsu keluar dari Jalan Hon'ami, mereka membuntutinya pada jarak yang cukup hati-hati.

Senyuman itu agaknya melegakan hati ketiga orang itu. Mereka berbisik-bisik sedikit, lalu mengambil langkah lebih panjang.

Tiba di rumah Haiya, Koetsu membunyikan genta di pintu gerbang, dan seorang pembantu yang membawa sapu datang mempersilakan mereka. Ketika Koetsu melewati pintu gerbang dan berada di halaman muka, barulah ia tahu bahwa Musashi tidak bersamanya. Sambil menoleh ke pintu gerbang ia berseru, "Masuk, Musashi. Tak usah ragu-ragu."

Ketiga samurai itu mengepung Musashi, menyorongkan siku, dan mencengkeram pedang. Koetsu tak dapat menangkap apa yang mereka katakan kepada Musashi dan apa jawaban lirih Musashi.

Musashi minta Koetsu untuk tidak menunggu, dan Koetsu menjawab dengan nada tenang sekali, "Baik, aku di rumah itu. Ikutlah aku nanti, begitu engkau selesai dengan urusanmu."

Salah seorang samurai itu berkata, "Kami di sini bukan untuk berbantah tentang apakah Anda sudah lari sembunyi atau tidak. Nama saya Otaguro Hyosuke. Saya seorang dari Sepuluh Pemain Pedang Perguruan Yoshioka. Saya membawa surat dari adik Seijuro, Denshichiro." Ia mengeluarkan surat itu dan memperlihatkannya kepada Musashi. "Silakan baca, dan berikan balasannya segera."

Musashi membukanya biasa saja, membacanya cepat, dan katanya, "Saya terima."

Hyosuke memandangnya curiga. "Anda yakin?"

Musashi mengangguk. "Yakin sekali."

Sikap Musashi yang tidak formal itu membuat mereka tak lagi berjaga-jaga.

"Kalau Anda tidak memenuhi janji, Anda takkan dapat lagi memperlihatkan muka di Kyoto."

Pandangan mata Musashi disertai senyum simpul, tapi la tidak mengatakan sesuatu.

"Anda puas dengan persyaratannya? Tak banyak lagi waktu buat Anda mempersiapkan diri."

"Saya sudah siap," jawab Musashi tenang.

"Kalau begitu, kami akan bertemu lagi dengan Anda malam ini."

Ketika Musashi melewati gerbang, Hyosuke mendekatinya lagi dan bertanya, "Anda akan di sini sampai waktu yang sudah ditentukan itu?"

"Tidak. Tuan rumah mengajak saya pergi ke daerah lokalisasi dekat Jalan Rokujo."

"Daerah lokalisasi?" tanya Hyosuke heran. "Kalau begitu, Anda di sini atau di sana. Kalau Anda terlambat, akan saya kirim orang menjemput Anda. Saya percaya Anda takkan menggunakan tipu daya."

Musashi sudah membalikkan badan dan memasuki halaman depan, satu langkah yang membawanya ke suatu dunia lain.

Batu-batu pijakan yang bentuknya tidak teratur dan bertebaran secara asal saja di halaman itu kelihatan begitu alamiah. Di kiri-kanan terdapat rumpun bambu basah, pendek seperti pakis, di sana-sini disela rebung yang lebih tinggi, tidak lebih besar dari kuas tulis. Ketika ia berjalan terus, tampaklah olehnya atap bangunan utama, kemudian pintu depan, sebuah rumah kecil terpisah dan rumah musim panas di halaman. Masing-masing ikut menciptakan suasana kuno yang patut dimuliakan dan tradisi lama. Di sekitar semua bangunan itu tumbuh pohon-pohon pinus tinggi yang mengingatkan orang pada kemakmuran dan kenyamanan.

Musashi mendengar orang bermain bola sepak. Bunyi gedebak-gedebuk itu sering terdengar dari belakang dinding rumah persemayaman para bangsawan istana. Ia heran mendengarnya dari rumah saudagar.

Sampai di rumah, ia dipersilakan masuk ruangan yang menghadap halaman. Dua pelayan masuk membawa teh dan kue-kue, seorang antaranya menyampaikan bahwa tuan rumah akan segera datang. Melihat tingkah laku para pelayan, Musashi dapat mengatakan bahwa mereka terlatih sempurna.

Koetsu berbisik, "Sesudah matahari terbenam, udara dingin, ya?" Ia berharap agar shoji ditutup, tapi ia tidak memintanya karena Musashi rupanya menikmati pemandangan kembang prem. Koetsu melayangkan juga mata ke arah pemandangan itu. "Aku melihat ada awan di atas Gunung." ucapnya. "Kukira dari utara. Apa engkau tidak kedinginan?"

"Tidak terlalu," jawab Musashi jujur, sama sekali tidak menangkap isyarat temannya.

Seorang pelayan membawa tempat lilin, dan Koetsu menggunakan kesempatan itu untuk menutup shoji. Musashi jadi sadar akan suasana ruangan itu, damai. Sambil mendengarkan suara-suara yang datang dari halaman dalam rumah, ia terpukau oleh tiadanya sama sekali sifat bermegah-megah, seakan-akan dekorasi lingkungan itu dengan sengaja dibuat sesederhana mungkin. Bahkan terbayang olehnya dirinya sedang berada di kamar sebuah pertanian besar di pedesaan.

Haiya Shoyu memasuki ruangan, katanya, "Saya minta maaf merepotkan Anda sekalian menunggu demikian lama." Suaranya yang terbuka, bersemangat, dan mengandung kemudaan itu berlawanan dengan suara Koetsu lembut diseret-seret. Orangnya kurus seperti burung bangau, umurnya sepuluh tahun lebih tua dari temannya, tapi wataknya periang. Ketika Koetsu menjelaskan tentang Musashi, ia mengatakan. "Jadi Anda ini kemenakan Matsuo Kaname? Saya kenal baik dengan dia.'

Perkenalan Shoyu dengan pamannya itu tentunya lewat keluarga pikir Musashi yang mulai merasakan eratnya hubungan antara saudagar kaya dengan orang-orang istana.

Tanpa berpanjang kata, saudagar tua yang gesit itu berkata, "Mari kita jalan sekarang. Tadinya saya bermaksud pergi sementara hari masih terang, supaya kita dapat bercengkerama. Tapi karena sekarang sudah gelap, aku pikir kita mesti panggil joli. Saya percaya, orang muda ini ikut kita."

Joli pun dipanggil, dan ketiga orang itu berangkat, Shoyu dan Koetsu di depan, dan Musashi di belakang. Itulah pertama kali Musashi naik joli.

Ketika mereka sampai Lapangan Berkuda Yanagi, para pemikul sudah mengepulkan uap putih.

"Oh, dingin!" keluh salah seorang. "Anginnya menusuk-nusuk, ya?"

"Padahal katanya ini musim semi!"

Lentera mereka terayun ke sana kemari, berkelip-kelip tertiup angin. Awan gelap di atas kota mengalamatkan datangnya cuaca yang lebih buruk lagi sebelum malam berlalu. Di seberang lapangan berkuda, lampu-lampu kota bersinar penuh semarak. Musashi mendapat kesan seolah-olah lautan kunang-kunang berkelip-kelip riang di tengah angin yang dingin jernih.

"Musashi!" panggil Koetsu dari joli tengah. "Kita ke sana itu. Rasanya aneh mendadak pergi ke sana, ya?" Ia menjelaskan bahwa sampai tiga tahun lalu, daerah lokalisasi itu terletak di Jalan Nijo, dekat istana, tapi kemudian Hakim Itakura Katsushige memindahkannya, karena suara nyanyian dan mabuk-mabukan pada malam hari mengganggu sekali. Ia mengatakan bahwa seluruh daerah itu berkembang pesat. Semua mode baru berasal dari tengah deretan lampu itu.

"Kita hampir dapat mengatakan bahwa suatu kebudayaan baru tercipta di sana." Sambil berhenti dan mendengarkan sebentar dengan saksama, ia menambahkan, "Engkau dapat mendengarnya, kan? Itu suara dawai dan nyanyian."

Musashi belum pernah mendengar jenis musik itu.

"Alat musiknya shamisen, versi yang sudah dikembangkan dari alat musik bersenar tiga dari Kepulauan Ryukyu. Banyak sekali lagu baru diciptakan daerah ini, kemudian tersebar di tengah penduduk biasa. Jadi, kau dapat mengerti, bagaimana berpengaruhnya daerah ini dan mengapa ukuran-ukuran kesopanan tertentu mesti dipertahankan, sekalipun daerah itu agak terpencil dari bagian kota yang lain."

Mereka membelok ke salah satu jalan lain. Cahaya lampu dan lentera gemilang yang tak terhitung jumlahnya dan bergantungan di pohon-pohon Liu tercermin dalam mata Musashi. Daerah itu tetap memakai nama lama sebelum dipindahkan, yaitu Yanagimachi, Kota Pohon Liu, karena pohon Liu sudah lama dihubungkan orang dengan kebiasaan minum dan membuangbuang waktu.

Koetsu dan Shoyu dikenal orang di tempat yang mereka masuki itu. Sambutan orang terasa menjilat, namun lucu. Segera menjadi jelas bahwa di sini mereka menggunakan nama-nama julukan atau "nama ejekan". Koetsu dikenal dengan nama Mizuochi-sama-Tuan Air Terjun-akibat sungai-sungai yang melintasi tanah miliknya, sedangkan Shoyu adalah Funabashi-sama-Tuan Jembatan Perahu-akibat jembatan ponton yang ada di dekat rumahnya.

Kalau Musashi menjadi pengunjung tetap tempat itu, pasti ia memperoleh nama julukan sendiri, karena di tanah antah berantah ini hanya sedikit orang menggunakan nama sebenarnya. Hayashiya Yojibei hanyalah nama samaran pemilik rumah yang mereka kunjungi itu, tetapi la lebih sering dipanggil Ogiya, nama perusahaannya. Bersama dengan Kikyoya, Ogiva adalah satu dari dua rumah yang paling terkenal di daerah itu. Hanya dua itu saja yang dikenal betul-betul bereputasi kelas satu. Perempuan cantik yang paling berkuasa di Ogiya adalah Yoshino Dayu, sedangkan rekanm-a di Kikyoya adalah Murogimi Dayu. Kemasyhuran kedua wanita itu di seluruh kota hanya dapat tersaingi oleh kemasyhuran daimyo terbesar.

Sekalipun Musashi berusaha keras untuk tidak menganga, ia terkagumkagum oleh keanggunan lingkungan yang mendekati keanggunan istana-istana paling mewah itu. Langit-langitnya yang rumit, lubang-lubang anginnya yang penuh ukiran dan sulaman, susuran tangganya yang belekuk-lekuk indah, dan kebun-kebun dalamnya yang dirawat dengan teliti-semuanya merupakan pesta bagi mata yang memandang. Karena sibuk menikmati lukisan pada daun pintu kayu, ia tak sadar teman-temannya telah jauh di depan, sampai Koetsu kembali menjemputnya.

Pintu-pintu warna perak dari kamar yang mereka masuki berpendar-pendar oleh sinar lampu. Satu sisi menghadap kebun gaya Kobori Enshu. Pasirnya yang digaruk baik-baik dan susunan batunya mengingatkan orang pada pemandangan gunung di Tiongkok, seperti dapat dilihat dalam lukisan zaman Sung.

Shoyu mengeluh kedinginan, ia duduk di bantalan dan menguncupkan bahunya. Koetsu duduk juga dan mempersilakan Musashi berbuat sama. Tak lama kemudian, gadis-gadis pelayan datang membawa sake hangat.

Melihat mangkuk yang disodorkan kepada Musashi mendingin, Shoyu jadi mendesak. "Minumlah, anak muda," katanya, "dan ambil yang panas."

Sesudah hat itu berulang dua-tiga kali, tingkah Shoyu mulai mendekati kekerasan. "Kobosatsu!" katanya kepada salah seorang gadis pelayan. "Suruh dia minum! Kamu, Musashi! Kenapa kamu? Kenapa tidak minum?"

"Saya minum, Pak," protes Musashi.

Orang tua itu sudah sedikit pusing. "Ah, kurang baik itu. Kamu punya semangat!"

"Saya memang bukan peminum."

"Maksudmu, kamu bukan pemain pedang yang kuat, kan?"

"Barangkali betul juga," kata Musashi lunak, dan menertawakan penghinaan itu.

"Kalau kamu kuatir minum itu mengganggu pelajaranmu atau menghilangkan keseimbanganmu atau melemahkan daya kemauanmu atau mencegahmu memasyhurkan nama, artinya kamu tak punya keberanian menjadi petarung."          

"Ah, bukan itu soalnya. Hanya ada satu masalah kecil."

"Apa masalah itu?"

"Minum bikin saya ngantuk."

"Nah, kamu bisa pergi tidur di sini atau di mana saja di tempat ini. Tak ada yang keberatan." Sambil menoleh kepada gadis-gadis, katanya, "Orang muda ini takut mengantuk kalau dia minum. Kalau dia ngantuk, masukkan dia ke tempat tidur!"

"Oh, dengan senang hati!" kata gadis-gadis itu bersama-sama sambil tersenyum malu-malu kucing.

"Kalau dia tidur, harus ada yang bikin dia tetap hangat. Koetsu, yang mana baiknya?"

"Ya, yang mana, ya?" kata Koetsu, tak mau terlibat.

"Sumigiku Dayu tak mungkin, dia istriku yang manis. Dan engkau sendiri tak mau kalau mesti Kobosatsu Dayu. Ada si Karakoto Dayu. Ah, tapi dia tak cocok. Terlalu keras untuk mengawani."

"Apa Yoshino Dayu tidak datang?" tanya Koetsu.

"Betul. Dia yang paling cocok! Bahkan tamu kita yang enggan ini akan senang padanya. Ingin tahu juga aku, kenapa dia tak ada di sini sekarang. Tolong panggil dia. Mau kutunjukkan dia pada samurai muda ini."

Sumigiku keberatan. "Yoshino tidak seperti kami. Dia punya banyak langganan, dan dia takkan lekas datang memenuhi panggilan."

"Oh, dia akan datang—untukku! Katakan aku di sini, dia akan datang, tak peduli sedang dengan siapa. Pergi sana panggil dia!" Shoyu menegakkan kepala, memandang ke sekitar, dan berteriak kepada gadis-gadis kecil pembantu para pelacur yang kini sedang bermain-main di kamar sebelah, "Rin'ya ada di situ?"

Rin'ya sendiri yang menyahut.

"Ke sini sebentar. Kamu biasa meladeni Yoshino Dayu, kan? Kenapa dia tak ada di sini? Katakan padanya Funabashi di sini, dia mesti datang sekarang juga. Kalau bisa bawa dia kemari, kukasih kamu hadiah."

Rin'ya tampak sedikit bingung. Matanya membelalak, tapi sebentar kemudian la memberi isyarat setuju. Anak itu sudah menunjukkan tandatanda akan menjadi cantik sekali, dan hampir pasti bahwa ia akan menjadi pengganti Yoshino yang terkenal itu dalam angkatan berikutnya. Tapi ia baru berumur sebelas tahun. Baru saja sampai di gang luar dan menutup pintu di belakangnya, ia sudah bertepuk tangan dan memanggil-manggil keras, "Uneme, Tamami, Itonosuke! Lihat sini!"

Ketiga gadis itu berlari keluar dan mulai bertepuk-tepuk tangan dan berteriak-teriak gembira menemukan salju di luar.

Orang-orang menengok ke luar untuk melihat kenapa anak-anak itu begitu ramai. Kecuali Shoyu, semua senang melihat pembantu-pembantu muda itu berkicau dengan riangnya, mencoba menerka-nerka apakah pagi berikutnya salju masih akan ada di tanah. Rin'ya sudah lupa akan apa yang dikerjakannya dan berlari ke halaman untuk bermain di salju.

Karena tak sabar, Shoyu menyuruh salah seorang pelacur mencari Yoshino Dayu. Pelacur itu kembali dan berbisik ke telinganya, "Yoshino mengatakan dia senang sekali dapat berkumpul dengan Bapak, tapi tamunya tidak mengizinkannya."

"Tidak mengizinkannya! Lucu! Perempuan lain boleh dipaksa melakukan suruhan langganannya, tapi Yoshino bisa melakukan apa saja yang dia mau. Atau barangkali dia sudah membiarkan dirinya dibeli dengan uang sekarang?"

"Oh, tidak, tapi tamu yang ditemaninya malam ini keras kepala sekali. Tiap kali Yoshino mengatakan akan pergi, tamu itu mendesak keras lagi supaya Yoshino tinggal."

"Hm. Kukira memang tak seorang pun di antara langganan itu menghendaki Yoshino pergi. Tapi dengan siapa dia sekarang?"

"Yang Dipertuan Karasumaru."

"Yang Dipertuan Karasumaru?" ulang Shoyu disertai senyum ironis. "Apa dia sendirian?"

"Tidak."

"Bersama beberapa sahabatnya yang biasa?"

"Ya."

Shoyu menepuk lututnya sendiri. "Oh, ini bisa menarik. Salju sedang baik sekarang, sake juga bagus, dan kalau ada Yoshino, segalanya akan bagus sekali. Koetsu, mari kita menulis kepada Yang Dipertuan. Coba. Nona, ambilkan aku tempat tinta dan kuas."

Dan ketika gadis itu meletakkan alat-alat tulis di depan Koetsu, katanya. "Apa yang mesti saya tulis?"

"Sajak panjang dan bagus. Prosa bisa juga, tapi sajak lebih baik. Yang Dipertuan Karasumaru salah seorang penyair kita yang terkemuka."

"Saya sangsi apakah saya bisa membuatnya. Yang kita inginkan syair untuk meyakinkan dia agar menyerahkan Yoshino kepada kita, kan?"

"Betul."

"Kalau sajaknya tidak bagus, tak akan bisa mengubah pikirannya. Tapi sajak yang baik tidak mudah ditulis seketika. Bagaimana kalau engkau menulis baris-baris pertamanya, dan aku selebihnya?"

"Hmm. Mari kita lihat, apa yang dapat kita lakukan." Shoyu mengambil kertas dan menulis:



Ke gubuk kami yang hina

Biarlah datang sebatang pohon ceri, Pohon ceri dari Yoshino.



"Kurasa bagus," kata Koetsu, lalu menulis:



Bunga-bunga gemetar karena dingin Di tengah awan di atas kemuncak.



Shoyu senang bukan main. "Bagus sekali," katanya. "Ini mestinya dapat menarik Yang Dipertuan dari para pengiringnya yang mulia—'orang-orang di atas awan' itu." Kertas itu dilipat rapi, kemudian diserahkannya kepada Sumigiku, katanya sungguh-sungguh, "Gadis-gadis lain rasanya tidak memiliki martabat seperti yang kaumiliki, karena itu kutunjuk kau menjadi utusanku kepada Yang Dipertuan Kangan. Kalau tak salah, itulah namanya yang dikenal di tempat ini." Nama julukan yang artinya "Tebing Gunung Dingin" itu dipakai untuk menunjukkan status agung Yang Dipertuan Karasumaru.

Sumigiku kembali tak lama kemudian. "Silakan, ini jawaban Yang Dipertuan Kangan," katanya, dan dengan hormat meletakkan kotak surat yang dibuat dengan indahnya di depan Shoyu dan Koetsu. Mereka memandang kotak yang secara tak langsung menunjukkan sikap resmi itu, kemudian mereka saling pandang. Apa yang dimulai sebagai lelucon kecil ternyata berkembang menjadi lebih serius.

"Nah," kata Shoyu. "Kita mesti lebih hati-hati lain kali. Mereka tentunya kaget. Pasti mereka tidak tahu bahwa kita di sini malam ini."

Dengan harapan tetap dapat mengambil manfaat dari pertukaran itu, Shoyu membuka kotak dan merentangkan balasan. Tapi alangkah kagetnya mereka kerena tak ada yang mereka lihat kecuali secarik kertas berwarna krem, tanpa tulisan apa pun.

Karena pikirnya ada yang terjatuh dari tangannya, Shoyu menoleh ke sekitar, mencari lembar kedua, kemudian menengok kembali ke dalam kotak.

"Sumigiku, apa ini artinya?"

"Saya sendiri tak mengerti, Tuan. Yang Dipertuan Kangan menyerahkan kotak itu pada saya dan menyuruh saya menyerahkannya pada Tuan."

"Apa dia mencoba menertawakan kita? Atau barangkali sajak kita terlalu tinggi untuknya, hingga dia menaikkan bendera putih tanda menyerah?"

Shoyu memang terbiasa menafsirkan segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri, tapi kali ini ia tampak ragu-ragu. Ia serahkan kertas itu pada

Koetsu, dan tanyanya, "Apa pendapatmu?"

"Kupikir, maksudnya kita disuruh membaca."

"Membaca kertas kosong?"

"Tapi kupikir, bagaimanapun dapat ditafsirkan."

"Dapat? Lalu apa kira-kira maksudnya?"

Koetsu berpikir sejenak, "Salju... salju menutup segalanya."

"Hmm. Mungkin juga kau benar."

"Menjawab permintaan kita yang berupa pohon ceri dari Yoshino, surat ini bisa berarti:



Kala Anda memandang salju

Dan mengisi mangkuk sake Anda, Tanpa bunga pun ...



"Dengan kata lain, ia menyatakan pada kita karena malam ini salju turun, kita mesti melupakan cinta, membuka pintu, dan mengagumi salju sambil minum. Atau setidak-tidaknya begitulah kesanku."

"Sungguh menjengkelkan!" seru Shoyu tak senang. "Tak ada maksudku minum semaunya macam itu. Aku tak akan duduk berdiam diri. Biar bagaimana, kita tanamkan pohon Yoshino itu di kamar kita, dan kita kagumi kembangnya." Ia jadi naik darah, dan membasahi bibirnya dengan lidah.

Koetsu mengajaknya bergurau agar ia tenang, tapi Shoyu terus juga menyuruh gadis-gadis itu membawa Yoshino, dan lama sekali menolak mengganti pokok pembicaraan. Kegigihannya tidak membawa hasil, yang akhirnya menjadi lucu, hingga gadis-gadis itu berguling-guling di lantai sambil tertawa.

Diam-diam Musashi meninggalkan tempat duduknya. Ia memilih waktu yang tepat. Tak seorang pun melihat kepergiannya.

 Bersambung>>>
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive