"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Sabtu, 22 Oktober 2016

Negara Ini tak butuh orang 'Pinter' tapi orang bener

Demikian dikatakan Achmad Nashir Budiman (Intelektual, Sesepuh/Aktivis Senior Masjid Salman ITB), dalam diskusi terbatas sekaligus “Silaturahmi Forum Komunikasi Sosial Masyarakat Merah Putih Bersatu di Jalan Padaringan KPAD Geger Kalong Kota Bandung, beberapa wktu lalu.Hadir dalam kesempatan tersebut Penulis, Budi Praptono (Ketua FKSM Merah Putih bersatu, Pendiri Forum Aktivis Bandung), Mintoro Hadi (Pengurus Forum kativis Bandung, Aktivis Merah Putih Bersatu ), Bambang Syaerudin (Merah Putih Bersatu), Asep Rohmandar (Ketua DPD MPB Kab. Bandung) dan Ari Mulyana ( Forum Diskusi Pekerja dan Buruh (Forsi PB) Bandung).

Menurut Nashir, melihat sitausi diatas manusia yang sadar hendaknya mempunyai pilihan.“Sekarang persoalannya adalah ketika terjadi seperti itu kita harus milih mau ikut yang mana?” Kata Nashir, yang telah menulis dan menterjemaahkan puluhan buku ini.

Nashir mengkritisi bahwa saat ini orang untuk memenuhi “nafsu duniawinya” terjebak mencari yang gampang-gampang, sehingga lupa dan tidak peduli terhadap proses dan nilai, prinsip mereka adalah mencari keuntungan terus menerus dan sebanyak-banyaknya. Namun menurutnya, alam pun mempunyai keterbatasan, sehingga sangat tidak mungkin mengantarkan manusia dalam “kerakusannya”.

“Orang-orang yang mau nyari yang gampang, nggak peduli proses lah, yang penting dalam kegiatan (hidup-red) ini, misalnya seperti orang “jual beli saham” pokoknya supaya dapat untung terus, tapi apakah bisa jalan seperti itu terus? Tidak. Karena namanya alam ada batasnya”

Dalam pandangan Nashir contoh yang paling nyata adalah “krisis global” yang menimpa Amerika, akibat dari imprealisme-nya.“Krisis di Amerika ini,kan sebetulnya bukti itu. Bahwa tidak bisa, (alam-red) tidak terbatas kita ambilin (lalu-red) kita untung terus, nggak mungkin” Kata Pria Bersahaja, yang pada tahun 1980 telah berhasil mengantarkan Pondok Pesantren Cipasung mendapatkan Kalpataru, berkat aktivitasnya sebagai pendamping dalam melestarikan lingkungan hidup di Sekitar Pondok Pesantren sejak Tahun 1977.

“Kadang dengan cara yang paling kasar. Kalau kita lihat kasus (Penyerangan-red) Iraq misalnya, (Iraq-red) dibikin tuduhan senjata nuklir tidak terbukti. Sebetulnya yang penting apa? dia mengancam sumber minyaknya Irak, dengan demikian ada alasaan ngomong sumberdaya terbatas, disana ada peluang untuk menaikan harga dengan tidak terbatas, padahal kan(mau-red) sampai kapan?“ Katanya

“Apalagi kemudian tumbalnya itu mahal, manusia dibunuhin”Tambah Nashir.

Kembali Pada Agama
 
Dinegara liberalis kapitalis menurut Nashir, pemerintah dijadikan alat oleh private untuk meguasai publik, padahal, tetapi jangan sampai juga seperti gaya sosialis komunis, hak-hak private menjadi hilang.

“Tetapi bagaimana orang ini mendapat suatu kelayakan, maksudnya didalam agama itu disampaikan bahwa di sebagian hartanya orang yang mampu itu itu terdapat haknya orang miskin juga” Kata Nashir.

Untuk berusaha keluar dari jerat-jerat dan gaya hedonisme imprealis dan kapitalis, menurut Nashir, masyarakat dihadapkan pada ketakutan, kecemasan seolah-olah kalau tidak mengikuti perilaku hidup mereka, seolah-olah tidak bisa hidup.

“Secara makronya seperti itu, yang kemudian dalam tataran lebih rendah kita dibikin cemas, dibikin khawatir. Terus akhiranya apa, yaitu muncul jargon wong nyari yang haram aja susah apalgi yang halal. Terus ya, dengan segala cara dimunculkan ketakutan, kecemasan, kalau nggak mengikuti cara itu nanti kita nggak bisa hidup. Kalau saya sampai pada saat itu, tidak ada jawaban yang memuaskan kecuali kembali pada agama” Katanya.

“Memang yang bikin kita hidup siapa?” Tanya Nashir.

“Kalau ada orang yang mulai cemas, selalu saya tanya, tiap hari anda makan apa? Makan nasi. Pernah nanam padi nggak seumur hidup? Nggak pernah. Tapi makan kita, Itulah kasih sayang Allah. Ibarat, kita nggak pernah minta masang sambungan sambungan listrik, tapi tiap hari kita dapat cahaya, dapat udara. Kadang kita mempunyai kecemasan yang berlebihan sehingga perilaku kita, jadi nggak beragama” Jelas Nashir.

Negara kita, membutuhkan banyak orang-orang ahli, S1, S2, S3, untuk menyelesaikan keterpurukan bangsa ini, Kata Nashir, tapi buru-buru dikritisi oleh Budi Praptono, bahwa S1, S2, S3 nya menurut Allah yang lebih penting, artinya orang yang bener, jadi selain pinter, harus bener, bukan pinter jadi keblinger, dan langsung dibenarkan oleh Nashir.

Nurdin S Drajat, Sekretaris Forum Komunikasi Sosial Merah Putih Bersatu, Editor Media Center Forum Aktivis Bandung.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive