"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Sabtu, 22 Oktober 2016

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Ramadhan segera menjelang, ada baiknya kita mempersiapkan diri. Ramadhan adalah bulan perlawanan, perlawanan terhadap hawa nafsu.
 
Seorang darwis sedang melakukan perjalanan jauh. Setelah berjalan berminggu-minggu, ia akhirnya sampai di kaki sebuah bukit yang curam, yang samar-samar tampak bagaikan gunung di hadapannya. Ia menengadahkan tangan dan berdo'a, "ya Tuhan, Engkau Maha mengetahui bahwa aku telah melakukan perjalanan karena-Mu.. Engkau maha Menguasai segala sesuatu. Kirimkanlah seekor keledai yang dapat memudahkan aku menaiki bukit ini.

Tiba-tiba ia mendengar suara ringkikan, dan benarlah, terlihat seekor keledai terjebak di dalam semak-semak. Ia bersyukur kepada Tuhan atas hadiah tersebut. Begitu ia mau menunggangi keledai tersebut, datang seorang penjahat yang menunggangi seekor kuda jantan Arab. Penjahat tersebut bertubuh gemuk, berperawakan seram, berkumis tebal, dengan otot-otot yang menonjol. Ia membawa pistol dan pedang yang diikat di pinggangnya.

Penjahat itu berteriak, "Aha! Seorang darwis. Aku benci para darwis! Kalian selalu berbicara tentang kejujuran, kerendahan hati, dan membantu orang lain. Siapa kalian hingga berani mengkritik gaya hidupku? Dan kau, seorang lelaki besar hendak menunggai keledai yang kecil. Lebih baik keledai tersebutlah yang menunggangimu. Ya, benar! Angkatlah keledai itu, dan letakkan ia di atas punggungmu."

Sang darwis menatap penjahat dengan cemas, "mengangkat keledai?"

Si penjahat menghunus pedangnya. "Au bilang, angkat ia dan letakkan di atas punggungmu!"

Dengan enggan sang darwis pun menurutinya. Kemudian si penjahat membentaknya, "sekarang, bawalah keledai tersebut ke atas bukit."

"ke atas bukit?", sang darwis terkejut.

Kembali si penjahat tersebut menghunus pedangnya. "Bawalah keledai tesebut ke atas bukit," perintahnya.

Sang darwis mulai berjalan menaiki bukit dengan keledai di atas punggungnya. Setiap kali menoleh ke belakang, ia melihat penjahat tersebut mengawasinya, dengan pedang terhunus di tangannya. Akhirnya, sang darwis yang kelelahan tersebut mencapai bukit. Ia menurunkan keledai tersebut dan kembali berdo'a kepada Allah. Ya Allah, aku mengetahui bahwa Engkau Maha Melihat dan mengetahui segala sesuatu. Namun, terkadang Engkau memahami secara terbalik."

Seperti halnya darwis yang malang tersebut, sebagaian besar kita membawa keledai di atas punggung kita. Kita telah bekerja untuk nafs kita, untuk kepribadian kita, dan bukan menjadikannya bekerja untuk kita. Tuhan menjadikan nafs sebagai alat bagi kita, dan tentu saja kita lah yang telah mebuat segala sesuatunya menjadi terbalik.

Nafs dalam bahasa bahasa Arabnya lebih sering diterjemahkan sebagai diri, yakni dalam penggunan sehari-hari, seperti diriku dan dirimu. Ketika kaum sufi menggunakan istilah nafs, mereka merujuk pada sifat-sifat dan kecenderungan buruk kita. Pada tingkatannya yang terendah, nafs adalah yang membawa kita kepada kesesatan. Kita semua berjuang untuk melakukan hal-hal yang jelas-jelas kita ketahui harus kita lakukan. Kita kerap berjuang, bahkan lebih keras lagi, untuk menghindari perilaku-perilaku yang kita ketahui sebagai hal yang buruk dan merusak.

Mengapa berjuang? Jika pikiran kita satu, maka tidak ada istilah berjuang. Namun, pikiran kita terbagi-bagi, bahkan ketika kita yakin akan apa yang benar, ada sebagain dari diri kita yang berusaha untuk membuat kita melakukan yang sebaliknya. Bagian tersebut adalah diri rendah (nafsu-nafsu), khususnya tingkat terendah nafs kita, yakni nafs tirani.

Nafs, sebagai proses yang dihasilkan oleh interaksi roh dan jasad, bukanlah struktur psikologis yang bersifat statis. Sama sekali tidak ada yang salah dengan roh dan jasad. Namun, proses yang dihasilkan oleh keduanya dapat saja menyimpang. Ketika ruh memasuki jasad, ia terbuang dari asalnya yang bersifat immateri, kemudian nafs tersebut mulai terbentuk.dengan demikian, roh pun menjadi terpenjara di dalam benda materi dan mulai menyerap aspek-aspeknya.

Karena nafs berakar di dalam jasad dan roh, ia mencakup kecenderungan material dan spiritual. Pada mulanya, aspek material mendominasi; nafs tertarik kepada kesenangan dan keuntungan duniawi. Apa yang bersifat materi secara alamiah cendrung tertarik kepada dunia materi. Ketika nafs bertransformasi, ia menjadi lebih tertarik kepada tuhan dan kurang tertarik pada dunia.

Nafs dalam syairnya Bakharzi dibahasakan sebagai nyala api yang menyimpan keindahan sekaligus memiliki kemampuan membakar yang lainnya, tetapi ia juga  membakar dirinya sendiri. Begitulah nafs di samping mempunyai sisi positif juga menyimpan kekuatan yang berpotensi melahirkan nilai-nilai perilaku negatif dan menjerumuskan pemiliknya.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Nabi saw usai perang Badar pernah mengatakan bahwa masih ada perang yang lebih dahsyat di banding dengan perang Badar. Perang itu adalah perang melawan hawa nafsunya sendiri. Jihaddunnafsu itu bahasanya, inilah jihad yang harus kita jalani untuk meraih takwa, mengapa demikian? Karena jihad ini adalah jihad hakikat, yang lawannya tidak dapat diindentifikasi dengan inderawi namun jika tidak diperangi terus menerus dengan konsisten justru akan melemahkan cahaya iman itu sendiri. Termasuk di dalamnya pergulatan untuk menyuruh rasa, malas, jenuh dan kebosanan yang muncul ketika berusaha untuk menata hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Nafs rendah yang masih menggelayuti pemikiran dan menyebabkan tingkatan kita keluar dari rel keshalehan agama maupun sosial sudah selayaknya ditarik ke nafsu muthmainah. Nafsu muthmainah dalam bahasa al Qur'annya merupakan nafsu ridha. Nafsu ini adalah nafsu yang diridhoi oleh Allah dan nafsu yang akan kembali  kepada Allah. Nafsu ridha menjadi penting karena nafsu ini adalah nafsu yang mempumyai tingkatan yang lebih tinggi diantara tingkatan nafsu-nafsu yang lain.

Pada tingkat ini, kita tidak hanya merasa puas terhadap takdir kita. Kita juga merasa puas terhadap segala kesulitan dan ujian kehidupan, yang juga berasal dari Tuhan. Kondisi nafs yang ridha ini sangatlah berbeda dengan cara yang bisa kita lakukan di dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Ketika rasa syukur dan cinta kepada Tuhan demikian besarnya, bahkan yang pahit pun terasa manis bagi kita, maka kita telah mencapai stasiun nafs yang ridha. Ciri-ciri lain tingkat ini adalah kejaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat kepada Tuhan. Keajaiban adalah hal yang mungkin karena Tuhan menjawab do'a yan tulus dari orang-orang yang berada di tingkat ini.. sebagai contoh, begitu banyak orang suci yang do'anya untuk menyembuhkan orang sakit telah dikabulkan oleh Tuhan. Kebebasan muncul karena kita tidak lagi tergoda oleh sesuatu apapun di dunia ini.perhatian kita di tujukan pada batiniah kita dan pada Tuhan.

Jiwa-jiwa yang tenang dibutuhkan di zaman sekarang ini, mengingat zaman sekarang penuh dengan berbagai macam kerancuan, baik kerancuan pemikiran maupun kerancuan pola budaya. Seolah-olah semuanya telah tercampur dalam satu wadah yang bernama dunia dan hiruk pikuknya sehingga jika tidak hati-hati menilai apalagi sampai menjustice permasalahan tersebut keliru maka berarti kita telah berbuat dzolim kepada pihak lain. Dengan jiwa yang tenang kita bisa menjadi orang yang mencari nilai kebenaran dan kejujuran bukan hanya mencari siapa yang kita benci dan kita senangi. Berpikir secara arif dan bicara yang tidak sekedar waton ngomong adalah kunci untuk mencari keselamatan diri.

Khoirul Anwar, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Tulisan ini terinspirasi oleh buku Hati, Diri, dan Jiwa karya Syekh Ragib al-Jerahi
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive