"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Sabtu, 22 Oktober 2016

Ketika Dunia Tidak ada yang gratis, sholat pun harus bayar?

 
Penegakan agama atau jihad di jalan Allah menjadi tanggung jawab kita semua. Karena agama bagian dari diri kita dan tidak dapat dipisahkan dari hidup kita. Menurut Albert Einstien, “Beragama tanpa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) akan lumpuh. Dan iptek tanpa agama buta”. Tetapi akhir-akhir ini, pengamalan agama mulai diabaikan oleh para pemeluknya. Bahkan agama dianggap menghambat kemajuan iptek. Sungguh ironis sekali, sebab agama justru sebagai penyelamat dan pembawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia.

Untuk itu, pemahaman terhadap agama sekaligus pengamalannya harus diintensifkan agar tidak salah memperlakukan agama. Orang mengenal Allah sebagai Pencipta melalui agama atau wahyu. Dan wahyu menjadi pedoman dan pandangan hidup bagi manusia yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sebenarnya pendalaman terhadap pemahaman agama sudah banyak dilakukan, baik di pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah, maupun di lembaga-lembaga masyarakat. Namun karena menjadi manusia pilihan atau manusia bermartabat harus melalui tahapan-tahapan dan proses yang panjang, serta melalui apllikasi yang tidak gampang, maka manusia pilihan tidak menjadi penghuni mayoritas dalam suatu wilayah/negara tertentu. 

Jika mereka menjadi penghuni mayoritas, maka negara akan makmur dan sejahtera. Allah berfirman :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS 7:96).

Sebagian besar penghuni wilayah negara Republuk Indonesia adalah bukan manusia pilihan meskipun warga negara RI mayoritas muslim. Maka yang terjadi bukan rahmat dan kasih sayang, tetapi kegelisahan hidup, kekerasan, pertikaian antar umat untuk bersaing berebut uang, harta, kekayaan dan kedudukan. Hukum rimba yang berlaku, bukan hukum Islam, yang kuat yang menang, yang berduit yang selamat, dan yang berkuasa yang aman dan kebal hukum. Uang menjadi segala-galanya bagi manusia, lantas mendorong mereka untuk berambisi mencari uang sampai membutakan mereka dari jalan yang benar, lalu menghalalkan segala cara.

Sebenarnya tempat-tempat peribadatan seperti masjid, musholla dan langgar adalah tanggungjawab pemeluknya dan tidak mungkin muslim yang mayoritas ini akan membiarkan masjid atau musholla terbengkelai tidak diurus, apalagi sampai tidak memiliki kas dana untuk memakmurkannya. Tetapi kenyataannya akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dari pemeluknya. Untuk rehab  atau pembangunan masjid saja melalui cara-cara yang kurang etis dan memalukan, seperti meminta-minta amal jariyah di jalan-jalan raya umum yang kini merebak di mana-mana, sampai menganggu arus jalan lalu-lintas utama. Ini akibat dari kedangkalan pemahaman dan kesadaran agama mereka yang berimbas kepada ketidakpedulian terhadap masjid atau tempat-tempat ibadah. Sehingga dalam pengamalan agama pun bisa terjadi melalui kekerasan atau pemaksaan karena tidak ada kesadaran. Mungkin saat ini dianggap aneh kalau orang sholat harus bayar. Tetapi suatu ketika bakal terjadi. Karena shalat memakai air untuk wudhu dan untuk upah penjaga kebersihan. 

Dulu orang kencing di toilet masjid atau musholla tidak dimintai bayaran. Sekarang sudah mulai banyak toilet-toilet masjid atau musholla  di tepi jalan yang dijaga oleh pemungut bayaran. Kalau suatu ketika mau sholat harus bayar, betapa susahnya hidup ini, karena untuk sholat saja harus bayar. Bisa jadi nanti imam sholat jamaah pun minta bayaran. Tidak bisa dibayangkan dampaknya nanti jika orang sholat di masjid atau musholla harus bayar. Gratis saja, orang sudah enggan mendirikan sholat, apalagi suruh bayar. Siapa orangnya yang mau?

Dulu pemakaman mayat dikunjungi oleh handai tolan, tetangga dan orang-orang muslim yang ikhlas membantu dalam segala proses pemakaman, dari memandikan, mengkafani, menyiapkan sarana dan prasarana hingga tuntas pemakaman. Keluarga musibah tidak direpotkan dengan tetek bengek urusan mayat. Bahkan dihibur oleh para pelayat. Dan kita mengira bahwa tradisi yang baik ini akan berlangsung terus menerus sebagai wahana ibadah sekaligus perekat sosial. Tetapi kini keadaannya menjadi lain meskipun di daerah-daerah tertentu masih mempertahankan budaya tersebut. Keluarga musibah harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya pemakaman. Bahkan memilih lokasi pemakaman pun harus membayar sampai jutaan. Apalagi di kota-kota besar. Dengan demikian arena ibadah atau tolong-menolong menjadi semakin sempit.

Demikian halnya soal air minum yang bersumber dari mata air bumi. Orang-orang tua kita dulu menyediakan kendi-kendi yang berisi air minum dipajang di depan rumahnya untuk orang lewat yang kebetulan haus dan membutuhkan tanpa dipungut uang. Namun kini dengan kreatifitas otak, air minum yang gratis itu yang bersumber dari (bumi) Allah dikemas dan dijual dimana-mana. Bahkan dijual lebih mahal daripada harga BBM. Masih beruntung ada beberapa kantor bank yang masih menyediakan air minum gratis untuk umum, meskipun tidak termasuk katagori ibadah, karena diambil dari dana promosi.

Untuk menuju kepada rahmat dan kasih sayang Allah, semestinya area ibadah tidak boleh dipersempit, malah harus diperlebar dan diperluas area gotong-royong, guyub dan rukun antar sesama melalui kegiatan saling membantu yang dulu dipertahankan oleh nenek moyang kita. Allah berfirman : :”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(QS 5:2).

Perlu dimengerti dan disadari bahwa rahmat dan barokah serta kasih sayang datang dari Allah semata melalui tangan-tangan manusia. Demikian juga rizki, besar kecil, sedikit banyak, yang menentukan Allah bukan manusia meskipun melalui sebab-sebab yang logis dan rasional. Sehingga manusia tidak boleh berlawanan atau bersaing dengan manusia dan tidak boleh saling memaksa. Tetapi harus sesuai dengan perintah-Nya, manusia harus saling memberi dan menerima, saling melengkapi, saling membantu dan saling berkenalan untuk tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah swt  Allah berfirman :  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS 49:13).

Manakala manusia sudah tidak saling berhadapan dalam konotasi negatif, tidak saling bersaing, maka manusia akan mengfokuskan diri untuk ibadah kepada Allah swt, Dan aktivitasnya akan semangat demi mengejar prestasi ibadah “fastabiqul-khairot” berlomba-lomba mengejar kebaikan sesuai perintah Allah. Maka etos kerja dalam Islam sebenarnya sangat luar biasa. Orang Islam tidak boleh malas bekerja Allah berfirman : “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS 67:2)

 wallahu'alam

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive