"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Jumat, 06 September 2013

Hikmah : Pentingnya sikap disiplin

Oleh M Husnaini



Di antara ajaran mulia yang sangat ditekankan dalam Islam adalah

disiplin. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih kesuksesan.

Kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan tidak akan memiliki makna

signifikan tanpa disertai sikap disiplin.











Sering kita jumpai orang berilmu tinggi tetapi tidak mampu berbuat banyak

dengan ilmunya, karena kurang disiplin. Sebaliknya, banyak orang yang

tingkat ilmunya biasa-biasa saja tetapi justru mencapai kesuksesan luar

biasa, karena sangat disiplin dalam hidupnya.











Tidak ada lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan disiplin kepada anak

didiknya. Demikian pula organisasi atau institusi apapun, lebih-lebih

militer, pasti sangat menekankan disiplin kepada setiap pihak yang

terlibat di dalamnya. Semua pasti sepakat, rencana sehebat apapun akan

gagal di tengah jalan ketika tidak ditunjang dengan disiplin.











Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan

atau kepatuhan terhadap peraturan. Ketaatan berarti kesediaan hati secara

tulus untuk menepati setiap peraturan yang sudah dibuat dan

disepakatibersama. Orang hidup memang bukan untuk peraturan, tetapi

setiap orang pasti membutuhkan peraturan untuk memudahkan urusan hidupnya.











Analoginya sederhana. Kita bisa perhatikan pentingnya peraturan itu dalam

lampu lalu lintas. Ketaatan setiap pengendara terhadap isyarat lampu

lintas jelas membuat kondisi jalan menjadi tertib dan aman. Bayangkan

ketika masing-masing pengendara mengabaikan peraturan berupa isyarat

lampu lalu lintas itu. Pasti kondisi jalan akan kacau, macet, dan bahkan

memicu terjadinya kecelakaan.











Contoh di atas tentu bisa ditarik ke dalam ranah kehidupan yang lebih

luas. Tegasnya, disiplin sangat ditekankan dalam urusan dunia, dan

lebih-lebih urusan akhirat. Tidak heran jika Allah memerintahkan kaum

beriman untuk membiasakan disiplin. Perintah itu, antara lain, tersirat

dalam Al-Qur'an surat Al-Jumuah ayat 9-10.











"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan

shalat Jum'at, maka bersegeralah untukmengingat Allah dan tinggalkanlah

jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian

mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di

muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak

supaya kalian beruntung." (QS Al-Jumuah: 9-10).











Menurut ayat di atas, keberuntungan akan kita raih dengan disiplin

memenuhi panggilan ibadah ketika datang waktunya dan kembali bekerja

ketika sudah menunaikan ibadah. Bukan hanya urusan dagang yang harus

ditinggalkan ketika sudah tiba waktu shalat. Sebab, menurut para mufasir,

ungkapan "Tinggalkanlah jual beli" dalam ayat itu berlaku untuk segala

kesibukan selain Allah. Dengan kata lain, ketika azan berkumandang, maka

kaum beriman diserukan untuk bergegas memenuhi panggilan Allah itu.











Meskipun demikian, bukan berarti kaum beriman harus terus menerus larut

dalam urusan ibadah saja. Ayat di atas juga memerintahkan supaya kaum

beriman segera kembali bekerja setelah menunaikan ibadah. Dengan

demikian, disiplin harus dilakukan secara seimbang antara urusan akhirat

dan urusan dunia. Tidak dibenarkan mementingkan yang satu sambil

mengabaikan yang lain.











Disiplin yang dilakukan secara seimbang antara urusan ibadah dan kerja,

akhirat dan dunia, itulah yang akan mengantarkan kaum beriman kepada

kesuksesan. Perintah untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia

juga dapat ditemukan dalam Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 77.











"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan

negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan jatahmu dari kenikmatan

dunia, dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah

berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.

Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS

Al-Qashash: 77).











Kita juga bisa cermati ajaran disiplin dalam perintah shalat jamaah.

Kewajiban shalat wajib lima waktu selama sehari semalam sangat dianjurkan

untuk dikerjakan secara berjamaah. Menurut keterangan Rasulullah SAW,

nilai pahala shalat wajib secara berjamaah adalah dua puluh tujuh derajat

dibanding shalat sendirian. Dari sini, dapat dipahami jika sebagian ulama

kemudian menghukumi shalat jamaah sebagai sunnah muakkadah, sementara

sebagian ulama lain menghukuminya wajib.











Shalat jamaah jelas membutuhkan disiplin. Karena, umumnya shalat jamaah

dikerjakan bersama-sama di masjid atau langgar tidak lama setelah azan

berkumandang yang diikuti dengan iqamah. Dengan demikian, jika ingin

mengikuti shalat jamaah, maka kita harus segera meninggalkan kesibukan

setelah mendengar azan. Shalat jamaah di masjid atau langgar itu

dikerjakan tepat waktu. Kalau kita masih saja ruwet dengan segala tetek

bengek dunia, sementara azan sudah berkumandang, dipastikan kita akan

ketinggalan, atau malah tidak mendapati shalat jamaah sama sekali.











Belum lagi tradisi i'tikaf atau berdiam diri ketika menunggu shalat

jamaah dimulai. Ditambah tradisi berzikir setelah shalat jamaah selesai.

Tanpa disiplin waktu yang bagus, mustahil kita dapat melakukan semua itu.

Membiasakan disiplin dalam segala urusan secara seimbang itulah yang akan

menjadikan hidup kita indah, tertata, dan diliputiberkah.



Redaktur : Heri Ruslan



Sumber www.republika.co.id





--

ttd.





M. Alie Marzen
Share:

Hikmah : Pentingnya sikap disiplin

Oleh M Husnaini

Di antara ajaran mulia yang sangat ditekankan dalam Islam adalah
disiplin. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih kesuksesan.
Kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan tidak akan memiliki makna
signifikan tanpa disertai sikap disiplin.





Sering kita jumpai orang berilmu tinggi tetapi tidak mampu berbuat banyak
dengan ilmunya, karena kurang disiplin. Sebaliknya, banyak orang yang
tingkat ilmunya biasa-biasa saja tetapi justru mencapai kesuksesan luar
biasa, karena sangat disiplin dalam hidupnya.





Tidak ada lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan disiplin kepada anak
didiknya. Demikian pula organisasi atau institusi apapun, lebih-lebih
militer, pasti sangat menekankan disiplin kepada setiap pihak yang
terlibat di dalamnya. Semua pasti sepakat, rencana sehebat apapun akan
gagal di tengah jalan ketika tidak ditunjang dengan disiplin.





Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan
atau kepatuhan terhadap peraturan. Ketaatan berarti kesediaan hati secara
tulus untuk menepati setiap peraturan yang sudah dibuat dan
disepakatibersama. Orang hidup memang bukan untuk peraturan, tetapi
setiap orang pasti membutuhkan peraturan untuk memudahkan urusan hidupnya.





Analoginya sederhana. Kita bisa perhatikan pentingnya peraturan itu dalam
lampu lalu lintas. Ketaatan setiap pengendara terhadap isyarat lampu
lintas jelas membuat kondisi jalan menjadi tertib dan aman. Bayangkan
ketika masing-masing pengendara mengabaikan peraturan berupa isyarat
lampu lalu lintas itu. Pasti kondisi jalan akan kacau, macet, dan bahkan
memicu terjadinya kecelakaan.





Contoh di atas tentu bisa ditarik ke dalam ranah kehidupan yang lebih
luas. Tegasnya, disiplin sangat ditekankan dalam urusan dunia, dan
lebih-lebih urusan akhirat. Tidak heran jika Allah memerintahkan kaum
beriman untuk membiasakan disiplin. Perintah itu, antara lain, tersirat
dalam Al-Qur'an surat Al-Jumuah ayat 9-10.





"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan
shalat Jum'at, maka bersegeralah untukmengingat Allah dan tinggalkanlah
jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian
mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di
muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kalian beruntung." (QS Al-Jumuah: 9-10).





Menurut ayat di atas, keberuntungan akan kita raih dengan disiplin
memenuhi panggilan ibadah ketika datang waktunya dan kembali bekerja
ketika sudah menunaikan ibadah. Bukan hanya urusan dagang yang harus
ditinggalkan ketika sudah tiba waktu shalat. Sebab, menurut para mufasir,
ungkapan "Tinggalkanlah jual beli" dalam ayat itu berlaku untuk segala
kesibukan selain Allah. Dengan kata lain, ketika azan berkumandang, maka
kaum beriman diserukan untuk bergegas memenuhi panggilan Allah itu.





Meskipun demikian, bukan berarti kaum beriman harus terus menerus larut
dalam urusan ibadah saja. Ayat di atas juga memerintahkan supaya kaum
beriman segera kembali bekerja setelah menunaikan ibadah. Dengan
demikian, disiplin harus dilakukan secara seimbang antara urusan akhirat
dan urusan dunia. Tidak dibenarkan mementingkan yang satu sambil
mengabaikan yang lain.





Disiplin yang dilakukan secara seimbang antara urusan ibadah dan kerja,
akhirat dan dunia, itulah yang akan mengantarkan kaum beriman kepada
kesuksesan. Perintah untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia
juga dapat ditemukan dalam Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 77.





"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan jatahmu dari kenikmatan
dunia, dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.
Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS
Al-Qashash: 77).





Kita juga bisa cermati ajaran disiplin dalam perintah shalat jamaah.
Kewajiban shalat wajib lima waktu selama sehari semalam sangat dianjurkan
untuk dikerjakan secara berjamaah. Menurut keterangan Rasulullah SAW,
nilai pahala shalat wajib secara berjamaah adalah dua puluh tujuh derajat
dibanding shalat sendirian. Dari sini, dapat dipahami jika sebagian ulama
kemudian menghukumi shalat jamaah sebagai sunnah muakkadah, sementara
sebagian ulama lain menghukuminya wajib.





Shalat jamaah jelas membutuhkan disiplin. Karena, umumnya shalat jamaah
dikerjakan bersama-sama di masjid atau langgar tidak lama setelah azan
berkumandang yang diikuti dengan iqamah. Dengan demikian, jika ingin
mengikuti shalat jamaah, maka kita harus segera meninggalkan kesibukan
setelah mendengar azan. Shalat jamaah di masjid atau langgar itu
dikerjakan tepat waktu. Kalau kita masih saja ruwet dengan segala tetek
bengek dunia, sementara azan sudah berkumandang, dipastikan kita akan
ketinggalan, atau malah tidak mendapati shalat jamaah sama sekali.





Belum lagi tradisi i'tikaf atau berdiam diri ketika menunggu shalat
jamaah dimulai. Ditambah tradisi berzikir setelah shalat jamaah selesai.
Tanpa disiplin waktu yang bagus, mustahil kita dapat melakukan semua itu.
Membiasakan disiplin dalam segala urusan secara seimbang itulah yang akan
menjadikan hidup kita indah, tertata, dan diliputiberkah.

Redaktur : Heri Ruslan

Sumber www.republika.co.id


--
ttd.


M. Alie Marzen
Share:

Hikmah : Biar Saya yang Bayar

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas



Setelah selesai shalat 'Isya dan sunnah ba'diyah, sebagian besar jamaah

Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang langsung pulang ke

pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di

sekitar masjid.



Pengunjung pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian

jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air

masing-masing atau ziarah ke Madinah.



Di antara kerumuman para pembeli di salah satu pusat perbelanjaan itu

terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dari tadi dia sudah beberapa kali

membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.



Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam

terakhir dia di Makkah, karena besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk

selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air.



Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya

tidak cukup. Dengan berat hati dia pergi meninggalkan toko sajadah itu.



Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya

kembali melayang ke sana. Setelah memutari lantai dasar pusat

perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko

sajadah itu.



Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang

tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang

memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya.



Begitu sajadah itu dia letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil

sajadah pilihan Pak Muhsin, lalu membayarnya dan menyerahkannya kepada

Pak Muhsin sambil berkata: "Hadiah, hadiah…tafadhdhal!". Pak Muhsin

sangat senang sekaligus terharu.



Sampai di Tanah Air, peristiwa itu selalu dia kenang, apalagi setiap dia

melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak dia kenal itu. Dia

ingin melakukan hal yang sama.



Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu

barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang

yang mahal harganya.



Demikianlah, pada suatu hari, setelah melaksanakan shalat Zhuhur

berjamaah di sebuah masjid, dia mampir ke toko buku kecil di samping

masjid langganannya.



Pada saat dia sedang melihat-lihat buku tentang Islam terbitan terbaru,

tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang

memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.



"Pak, apakah nanti ba'da Maghrib masih buka?" tanyanya kepada penjual

buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup.



"Bapak kembali besok pagi saja." Kata penjual buku itu. "Wah sayang

sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah", kata calon pembeli buku

itu sambil beranjak pergi pelan-pelan.



Pak Muhsin kembali ingat peristiwa di Mekkah tempo hari. Segera saja dia

bilang sama penjual buku: "Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku

itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar".



Bapak dari daerah itu kaget dan senang, tidak dia duga ada yang berbaik

hati mau membayarkan enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya

jawab agama ini sangat dia perlukan dalam berdakwah di daerah.



Pak Muhsin dapat merasakan kebahagiaan bapak yang tidak dia kenal itu,

seperti kebahagiaanya waktu di Makkah dulu.



















Redaktur : Damanhuri Zuhri

Rabu, 04 September 2013, 11:22 WIB



Sumber































Nonang/Republika









sajadah





A+ | Reset | A-













REPUBLIKA.CO.ID,



--

ttd.





M. Alie Marzen
Share:

Hikmah : Biar Saya yang Bayar

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Setelah selesai shalat 'Isya dan sunnah ba'diyah, sebagian besar jamaah
Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang langsung pulang ke
pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di
sekitar masjid.

Pengunjung pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian
jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air
masing-masing atau ziarah ke Madinah.

Di antara kerumuman para pembeli di salah satu pusat perbelanjaan itu
terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dari tadi dia sudah beberapa kali
membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.

Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam
terakhir dia di Makkah, karena besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk
selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air.

Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya
tidak cukup. Dengan berat hati dia pergi meninggalkan toko sajadah itu.

Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya
kembali melayang ke sana. Setelah memutari lantai dasar pusat
perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko
sajadah itu.

Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang
tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang
memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya.

Begitu sajadah itu dia letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil
sajadah pilihan Pak Muhsin, lalu membayarnya dan menyerahkannya kepada
Pak Muhsin sambil berkata: "Hadiah, hadiah…tafadhdhal!". Pak Muhsin
sangat senang sekaligus terharu.

Sampai di Tanah Air, peristiwa itu selalu dia kenang, apalagi setiap dia
melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak dia kenal itu. Dia
ingin melakukan hal yang sama.

Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu
barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang
yang mahal harganya.

Demikianlah, pada suatu hari, setelah melaksanakan shalat Zhuhur
berjamaah di sebuah masjid, dia mampir ke toko buku kecil di samping
masjid langganannya.

Pada saat dia sedang melihat-lihat buku tentang Islam terbitan terbaru,
tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang
memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.

"Pak, apakah nanti ba'da Maghrib masih buka?" tanyanya kepada penjual
buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup.

"Bapak kembali besok pagi saja." Kata penjual buku itu. "Wah sayang
sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah", kata calon pembeli buku
itu sambil beranjak pergi pelan-pelan.

Pak Muhsin kembali ingat peristiwa di Mekkah tempo hari. Segera saja dia
bilang sama penjual buku: "Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku
itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar".

Bapak dari daerah itu kaget dan senang, tidak dia duga ada yang berbaik
hati mau membayarkan enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya
jawab agama ini sangat dia perlukan dalam berdakwah di daerah.

Pak Muhsin dapat merasakan kebahagiaan bapak yang tidak dia kenal itu,
seperti kebahagiaanya waktu di Makkah dulu.









Redaktur : Damanhuri Zuhri
Rabu, 04 September 2013, 11:22 WIB

Sumber















Nonang/Republika




sajadah


A+ | Reset | A-






REPUBLIKA.CO.ID,

--
ttd.


M. Alie Marzen
Share:

Insya Allah Segalanya Ada Jalan

Oleh HM Rizal Fadillah



Ketika kau tak sanggup melangkah

Hilang arah dalam kesendirian

Tiada mentari bagai malam yang kelam

Tiada tempat untuk berlabuh

Bertahan terus berharap Allah selalu di simu".

"Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah ada jalan". (syair lagu Maher

Zain)



Rasa yakin akan dekatnya pertolongan Allah tidaklah mudah. Sering masalah

yang ada ditanggapi dengan jiwa yang frustrasi. Tak ada harapan.

Seolah-olah dirinya adalah orang yang paling malang dalam kehidupan.

Bagai syair lagu Hamdan ATT "Aku merasa orang termiskin di dunia//Yang

penuh derita bermandikan air mata".



Ketika sakit , dia merasakan seolah olah tak ada orang lain yang lebih

menderita selain dirinya. Ketika usaha jatuh dan dililit hutang, ia pun

mengeluh betapa pedih kehidupan ini. Ketika berurusan dengan masalah

hukum, Allah didakwa telah menganiaya dirinya. Mengapa yang lain yang

melakukan hal yang sama ternyata dapat selamat dari jerat hukum, lalu

berteriak "Di mana keadilan?"



Bagi orang yang beriman tentu segala kesulitan ada hikmah dan maknanya.

Sakit dapat menjadi penghapus dosa dan penambah pahala. Usaha bangkrut

dapat menjadi penguat mental untuk bangkit untuk keberuntungan yang lebih

besar. Begitu juga hukuman adalah pintu taubat agar kelak menjadi hamba

yang lebih waspada dan banyak beramal.



Kita ingat ucapan dan doa Nabi Ayub saat ditimpa sakit berat yang

menyedihkan, harta habis dan dihinakan, ditinggal sendirian oleh teman,

kerabat, serta sanak keluarga. Istrinya pun hengkang. Beliau berkata,

"Sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Pengasih dan Maha

Penyayang" (QS AL Anbiyaa 83).



"Wa anta arhamur roohimiin" Engkau yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

!. Ini adalah kalimat yang menghidupkan cahaya lampu di kegelapan malam.

Menjadi pengangkat harkat dari jurang yang dalam. Menjadi penuntun

langkah kaki yang terseok-seok dan jatuh bangun. Allah lah pemberi jalan,

bukan yang lain. "Adakah yang lain yang mengabulkan permohonan orang yang

ditimpa kesulitan ketika berdoa, meghilangkan keburukan, dan menjadikan

kalian sebagai khalifah di bumi? Adakah Tuhan selain Allah? Sedikit

sekali yang ingat" (QS An Naml 62).



Sesulit apapun yang dirasakan, prasangka kepada Allah harus tetap

positif, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Diawali dengan

prasangka baik terhadap apa yang menimpa kita, dilanjutkan dengan

kesungguhan berikhtiar di jalan-Nya, insya Allah ada jalan.



"Barangsiapa bersungguh-sungguh (berikhtiar) dijalan Kami, maka Kami

akan tunjukan jalan-jalan-Nya dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang

yang berbuat baik" (QS Al Ankabuut 69).



Dari Al Fudhail bin Iyadl, syaikhul Haram Al Makki, ia berkata ada

keluarga yang terhimpit kesulitan hidup menjual alat tenun barang

berharga terakhir milik mereka. Suaminya sepulang menjual barang seharga

satu dirham tersebut bertemu dengan dua orang yang sedang bertengkar

hebat.



Ketika ia bertanya "Ada apa?" Orang menyampaikan bahwa keduanya sedang

memperebutkan uang satu dirham! Maka ia berikan uang hasil penjualan alat

tenunnya. Kini ia tak memiliki apa-apa lagi.



Sesampai di rumah dikabarkan kepada istrinya peristiwa yang terjadi.

Meski kecewa tapi istrinya memahami dan bersabar. Dikumpulkan perkakas

rumah tangga sederhana yang masih tersisa, lalu dibawa suaminya untuk

dijual kembali, ternyata kemana-mana tidak laku.



Kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar

bau busuk. Orang itu berkata kepadanya, "Engkau membawa sesuatu yang tak

laku demikian juga dengan aku, maukah kita bertukar barang dagangan?"

Lalu iya mengiyakan.



Sesampai d irumah, diminta istrinya untuk bertawakal kepada Allah dan

segera memasak. "Istriku, segera masaklah ikan busuk ini, kita hampir tak

berdaya karena lapar!"



Namun apa yang terjadi ketika istrinya membelah ikan tersebut, dari

perutnya keluar benda yang ternyata itu adalah mutiara. Dibawanya ke

tempat kawannya seorang pedagang perhiasan, ternyata kawannya tersebut

berani membeli mutiara itu dengan harga empat puluh ribu dirham!.



Turn to Allah He's never far away

Put your trust in Him, raise your hands and pray

Insya Allah we'll find our way.....

We'll find our way.

Insya Allah, insya Allah ada Jalan!













Redaktur : Heri Ruslan

sumber : REPUBLIKA.CO.ID,
Share:

Insya Allah Segalanya Ada Jalan

Oleh HM Rizal Fadillah

Ketika kau tak sanggup melangkah
Hilang arah dalam kesendirian
Tiada mentari bagai malam yang kelam
Tiada tempat untuk berlabuh
Bertahan terus berharap Allah selalu di simu".
"Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah ada jalan". (syair lagu Maher
Zain)

Rasa yakin akan dekatnya pertolongan Allah tidaklah mudah. Sering masalah
yang ada ditanggapi dengan jiwa yang frustrasi. Tak ada harapan.
Seolah-olah dirinya adalah orang yang paling malang dalam kehidupan.
Bagai syair lagu Hamdan ATT "Aku merasa orang termiskin di dunia//Yang
penuh derita bermandikan air mata".

Ketika sakit , dia merasakan seolah olah tak ada orang lain yang lebih
menderita selain dirinya. Ketika usaha jatuh dan dililit hutang, ia pun
mengeluh betapa pedih kehidupan ini. Ketika berurusan dengan masalah
hukum, Allah didakwa telah menganiaya dirinya. Mengapa yang lain yang
melakukan hal yang sama ternyata dapat selamat dari jerat hukum, lalu
berteriak "Di mana keadilan?"

Bagi orang yang beriman tentu segala kesulitan ada hikmah dan maknanya.
Sakit dapat menjadi penghapus dosa dan penambah pahala. Usaha bangkrut
dapat menjadi penguat mental untuk bangkit untuk keberuntungan yang lebih
besar. Begitu juga hukuman adalah pintu taubat agar kelak menjadi hamba
yang lebih waspada dan banyak beramal.

Kita ingat ucapan dan doa Nabi Ayub saat ditimpa sakit berat yang
menyedihkan, harta habis dan dihinakan, ditinggal sendirian oleh teman,
kerabat, serta sanak keluarga. Istrinya pun hengkang. Beliau berkata,
"Sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Pengasih dan Maha
Penyayang" (QS AL Anbiyaa 83).

"Wa anta arhamur roohimiin" Engkau yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
!. Ini adalah kalimat yang menghidupkan cahaya lampu di kegelapan malam.
Menjadi pengangkat harkat dari jurang yang dalam. Menjadi penuntun
langkah kaki yang terseok-seok dan jatuh bangun. Allah lah pemberi jalan,
bukan yang lain. "Adakah yang lain yang mengabulkan permohonan orang yang
ditimpa kesulitan ketika berdoa, meghilangkan keburukan, dan menjadikan
kalian sebagai khalifah di bumi? Adakah Tuhan selain Allah? Sedikit
sekali yang ingat" (QS An Naml 62).

Sesulit apapun yang dirasakan, prasangka kepada Allah harus tetap
positif, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Diawali dengan
prasangka baik terhadap apa yang menimpa kita, dilanjutkan dengan
kesungguhan berikhtiar di jalan-Nya, insya Allah ada jalan.

"Barangsiapa bersungguh-sungguh (berikhtiar) dijalan Kami, maka Kami
akan tunjukan jalan-jalan-Nya dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang
yang berbuat baik" (QS Al Ankabuut 69).

Dari Al Fudhail bin Iyadl, syaikhul Haram Al Makki, ia berkata ada
keluarga yang terhimpit kesulitan hidup menjual alat tenun barang
berharga terakhir milik mereka. Suaminya sepulang menjual barang seharga
satu dirham tersebut bertemu dengan dua orang yang sedang bertengkar
hebat.

Ketika ia bertanya "Ada apa?" Orang menyampaikan bahwa keduanya sedang
memperebutkan uang satu dirham! Maka ia berikan uang hasil penjualan alat
tenunnya. Kini ia tak memiliki apa-apa lagi.

Sesampai di rumah dikabarkan kepada istrinya peristiwa yang terjadi.
Meski kecewa tapi istrinya memahami dan bersabar. Dikumpulkan perkakas
rumah tangga sederhana yang masih tersisa, lalu dibawa suaminya untuk
dijual kembali, ternyata kemana-mana tidak laku.

Kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar
bau busuk. Orang itu berkata kepadanya, "Engkau membawa sesuatu yang tak
laku demikian juga dengan aku, maukah kita bertukar barang dagangan?"
Lalu iya mengiyakan.

Sesampai d irumah, diminta istrinya untuk bertawakal kepada Allah dan
segera memasak. "Istriku, segera masaklah ikan busuk ini, kita hampir tak
berdaya karena lapar!"

Namun apa yang terjadi ketika istrinya membelah ikan tersebut, dari
perutnya keluar benda yang ternyata itu adalah mutiara. Dibawanya ke
tempat kawannya seorang pedagang perhiasan, ternyata kawannya tersebut
berani membeli mutiara itu dengan harga empat puluh ribu dirham!.

Turn to Allah He's never far away
Put your trust in Him, raise your hands and pray
Insya Allah we'll find our way.....
We'll find our way.
Insya Allah, insya Allah ada Jalan!






Redaktur : Heri Ruslan
sumber : REPUBLIKA.CO.ID,
Share:

Rabu, 04 September 2013

Cara Mempersatukan Umat Islam Secara Sederhana

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Oleh M. Ashabus Samaaun
Narator M. Alie Marzen


Sebelumnya mohon maaf bila judul ini terkesan membingungkan atau malah membuat anda penasaran. Perpecahan Umat islam hari ini adalah masalah yang paling momok dalam perjuangan umat islam menegakkan kedamaian dimuka bumi. Sebenarnya masalah itu bukan berasal dari agama tapi berasal dari umat islam sendiri yang menuruti emosional dan ego masing masing. masing-masing merasa benar sendiri sambil menjelek-jelekan golongan yang lain. Sebenarnya masalah umat islam itu kebanyakan sepele, namun umat islam saling menyikapi dengan idealisme dan sikap berlebihan. Sehingga percikan api kecil menjadi besar. Semacam sholat subuh yang ini pakai qunut yang itu tidak ternyata hal itu sudah menjadi bahan perselisihan tanpa ujung. Padahal itu adalah masalah fikih bukan masalah pokok (aqidah). sebenarnya kalau ditinjau dari pemahaman yang benar, ibadah terserah masing-masing mau ikut mazhab yang mana tetapi yang penting lurus niat karena Allah. itu sudah cukup meminimalisir perselisihan umat islam hari ini jika tiap golongan mau berpikir seperti itu.

Mengenai hal itu Ada sebuah nasehat yang inspiratif dari Bpk. Ust. Ashabus Samaaun tentang hal ini :
"Masalah umat islam hari ini sebenarnya sepele,  semacam beda warna pakaian, karena perselisihannya tidak menyangkut masalah akidah, hanya masalah fikih. Jika mereka mau bersatu sebenarnya itu mudah, tidak usah banyak dalil nanti malah keblinger sendiri ! Solusinya hanyalah CARI PERSAMAANYA BUKAN CARI PERBEDAANNYA. ya memang manusia itu dari wajahnya otomatis tiap individu berbeda apalagi masalah agama. misalnya kita cari persamaannya semacam kita sama-sama manusia makhluk Allah, Kita sama-sama umat islam, kita sama-sama makan pernah berbuat salah, kita sama-sama pendosa, kita sama-sama makan nasi, kita sama sama mengeluarkan kotoran dan sebagainya. Sehingga tidak timbul rasa bangga diri yang merupakan otak perpecahan itu sendiri. Apakah Ide ini cukup logis menurut anda? jika kurang puas silahkan koment dibawah postingan ini :). hehehe.
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive