"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Rabu, 03 Oktober 2012

Meluruskan Sedikit Tulisan Karya Harun Yahya


Oleh : Ust. Abu Salma Al-Atsary
Mukadimah oleh : M. Ashabus Samaa’un

Mukadimah
Salah satu tokoh perubahan islam yang terkenal dengan karyanya sangat banyak dan ilmiah adalah harun yahya. Nama asli beliau adalah adnan oktar. Beliau mendapatkan gelar sebagai muslim paling berpengaruh didunia. Dakwah beliau sangat berbeda dengan kebanyakan para ahli ilmu. Karena beliau berdakwah dengan sisi lain. Yaitu dakwah melalui pembahasan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Yang tengah dipuja-puja oleh orang-orang barat. Sehingga otomatis islam menjadi harum karena dakwah beliau telah menunjukan betapa islam bukan hanya agama yang mengurusi masalah ibadah dan muamalah saja. Islam ternyata juga agama yang bersifat universal yang ilmiah dan benar dalam membahas ilmu pengetahuan. Otomatis dakwah beliau telah membantah sebagian manusia kufur yang mengatakan islam agama yang sempit yang buta ilmu pengetahuan modern seperti astronomi, geografi, kimia dan sebagainya. Buktinya teori tentang helionsentris (peredaran planet-planet tata surya mengelilingi matahari) telah ada dalam al-Qur’an yang telah berumur 1400 tahun yang lalu.
Bahkan sebagian besar ilmu orang barat yang telah maju sekarang ini ternyata mengadobsi teori-teori ilmuwan muslim terdahulu. Akan tetapi orang barat adalah bangsa yang suka membajak karya orang lain tanpa mengakui bahwa karya tersebut adalah karya ilmuwan muslim. Mereka dengan sombong mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang mereka dapat adalah berasal dari temuan mereka sendiri. Padahal pada waktu jaman perang islam vs romawi dahulu banyak bangsa mereka merampok kitab-kitab ilmiah dari perpustakaan islam yang maju waktu itu. 
Bukti tentang kebenaran al-Qur’an adalah firman TUHAN yang Maha Menciptakan adalah ayat-ayat yang membahas tentang teori astronomi tentang kejadian alam semesta yaitu teori bigbang atau teori dentuman besar. Berdasarkan teori tersebut awalnya alam semesta adalah berupa kabut yang bergumpal-gumpal kemudian menyatu dan akhirnya meledak. Padahal teori seperti ini ditemukan pada abad 20 oleh ilmuwan astronomi barat yang bernama Stephen hawking. Nama dia popular karena dia mengklaim teori tersebut. Padahal jika umat islam harusnya lebih tahu duluan karena al-Qur’an telah membahas teori ini terlebih dahulu. Padahal al-Qur’an berumur lebih dari 1400 tahun yang lalu. Berikut ayat yang membahas teori tersebut :
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati. ( QS. Fushshilat [41] : 11 ).
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka    tiada juga beriman?.” ( QS. Al Anbiyaa’ [21]:30 )
Ditengah keterpurukan dan kebodohan umat islam hari ini karena akibat dari penjajahan orang-orang barat. Harun Yahya tampil sebagai barisan terdepan tokoh ilmu pengetahuan islam. Oleh karena itu Harun yahya atau nama aslinya Adnan Oktar berhak mendapatkan gelar ilmuwan muslim jaman modern. Karena karya-karya beliau dalam membela kebenaran islam sangat ilmiah dan mampu menghubungkan teori sains dengan ayat-ayat pengetahuan dalam al-Qur’an. Meskipun memang al-Qur’an tidak membahas ilmu pengetahuan SAINS secara akurat, namun berkat jasa beliau telah membuktikan bahwa Islam juga agama yang kaya akan ilmu pengetahuan SAINS dan teknologi dan lebih valid kebenarannya dibandingkan dengan teori-teori orang barat. Karena orang barat adalah bangsa yang  gila  SAINS maka teori harun yahya akan menjawab mereka dan membantah teori-teori batil mereka dalam menyifati sifat-sifat Tuhan dan anggapan batil mereka tentang teori komunisme dan materialisme sekuleris dan segala variannya. Dan membantah semua jenis pemberhalaan kepada makhluk. Teori evolusi Darwin adalah salah satu contoh teori sesat yang dibantah oleh Harun Yahya dalam karyanya.
Namun dalam pembahasan berikutnya kita akan membahas sedikit tentang kekurangan beliau dalam mengkaji ilmu pengetahuan islam. Memang sebuah karya berupa buku, artikel, sastra dan sebagainya adalah karya manusia. Sedangkan manusia tak ada satupun yang terlepas dari belenggu salah dan dosa. Begitu juga dengan kitab-kitab para ulama dan buku buku karya ilmuwan tidak selamanya dalam sebuah tulisan adalah kebenaran. Karena jika begitu maka karya tersebut bukan karya manusia. Tapi karya Tuhan yang 100 % merupakan kebenaran. Misalnya Al-Qur’an adalah firman Allah SWT sehingga 100 % adalah benar. 
Tulisan ini kami kutip dari artikel karya ustadz abu salma. Tulisan ini tidak bermaksud mengkorek-korek kejelekan karya harun yahya. Karena beliau adalah tokoh yang sangat berjasa dalam mengembangkan dakwah islam. Tetapi tulisan ini semata-mata adalah untuk meluruskan yang salah agar menjadi sebuah kebenaran. Kesalahan beliau dalam menulis karya adalah hanya sedikit. Namun menyangkut masalah akidah. Sehingga tidak patut jika dibiarkan begitu saja. Sehingga umat islam yang awam yang membaca karya beliau agar lebih hati-hati dalam masalah akidah.
BEBERAPA KESALAHAN DALAM KARYA HARUN YAHYA YANG PATUT DILURUSKAN
Tulisan ini adalah kutipan dari karya dari ustadz Abu Salma Al-Atsari (Abu Hudzaifah al-Atsari). Beliau sedikit meluruskan karya harun yahya tentang masalah akidah. Berikut tulisannya :
Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. Secara pembahasan mendetil ternyata akidah beliau lebih mirip dengan akidah sufiyah meskipun tidak terlalu fatal. Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Biarpun begitu kami tetap mengakui bahwa beliau berjasa besar dalam teori pemikiran Sains islam. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.
Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah wa ‘afiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.
Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :
“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”
Yang artinya adalah :
“Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”
Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :
“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.
Yang artinya :
“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”
Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :
Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)
Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :
Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)
Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)
Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :
That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”
Yang artinya :
“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”
Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :
That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”
Yang artinya :
“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”
Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :
“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.
Yang artinya :
“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.”
Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.
Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :
1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.
2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.
3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.
Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.
Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRF (International Research Foundation) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya. Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami menolaknya.
Wallahu a’lam bish showab.


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Inilah Kerusakan Moral Remaja Indonesia


Oleh: Nunik Hartini

PERLU kita sadari bersama, saat ini negara kita sudah memasuki zaman yang penuh tantangan, cobaan serta hambatan. Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi maupun teknologi yang lain, kesemuanya mempunyai efek negatif yang ikut memperlancar kemaksiatan, kerusakan moral dan pelanggaran hukum agama. Ujung-ujungnya menjadi tantangan berat yang harus kita hadapi bersama.

Dampak yang nyata sekarang ini terjadi sebagian besar dialami oleh remaja atau istilah lain dikenal dengan remaja ABG (anak baru gede). Dalam usia ini umumnya remaja belum memiliki kematangan sosial (social maturity) sehingga masih labil dalam menentukan sikap, tingkah laku dan perbuatan.
Mereka masih mudah terkena pengaruh atau rangsangan-rangsangan dari luar. Dalam kondisi ini kadang-kadang dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan dengan memberikan ajaran-ajaran, ide-ide, motivasi-motivasi yang pada gilirannya bisa membentuk suatu sikap dan gaya hidup bahkan kepribadian.

Dengan pengaruh yang sangat besar itu setidak-tidaknya remaja harus diberi pembinaan langsung dari orang tua atau orang lain yang mengarah pada kebaikan. Jangan tinggal landas begitu saja masa bodoh, karena merasa sudah dewasa bisa mengurus dirinya sendiri. Kalau ini dibiarkan bisa berakibat fatal.

Remaja dengan mudah berbuat kemaksiatan-kemaksiatan karena jauh dari pengawasan. Bisa saja terjadi banyak anak remaja hamil di luar nikah. Betapa besar bahayanya sehingga masa depan anak jatuh, orang tua menanggung malu.

Pengaruh-pengaruh yang merangsang remaja yang hamil di luar nikah diantaranya, satu, mudahnya orang menyaksikan kemaksiatan lewat berbagai media baik cetak maupun elektronik. Majalah yang menampilkan gambar porno dengan mudah didapat, dijajakan oleh para pengasong di pinggir jalan, bacaan porno, demikian pula kaset VCD porno, hampir setiap rental menyediakan.
Dua, pergaulan laki-laki dan perempuan yang semakin bebas sehingga orang lebih mudah mendapatkan kenikmatan sesaat di berbagai tempat, di hotel-hotel, losmen, diskotek, kafe, panti pijat dan tempat-tempat biliar. Anak usia remaja banyak terjerumus menjadi budak pemuas nafsu setan. Disinyalir banyak kasus pelajar, mahasiswa-mahasiswa yang "nyambi" untuk menjual dirinya baik sebagai WTS atau gigolo.

Tiga, banyak remaja yang salah persepsi terhadap perbuatan dosa, karena informasi keliru yang diterimanya. Contoh pakar seksologi maupun psikologi mengatakan bahwa onani atau masturbasi wajar dilakukan oleh remaja, sehingga banyak remaja melakukannya. Padahal menurut hukum agama itu adalah perbuatan dosa besar.

Empat, hubungan seks yang dilakukan oleh sesama jenis laki-laki dengan laki-laki (homosex) dan perempuan dengan perempuan (lesbian), dan masih banyak contoh yang belum bisa disebutkan yang menyebabkan mengapa remaja banyak yang hamil di luar nikah.
Batas kenakalan remaja tidak hanya sampai di situ saja, bahkan sekarang remaja berani mencoba-coba menyalahgunakan narkoba yang baru ramai-ramainya diburu orang. Kalau seorang remaja telah kecanduan narkoba moralnya akan jadi kotor sehingga timbul kejahatan yang dialami remaja.

Remaja mulai berani pada orang tua, mabuk-mabukan, judi dan lain sebagainya. Ini sangat memprihatinkan. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut negara kita bisa hancur karena generasi remaja yang bobrok tak bermoral.

Masalah Narkoba

Menteri Urusan Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa di Jakarta 3 Februari tahun 2000 dulu pernah mengungkapkan, 64 dari 1024 SMU di Jakarta terdapat 290 kasus yang menyebabkan muridnya terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena ketergantungan narkoba dan menjadi pengedar narkoba. Bahkan di Jakarta ada suatu perguruan tinggi terkenal yang menurut perkiraan dosennya 50% mahasiswanya terlibat narkoba. Departemen Pendidikan Nasional juga mengungkapkan, 97% korban narkoba berusia 13-25 tahun. Masa itu adalah masa perkembangan remaja.

Bahaya seorang remaja yang telah kecanduan narkoba antara lain: 

a. Bisa merusak mental tingkah laku. Narkoba tersebut bila sudah diminum, dimakan dihisap atau disuntikkan maka zat akan beredar ke seluruh tubuh dan sebagian masuk kejaringan otak. Kegiatan syaraf manusia dan pusat pengatur/pengendali tingkah laku seseorang, maka apabila otaknya terganggu, kesemuanya ikut terganggu pula seperti sulit tidur, malas, mudah marah, badan jadi rusak dan tidak peduli dengan peraturan-peraturan, hukum-hukum dan norma-norma sehingga berani melakukan hal-hal yang tercela dan melanggar hukum.

b. Bisa menyebabkan kecelakaan, sebab pecandu obat-obat tersebut bisa mengalami distorsi ilusi/kesalahan dalam daya penglihatan. Kendaraan yang sudah dekat dikira masih jauh sehingga mengalami kecelakaan. Bisa juga jarak yang jauh dianggap dekat sehingga orang sedang mabuk narkoba, terjatuh dari gedung yang bertingkat tinggi, karena merasa jaraknya dengan tanah hanya setapak kaki saja sehingga akhirnya menemukan ajalnya.

c. Bisa menyebabkan kerugian harta benda dan waktu, sebab pecandu obat tersebut berani melakukan berbagai macam kejahatan tanpa merasa dirinya bersalah.

d. Menyebabkan kemelaratan sebab harga obat-obatan tersebut jelas sangat tinggi maka jumlah pengeluaran juga semakin meningkat. Akhirnya harta yang dimilikinya bisa terjual habis.

e. Bisa menyebabkan kematian. Pecandu obat tersebut setiap harinya harus mengkonsumsi dalam dosis yang selalu meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. Kalau tidak badan bisa nyeri dan sakit yang luar biasa sehingga sampai kepalanya dibentur-benturkan ketembok atau lengannya disilet dan disedot darahnya sampai akhirnya menemui ajal.

f. Lebih-lebih bagi wanita, bahayanya lebih besar lagi sebab bisa mengganggu siklus menstruasi dan tidak haid selama memakai obat. Bisa kering rahim menyebabkan mandul dan menimbulkan kista (benjolan pada rahim). Bisa mengganggu alat reproduksi yang menyebabkan payudara mengecil / badan menjadi kurus, postur tubuh jadi kerempeng tidak menarik lagi. Nafsu makan berkurang sehingga badan menjadi kurus, tidak bercahaya dan tidak cantik lagi.

Ketagihan obat-obat terlarang bisa nekat melakukan apa saja untuk mendapatkannya termasuk menjual dirinya karena ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya mendapatkan obat-obatan tersebut. Secara hukum negara, pengedar, pengguna, pemilik narkoba bisa dikenai ancaman hukum, sampai dengan hukuman mati. Dalam UU No. 5/1997 tentang Psikotropika dan UU No. 22/1997 tentang Narkotika, dicantumkan hukuman minimal dan hukuman maksimal, denda Rp 750 juta sampai dengan hukuman mati.

 Sekelumit Solusi


Dengan melihat bahwa serta pengaruh yang sangat besar ini secepatnya pemerintah segera mengatasi dengan melihat sosok pemuda / remaja merupakan sosok generasi penerus dan harapan bangsa masa depan. Adapun solusi terbaik pertama yang harus ditempuh yaitu lewat jalur keluarga (Adanya komunikasi antara remaja dan orang tua.

Hal -hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
1) Keteladanan orang tua Pepatah lama mengatakan "Air cucuran atap jatuh kepelimbuhan juga" atau "Buah tidak akan jatuh dari pohonnya". Hal tersebut menggambarkan betapa pentingnya keteladanan orangtua dalam membina dan mengasuh membentuk watak anak-anaknya.

2) Kerukunan anggota rumah tangga. Dengan meningkatkan taraf hidup keluarga seringkali orangtua tidak mendidik anak-anak prihatin lagi, dengan alasan cukup saya sebagai orang tua yang susah. Anak-anak jadi manja karena diberi pembantu rumah tangga, kalau tidak ada pembantu, ibunya menjadi pembantu bagi anak-anaknya. Padahal pada waktu orangtuanya susah, anak-anak selalu diajak berpartisipasi di dalam kegiatan rumah tangga.

3) Perubahan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat berlawanan sikap orangtua yang otoriter (menang sendiri). Peran orangtua generasi pascakemerdekaan seringkali memaksakan atau mengeluh karena terjadi benturan nilai-nilai yang pada zamannya dengan nilai-nilai modernisasi di era globalisasi dewasa ini. Contoh, dalam sopan santun tata krama hubungan anak dengan orang tua, pada zaman sekarang dibesarkan dalam era demokratis, hak asasi manusia, konsumerisme, dan lain-lain.

Benang merah yang sangat fundamental dalam hubungan orang tua dengan anak yang dewasa ini semakin langka yaitu komunikasi dua arah/ timbal balik.Yang lebih banyak diterima oleh anak adalah pemaksaan dari orang tua bahwa anak harus begini harus begitu, tidak boleh ini tidak boleh itu, sementara sang anak lebih mengharapkan usapan kasih sayang di kepalanya serta perhatian dan sapaan yang halus dari orangtua.

4) Penciptaan kondisi kehidupan islami. Dalam rangka membina generasi muda yang mandiri dan produktif, pendidikan di lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan di keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan keluarga melandasi dan menjadi pondasi bagi generasi muda, terlebih-lebih menghadapi pola kehidupan modern yang mengarah kepada kehidupan yang bebas.

Penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini akan dapat membentengi generasi muda terhadap kemungkinan terjadinya perilaku negatif sebagai dampak dari kehidupan modern. Upaya menanamkan sikap mental yang mandiri dan produktif dapat dilakukan melalui latihan-latihan untuk mengembangkan rasa tanggungjawab, jiwa ulet, tangguh dan trengginas, antara lain dengan mengurus kebutuhan sendiri, seperti mencuci pakaian, memelihara kebersihan lingkungan, berkebun, dan lain-lain.

Jadikanlah kita semua ini menjadi generasi muda mandiri harus memiliki tekad yang kuat, tidak boleh loyo dan berputus asa.
Send articles as PDF to
Share:

Selasa, 18 September 2012

Bagaimana menafsirkan al-Qur'an yang benar ?

 Penulis : Muhammad Ramdhoni
 Mahasiswa Semester I STID Muhammad Natsir

Al-Qur’an merupakan Mu’jizat Islam yang abadi, dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin jelas kemu’jizatannya. Allah swt. Menurunkannya kepada nabi Muhammad saw. Demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka kejalan yang lurus. Rasulallah menyampaikannya kependuduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang mereka terima, mereka langsung menanyakan kepada Rasulallah saw.

Dalam ilmu tafsir Al-Qur’an banyak sekali ulama yang mencoba menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam penafsirannya para mufassirin dibagi kedalam dua kelompok, yaitu mufassir yang menafsirkan ayat dengan menggunakan metode bil ma’tsur dan para mufassirin yang menafsirkan ayat dengan menggunakan metode bir Ra’yi. Metode bil ma’tsur yaitu menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan sunnah, ayat dengan perkataan shahabat atau ayat dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in. Sedangkan metode bir ra’yi yaitu menafsirkan ayat dengan pemahaman mufassir sendiri. 

Adapun dalam tulisan ini kami aka mencoba meneliti metode yang dipakai Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yang konon katanya merupakan tafsir Al-Qur’an bil ma’tsur terbaik kedua setelah tafsir at-Thabari.  Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
1.      Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Pendeknya, Ia menjelaskan satu ayat dengan ayat yang lain, karena dalam satu ayat di ungkapkan dengan abstrak (mutlak) maka pada ayat yang lain akan ada pengikatnya (muqayyad). Atau pada suatu ayat bertemakan umum (’âm) maka pada ayat yang lain di khususkan (khâsh). Ibnu Katsir menjadikan rujukan ini berdasarkan sebuah ungkapan, “bahwa cara yang paling baik dalam penafsiran, adalah menafsirkan ayat dengan ayat yang lain”. Pada contoh diatas yaitu surat al-Baqarah ayat 47, al-Baqaah ayat 210 serta an-Naba ayat 35, Ibnu Katsir menyitir ayat al-Qur’an ang lain untuk lebih jelas menafsirkannya.
2.      Menafsirkan al-Qur`an dengan Sunnah (Hadits).  Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai referensi kedua dalam penafsirannya. Bahkan dalam hal ini, Ibnu Katsir tidak tanggung-tanggung untuk menafsirkan suatu ayat dengan berpuluh-puluh hadits –bahkan mencapai 50 hadits – kasus ini bisa dilihat ketika menafsirkan surat al-Isrâ. Adapun pada contoh diatas terdapat pada surat al-Baqarah ayat 210.
3.      Tafsir Qur`an dengan perkataan sahabat. Ibnu Katsir berkata, jika kamu tidak mendapati tafsir dari suatu ayat dari al-Qur`an dan Sunnah, maka jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan turunnya wahyu. Ia menjadikan konsep ini berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya atas perkataan Ibnu Mas’ud: “demi Allah tidak suatu ayat itu turun kecuali aku tahu bagi siapa ayat itu turun dan di mana turunnya. Dan jika ada seseorang yang lebih mengetahui dariku mengenai kitab Allah, pastilah aku akan mendatanginya“. Juga riwayat yang lain mengenai didoakannya Ibnu Abbas oleh Rasululllah saw, “ya Allah fahamkanlah Ibnu Abbas dalam agama serta ajarkanlah ta’wil kepadanya“. Kita dapat melihat pada surat an-Naba ayat 31 beliau menukil perkataan Ibnu Abbas.
4.      Menafsirkan dengan perkataan tabi’in. Cara ini adalah cara yang paling akhir dalam cara menafsirkan Al-Qur`an dalam metode bil-ma`tsur. Ibnu Katsir merujuk akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya, artinya, banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir. Seperti perkataan ibnu Ishaq yang telah menukil dari Mujahid, bahwa beliau memperlihatkan mushaf beberapa kali kepada Ibnu Abbas, dan ia menyetujuinya. Sufyan al-Tsauri berkata, “jika Mujahid menafsirkan ayat cukuplah ia bagimu”. Selain Mujahid, di antara ulama tabi’in adalah Sa’id bin Jabir, Ikrimah, Atha’ bin Rabah, Hasan al-Bashri, Masruq bin al-Ajdi, Sa’id bin Musayyab, Abu al-’aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, al-Dahhaak bin Muzaahim Radliyall^ahu ‘anhum[1]. Kita dapat melihat pada surat al-Baqarah ayat 47 beliau menukil perkataan Mujahid.

(sumber : Makalah Metode Penafsiran Qur'an Ibnu Katsir Oleh Muhammad Ramdhoni)
[1] Muhammad bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani, Belajar mudah ilmu  tafsir, terjemah Fariid Qusy, Jakarta : Daarus sunnah, 2005, hal. 67


Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Senin, 17 September 2012

TENTANG PROPHET MUHAMMAD MOVIE dan INNOCENCE OF MUSLIM

Dengan ini KAMI "ASHABUL MUSLIM" MENYATAKAN :

1. DEMI KEAMANAN GLOBAL. KAMI menDesak AMERIKA SERIKAT DAN ISRAEL beserta sekutunya untuk menyerahkan "SAM BACILE" dalang dari film PROPHET MUHAMMAD MOVIE dan INNOCENCE OF MUSLIM beserta KRU dan ARTIS YANG TERLIBAT. untuk diserahkan kepada umat islam dan akan diadili secara hukum islam.

Jika Amerika gencar menganggap orang islam yang dianggapnya "TERORIS", dan berani mengejar / mengeksekusi / Menghukum orang yang dianggapnya "TERORIS/MILITAN/TALIBAN" di PALESTINA, IRAK, IRAN, SYIRIAH, AFGANISTAN, PAKISTAN, LEBANON dan Negara-negara islam lainya. Maka UMAT ISLAM DIMANAPUN BERADA MERASA WAJIB MENANGKAP DAN MENYERET SAM BACILE dkk KE PENGADILAN ISLAM dan atau MENGEKSEKUSI LANGSUNG dengan atau tanpa persetujuan negaranya. Karena kami menganggap mereka ialah TERORIS bagi umat islam.

2. DEMI KEAMANAN GLOBAL. Kami Mendesak pula kepada Pihak GOOGLE untuk menghapus Vidio tersebut secara permanen dan Tidak hanya sekedar meblokir di negara tertentu, karena ini bukan lagi persoalan politik namun sudah masuk kedalam Ruang lingkup AGAMA secara GLOBAL.

3. kepada seluruh umat islam "MARI BERSAMA KITA JAGA KEHORMATAN AGAMA ISLAM".

4. kepada seluruh dunia "KAMI MEMANG KERAS, JIKA YANG KAMI HADAPI ADALAH MUSUH-MUSUH ALLAH DAN RASULNYA". "kami memiliki Al-Qur'an dan Hadist sebagai dasar hukum kami, DAN KAMI MERASA WAJIB MENJALANKANYA".

Sesungguhnya Allah Amat Cepat Pembalasanya dan Amat Pedih siksanya.

Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Kamis, 13 September 2012

Sejarah Islam Indonesia : Jejak Jihad Karto Suwiryo


Dalam sejarah politik nasional, nama S.M. Kartosuwiryo diguratkan dengan tinta agak gelap. Bahkan ia diidentikkan dengan gambar kelam yang ada kalanya bernuansa mistis. Buku-buku sejarah nasional memosisikan Kartosuwiryo sebagai orang yang “bermimpi’ mendirikan negara baru. Hal ini berlangsung hingga sekarang.



Padahal Kartosuwiryo bukanlah tokoh yang garang atau misterius. Ia lahir dari keluarga yang jelas. Begitu juga pendidikan formal, profesi, dan keterkait-annya dengan tokoh-tokoh nasional seperti Abikusno, Panglima Besar Jenderal Sudirman, Agus Salim, H.O.S. Cokroaminoto, dan bahkan Soekarno.


Gambaran kelam soal Kartosuwiryo ini, muncul dari situasi yang disemaikan pemerintahan Soekarno. Sebab utamanya karena Soekarno yang berpaham komunis merasa terancam kedudukannya. Maka dia mencari dukungan dengan memperalat umat Islam untuk menghadapi saudaranya sesama muslim dalam Negara Islam Indonesia (NII).Konspirasi Soekarno dengan ulama NU sehingga ia menerima julukan “waliyyul amri ad-dharuri bisy-syaukah”, juga merupakan rekayasa Soekarno untuk meredam kecenderungan masyarakat kepada konsep negara Kartosuwiryo. 


Untuk memenuhi syarat sebagai “waliyyul amri”, Bung Karno mendirikan masjid Baiturrahim di Istana Negara. Prakteknya, masjid itu didirikan sebagai simbol semata agar rakyat menilainya sebagai pemimpin yang taat menjalankan ajaran-ajaran Islam  Sikap permusuhan terhadap Islamisme seperti itu terus berkembang dan meluas, tidak saja di kalangan sipil tapi juga di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 – meninggal 5 September 1962 pada umur 57 tahun) adalah seorang ulama karismatik yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya pada tahun 1949.

Sejarah hidup

Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini. Hal ini disebabkan karena ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu.

Pada umur 8 tahun, Kartosoewirjo masuk ke sekolah Inlandsche School der Tweede Klasse (ISTK). Sekolah ini menjadi sekolah nomor dua bagi kalangan bumiputera. Empat tahun kemudian, ia masuk ELS di Bojonegoro (sekolah untuk orang Eropa). Orang Indonesia yang berhasil masuk ELS adalah orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi.



Di Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya yang bernama Notodiharjo, seorang tokoh Islam modern yang mengikuti alur pemikiran Muhammadiah. Ia menanamkan pemikiran Islam modern ke dalam alam pemikiran Kartosoewirjo. Pemikiran Notodiharjo ini sangat memengaruhi sikap Kartosoewirjo dalam meresponi ajaran-ajaran Islam.

Setelah lulus dari ELS pada tahun 1923, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran Nederlands Indische Artsen School. Pada masa ini, ia mengenal dan bergabung dengan organisasi Syarikat Islam yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Ia sempat tinggal di rumah Tjokroaminoto. Ia menjadi murid sekaligus sekretaris pribadi H. O. S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto sangat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi politik Kartosoewirjo.



Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin memengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi.

Semasa kuliah di Surabaya inilah Kartosoewirjo banyak terlibat dalam organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java dan Jong Islamieten Bond (JIB), dua organisasi pemuda yang berperan penting dalam Sumpah Pemuda 1928. Selain itu ia juga masuk Sjarikat Islam (SI) dan banyak dipengaruhi oleh pemikiran politik HOS Tjokroaminoto yang sangat mengangan-angankan berdirinya sebuah baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang makmur dan diridhoi Allah SWT). Ketika Syarikat Islam berubah menjadi Partai Sjarikat Islam Hindia Timur (PSIHT), Kartosoewirjo dipercaya memegang jabatan sekretaris jenderal. Saat itu usianya masih sangat muda, baru 22 tahun.


Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah). Di PSII ia menemukan jodohnya. Ia menikah dengan Umi Kalsum, anak seorang tokoh PSII di Malangbong. Ia kemudian keluar dari PSII dan mendirikan Komite Pembela Kebenaran Partai Sarekat Islam Indonesia (KPKPSII).


Kartosoewirjo amat kritis. Ia banyak menulis kritikan baik bagi penguasa pribumi maupun pemerintah kolonial di Harian Fadjar Asia, surat kabar tempatnya bekerja sebagai wartawan dan beberapa saat kemudian diangkat sebagai redaktur. Ketika Jepang menguasai Hindia Timur, seluruh organisasi pergerakan dibubarkan. Jepang hanya memperbolehkan beberapa organisasi yang dianggap tidak membahayakan kedudukan Jepang. Oleh karena itu PSIHT dibubarkan dan berganti menjadi Madjlis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI) pimpinan Wondoamiseno. Kala itu Kartosoewirjo menjabat sebagai sektretaris Majelis Baitul-Mal, organisasi di bawah MIAI.

Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan pemerintah Kolonial.

Pada masa perang kemerdekaan, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah. Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kartosoewirjo juga menolak posisi menteri yang ditawarkan Amir Sjarifuddin yang saat itu menjabat Perdana Menteri.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, sebuah sumber menyatakan bahwa sebenarnya Kartosoewirjo sudah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan sebuah negara Islam. Namun atas pertimbangan kebangsaan dan kesatuan ia mencabut kembali proklamasi tersebut dan bersedia turut menegakkan Republik Indonesia dengan syarat umat Islam Indonesia diberi kesempatan untuk menjalankan syariat Islam.


Hal ini sebagaimana tercantum dalam sila pertama Piagam Jakarta yang kemudian dihapus sehingga hanya menyisakan kalimat "Ketuhanan yang Maha Esa" saja.

Penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut merupakan awal retaknya hubungan Kartosoewirjo dan Soekarno, teman seperguruannya semasa masih dididik oleh HOS Tjokroaminoto. Keduanya memang menunjukkan sikap dan prinsip politik berbeda.



Kartosoewirjo adalah seorang muslim taat yang mencita-citakan berdirinya negara berdasarkan syariat Islam, sedangkan Soekarno nasionalis sekuler yang lebih mementingkan persatuan dan kesatuan Indonesia dengan Pancasila-nya. Hal ini membuat Kartosoewirjo selalu berseberangan dengan pemerintah RI. Ia bahkan menolak jabatan menteri yang ditawarkan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

Ketika wilayah Republik Indonesia hanya tinggal Yogyakarta dan beberapa karesidenan di Jawa Tengah sebagai hasil kesepakatan dalam Perjanjian Renville, Kartosoewirjo melihat peluang untuk mendirikan negara Islam yang dicita-citakannya. Maka iapun memprokamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Malangbong, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1949. Jawa Barat waktu itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Belanda, sehingga klaim sejarah yang menyatakan bahwa Kartosoewirjo merupakan pemberontak Republik Indonesia seharusnya dipelajari kembali.

Pada tanggal 27 Desember 1949 pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Dalam negara federasi yang diakui kedaulatannya oleh Kerajaan Belanda itu, Republik Indonesia di Yogyakarta merupakan salah satu dari 16 negara federal anggota RIS. Soekarno terpilih sebagai presiden RIS, sedangkan jabatan presiden RI diserahkan pada Mr. Asa'at. Terbentuknya RIS secara otomatis membenturkan NII dengan RIS karena Negara Pasundan bentukan Belanda yang menguasai wilayah Jawa Barat merupakan anggota federasi RIS. Konfrontasi memperebutkan Jawa Baratpun meletus. RIS merasa berhak atas Jawa Barat berdasarkan hasil KMB, sedangkan NII bersikeras mereka lebih berhak karena telah lebih dulu memproklamasikan diri sebelum dibentuknya Negara Pasundan dan RIS.

Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962.


Perang NII-RIS berlangsung selama 13 tahun. Dalam masa 13 tahun itu RIS berubah bentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Negara Pasundan menjadi provinsi Jawa Barat. Hal ini membuat NII semakin terpojok karena dengan bentuk baru RIS tersebut NII seperti negara dalam negara

Pada akhirnya tentara NKRI berhasil menghabisi perlawanan NII, ditandai dengan tertangkapnya SM Kartosoewirjo selaku Imam Besar (presiden) NII di wilayah Gunung Geber pada 4 Juni 1962. Mahkamah militer menyatakan Kartosoewirjo bersalah dan menjatuhkan hukuman mati. Mantan aktivis, jurnalis, sekaligus ulama kharismatik itupun menghembuskan napas terakhirnya di depan regu tembak NKRI pada September 1962.



Pada masa Orde Baru (orde militerisme), Islamisme agaknya dipandang lebih berbahaya daripada sekularisme, komunisme atau misionaris Kristen dan Yahudi. Bahkan Seminar TNI Angkatan Darat (Agustus 1966) di Bandung malah bersikap antipati, menganggap gerakan Darul Islam (DI) atau NII sebagai musuh bangsa nomor satu, baru menyusul PKI.

Sikap istiqamah yang ditunjukkan Kartosuwiryo terhadap cita-cita perjuangan yang telah digariskannya patut diteladani oleh siapa saja (para aktivis) yang menyebut dirinya sebagai orang pergerakan, apa pun ideologinya, dengan terlebih dahulu mengenyampingkan naluri sektarian yang ada pada dirinya.


.
Sumber : Menelusuri Perjalanan Jihad S.M. KARTOSUWIRYO, oleh Irfan S.
Awwas, Wihdah Press, Yogyakarta, 1999.Gerakan Darul Islam selama ini dicap sebagai musuh bangsa paling berbahaya. Buku ini berupaya meluruskannya
isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Rabu, 12 September 2012

Para aktivis islam menghadapi era Globalisasi


1.    Membentuk qiyadah jama’iyah.
Di antara langkah-langkah aktifitas dakwah yang mempunyai target sasaran dan terfokus ialah membentuk qiyadah jama’iyah, yakni bertemunya para tokoh dakwah, ilmu dan pembaharu yang mukhlis dalam satu wadah amal Islami. Lalu mereka membentuk sebuah qiyadah jama’iyah yang mempunyai amir; yang di antara tugas utamanya adalah membuat konsep perjuangan yang memiliki tahapan-tahapan dan sasaran-sasaran; sebagai titik bertolak, bersandar, dan melangkah; hingga apabila mereka telah selesai menuntaskan satu tahapan, maka mereka mulai menginjak tahapan yang lain, demikian seterusnya. Hingga mereka mencapai sasaran terbesarnya, yakni menegakkan daulah Islam.

Membentuk qiyadah jama’iyah di kalangan ummat Islam merupakan satu keharusan fardhu syar’I berdasarkan dalil-dalil berikut:

Menurut perintah Rasul saw. Untuk beriltizam pada jama’ah:

“…wajib atas kalian berjama’ah, karena sesungguhnya syetan itu bersama orang yang sendirian, dan dia terhadap dua orang itu lebih jauh. Dan barangsiapa ingin memperoleh kenikmatan Jannah, maka hendaklah ia beriltizam pada jama’ah.”

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari sanadnya dari sahabat Hudzaifah, bahwasanya Hudzaifah pernah menanyakan kepada Rasulullah saw. Tentang kebaikan dan keburukan…dan akhirnya Hudzaifah bertanya, “Apakah setelah masa kebaikan itu ada masa keburukan?” Rasulullah saw. Menjawab, “Ya benar. Ada penyeru-penyeru di pintu neraka, siapa yang menyambut seruannya akan mereka lemparkan ke dalamnya.” Lalu Hudzaifah menanyakan lagi, “Wahai Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka pada kami.” Beliau menjawab, “Mereka itu satu kulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Hudzaifah kembali bertanya, “Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku dapati masa itu? Belau menjawab, “Engkau beriltizam daripada jama’atul muslimin dan imam mereka.”

Dating keterangan dalam hadits shahih, dari Nabi saw. Bahwasanya beliau pernah bersabda:

“Barangsiapa mati, sedangkan tidak terdapat pada lehernya bai’at, maka dia mati seperti matinya orang jahiliyah.”

Menurut perintah Al-Qur’anul Karim yang menyuruh kaum muslimin untuk bersatu, berpegang pada tali Allah dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman.

“Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai berai…” (Ali Imran: 103).

"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang berutung,” (Ali Imran: 104).

"Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi (penolong)nya, maka sesungguhnya partai Allah itulah yang meang,” (Al-Maa’aidah: 56).

Berdasarkan kaidah syar’i yang mengatakan:


“Sesuatu yang wajib itu tidak terlaksana kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib (hukumnya).”

Menegakkan hokum Allah di muka bumi adalah sebagian di antara tanggung jawab terbesar yang harus dipikul seorang muslim, dan membebaskan negeri-negeri Islam dan kemulhidan, kekufuran, kerusakan moral dan pendudukan musuh termasuk kewajiban yang paling suci di dalam Islam…, dan mengembalikan kesatuan Islam di bawah satu kepemimpinan termasuk cita-cita yang paling mulia. Inilah makna “Sesuatu yang wajib itu tidak terlaksana kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib hukumnya”, seperti yang dinyatakan oleh para ulama Ushul dan para Fuqaha’ Islam.

Dari nash-nash di atas menjadi jelaslah bahwa sesungguhnya wajib bagi kaum muslimin untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri dan untuk menolongnya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dan semuanya harus mempunyai keinginan yang kuat untuk membentuk jama’ah.

Maka langkah pertama dalam aktivitas dakwah yang terfokus adalah membentuk jama’ah islam dengan amirnya, pimpinan-pimpinannya dan anggota-anggotanya. Dengan qiyadah dan pemimpinnya, kaum muslimin bisa menghadapi pemerintah sekuler di negeri-negeri Islam. Dan dengan perantaranya, mereka bisa meriah kemenangan terbesar dalam menegakkan daulah Islam yang besar serta kejayaan yang kokoh. Dan yang demikian itu amat  mudah bagi Allah.

2.    Terjun ke medan Penyadaran

Setelah membentuk jama’ah Islam dengan amirnya di negeri-negeri Islam, langkah berikutnya adalah melakukan gerakan ta’rif (pengenalan), tabligh dan tau’iyah (penyadaran).

Hal yang perlu diketahui oleh para murabbi sebelum menyampaikan dakwah dan menyadarkan umat, mereka harus tahu dunia dimaa mereka hidup di dalamnya, tatanan-tatanan yang berlaku, madzhab-madzhab pemikiran yang dominan, factor-faktor penggerak, berbagai kekuatan yang bersaing di dalamnya, arus perlawanan yang timbul dan lainnya yang berkenaan dengan kondisi mad’u.

Sesungguhnya para du’at yang sadar, tidak akan berhasil dengan tau’iyahnya jika ia tidak mengetahui siapa yang mereka dakwahi, dan bagaimana cara mendakwahi mereka, bagaimana menentukan skala prioritas dan apa saja sarana yang dapat digunakan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang sesat dan apa saja plot ghazwul fikri dan lainnya.

Du’at sadar dan bijak adalah sosok yang mengetahui seluk beluk kehidupan di sekelilingnya secara menyeluruh, sebelum ia mengenalkan dan mendakwahkan risalah Islam, dan ia mengenal kondisi dunia Islam dari ujung barat sampai ujung timurnya sebelum ia menyeru dan menerangkan, menuntun dan menyampaikannya. Jika ia bisa melakukan peranan itu, kemungkinan sambutan umat terhadapnya akan lebih dalam, kesan orang terhadap perkataannya akan lebih kuat, keterikatan emosi mereka terhadapnya akan lebih melekat dan kesuksesannya di dalam menjalankan tugas pengenalan dan penyadaran akan lebih maksimal dan optimal.

Dalil-dalil keutamaan para du’at yang terjun di medan tabligh dan tau’iyat:
  1. Tergolong umat yang terbaik, berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Imran: 110.
  2. Menjadi saksi atas umat-umat yang lain, bedasarkan firman Allah dalam suratt Al-Baqarah: 143.
  3. Berada pada kedudukan yang paling tinggi, berdasarkan firman Allah dalam surat Fushilat: 33.
  4. Sebagai pewaris nabi, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam yang lima dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, Rasulullah saw. Bersabda, “Ulama itu adalah pewaris Nabi.”
  5. Penduduk langit dan bumi akan memintakan ampunan untuk mereka berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Umairah, “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, penduduk langit dan bumi hingga semut di liang persembunyiannnya dan ikan-ikan di lautan, semuanya bershalawat untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
  6. Diperintahkan untuk mentaati mereka, setelah mentaati Allah dan Rasulnya. Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa: 59.
  7. Pahala mereka tidak akan terputus dan berhenti, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ash-Haabus Sunan, dari Nabi saw, “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahalanya yang diterima oleh orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.”

Apa sarana-sarana tabligh dan tau’iyah?

Sarana-sarana ini sangat banyak dan bermacam ragamnya, senantiasa berkembang dan sangat variatif, di antaranya adalah:
  1. Majelis-majelis pengajian umum
  2. Kaset ceramah
  3. Buku-buku Islami
  4.  Seminar-seminar
  5. Khutbah-khutb Jum’at
  6. Majalah-majalah Islam, bulletin-buletin dakwah, dan selebaran-selebaran penebar fikrah Islami.
  7. Sarana I’dad
  8. Menghidupkan malam-malam yang penuh barakah di sepanjang tahun
  9. Nasyid-nasyid dakwah dan tarikh
  10.  Drama-drama Islam dan sejarah
  11. Dan sarana dakwah lain yang menyebarkan kesadaran Islam, menjelaskan fikrah Islam secara utuh tentang alam semesta dan manusia.

Bagaimana dengan memahami lingkungan?

Jama’ah yang terjun di kancah ishlah dan tau’iyah haruslah mempelajari lingkungan dimana mereka menyerukan dakwah mereka secara proporsional dan menyeluruh, harus mengetahui sarang-sarang kesesatan dan tempat-tempat penyimpangan dengan pengetahuan yang utuh dan menyeluruh dan mereka harus memikirkan juga metode kerja yang sesuai dengan logika manusia dan persiapan mereka dan selaras dengan tingkat pemikiran mereka dan kadar sambutan mereka. Untuk itu harus dilakukan studi khusus yang terfokus terhadap berbagai problematika ummat.

Langkah kedua dalam aktifitas dakwah yang terfokus adalah terjun di medan dakwah dan tau’iyah setelah mengadakan kajian secara seksama terhadap lingkungan, mengetahui secara lengkap sarana-sarana yang bisa digunakan untuk media dakwah dan tau’iyah, serta tujuannya untuk memperoleh pahala dari Allah.

3.    Pemfokusan Upaya Tarbiyah dan I’dad.

Dasar dalam persoalan ini adalah firman Allah, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggetarkan musuh Allah dan musuh-musuh kalian,” (Al-Anfaal: 60).

Termasuk pengertian ayat di atas yaitu apa saja yang dikandung oleh kata I’dad berupa sarana-sarana amal, tahapan-tahapan, di dalam pembentukan generasi Islam, takwinul jama’ah Islam dan menyiapkan para pemuda yang memiliki kecakapan untuk menghadapi pemerintah sekuler di negeri-negeri Islam.

Termasuk pengertian tarbiyah dan I’dad adalah:
1.    Membekali akal dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan syumul, serta wawasan yang obyektif dan kritis.
2.    Melatih phisik dengan latihan-latihan kemiliteran (askari) dan keperwiraan serta sarana-sarana untuk menghadapi tantangan dan jihad.
3.    Membekali ruhani dengan iman, tilawah Al-Qur’an dan ibadah yang ikhlas.
4.    Melatih dan membiasakan diri untuk senantiasa mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun lapang, suka maupun duka.
5.    Menghubungkan (merekrut) para pemuda muslim yang sadar dengan jama’ah Islam yang benar dan ikhlas.
6.    Serta persiapan-persiapan lain yang seyogyanya digemblengkan kepada generasi muda dan putra-putra Islam.

Untuk itu, hendaknya para murabbi terfokus pada upaya tarbiyah dan I’dad yang meiliputi tiga unsur:
1.    Tarbiyah Ruhiyah.
2.    Tarbiyah Nafsiyah.
3.    Tarbiyah Judiyah (askariy).
Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih 'Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -'Alaq, 2003), hlm. 208-218..

isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive