Liputan6.com, California - Ditemukannya
kandungan air di Planet Mars ternyata
membuka peluang untuk tinggal di planet
tersebut. Bahkan, seorang engineer NASA
yang terlibat di proyek penelitian Planet
Mars mengungkap bahwa Badan
Antariksa Amerika Serikat itu akan
menjadikan Mars sebagai objek liburan
luar angkasa.
Menurut informasi yang dikutip dari
laman Press Examiner, Sabtu
(3/10/2015), engineer yang tidak
disebutkan namanya ini menjelaskan
bahwa ditemukannya air di Mars
bukanlah sebuah rumor atau spekulasi.
"Temuan tersebut bersifat faktual,
implikasinya begitu masif. Fakta bahwa
Mars memiliki air mengubah pandangan
semua orang yang mana sebelumnya
Mars tidak bisa dihuni, kini bisa jadi akan
disinggahi umat manusia, bahkan untuk
liburan sekalipun," imbuhnya.
Mars memang bukan satu-satunya planet
yang memiliki kandungan air di dalam
permukaannya. Beberapa bulan Planet di
tata surya pun memiliki kandungan air,
seperti Europa, bulan milik Planet Jupiter,
Enceladus, bulan milik planet Saturnus,
dan beberapa bulan lainnya seperti
Ganymede, Callisto dan Titan. Namun,
NASA tidak mengklaim bahwa bulan-
bulan tersebut memiliki kelayakan untuk
ditinggali manusia.
"Berbeda dengan bulan-bulan yang
`berair` tersebut, adanya air di Mars
merupakan perihal berbeda karena
keberadaan Mars dekat dengan Bumi.
Kami pun terus mengusut planet tersebut
untuk lebih memastikan apakah memang
nantinya bisa dihuni. Orbiter dan robot
rover kami juga telah dikirim disana.
Kami sangat yakin dalam satu atau dua
dekade lagi, Mars akan menjadi satu
Planet yang diimpikan manusia untuk
disinggahi," tambahnya.
Secara ilmiah, kandungan air yang
berada di Mars dengan Bumi sebenarnya
berbeda. Namun, engineer tersebut
melanjutkan, bukan berarti air yang ada
di Mars tidak bisa diminum.
"Air yang ada di Mars sebetulnya bisa
dikonsumsi. Namun kandungan air
tersebut harus dipilah menjadi beberapa
elemen yang bersifat konstituen, seperti
hidrogen dan oksigen. Di temperatur yang
begitu rendah, air tersebut bisa disimpan
dan diproses dengan metode ` reverse
electrolysis ` untuk menciptakan daya
listrik, yang mana dapat memanaskan air
tersebut untuk dapat diminum," lanjutnya.
Jadi, jika metode `penyulingan` air ini
terbukti bisa digunakan, nantinya para
astronot atau manusia yang berlibur di
Mars tidak usah pusing mengandalkan
solar panel untuk bisa meminum air.
Sebelumnya, Instrumen pencitraan milik
NASA, Mars Reconnaissance Orbiter,
menemukan bukti kandungan air dengan
mengidentifikasi bukti mineral terhidrasi
yang disebut perklorat, yang telah
membentuk garis-garis di lereng di
permukaan Mars.
Beberapa perklorat dapat menjaga air
dari pembekuan, bahkan pada suhu
sedingin -94 derajat Fahrenheit. Perklorat
itu membentuk garis-garis di lereng Mars
selama musim hangat planet ketika suhu
naik di atas -10 derajat Fahrenheit.
Garis-garis itu disebut recurring slope
lineae (RSL), yang kemudian menghilang
selama musim dingin.
(jek/dew)
Jumat, 02 Oktober 2015
Air di planet mars
Sejarah Peradaban islam vs hindu budha dijawa
Oleh : Arif Wibowo (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam, Solo)
Pendahuluan
Jawa dalam pandangan banyak peneliti merupakan sebuah etintas budaya tersendiri di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari bahasa, bentuk kesenian, arsitektur, aneka ritual dan pandangan teologinya, yang secara signifikan berbeda dari suku atau komunitas lain di Indonesia. Prof. Sartono Kartodirjo dalam kata pengantarnya untuk buku Dennys Lombard yang berjudul Nusa Jawa: Sebuah Silang Budaya, menyatakan bahwa Jawa adalah salah satu peradaban tersendiri.
Bahwa secara geografis Pulau Jawa dipandang sebagai suatu kesatuan adalah wajar, maka secara logis dapat digarap sebagai satu unit studi. Namun sesungguhnya konsep kesatuan itu diperkuat oleh proses sejarah, yang menempatkan pulau Jawa sebagai sentrum suatu jaringan lalu lintas transportasi maritim sejak masa prasejarah. Jalannya sejarah selanjutnya menciptakan konsentrasi hubungan internal dan eksternal pulau, sehingga Jawa menjadi unit regional. Apabila kita memandang Jawa sebagai suatu kompleks historis, dalam proses rekonstruksi, pandangan holistik mempermudah menciptakan gambaran kesatuan. Berdasarkan rekonstruksi itu Jawa dapat dilegitimasikan sebagai suatu unit regional yang mengkerangkai peradaban.[1]
Sebagai sebuah peradaban, kajian tentang Jawa telah menarik minat banyak pemerhati, meski hingga saat belum ada kesepakatan tentang definisi Jawa itu sendiri di kalangan para peneliti. Hal ini dikarenakan begitu kompleksnya unsur yang menjadi pembentuk budaya Jawa.
Menurut Lombard, Jawa mengalami tiga periodisasi sejarah (1) zaman modern (dengan proses westernisasi); (2) zaman Islamisasi, (3) Zaman Hindu-Budha.[2] Periodisasi ini sendiri bukan tidak menyisakan masalah. Bagaimana dengan sejarah Jawa pra-Hindu-Budha, dimana wujud asli kebudayaan Jawa sebenarnya tidak pernah dapat dideskripsikan?
Kalau kita mengacu pada kajian Geertz dalam Religion of Java (1960), wujud masyarakat Jawa bisa dipilah dalam tiga kategori: Santri, Abangan dan Priyayi.[3] Menurut Geertz, yang benar-benar Islam hanyalah kaum santri, sedangkan kelompok abangan lebih menganut tradisi Hindu dan Buddha. Pandangan ini sesungguhnya sudah dibantah oleh banyak ahli kebudayaan Jawa. Mark Woodward misalnya menyatakan bahwa mistisisme Jawa merupakan saduran dari tasauf Islam.[4] Andrey Muller pula berpendapat bahwa mistisisme Jawa yang bercorak sinkretis dan berbasis Hindhu Budha hanyalah eksklusif budaya kraton dan bukan budaya umum masyarakat Jawa dalam konteks yang luas.[5]
Artikel ini bermaksud merunut kembali sejarah proses Islamisasi masyarakat dan kebudayaan Jawa yang sebelumnya dikuasai oleh agama Hindu dan Buddha. Dibahas juga bagaimana peran penjajah Balanda dalam mengcounter proses ini sehingga menghasilkan corak pemikiran dan kepercayaan yang justru mencerminkan proses de-Islamisasi, yang pengaruhnya bahkan masuk ke dalam kajian tentang Jawa atau Javanologi.
Hindhu dan Budha di Jawa
Sampai saat ini Hindu dan Buddha masih sering dipandang sebagai variabel utama dalam kebudayaan Jawa. Salah satu karya yang paling penting dalam membentuk pandangan ini adalah disertasi Petrus Joshepus Zoetmulder yang terbit di tahun 1935 berjudul Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek-Litteratuur. Menurut Dick Hartoko, meskipun penelitian ilmiah (mengenai kebudayaan Jawa) memang tidak pernah berhenti, tetapi ini tidak menggoyahkan patokan-patokan yang ditancapkan oleh Zoetmulder setengah abad yang lalu.[6]
Disertasi ini dianggap mampu mengungkap inti pandangan ketuhanan masyarakat Jawa melalui telaahnya terhadap Serat Centhini dan pelbagai karya sastra suluk Jawa. Dalam pandangan Zoetmoelder doktrin manunggaling kawula gusti sama sekali tidak terkait dengan konsep wihdatul wujud yang menjadi diskursus kontroversial kalangan ahli tasawuf Islam. Manunggaling kawula gusti dalam budaya Jawa adalah suatu bentuk pandangan monistis yang berasal dari ajaran Atman Hindu. Bahkan pada karya sastra yang eksplisit corak keIslamannya pun akan dianggap sebagai Islam yang telah terpengaruh alam religius India maupun lewat alam religius Hindu Jawa.[7]
Pendapat ini dengan tegas dibantah oleh Al Attas, sebab menurutnya Hindu dan Buddha di Indonesia berwatak elitis. Perkembangan dan pengajarannya hanya berkutat di sekitar istana, sebab, masih menurut Al Attas, para pendeta Budha tidak terdiri dari rakyat pribumi tapi rakyat India Selatan yang datang untuk mendapatkan kesunyian dan kedamaian serta untuk maksud perenungan dalam biara-biara.[8] Sedangkan doktrin Manunggaling Kawula Gusti, yang oleh Zoetmoelder dan para akademisi dianggap doktrin metafisika orang Jawa, pada kenyataannya tidak pernah menjadi sistem keimanan masyarakat banyak. Masih kata Al Attas, doktrin Atman yang diinterpretasikan sebagai Brahmana yang terpendam dalam wujud individual (monisme), yang dihadirkan dalam aneka bentuk puisi tidak dimaksudkan untuk telinga-telinga najis orang kebanyakan[9]
Menurut Slamet Muljana, inti dari kebudayaan Jawa adalah pemujaan leluhur dan pemujaan arwah leluhur itu sendiri bukan merupakan agama bagi rakyat, tetapi bagian unsur penting dari ibadahnya.[10]
Bangunan-bangunan besar Candi Borobudur dan Prambanan selama ini juga dijadikan sebagai argumen dasar dalam menunjukkan kokohnya eksistensi agama Budha dan Hindu Jawa. Padahal, kedua bangunan itu sesungguhnya lebih mencerminkan pertarungan antar elite kekuasaan pada saat itu. Pada masa Dinasti Syailendra, kaki tangan kerajaan Sriwijaya Palembang di Jawa membangun Borobudur.[11] Akan tetapi, para penguasa lokal yang beragama Hindu Syiwa memandang keluarga Syailendra sebagai penjajah asing yang baru saja menancapkan pengaruhnya. Pada tahun 856 M, Syailendra berhasil dikalahkan. Untuk mengenang kemenangan ini Rakai Pikatan membangun candi Prambanan sebagai monumen kemenangan kekuasaan Hindu atas kekuasaan Budha[12]
Yang paling menderita di era kebudayaan candi ini tentu saja rakyat jelata dari kasta Sudra dan Paria. Para petani, peternak dan pedagang kecil yang termasuk dalam kasta tersebut dipaksa untuk melakukan kerja bakti membangun candi yang memakan waktu puluhan tahun. Akibatnya mata pencaharian mereka terbengkalai, begitu juga kehidupan keluarga mereka. Untuk menghindari kewajiban kerja bakti tersebut, penduduk akhirnya memilih untuk eksodus keluar dari pusat-pusat pembangunan candi.[13] Menurut Denys Lombard pembangunan gedung-gedung batu berskala besar sempat dihentikan karena kerajaan Budha dan Hindu mengalami kemunduran. Dan kemunduran tersebut karena mereka ditinggalkan rakyatnya sendiri yang lebih memilih eksodus ke kota-kota pelabuhan dan sekitarnya[14]
Kekuasaan Budha diambil alih oleh elit Hindu. Namun ketakutan (horror) masyarakat masih bertahan. Dalam perkembangan selanjutnya, Agama Hindu, Budha dan aneka kepercayaan lokal telah berkembang seiring dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Dan hal tersebut lambat laun juga telah mengubah wajah ajaran Hindu dan Budha menjadi Syiwa Budha Bhairawa Tantra. Kepercayaan Syiwa-Budha Bhairawa Tantra ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut sebagai upacara Pancamakara atau lebih dikenal dengan upacara Ma-lima. Menurut S. Wojowasito, bentuk upacara dari sekte ini sangat mengerikan.[15] Ritual ma lima terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), manuya (minum darah dan memakan daging gadis yang dijadikan kurban), madya (meminum minuman keras hingga mabuk), mutra (menari sampai ekstase), dan maithuna (ritual seks massal di tanah lapang yang disebut setra).[16]
Ritual mengerikan seperti ini juga di lakukan ketika penobatan Adityawarman sebagai seorang raja. Adityawarman adalah seorang Raja dari kerajaan Melayu yang juga merupakan menantu raja Majapahit. Dia menerima penobatannya di tengah-tengah lapangan bangkai. Sambil duduk di atas timbunan bangkai, sang raja tertawa sambil meminum darah, menghadapkan kurban manusia yang berbau busuk. Anehnya, bagi Adityawarman bangkai tersebut sangat semerbak baunya.[17] Prosesi ini sangat jelas tergambar dalam patung Adityawarman di museum nasional yang terlihat tengah memegang cawan darah, gelas anggur dan ratusan tengkorak yang mengalungi hampir semua bagian tubuhnya.
Ada istilah yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, yakni aja nglakoni ma lima (jangan melakukan perbuatan ma lima). Pada awalnya, istilah ini bermaksud sebagai seruan para ulama kepada masyarakat Jawa untuk tidak lagi melakukan ritual Bhairawa Tantra, sebab ritual itu tidak hanya jahat kepada Tuhan tapi juga jahat pada manusia. Istilah aja nglakoni ma lima kemudian diartikan sebagai aja madat, aja madon, aja minum, aja main lan aja maling (jangan menghisap candu, jangan berzina, jangan mabuk, jangan berjudi dan jangan mencuri). Inilah yang menjadi acuan dasar moralitas manusia Jawa setelah masyarakat ini mengalami Islamisasi.
(Baca selengkapnya di Jurnal Islamia, 'Pembebasan Nusantara: Antara Islamisasi dan Kolonisasi', Vol.VII, No. 2, 2012).
[1] Sartono Kartodirdjo, "Pengantar," dalam Dennys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya 1, Batas-Batas Pembaratan, (Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. Xiv.
[2] Ibid., hal. xv
[3] Meski sudah banyak di kritik, namun sampai saat ini, kategorisasi Geertz ini masih dijadikan acuan dalam bidang studi anthropologi keagamaan masyarakat Jawa Ayzumardi Azra, "Pengantar" dalam Bambang Pranowo, Memahami Islam Jawa (Tangerang: Pustaka Alvabet, 2009) hal. xii
[4] Mark R. Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (Yogyakarta: LKiS, Yogyakarta, 2008), hal. 3
[5] Andre Moller, Ramadhan di Jawa, Pandangan Dari Luar (Jakarta: Nalar, 2005), hal. 3
[6] Zoetmulder, P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa (Jakarta: Gramedia, 1990),
[7]. Ibid. hal. . vii.
[8] Syed Naquib Al Attas, Dilemma Kaum Muslimin (Surabaya: Bina Ilmu, 1986) hal. 166
[9]Ibid, hal. 165.
[10] Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (Yogyakarta: LKiS, 2005) hal. 247-253
[11] Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia (Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara, Jaman Prasejarah – Abad XVI) , (Yogyakarta : Media Abadi, 2009) hal. 318
[12] Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia, hal. 321-323
[13] Ahmad Manshur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid. I, (Bandung : Salamadani, 2009) hal. 55
[14] Dennys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya 2 : Jaringan Asia (terj). (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008) hal. 189
[15] Wojowasito,S, Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia Sedjak Pengaruh India, (Jakarta : Penerbit Siliwangi, 1952) hal. 148
[16] Rasyidi, Islam dan Kebatinan (Jakarta : Bulan Bintang, 1967) hal. 95
[17] Wojowasito, Sedjarah Kebudajaan Indonesia, hal. 149
Pelurusan Akidah ala KH. Hasyim Asy’ari
Oleh: Kholili Hasib
(Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya)
Akidah merupakan pondasi sakral dalam agama. Penyimpangan akidah berarti menegasikan agama Islam itu tersendiri. KH. Hasyim 'Asy'ari, pendiri Nahdhatul Ulam', ketika hidup di masa kolonial Belanda mencermati bahwa banyak aliran-aliran pemikiran yang bisa melunturkan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Ciri yang dapat ditangkap dari figur Syekh Hasyim ini salah satu di antaranya adalah penguatan basic-faith (asas kepercayaan) kaum Muslim. Fatwa-fatwanya mengikuti sejumlah ulama'-ulama' mutakallimun (teolog) dari madzhab Abul Hasan Asy'ari dan Maturidi. Organisasi NU yang didirikannya juga bertujuan melestarikan ajaran Ahlussunnah dalam masyarakat Nusantara, dengan menyatukan para ulama' dan menepis fanatisme sempit terhadap kelompoknya. Buah pikirannya yang cemerlang dan melampaui zamannya (visioner) ini adalah salah satu hal yang menarik.
Figur Anti Paham Nyeleneh
Umat Islam Indonesia tentu berharap besar agar ormas-ormas Islam terbebas dari oknum yang berpaham liberal dan Syiah. NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia sangat berperan penting menjaga keislaman Muslim Indonesia – apalagi pendirinya, KH. Hasyim Asy'ari, termasuk yang menolak keras segala bentuk penodaan akidah. Jika ada anak muda NU yang liberal, sejatinya mereka adalah oknum. Maka, sudah saatnya arus liberalisasi agama yang diusung oleh sebagian intelektual muda NU ditanggapi serius[1]. Sebab, pemikiran mereka sangat jauh dari ajaran-ajaran KH. Hasyim Asy'ari — pendiri NU — yang dikenal tegas terhadap pemikiran-pemikiran yang menodai kesucian agama.
Ketokohan KH. Hasyim Asy'ari jangan sampai ditinggalkan Nahdliyyin (umat NU). Beliau adalah figur ulama' Nusantara yang patut diteladani, tidak hanya bagi kalangan NU, tapi juga umat Islam lainnya di Indonesia.
KH. Hasyim Asy'ari adalah ulama' kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama'. Ia lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari Selasa, 24 Dzulhijjah 1287 H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kiai Asy'ari, seorang ulama asal Demak Ayahnya, juga seorang ulama' di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kyai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari berbagai daerah di seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kyai Sihah, juga ulama', adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.
Menginjak usia 15 tahun, KH. Hasyim berkelana ke berbagai pesantren yakni ke pesantren Wonokoyo Probolinggo, pesantren Langitan Tuban, pesantren Trenggilin Madura, dan akhirnya ke pesantren Siwalan Surabaya. Di pesantren Siwalan ia menetap selama 2 tahun. Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah beliau berguru kepada masyayikh di tanah haram[2]. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh 'Alawi dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis yang berasal dari Termas Jawa Timur. Ia juga pernya belajar kepada Kyai Cholil Bangkalan (mbah Cholil), ulama Madura yang cukup disegani. Cukup banyak Kyai sepuh NU yang belajar kepadanya.
Sepulang ke tanah air, ia memulai tapak perjuangan melalui pendidikan dan organisasi sosial. Di bidang pendidikan ia mendirikan pesantren bercorak tradisional di Tebuireng Jombang. Untuk mengkonsolidasi dakwah secara efektif ia mendirikan jam'iyyah Nahdlatul Ulama', yang artinya organisasi kebangkitan ulama' pada 31 Januari tahun 1936.
Ia termasuk penulis produktif. Karya yang dibukukan sekarang ini ada sekitar lebih dari 19 kitab. Itu belum risalah-risalah pendek belum dicetak yang menurut informasi masih tersimpan di perpustakaan keluarga di Jombang. Barangkali Syekh Hasyim Asy'ari ingin meneladani Imam al-Ghazali dalam perjuangan. Imam al-Ghazali dalam gerakan pembaharuannya dengan membenahi ilmu dan ulama'. Syekh Hasyim Asy'ari dengan berdirinya NU, berusaha membangkitkan ulama' dan semangat untuk kembali kepada ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ulama' adalah 'mesin' dakwah Islam. Oleh sebab itu ketika terjadi krisis, ulama' harus dibangkitkan, dibenahi keilmuannya dan diatur strategi perjuangannya. Syekh Hasyim sendiri adalah mengikuti madzhab Syafi'i dalam bidang fikih, dalam bidang teologi mengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Maturidi. Madzhab dan teologi ini mayoritas dianut umat Islam Nusantara.
Dalam kitabnya al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan terekam nasihat-nasihat penting yang disampaikan dalam pidato mu'tamar NU ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya.
Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjihad melawan akidah yang rusak dan pengkhina al-Qur'an. Untuk itu, ia mewanti-wanti agar menjaga keutuhan umat Islam dan tidak fanatik buta kepada perkara furu'[3].
Di hadapan peserta mu'tamar yang dihadiri para ulama', Syekh Hasyim Asy'ari menyeru untuk meninggalkan fanatisme buta kepada satu madzhab. Sebaliknya ia mewajibkan untuk membela agama Islam, berusaha keras menolak orang yang menghina al-Qur'an, dan sifat-sifat Allah swt, dan memerangi pengikut ilmu-ilmu batil dan akidah yang rusak. Usaha dalam bentuk ini wajib hukumnya. Ia mengatakan:
"Wahai para ulama' yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu', dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur'an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib"[4].
Tegas, tidak kenal kompromi dengan tradisi-tradis batil, serta bijaksana, inilah barangkali karakter yang bisa kita tangkap dari pidato beliau tersebut. Bahkan pidato tersebut disampaikan kembali dengan isi yang sama pada Muktamar ke-XV 9 Pebruari 1940 di Surabaya. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap masa depan warga Nadliyyin dan umat Islam Indonesia umumnya, terutama masa depan agama mereka ke depannya – yang oleh beliau telah diprediksi mengalami tantangan yang berat.
Menurut Syekh Hasyim Asy'ari, fanatisme terhadap perkara furu' itu tidak dipernkenankan oleh Allah swt, tidak diridlai oleh Rasulullah saw (al-Tibyan, hal. 33). Oleh sebab itu ia menyeru untuk bersatu padu, apapun mazhab fikihnya. Selama ia mengikuti salah satu madzhab yang empat, ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath'i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur'an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu. Inilah sikap adil, yakni menempatkan perkara pada koridor syariah yang sebenarnya.
Dalam kitab yang sama, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya.
Ditulis dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, Seykh Hasyim Asy'ari mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam lautan fitnah, yaitu berdakwah mengajak kepada agama Allah akan tetapi dalam hati ia durhaka kepada-Nya[5].
Nahi Munkar Syekh Hasyim
Hadratus Syekh Hasyim Asyari, pernah menceritakan tentang keadaan pemikiran kaum Muslimin di pulau Jawa. Cerita itu kemudian ditulis dalam salah satu kitabnya, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah. Selain dalam kitab tersebut, juga diuraikan dalam karya-karya lain, tentang ajaran-ajaran yang menyimpang yang harus diluruskan.
Sejak NU didirikan pertama kali pada 31 Januari 1926, Syeikh Hasyim Asy'ari sudah mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham nyeleneh. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan hati-hati menyikapi fenomena perpecahan akidah.
Pada sekitar tahun 1330 H terjadi infiltrasi beragam ajaran dan tokoh-tokoh yang membawa pemikiran yang tidak sesuai dengan mainstream Muslim Jawa waktu, yakni berakidah Ahlussunnah wal Jama'ah[6].
Kyai Hasyim mengkritik orang-orang yang mengaku-ngaku pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, dengan menggunakan paradigma takfir terhadap madzhab lain, penganut aliran kebatinan, kaum Syiah Rafidhah, pengikut tasawwuf menyimpang yang menganut pemikiran manunggaling kawulo gusti[7].
Organisasi yang beliau dirikan, NU, bertujuan memperbaiki keislaman kaum Muslim nusantara dengan cara membangkitkan kesadaran ulama-ulama' Nusantara akan pentingnya amar ma'ruf nahi munkar. Diharapkan dengan wadah organisasi ini, para ulama' bersatu padu membela akidah Islam.
Paradigma takfir, dalam bidan furu', tidaklah tepat karena akan memcah belah kaum Ahlussunnah wal Jama'ah. Dalam menyikapi perbedaan furuiyah, Kyai Hasyim melarang untuk bersikap fanatik buta. Ia mendorong keras kepada para ulama' untuk bersama-sama membela akidah Islam. Maka, seruan untuk tidak fanatik buta terhadap pendapat ijtihad merupakan salah satu cara untuk menggalang kekuatan pemikiran dalam satu barisan.
Jika berdakwah dengan orang yang berbeda madzhab fikihnya, ia melarang untuk bertindak keras dan kasar, tapi harus dengan cara yang lembut. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath'i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada akidah yang benar.
Aliran Syiah yang mencaci sahabat Abu Bakar dan Umar adalah aliran yang dilarang untuk diikuti. Bagaimana bermuamalah dengan penganut Rafidhah? Beliau mengutip penjelasan Qadhi Iyadh tentang hadis orang yang mencela sahabat, bahwa ada larangan untuk shalat dan nikah dengan pencaci maki sahabat tersebut. Karena mereka sesungguhnya menyakiti Rasulullah saw.
Meski pada masa itu aliran Syi'ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi Hasyim Asya'ari memberi peringatan kesesatan Syi'ah melalui berbagai karyanya. Antara lain; "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', "Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama'ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin" dan "al-Tibyan fi Nahyi 'an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan".
Hasyim Asy'ari, dalam kitabnya "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'" memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi'ah.Menurutnya, madzhab Syi'ah Imamiyyah dan Syi'ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali[8].
Beliau mengatakan: "Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi'ah Imamiyyah dan Syi'ah Zaidiyyah adalah ahli bid'ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti" (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', halaman 9)[9].
Syeikh Hasyim Asy'ari mengemukakan alasan mengapa Syi'ah Imamiyyah dan Zaidiyyah termasuk ahli bid'ah yang tidak sah untuk diikuti. Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi halaman 7 mengecam golongan Syi'ah yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi saw.
Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa'iq al-Muhriqah, Syeikh Hasyim Asy'ari menghimbau agar para ulama' yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi saw itu.
Hadis Nabi saw yang dikuti itu adalah: "Apabila telah Nampak fitnah dan bid'ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia".
Peringatan untuk membentengi akidah umat itu diulangi lagi oleh Syeikh Hasyim dalam pidatonya dalam muktamar pertama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama', bahwa madzhab yang sah adalah empat madzhab tersebut, warga NU agar berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah tersebut.
Dalam Qanun Asasi itu, Syeikh Hasyim Asy'ari menilai fenomena Syi'ah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi harus diluruskan. Pelurusan akidah itu menurut beliau adalah tugas orang berilmu, jika ulama' diam tidak meluruskan akidah, maka mereka dilaknat Allah swt.
Kitab "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'" sendiri merupakan kitab yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy'ari, berisi pedoman-pedoman utama dalam menjalankan amanah keorganisasian Nahdlatul Ulama. Peraturan dan tata tertib Jam'iyyah mesti semuanya mengacu kepada kitab tersebut.
Sikap tegas juga ditunjukkan Syeikh Hasyim dalam karyanya yang lain. Antara lain dalam "Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama'ah" dan "al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin" dan "al-Tibyan fi Nahyi 'an Muqatha'ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan", di mana cacian Syi'ah dijawab dengan tuntas oleh Syeikh Hasyim dengan mengutip hadis-hadis Nabi SAW tentang laknat bagi orang yang mencaci sahabatnya.
Hampir setiap halaman dalam kitab "al-Tibyan" tersebut berisi kutipan-kutipan pendapat parra ulama salaf salih tentang keutamaan sahabat dan laknat bagi orang yang mencelanya. Diantara ulama' yang banyak dikutip adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Qadli Iyadl.
Hadis-hadis Nabi saw yang dikutip dalam dua kitab tersebut antara lain berbunyi:"Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti 'Aisyah". "Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabat mereka, maka dia akan mendapat laknat Allah swt, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah".
Pada masa lalu di Jawa juga telah muncul ajaran ibahiyyah. Kelompok ini mengajarakan pengguguran kewajiban syariah. Dijelaskannya, jika seseorang telah mencapai puncak mahabbah (cinta), hatinya ingat kepada Sang Maha Pencipta, maka kewajiban menjalan syariat menjadi gugur. Ibadah cukup hanya dengan mengingat Allah saja. Kyai Hasyim menyebut mereka sebagai kelompok sesat dan zindiq[10]. (Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, hal. 11).
Ajaran-ajaran lain yang menyusup merusak tasawwuf adalah ajaran inkarnasi, dan manunggaling kawula gusti. Menurut beliau orang yang meyakini inkarnasi telah mendustakan firman Allah swt dan sabda Rasulullah saw. Ajaran manunggaling kawula gusti merusak telah merusak ajaran tasawwuf. Ajaran ini menyimpangkan karena mengajarkan panteisme.
Menurut Kyai Hasyim, konsep penyatuan wujud yang ada pada para ulama' sufi dahulu bukanlah panteisme bukan pula pluralisme, tapi penyatuan itu hanya dalam konteks hierarki wujud, antara wujud makhluk dan wujud Allah. Tidak dipungkiri ajaran tersebut sengaja dirusak untuk menyimpangkan ajaran tasawwuf para ulama'-ulama' terdahulu. Mereka ini disebut orang jahil yang sok bertasawwuf.
Dalam kitab Al-Dhurar al-Muntastiro fi Masa'ili al-Tis'i 'Asyarah Syekh Hasyim memberi penjelasan-penjelasan ringkas dan padat tentang konsep-konsep kewalian dan tasawwuf. Di situ, terdapat penjelasan penting. Bahwasannya, jika ada seorang mengaku wali lantas melakukan hal-hal 'aneh', namun mengingkari syariat maka — menurut beliau — dia bukan wali, tapi sedang ditipu setan.
Beliau mengatakan bahwa, siapapun diwajibkan untuk melaksanakan syariat. Tidak ada perbedaan antara seorang santri, kyai, orang awam dan wali, semuanya sama diwajibkan menjalankan perintah syariah.
Ia mengatakan, "Tidak ada namanya wali yang meninggalkan kewajiban syariat. Apabila ada yang mengingkari syariat maka ia sesungguhnya mengikuti hawa nafsunya saja dan sedang tertipu setan"[11].
Penjelasan-penjelasan tersebut merupakan usaha Kyai Hasyim untuk membendung keyakinan yang mendekonstruksi akidah Ahlussunnah wal Jama'ah di kalangan jam'iyah NU secara khusus dan umat Islam di Nusantara secara umum. Bahkan menurutnya, kelompok-kelompok yang menyimpang tersebut lebih berbahaya bagai kaum Muslimin daripada kekufuran lainnya. Sebab, kalangan Muslim awam mudah terkecoh dengan penampilan mereka, apalagi bagi kalangan yang awam dalam bahasa arab dan syariat.
Mereka wajib dibendung. Tapi beliau mengingatkan, bahwa nahi munkar terhadap aliran 'nyeleneh' tersebut harus dilakukan sesuai petunjuk syariat. Tidak boleh nahi munkar dengan cara munkar pula atau menimbulkan fitnah baru. Sehingga tidak menyudahi kemungkaran namun akan menambah kemungkaran itu sendiri, yakni menambah umat Islam makin menyimpang akidahnya. Sebagaimana dilarangnya sedekah dengan harti hasil curian. Tapi di sini bukan larangan nahi mungkar dengan 'tangan', namun yang dilarang adalah yang melanggar syariat. Inilah karakter Syekh Hasyim Asy'ari yang patut diteladani umat. Tegas terhadap penyimpangan Islam, teduh dalam menyikapi perbedaan furu'.
Ia salah satu tokoh nasional pejuang syari'ah. Ia adil. Kepada pengikutnya yang salah, ia tak segan membenahi, dan terhadap kelompok lain yang menyimpang, tanpa sungkan ia mengkritik. Semuanya demi Islam, demi keagungan Allah, bukan demi manusia tertentu.
Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi'ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi saw. Mereka berkumpul membaca Al-Qur'an, dan sirah Nabi[12].
Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari'at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.
Syekh Hasyim Asy'ari tidak pernah mengajarkan paham liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Fatwa-fatwanya cukup tegas. Tidak abu-abu. Beliau mengatakan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah menyimpang. Hanya Islam lah agama wahyu yang orisinil, yang harus tetap dijaga dan dipeluk.
Sebab, liberalisasi dan pluralisasi agama jelas menyalahi tradisi NU, apalagi melawan perjuangan KH. Hasyim Asy'ari. "Liberalisme ini mengancam akidah dan syariah secara bertahap," ujar KH Hasyim Muzadi seperti dikutip www.nuonline.com pada 7 Februari 2009.
KH. Hasyim Asy'ari sangat menentang ide penyamaan agama, dan memerintahkan untuk melawan terhadap orang yang melecehkan Al-Qur'an, dan menentang penggunaan ra'yu mendahului nash dalam berfatwa (lihat Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama'ah). Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, Syekh Hasyim mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid'ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.
Perjuangan Syekh Hasyim pada zaman dahulu adalah menerapkan syariat Islam. Untuk itulah beliau, sepulang dari belajar di Makkah mendirikan jam'iyyah Nadlatul Ulama' – sebagai wadah perjuangan melanggengkan tradisi-tradisi Islam berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Liberalisme di kalangan NU sesungguhnya telah dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan. Pada Muktamar NU di Boyolali Jawa Tengah, terbit rekomendasi dari sesepuh Kyai NU agar kepengurusan NU dan organisasi-organisasi di bawahnya dibebaskan dari orang-orang berhaluan Islam Liberal.
PWNU Jawa Timur patut menjadi teladan warga NU dalam meneruskan perjuangan Kyai Hasyim 'Asy'ari. Pada 9 Januari 2012, melalui ketuanya, KH. Mutawakil Alallah, PWNU secara resmi menyatakan bahwa Syiah sesat. "Kami harap, aparat membubarkan kelompok Syiah. Jika dibiarkan berkembang keberadaan mereka akan menabrak konstitusi. Aliran itu hanya mengakui satu pimpinan dan imam, yakni yang masih ada hubungan keluarga dengan pimpinan sebelumnya. Hal itu bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa," terang Mutawakkil kepada metronews.com. seperti dilansir dalam berita suara-islam.com, Kyai asal Probolinggo ini menjelaskan bahwa Syiah telah melanggar HAM karena mecaci sahabat Nabi saw. Ajaran Syiah menyebut Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan sebagai "perampok" posisi Sayidina Ali bin Abi Thalib. juga tidak mengakui Al Quran sebanyak 30 juz serta tidak mengakui Hadits Bukhari-Muslim, kecuali hadits dari Syiah sendiri. Mereka juga tidak mengakui imam di luar Sayidina Ali, sehingga mereka tidak menerima kepemimpinan presiden, gubernur, bupati/wali kota, dan seterusnya.
Ketegasan Kyai Hasyim 'Asy'ari semoga menjadi teladan baik bagi ulama di Indonesia. Tindakan nyata dan tegas hukumnya fardlu 'ain bagi para ulama' yang memiliki otoritas dalam tubuh organisasi.
Ormas-ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari gempuran penyimpangan akidah. NU dan Muhammadiyah bagi muslim Indonesia adalah dua kekuatan yang perlu terus di-backup. Jika dua kekuatan ini lemah, tradisi keislaman Indonesia pun bisa punah.
[1] Uraian ini dapat dibaca di Muhammad Najih Maimoen, Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU, (Rembang: Toko Kitab al-Anwar PP al-Anwar Sarang, 2011)
[2] http://kangdoellah.wordpress.com/2011/04/05/biografi-kh-hasyim-asy%E2%80%99ari
[3] Hasyim Asy'ari, al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan,(Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy, tanpa tahun), hal. 32
[4] Ibid, hal. 33-34
[5] Hasyim 'Asy'ari, al-Qanun al-Asasi li Jam'iyati Nadlatu al-'Ulama, dalam al-Tibyan fi al-Nahyi 'an Muqatha'ati al-Arham wa al-'Aqarib wa al-Ikhwan,(Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy, tanpa tahun), hal. 22-23
[6] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 9
[7] Ibid, hal. 10
[8] Ibid, hal. 14. Lihat juga Keputusan Muktamar NU I di Surabaya pada 21 Oktober 1929 dalam Ahkamul Fukoha' Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, (Surabaya; Diantama dan LT NU Jawa Timur), hal. 3
[9] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 9
[10] Hasyim 'Asy'ari, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamiy,), hal. 11
[11] Hasyim Asy'ari, Al-Dhurar al-Muntastiro fi Masa'ili al-Tis'i 'Asyarah,(Kediri: PP. Lirboyo Kediri, tanpa tahun), hal. 4 dan 6
[12] Hasyim Asy'ari, Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat,(Jombang: Maktabah al-Turast al-Islamiy,tanpa tahun)
Sumber : majalah insists
Sepak Terjang missionaris dan kolonialis di jawa
Oleh: Susiyanto (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam, Solo)
Pendahuluan
Sejak awal Belanda menghendaki penguasaan terhadap narasi sejarah bangsa jajahannya. Di Jawa, pengumpulan tradisi-tradisi lokal dan manuskrip kuno telah menjadi salah satu agendanya. Sejumlah akademisi Belanda diturunkan untuk menggali pelbagai data terkait. Kesarjanaan yang memiliki penguasaan terhadap tradisi, adat istiadat, dan sistem nilai suatu masyarakat akan berguna dalam membangun pendekatan, termasuk dalam merancang format hegemoni dan pelanggengan kekuasaan.
Penyusunan narasi "sejarah" yang berpihak pada kepentingan kolonialisme ini sempat disinggung Prof. A. Hasymy dalam "Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia" di Medan pada 17-20 Maret 1963. Menurut A. Hasymy, tujuan kaum kolonialis dan kaki tangannya menyusun sebuah versi "Sejarah" adalah untuk meracuni jiwa dan semangat para pemuda Islam di tanah jajahan. Langkah ini ditindaklanjuti dengan penciptaan dongeng-dongeng sebagai ganti ajaran Islam. Melalui metode inilah Belanda menciptakan "agama baru" dalam bentuk aliran-aliran kebatinan atau kepercayaan.[1]
Pasca Perang Jawa (1825-1830) kebutuhan Belanda untuk memahami kawasan Jawa semakin terasa. Apalagi pemerintah menggulirkan kebijakan tanam paksa (cultuur stelsel) untuk mengisi kas negara yang terkuras untuk pembiayaan operasional menumpas berbagai aksi perlawanan. Dalam praktik di lapangan, kebijakan baru yang bersifat eksploitatif itu menuntut lebih banyak interaksi dengan kalangan bumiputera. Karenanya, pendidikan bagi para pegawai dan pejabat Belanda hendaknya diarahkan untuk memahami bahasa dan budaya rakyat setempat.
Guna menjinakkan Islam, Belanda berinisiatif menciptakan terwujudnya segregasi antara Islam dan budaya Jawa. Islam diposisikan sebagai bahaya potensial dan laten bagi stabilitas pemerintahan kolonial. Upaya ini mendapat dukungan penuh dari kalangan misionaris Protestan maupun Katolik. Karel Steenbrink, seorang akademisi, menggambarkan bahwa pada masa itu Islam dianggap sebagai kekuatan yang harus direduksi. Langkah yang diambil selalu menunjukkan ciri serupa yaitu pencitraan Islam sebagai musuh menakutkan yang tidak harus diserang secara langsung, tetapi dihadapi dengan mempromosikan kebiasaan kuno, adat, dan agama rakyat. Juga melalui perawatan kesehatan dan pendidikan Barat. Van Randwijk, mantan konsul zending, mencirikan strategi ini dengan kalimat: "Strategi memangkas Islam".[2]
Simbiosis Mutualisme
Misi Kristen bergeliat ketika mulai diizinkan beroperasi di Jawa pada abad ke-19. Diantara tokoh awalnya antara lain W. Hoezoo yang tinggal di Semarang dari 1849 sampai kematiannya pada tahun 1896, Samuel Eliza Harthoorn, dan D.J. ten Zeldam Ganswijk yang tiba di Jawa pada 1854 dan keduanya akhirnya mengundurkan diri karena mereka tidak bisa lagi mendukung pendekatan dari Zendelinggenootschap Nederlandsche (NZG, Masyarakat Misionaris Belanda), dan Carel Poensen yang datang pada tahun 1860 dan menghabiskan lebih dari tiga puluh tahun di Jawa. Umumnya para misionaris ini hanya menguasai sedikit latar belakang pengetahuan tentang masyarakat Jawa.
Mereka harus banyak belajar dan tidak diragukan lagi sering salah mengerti tentang apa yang mereka lihat. Tujuan mereka adalah untuk mengkonversi Jawa ke Kristen dan karena itu mereka sering melihat Islam sebagai lawan. Misionaris sering tiba di Jawa dengan memikul ketidaktahuan dan prasangka. Buku Harthoorn tahun 1865 tentang pendidikan di Indonesia, misalnya, mencerminkan permusuhannya kepada segala hal yang bersifat Arab, Islam, atau takhayul. Harthoorn juga memandang orang Jawa sebagai masyarakat yang memiliki tingkat peradaban rendah sehingga mudah dibentuk oleh pengaruh luar.
Para misionaris sering tinggal untuk waktu lama di Jawa dan mau tidak mau mereka dituntut memahami bahasa setempat dengan baik. Mereka berkomunikasi satu sama lain baik melalui korespondensi dan dengan publikasi di jurnal missi bernama Mededeelingen van het Nederlandsche Wege Zendelinggenootschap (MNZG) dan melalui media lain. Mereka memiliki kontak dengan bangsa Eropa lain dan Indo-Eropa dengan keahlian ilmiah tentang Jawa. Misalnya, ketika Hoezoo melakukan perjalanan ke Surakarta pada tahun 1851 ia bertemu J.F.C. Gericke (1799-1857), C.F. Winter Sr (1799-1859), J.A. Wilkens (1813-1880), dan Cohen Stuart (meninggal 1876) di sana, semuanya tokoh penting dalam penelitian awal Jawa. Para misionaris memiliki minat dalam mengamati masyarakat Jawa seakurat mungkin, hanya berdasarkan pengamatan seperti itu strategi misi akan berhasil disusun.[3]
Sejak awal misi Kristen memang dituntut bermain cantik. Penyebaran bible harapannya dilakukan dengan cara tidak menonjol dan hati-hati. Bahkan penyediaan taman bacaan sekalipun pada masa ini nyaris dianggap sebagai tindakan agresif. Oleh karena itu misi sendiri berupaya menjaga hubungannya dengan pemerintah kolonial. Penginjil lebih banyak mendapat keuntungan melalui penerapan kerja sama dengan Pemerintah Kolonial dibandingkan bekerja sendiri secara terpisah.
Dengan digulirkannya sistem tanam paksa (cultuur stelsel), Pemerintah Kolonial Belanda semakin merasakan pentingnya penguasaan terhadap adat istiadat, budaya, dan bahasa rakyat pribumi. Netherlands Zending Genootschap (NZG), lembaga misionaris Belanda, menangkap peluang ini dengan baik. NZG menawarkan konsep pendirian sebuah lembaga Bahasa Jawa yang memungkinkan pegawai dan pejabat Belanda dididik untuk memahami adat istiadat dan Bahasa Jawa.
Gayung pun bersambut. Tidak benar jika sejumlah akademisi Kristen menolak teori adanya keterkaitan antara Gereja dan pemerintahan kolonialis. Dalam kasus Lembaga Bahasa Jawa inisiatif awal kerja sama justru bermula dari badan penginjilan. Tindakan kompromistis antara pemerintah penjajah dan institusi misi ini membidani lahirnya Instituut voor de Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) pada 27 Februari 1832 di Surakarta. Lembaga ini di dirikan atas prakarsa Johann Friedrich Carl Gericke, utusan zending dari Netherlands Zending Genootschap (NZG).
Di Instituut voor de Javaansche Taal, Gericke menjabat sebagai pimpinan lembaga. Ia bisa dianggap sebagai peletak utama kesarjanaan Belanda dalam studi literatur Jawa. Awalnya ia tiba di Surakarta pada 1827 untuk menterjemahkan Bible ke dalam Bahasa Jawa. Pada tahun 1829 ketika salah seorang pangeran dari Kasunanan hendak belajar agama ke Pesantren Tegal Sari, Ponorogo Gericke megikuti dengan tujuan lain, yaitu belajar tentang literatur Jawa selama 9 bulan. Perjalanan Gericke selalu ia laporkan kepada induk semangnya di Nederlands Bijbelgenootschap di Amsterdam. [4]
Melalui Instituut voor de Javaansche Taal inilah sebuah cara pandang baru dicangkokkan ke dalam pemikiran orang Jawa. Pembentukan identitas baru masyarakat Jawa dimulai dengan langkah meniadakan spirit Islam. Melalui lembaga ini, Para Javanolog Belanda yang terdiri dari kalangan misionaris dan orientalis, mengembalikan dan menghidupkan kembali tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta. Javanolog Belanda-lah yang "menemukan", "mengembalikan" dan "memberikan makna" terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda.[5] Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk-beluk tentang Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping bagi penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa.[6]
Instituut voor de Javaansche Taal memiliki banyak peran strategis dalam menentukan wajah Jawa. Berbagai kitab kuno diteliti ulang, sejumlah pandangan hidup Jawa diberi pemaknaan baru, dan kebanggaan terhadap masa lalu terutama dari era pra Islam dikembangkan kemabli secara masif. Bahkan beberapa wujud kebudayaan yang menampakkan anasir Hindhu-Budha dilegitimasi sebagai bentuk kebudayaan "asli Jawa". Sementara itu produk kebudayaan Islam dibiarkan tenggelam dan kalau pun diangkat biasanya lebih pada wujud kebudayaan era transisional yang masih kental dengan sifat dekaden.
"Pembaratan" Jawa
Lembaga Bahasa Jawa didirikan dengan berbagai tujuan yang hendak diraih. Bagi Pemerintah negara jajahan, keberadaan lembaga yang mampu menyediakan tenaga terdidik untuk berdialog dengan pribumi dinilai menguntungkan dalam upaya menjaga stabilitas dan memelihara hegemoni. Sementara itu bagi kalangan zending belanda, Instituut voor de Javaansche Taal berfungsi sebagai ujung tombak bagi penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. Pendanaan bagi aktivitas penginjilan pun secara otomatis diperoleh dari Pemerintah Kolonialis melalui lembaga tersebut. Dengan demikian kepentingan kolonialis dan misionaris terpadu menjiwai semangat pendirian lembaga ini.
Pemerintah Belanda bukannya tidak mengetahui bahwa tujuan pendirian lembaga itu berhubungan dengan kepentingan misi Kristen. Baud mengungkapkan penawarannya tentang pendirian lembaga bahasa tersebut kepada Gubernur Jendral Belanda sebagai berikut: "Jika pemerintah setuju maka akan didirikan institut di Jawa untuk studi bahasa-bahasa Timur, dengan maksud memajukan usaha penerjemahan Alkitab."[7]
Gericke pada saat di Jawa tahun 1826 telah diberi instruksi untuk berhati-hati dalam menjalankan tugas peyelidikan di Jawa. Instruksi itu isinya agar ia menyembunyikan tujuan utamanya membentuk sebuah institut di Jawa yang berkaitan dengan misi peginjilan di Jawa. Isi instruksi itu dalam poin ke-9 adalah sebagai berikut:
"Kepada Tuan Gericke dianjurkan dengan sangat agar dalam … percakapan-percakapannya, khususnya dengan orang Jawa, ia menyatakan bahwa ia diutus untuk belajar dan mengajar bahasa Jawa, dan menghindari diskusi-diskusi agama yang tidak bermanfaat dan ucapan-ucapan menghebohkan yang akan menyingkapkan tujuan lebih lanjut kegiatannya di sana. Kendati demikian, tujuan tersebut jangan pernah hilang dari benaknya."[8]
Dalam salah satu surat untuk Nederlands Biblegenootschaft (NBG), masyarakat Bible Belanda, pada Oktober 1852, Gericke menegaskan bahwa penterjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa itu memiliki tujuan politis yang akan menguntungkan Pemerintah Belanda. Alasannya, ketika pemerintah telah menawarkan pendidikan bagi orang Jawa tanpa diimbangi penyebaran Injil sangat mungkin rakyat jajahan akan menyulitkan pemerintah pada masa yang akan datang. Gericke menyatakan bahwa jika mereka diberi pendidikan "tanpa serentak mengajar mereka mengenal Tuhan dan takut akan Dia maka dimasa depan mereka tidak akan dapat lagi diatur dengan mudah dan mungkin akan terdorong untuk melemparkan beban yang selama ini mereka pikul dengan sukarela dan taat … ".[9]
Kerja Gericke membuahkan hasil dengan diterbitkannya terjemahan Perjanjian Lama pada Oktober 1852 dan diterbitkan ulang dalam 3 jilid tebal berbentuk oktaf pada 1854. Ketika buku itu diterbitkan ulang, NBG menyatakan bahwa bible berbahasa Jawa merupakan "een waardig tegengeschenk is voor al de schatten die jaar in jaar uit van dit door de natuur zo rijk gezegende eiland ons toestromen" (hadiah yang layak untuk mengimbangi harta kekayaan yang setiap tahun mengalir kepada kita dari pulau yang diberkati dengan kekayaan alam yang begitu banyak).[10]
Dari pernyataan di atas, bisa dimengerti bahwa NBG selaku lembaga bible memiliki keterkaitan dengan proses penjajahan di tanah air. Pendirian lembaga Bahasa Jawa di atas sejatinya merupakan langkah pemerintah kolonialis untuk memuluskan pemberlakuan Sistem Tanam Paksa dan model Saldo Positif. Kekayaan dari hasil bumi nusantara dikeruk untuk mengisi kas negeri Belanda. Dari sini bisa dipahami bahwa NBG mendukung sistem tanam paksa yang telah menyengsarakan masyarakat Indonesia. Hal ini juga menunjukkan bahwa kaum misionaris tidak mengingkari praktik penjajahan di Jawa. Pembentukan lembaga ini sendiri justru merupakan bentuk dukungan misi Kristen terhadap kekuasaan dan hegemoni Pemerintah Kolonial Belanda.
Jadi pendirian Instituut voor de Javaansche Taal yang digawangi oleh kalangan penginjil dari NZG tidak murni bersifat akademis apalagi pengembangan budaya. Juga bukan sekedar menyangkut kepentingan penyebaran Agama Kristen belaka. Eksistensi lembaga ini secara tidak langsung membuktikan bahwa kalangan misi mensupport keberlanjutan sistem tanam paksa. Juga memperlihatkan dukungan lembaga penginjilan terhadap upaya melanggengkan penjajahan Belanda di Jawa.*
Footnote
[1] Prof. A. Hasymy (peny.). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Cetakan II. (PT. Alma'arif, 1989), hlm. 22; Bandingkan: Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Cetakan V (Salamadani, Bandung, 2012), hlm. 209
[2] Lihat: Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942) (Penerbit Mizan, Jakarta, 1995), hlm. 144
[3] Lihat: M.C. Ricklefs, The Birth of the Abangan, dalam BKI No. 162 (1) Th. 2006, hlm. 39
[4] Lihat: A. Day, Islam and Literature in South – East Asia: Some Pre-modern, Mainly Javanesse Perspectives, dalam M.B. Hooker (ed.), Islam in South – East Asia (E.J. Brill, Leiden, 1988), hlm. 134
[5] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Cetakan II, diterjemah dari An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 oleh Hilmar Farid (Pustaka Grafiti, Jakarta, 2005), hlm. 7
[6] Lihat: Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia, Cetakan III (Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2007), hlm. 127
[7] J.L. Swellengrebel, Mengikuti Jejak Leijdecker: Satu Setengah Abad Penerjemahan Alkitab dan Penelitian Bahasa dalam Bahasa-bahasa Nusantara, Jilid 1 (1820-1900) (Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2006), hlm. 35
[8] J.L. Swellengrebel, Mengikuti Jejak Leijdecker …, hlm. 36
[9] J.L. Swellengrebel, Mengikuti Jejak Leijdecker …, hlm. 70
[10] J.L. Swellengrebel, Mengikuti Jejak Leijdecker …, hlm. 70; Laurens de Vries, Ikhtisar Sejarah Penerjemahan Alkitab di Indonesia, dalam Henry Chambert-Loir (ed.), Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (PT Gramedia, Jakarta, 2009), hlm. 472
Sumber : majalah insists
Hubungan BAHASA dengan Per-adab-an bangsa
Oleh : Nuim Hidayat
Pada bulan Juli 2009 lalu, saya berkunjung ke Malaysia. Bukan main gembiranya ketika di sana saya menemukan buku Raja Ali Haji, Bustan al Katibin. Buku ini saya dapatkan dari Prof Wan Daud dari ruang kerjanya di Universiti Kebangsaan Malaysia. Buku ini aslinya dalam bahasa Arab Melayu dan kemudian dialihbahasakan dalam bahasa Melayu oleh Prof Hashim bin Musa dari Universiti Malaya. Menurut pengakuannya, ia mendapat naskah asli buku ini dari Universitas Leiden.
Buku tentang bahasa Melayu ini ditulis tahun 1850M. Menurut Prof. Hashim kitab ini merupakan tulisan paling awal tentang bahasa Melayu yang disusun oleh orang Melayu. Delapan tahun kemudian (1858 M), Raja Ali Haji juga menulis tentang bahasa Melayu, yaitu Pengetahuan Bahasa: Kamus Loghat Melayu Johor, Pahang, Riau dan Lingga.
"Sesungguhnya karya-karya tentang bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji ini merupakan warisan yang amat berharga yang menjadi penyambung kepada tradisi pengajian bahasa dalam Islam yang bermula sejak zaman awal Islam lagi,"terang Prof Hashim yang memberi pengantar dan memperkenalkan kitab ini. (Bustan al Katibin, Raja Ali Haji, 2005:xiii).
Dalam Islam, memang ada keterkaitan yang dalam antara pemahaman bahasa atau ilmu dengan pentauhidan kepada Allah. "Dalam Islam, pengajian bahasa khususnya bahasa Arab dan bahasa penganut Islam yang lain, merupakan ilmu alat untuk mencapai makrifat yaitu mengenali Allah dan seluruh kewujudan, memperteguh keimanan dan ketakwaan, dan menyemai adab kesopanan yang mulia, yang mengandungi antara lain ilmu-imu nahwu (sintaksis), sharaf (morfologi), qawaid (bahasa), mantiq (logika), balaghah (retorik), istidlal (pendalilan), kalam (penghujahan) dan sebagainya,"ungkap Prof. Hashim.
Dalam kitabnya Bustanul Katibin ini, Raja Ali Haji memulai dengan Muqaddimah dengan judul Fi Fadhilati al ilmu wal aqlu (Kelebihan Ilmu dan Akal). Pertamanya. ia mengutip hadits Rasulullah yang terkenal: "Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin)." Kemudian Ali Haji menyatakan: "Adapun kelebihan akal itu seperti kata hukama husnu haliah, artinya akal itu sebaik-baik perhiasan. Dan lagi kata hukama al fadhlu bil aqli wal adabu la bil ahli wan nasabi, artinya kelebihan itu (pada) akal dan adab dan tiada (bukan) sebab bangsa dan asal." Maka, terangnya, "Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya."
Di sini, Ali Haji mengaitkan hubungan yang erat antara ilmu, akal dan adab. Artinya agar akal dan adab seseorang, masyarakat atau bangsa menjadi baik (menjadi unggul), maka mesti diberi ilmu yang benar. Lebih tegas lagi, Ali Haji menyatakan : "Man sa'a adabahu dha'an nasbahu, artinya barangsiapa jahat adabnya sia-sialah bangsanya."
Selain itu, ulama, penasihat raja dan sastrawan dari Riau ini juga menjelaskan tentang tanda-tanda orang berakal. Ia mengungkapkan : "Dan lagi kata Hukama, bermula itu akal basra'atul fahm, artinya, tanda berakal segera faham dan tahratul aqlu husnul ikhtiar wa dalil li tahu sahbatul ikhtiara, artinya buah akal itu membaikkan ikhtiar, dan tandanya bersahabat dengan orang yang pilihan daripada orang yang baik-baik."
Kemudian, Ali Haji menunjukkan hubungan ilmu dengan kalam (kalimat/bahasa). "Adapun kelebihan ilmu wal kalam amat besar sehingganya mengatan setengah hukama, segala pekerjaan pedang bisa diperbuat dengan qalam. Adapun pekerjaan-pekerjaan qalam tidak bisa diperbuat dengan pedang, maka ini ibarat yang terlebih sangat nyatanya. Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan seguris qalam jadi tersarung, terkadang jadi tertangkap dan terikat dengan pedang sekali."
Ali Haji menerangkan, apabila seseorang sudah mengetahui kelebihan ilmu, maka ia harus memelihara adab dan syaratnya. "Adapun syaratnya itu, yaitu antara nafsumu dengan dirimu sendiri. Adapun adabnya itu antaramu dan gurumu." Lebih lanjut ia menjelaskan lima syarat keberhasilan menuntut ilmu: "Pertama, al himmat, artinya bersungguh-sungguh hal yang kuat pada hati pada berkehendak mendapat akan ilmu itu. Kedua, al mudarasah, artinya kuat mendaras (mengulang), meskipun sudah dapat akan mafhumnya, hendaklah didaras juga mana-mana ilmu yang sudah dibaca itu. Ketiga, muzakarah, artinya menyebut-nyebut ilmu itu pada yang bersama-sama menuntut mengaji sertanya, barangkali sahabat kita itu lupa atau kita sendiri pun lupa juga. Maka tatkala dibawa beringat-ingatan itu menjadi menjadi bertambah-tambah ingatnya. Kelima, mutala'ah, artinya menilik pada ilmu yang sudah kita kaji itu serta memikirkan maknanya dan memikirkan mafhumnya, maka jika dapat maka yaitu yang dituntut. Dan lagi tersangkut pada fikiran kita itu sama ada pada maknanya atau mafhumnya ingatkanlah baik-baik pada tentang yang kita tersangkut itu. Apabila berjumpa dengan sahabat kita yang sama pengajian dengan kita itu, maka kita tanyalah kepadanya. Maka jika sahabat kita tiada juga bisa menguraikan barang yang kita tersangkut, maka kembalilah pada guru kita bertanyakan yang kita musykilkan itu, insya Allah Taala hasillah maksud kita adanya."
Menurut Prof. Syed Mohammad Naquib al Attas yang kemudian diikuti oleh Prof. Braginsky (1989,1993), pekerjaan kalam –istilah yang merujuk pada kegiatan penulisan—adalah tonggak kebudayaan Melayu, yang mengakar umbi selepas kedatangan Islam ke rantau ini. Menurut beliau, di bawah pengaruh Islam, orang Melayu mula sadar tentang kewujudan sastera sebagai satu entiti yang utuh, yang menjadi sebahagian integral hidup mereka (lihat Prof. Ungku Maemunah Mohd Tohir, Kritikan Sastera Melayu, Antara Cerita dan Ilmu, 2007).
Ulama terkemuka Melayu lainnya, Syekh Ahmad al Fathani (1856-1908 dari Pattani) juga pernah mengirim surat kepada Sultan Zainal Abidin, Sultan Trengganu, agar sultan-sultan berperan aktif dalam menyebarkan ilmu di masyarakat. Ia menulis: "Aku berharap semoga bangsa Melayu dapat maju dengan pimpinannya dan dapat mencapai kemuncak peradaban kesejahteraan. Aku berharap semoga baginda berkenan menyebarkan ilmu, makrifat dan petunjuk. Lalu baginda menjadi kegembiraan dan rakyat mendapat kejayaan. Agar mereka dapat membukukan bahasa Melayu. Karena aku bimbang ia akan hilang atau dirusak oleh perubahan yang berlaku dari masa ke masa. Begitu pula hendaklah mereka mengarang sejarah Melayu yang meliputi segala perihal orang Melayu. Kalau tidak, mereka nanti akan hilang dalam lipatan sejarah. Wahai para cerdik pandai. Hidupkanlah sejarah bangsamu. Dengan itu kamu akan disebut dalam sejarah dan namamu akan harum sepanjang masa. (lihat plakat Khazanah Fathaniyah oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah).
Bahasa dan Tauhid
Raja Ali Haji sebagai peletak dasar bahasa Melayu ini patut untuk direnungkan. Yang membedakan antara Raja Ali Haji dengan tokoh-tokoh bahasa Melayu/Indonesia sekarang adalah terikat atau lepasnya belajar bahasa dengan keberadaan pencipta (sang Khaliq yang mencipta mulut dan otak manusia). Bila Ali Haji sangat menekankan hubungan yang erat antara bahasa, akal dengan pengakuan adanya Allah SWT, maka saat ini pelajaran bahasa cenderung bersifat sekuler (anti peraturan agama).
Sumber : insists, hidayatullah
Mayoritas Masyarakat Indonesia jijik dengan gay, lesbian, bencong, transgender
Survei LSI: Homofobia Meningkat
Sebuah survei baru yang diterbitkan pada hari Minggu (21/10) mengungkapkan bahwa intoleransi minoritas berkembang, dengan tingkat tertinggi permusuhan diarahkan pada komunitas gay dan lesbian.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan dalam jajak pendapatnya, bahwa 80,6 persen dari populasi sampel keberatan untuk memiliki gay atau lesbian sebagai tetangga. Angka tersebut melonjak secara signifikan dari 64,7 persen pada tahun 2005. (Lihat The Jakarta Post, 22 Oktober 2012).
LSI juga menemukan bahwa intoleransi kaum homoseksual lebih tinggi dari keengganan responden terhadap orang-orang mengikuti agama yang berbeda, berselisih 15,1 persen. Untuk survei, LSI mewawancarai 1.200 responden antara 1 Oktober dan 8 Oktober. Para responden malah lebih suka tinggal bersebelahan dengan apa yang mereka anggap sebagai pengikut aliran sesat seperti Syi'ah dan Ahmadiyah, bukan dengan gay atau lesbian. Survei menunjukkan bahwa 41,8 persen dan 46,6 persen dari responden merasa tidak nyaman tinggal di samping pengikut Syiah atau Ahmadiyah.
"Sebagian besar responden menunjukkan intoleransi [terhadap kelompok-kelompok minoritas] adalah laki-laki, orang-orang yang berpenghasilan rendah dan terbatas-pendidikan," kata peneliti LSI Ardian Sopa saat jumpa pers pada hari Minggu sore.
60 persen responden yang mengaku intoleransi adalah laki-laki. Lebih dari 67 persen dari mereka adalah berpendidikan atau lulusan SMA yang terbaik. LSI juga menemukan bahwa 63,4 persen responden yang mengaku toleran terhadap kelompok minoritas memperoleh pendapatan Rp 2 juta (US $ 208,49) atau kurang per bulan. Sebelumnya pada bulan Juni 2012 lalu, sebuah survei yang diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menegaskan asumsi luas bahwa intoleransi agama meningkat di negeri ini. Survei CSIS dilakukan antara 16 Januari dan 24 Januari tahun ini, menemukan bahwa meskipun 83,4 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak punya masalah dengan tetangga dari kelompok etnis yang berbeda, tapi 79,3 persen keberatan dengan pernikahan antar-agama.
Direktur kelompok nirlaba Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, mengatakan bahwa survei ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jalan panjang untuk untuk dapat menerima homoseksualitas. "Ini akan sangat sulit karena tingkat penerimaan bahkan lebih rendah dari yang diberikan kepada orang-orang dari berbagai agama atau etnis," katanya.
Novriantoni mengatakan apa yang pemerintah perlu lakukan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, karena intoleransi sebagian besar ditunjukkan oleh warga miskin. "Pemerintah perlu berbuat lebih banyak untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi. Orang-orang yang menganggur atau miskin dengan mudah dapat terpancing untuk menyerang kelompok minoritas, "katanya.
Dihubungi The Jakarta Post secara terpisah, Hartoyo, seorang eksekutif dari organisasi pemberdayaan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) menyalahkan kelompok-kelompok Islam radikal dan media dalam pertumbuhan homofobia ini. Hartoyo mengatakan bahwa mayoritas penduduk mengambil ide karena dipromosikan kelompok garis keras Islam, yang mengutuk homoseksualitas sebagai perbuatan dosa dan produk budaya Barat. Menurut The Jakarta Post, pada bulan Mei lalu, kelompok-kelompok Islam radikal membubarkan peluncuran sebuah buku baru yang diluncurkan oleh aktivis Muslim Kanada Irshad Manji karena ditakutkan dia akan mempromosikan lesbianisme di negara ini.
Media juga berbagi karena hanya mempromosikan stereotip dan karikatur dari orang gay. Hartoyo mengatakan. "Beberapa media, terutama portal berita online dan saluran TV yang mudah diakses oleh orang-orang cenderung untuk memberikan laporan yang tidak seimbang tentang kami atau menggambarkan bahwa kita hanya sebagai badut." Dia mengatakan bahwa dalam jangka panjang, homofobia tumbuh lebih lanjut bisa memperburuk ketidakadilan terhadap masyarakat. "Lihat saja Dede Oetomo, seorang sosiolog terkenal dan aktivis hak asasi manusia". Setelah ia diangkat sebagai calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), masyarakat mulai rewel tentang orientasi seksualnya dan diabaikan prestasi gemilangnya. Jadi, bagaimana mungkin orang seperti saya bisa menjadi menteri ?"kata Hartoyo.
sumber:The Jakarta Post
Modus Penipuan Lowongan Kerja (bag.2)
Awas Modus Penipuan Lowongan kerja MLM
sekedar cerita pengalaman temen saya yang dapat panggilan kerja hanya melalui sms, tanpa interview, tanpa surat lamaran ternyta penipuan
PT. CAKRAWALA PERMATA SAKTI. (CPS)
Alamat yg diketahui:
-Jl.Jatinegara Barat no.09 Kampung
Melayu,
Pasar Waru JakTim
-Jl.Raya Gunung Sahari no.39 Lt.7 R.707,
Gedung Putera, JakPus
-Jl.Soekarno Hatta no.725K, Bandung
-Jl.Veteran 160 Umbulharjo, Yogyakarta
-Jl.Wates km 3,5 Kadipiro, Yogyakarta
*Nama PT sering berubah-ubah tapi
dialamat yg sama.
*Dipungut Biaya Rp 600rb-700rb
Nama2 PT abal-abal yg dipakai;
-CAKRAWALA JAYA
-CAKRAWALA BUANA SAKTI
-CAKRAWALA COLECTION
dll
setelah kita mendaftar lewat sms mereka akan mengirim konfirmasi untuk uang setoran
Kpd Yth Sdr/I. Kami Pimpinan
PT.CAKRAWALA PERMATA SAKTI cab
jogja(jl.wates km 3,5 kalibayem,yk),
memberitahukan kpd sdra ,kami tunggu
bsk utk proses penandatanganan SPK
dan pelunasan biaya Seminar
Management Training.Lsg mendptkan :
1. SK Jabatan (tentang posisi awal)
2. SK Penghasilan (rincian pendapatan)
Harian, Bulanan dan Bonus.
3. SPWK (surat penempatan wilayah
kerja)
4. Surat Pengantar Seminar/Training.
5. Sertifikasi Langsung Kerja. SURAT INI
DITANDA TANGANI DI ATAS MATERAI
6000,JD ADA HTM DI ATAS
PUTIH.BERARTI ADA KEKUATAN
HUKUM.mohon knfrmasinya,bsk bs hadr?
setelah kita pulang nunggu berhari-hari gak ada panggilan kerja,... duh nasib y udah jatuh ketiban tangga, dah kesulitan nyari kerja malah ketipu ratusan ribu.
untuk kalian yang belum kena waspadalah dengan modus seperti ini, cirinya nawarin kerja ringan gaji besar sekitar 600 rb/minggu, iklan modus ini tersebar di olx dan dikoran-koran lokal juga ada, salam dari kami www.ashabul-muslimin.tk










