"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Jumat, 02 Oktober 2015

Mayoritas Masyarakat Indonesia jijik dengan gay, lesbian, bencong, transgender

Survei LSI: Homofobia Meningkat

 

Sebuah survei baru yang diterbitkan pada hari Minggu (21/10) mengungkapkan bahwa intoleransi minoritas berkembang, dengan tingkat tertinggi permusuhan diarahkan pada komunitas gay dan lesbian.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan dalam jajak pendapatnya, bahwa 80,6 persen dari populasi sampel keberatan untuk memiliki gay atau lesbian sebagai tetangga. Angka tersebut melonjak secara signifikan dari 64,7 persen pada tahun 2005. (Lihat The Jakarta Post, 22 Oktober 2012).

LSI juga menemukan bahwa intoleransi kaum homoseksual lebih tinggi dari keengganan responden terhadap orang-orang mengikuti agama yang berbeda, berselisih 15,1 persen. Untuk survei, LSI mewawancarai 1.200 responden antara 1 Oktober dan 8 Oktober. Para responden malah lebih suka tinggal bersebelahan dengan apa yang mereka anggap sebagai pengikut aliran sesat seperti Syi'ah dan Ahmadiyah, bukan dengan gay atau lesbian. Survei menunjukkan bahwa 41,8 persen dan 46,6 persen dari responden merasa tidak nyaman tinggal di samping pengikut Syiah atau Ahmadiyah.

"Sebagian besar responden menunjukkan intoleransi [terhadap kelompok-kelompok minoritas] adalah laki-laki, orang-orang yang berpenghasilan rendah dan terbatas-pendidikan," kata peneliti LSI Ardian Sopa saat jumpa pers pada hari Minggu sore.

60 persen responden yang mengaku intoleransi adalah laki-laki. Lebih dari 67 persen dari mereka adalah berpendidikan atau lulusan SMA yang terbaik. LSI juga menemukan bahwa 63,4 persen responden yang mengaku toleran terhadap kelompok minoritas memperoleh pendapatan Rp 2 juta (US $ 208,49) atau kurang per bulan. Sebelumnya pada bulan Juni 2012 lalu, sebuah survei yang diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menegaskan asumsi luas bahwa intoleransi agama meningkat di negeri ini. Survei CSIS dilakukan antara 16 Januari dan 24 Januari tahun ini, menemukan bahwa meskipun 83,4 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak punya masalah dengan tetangga dari kelompok etnis yang berbeda, tapi 79,3 persen keberatan dengan pernikahan antar-agama.

Direktur kelompok nirlaba Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, mengatakan bahwa survei ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jalan panjang untuk untuk dapat menerima homoseksualitas. "Ini akan sangat sulit karena tingkat penerimaan bahkan lebih rendah dari yang diberikan kepada orang-orang dari berbagai agama atau etnis," katanya.

Novriantoni mengatakan apa yang pemerintah perlu lakukan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, karena intoleransi sebagian besar ditunjukkan oleh warga miskin. "Pemerintah perlu berbuat lebih banyak untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi. Orang-orang yang menganggur atau miskin dengan mudah dapat terpancing untuk menyerang kelompok minoritas, "katanya.

Dihubungi The Jakarta Post secara terpisah, Hartoyo, seorang eksekutif dari organisasi pemberdayaan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) menyalahkan kelompok-kelompok Islam radikal dan media dalam pertumbuhan homofobia ini. Hartoyo mengatakan bahwa mayoritas penduduk mengambil ide karena dipromosikan kelompok garis keras Islam, yang mengutuk homoseksualitas sebagai perbuatan dosa dan produk budaya Barat. Menurut The Jakarta Post, pada bulan Mei lalu, kelompok-kelompok Islam radikal membubarkan peluncuran sebuah buku baru yang diluncurkan oleh aktivis Muslim Kanada Irshad Manji karena ditakutkan dia akan mempromosikan lesbianisme di negara ini.

Media juga berbagi karena hanya mempromosikan stereotip dan karikatur dari orang gay. Hartoyo mengatakan. "Beberapa media, terutama portal berita online dan saluran TV yang mudah diakses oleh orang-orang cenderung untuk memberikan laporan yang tidak seimbang tentang kami atau menggambarkan bahwa kita hanya sebagai badut." Dia mengatakan bahwa dalam jangka panjang, homofobia tumbuh lebih lanjut bisa memperburuk ketidakadilan terhadap masyarakat. "Lihat saja Dede Oetomo, seorang sosiolog terkenal dan aktivis hak asasi manusia". Setelah ia diangkat sebagai calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), masyarakat mulai rewel tentang orientasi seksualnya dan diabaikan prestasi gemilangnya. Jadi, bagaimana mungkin orang seperti saya bisa menjadi menteri ?"kata Hartoyo.

sumber:The Jakarta Post

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive