"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Jumat, 09 Desember 2016

Bekasi kota nyamuk pasien demam berdarah meningkat

TEMPO.CO, Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat jumlah penderita demam berdarah di Bekasi selama 2016 (Januari-Maret) mencapai 1.100 orang. Sebanyak  17 penderita diantaranya meninggal. Meski demikian, belum ada penetapan status kejadian luar biasa.Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tetty Manurung mengatakan, kasus demam berdarah mengalami peningkatan signifikan dibanding periode yang sama pada 2015. "Tahun lalu total penderita mencapai 1.006, sekarang belum sampai tiga bulan sudah mencapai 1.100 kasus. Mayoritas anak-anak," kata Tetty, Ahad, 27 Maret 2016.

Tetty mengatakan, kasus paling banyak terjadi pada bulan Februari, yakni  sekitar 500 kasus. Sementara pada Januari  sekitar 300 kasus, dan sisanya 300 kasus terjadi sepanjang Maret 2016. "Paling banyak kasus DBD berada di Kecamatan Mustikajaya, penderita yang meninggal mencapai tiga orang," kata Tetty. Menurut Tetty, warga Kota Bekasi yang terjangkit demam berdarah tak hanya terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti di wilayah setempat. Bisa juga kata dia, terjangkit di wilayah lain, sebab kasus demam berdarah juga meningkat di daerah lain. "Hampir di semua daerah kasus demam berdarah meningkat," kata dia.


Tetty menjelaskan, meski jumlah penderita cukup banyak, pemerintah belum menetapkan status kejadian luar biasa. Hanya saja, pemerintah kini sedang menggalakkan gerakan serentak pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti yang dilakukan di Kecamatan Mustikajaya. "Warga inginnya serentak di semua kecamatan," kata dia. "Tapi, secara bertahap." Ia mengatakan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) berbeda dengan fogging. Dimana warga harus melakukan kegiatan menutup lubang air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. "Kalau dilakukan fogging terus menerus, dikhawatirkan nyamuk malah menjadi kebal," ujar dia. Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Reni Amalia, menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penderita DBD sampai meregang nyawa. Di antaranya keluarga pasien tak memiliki pengetahuan cukup mengenai penyakit mematikan itu. Bahkan gejala awal pun dianggap ringan. "Gejala awalnya, penderita hanya demam disertai batuk," ujar Reni.

Namun, kata Reni, setelah demam turun bukan berarti penderita sembuh. Empat-lima hari pascagejala awal adalah masa-masa kritis pasien. Karena itu, penderita harus dirawat intensif di rumah sakit. "Kami sering kecolongan, ketika demam penderita turun, keluarga pasien menganggap sembuh,"kata Reni. Reni mengungkapkan beberapa faktor yang membuat nyamuk Aedes aegypti, penyebar demam berdarah, berkembang. Di antaranya lingkungan yang kurang bersih, membiarkan genangan air. "Kepedulian masyarakat dibutuhkan agar nyamuk tak berkembang,"katanya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive