"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Rabu, 04 September 2013

Cara Mempersatukan Umat Islam Secara Sederhana

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Oleh M. Ashabus Samaaun
Narator M. Alie Marzen


Sebelumnya mohon maaf bila judul ini terkesan membingungkan atau malah membuat anda penasaran. Perpecahan Umat islam hari ini adalah masalah yang paling momok dalam perjuangan umat islam menegakkan kedamaian dimuka bumi. Sebenarnya masalah itu bukan berasal dari agama tapi berasal dari umat islam sendiri yang menuruti emosional dan ego masing masing. masing-masing merasa benar sendiri sambil menjelek-jelekan golongan yang lain. Sebenarnya masalah umat islam itu kebanyakan sepele, namun umat islam saling menyikapi dengan idealisme dan sikap berlebihan. Sehingga percikan api kecil menjadi besar. Semacam sholat subuh yang ini pakai qunut yang itu tidak ternyata hal itu sudah menjadi bahan perselisihan tanpa ujung. Padahal itu adalah masalah fikih bukan masalah pokok (aqidah). sebenarnya kalau ditinjau dari pemahaman yang benar, ibadah terserah masing-masing mau ikut mazhab yang mana tetapi yang penting lurus niat karena Allah. itu sudah cukup meminimalisir perselisihan umat islam hari ini jika tiap golongan mau berpikir seperti itu.

Mengenai hal itu Ada sebuah nasehat yang inspiratif dari Bpk. Ust. Ashabus Samaaun tentang hal ini :
"Masalah umat islam hari ini sebenarnya sepele,  semacam beda warna pakaian, karena perselisihannya tidak menyangkut masalah akidah, hanya masalah fikih. Jika mereka mau bersatu sebenarnya itu mudah, tidak usah banyak dalil nanti malah keblinger sendiri ! Solusinya hanyalah CARI PERSAMAANYA BUKAN CARI PERBEDAANNYA. ya memang manusia itu dari wajahnya otomatis tiap individu berbeda apalagi masalah agama. misalnya kita cari persamaannya semacam kita sama-sama manusia makhluk Allah, Kita sama-sama umat islam, kita sama-sama makan pernah berbuat salah, kita sama-sama pendosa, kita sama-sama makan nasi, kita sama sama mengeluarkan kotoran dan sebagainya. Sehingga tidak timbul rasa bangga diri yang merupakan otak perpecahan itu sendiri. Apakah Ide ini cukup logis menurut anda? jika kurang puas silahkan koment dibawah postingan ini :). hehehe.
Share:

Cara Mempersatukan Umat Islam Secara Sederhana

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Oleh M. Ashabus Samaaun
Narator M. Alie Marzen


Sebelumnya mohon maaf bila judul ini terkesan membingungkan atau malah membuat anda penasaran. Perpecahan Umat islam hari ini adalah masalah yang paling momok dalam perjuangan umat islam menegakkan kedamaian dimuka bumi. Sebenarnya masalah itu bukan berasal dari agama tapi berasal dari umat islam sendiri yang menuruti emosional dan ego masing masing. masing-masing merasa benar sendiri sambil menjelek-jelekan golongan yang lain. Sebenarnya masalah umat islam itu kebanyakan sepele, namun umat islam saling menyikapi dengan idealisme dan sikap berlebihan. Sehingga percikan api kecil menjadi besar. Semacam sholat subuh yang ini pakai qunut yang itu tidak ternyata hal itu sudah menjadi bahan perselisihan tanpa ujung. Padahal itu adalah masalah fikih bukan masalah pokok (aqidah). sebenarnya kalau ditinjau dari pemahaman yang benar, ibadah terserah masing-masing mau ikut mazhab yang mana tetapi yang penting lurus niat karena Allah. itu sudah cukup meminimalisir perselisihan umat islam hari ini jika tiap golongan mau berpikir seperti itu.

Mengenai hal itu Ada sebuah nasehat yang inspiratif dari Bpk. Ust. Ashabus Samaaun tentang hal ini :
"Masalah umat islam hari ini sebenarnya sepele,  semacam beda warna pakaian, karena perselisihannya tidak menyangkut masalah akidah, hanya masalah fikih. Jika mereka mau bersatu sebenarnya itu mudah, tidak usah banyak dalil nanti malah keblinger sendiri ! Solusinya hanyalah CARI PERSAMAANYA BUKAN CARI PERBEDAANNYA. ya memang manusia itu dari wajahnya otomatis tiap individu berbeda apalagi masalah agama. misalnya kita cari persamaannya semacam kita sama-sama manusia makhluk Allah, Kita sama-sama umat islam, kita sama-sama makan pernah berbuat salah, kita sama-sama pendosa, kita sama-sama makan nasi, kita sama sama mengeluarkan kotoran dan sebagainya. Sehingga tidak timbul rasa bangga diri yang merupakan otak perpecahan itu sendiri. Apakah Ide ini cukup logis menurut anda? jika kurang puas silahkan koment dibawah postingan ini :). hehehe.
Share:

4 langkah menjadi seorang “Leader/Modelman Muslim”

Oleh : M. Ashabus Samaa'un

Ada  sebuah  catatan  menarik  dari  pertemuan  antara  Anis  Matta  dan  Dr.  Boyke. Dari  beberapa  kalimatnya,  Dr.  Boyke  berkata,  "Saya  baru  bertemu  ustadz  seperti  ini. Ternyata dalam Islam ada juga yang seperti ini!" Ungkapan yang terakhir, ada anggapan bahwa  seolah-olah  Islam  hanya  mengurusi  bagaimana  cara  orang  masuk  surga  dengan ibadah-ibadah mahdhoh. Islam  lebih  dari  itu,  bahkan  mungkin  di  luar  bayangan  orang-orang  yang  sudah mengenal Islam sekalipun. Proses pengembangan diri dalam kacamata Islam diilhami akan adanya  rekonstruksi  (pembangunan  ulang)  dari  manusia-manusia  yang  berada  di  zaman pasca  keberadaan Rasulullah  di  medan  revolusi  peran  manusia  di  dunia.  Dalam  kondisi perubahan peradaban manusia, diperlukan         kekuatan-kekuatan yang  dapat mengimbanginya. Konsep-konsep pengembangan  diri yang dalam Agama  Islam berorientasi  pada  pembentukan  pribadi  Muslim  yang  berkarakter  kuat,  lahir  sebagai "manusia baru" yang membawa pencerahan pada peradaban Islam.

Dalam hal itu terdapat 4 hal penting dalam membentuk diri sebagai seorang calon model (panutan) bagi umat manusia khususnya umat islam. Yaitu :

Pertama, Untuk  menjadi  manusia Muslim  yang  bisa  diandalkan  pada  abad  ke-21  harus  memenuhi  tiga  kualifikasi,  yaitu afiliasi, partisipasi, dan konstribusi.

Afiliasi adalah kita memahami dengan baik mengapa kita  memilih  Islam  sebagai  agama  dan  jalan  hidup.  Dengan  afiliasi,  manusia  diharapkan mempunyai  kecenderungan  terhadap  sesuatu,  yaitu  wilayah  nilai  Islam  sehingga  dapat menjadi  pribadi  yang  saleh.  Saleh  secara  pribadi  dapat  dibentuk  melalui  komitmen terhadap akidah, metodologi, dan sikap/akhlak. Setelah dapat saleh secara pribadi  memberikan  kualifikasi  partisipasi.  Dalam  hal  ini,  manusia  dapat  mensalehkan orang lain karena dia sudah bisa mensalehkan pribadinya. Kualifikasi yang terakhir adalah konstribusi, yaitu manusia Muslim abad ke-21 haruslah mempunyai spesialisasi dalam satu bidang keilmuan/profesi. Spesialisasi yang dimaksud adalah spesialisasi dalam pemikiran, kepemimpinan, profesional, dan keuangan.

Kedua, Selanjutnya untuk menjadi model manusia abad ke-21 kita perlu memiliki konsep diri yang jelas.

Sehingga kita akan mempunyai orientasi yang jelas  dalam  melakukan  pengembangan  diri.  Dalam  pengenalan  diri  ini,  mengambil ungkapan Ibnul Qoyyim bahwa untuk mengenal diri diperlukan pengetahuan tentang Ma'rifatulläh dan Ma'rifatunnäs . Dengan kedua pengetahuan ini manusia mempunyai orientasi/tujuan hidup, dan mengetahui cara mencapainya. Tingkatan konsep diri  adalah aku diri (di sini manusia memandang dirinya apa adanya seperti yang dia pahami); aku sosial (pada tingkatan ini manusia adalah sesuai anggapan orang lain); dan aku ideal (yaitu tingkatan dimana manusia pada kondisi seperti yang dia inginkan). Untuk  menjadi  manusia  Muslim  abad  ke-21  yang  secara  otomatis  telah  melalui  'seleksi   alam'  kita   perlu   merencanakan   pengembangan diri.  Sehingga tantangan- tantangan dakwah sekeras dan seberat apa pun dapat diatasi. Berbekal pemahaman akan diri dengan  berlandaskan  pada  pemahaman  syari'at  akan  melahirkan  kemampuan  untuk mengembangkan diri secara optimal. Mengambil Qur'an surat Al Hasyr ayat 18, yang berbunyi "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Bisa didefinisikannya sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketakwaan sebagai landasan syar'i untuk melakukan pengembangan diri. Maksud Tafsir ayat ini secara tersirat adalah, "Ekspresi yang paling kuat dari bertakwa adalah merencanakan pengembangan diri kita untuk hari esok/masa depan".

Ketiga, Membuat Analisis Swot

Kemudian juga Analisis  SWOT  yang  biasa  digunakan  pelaku  manajemen  berlaku pula untuk  membuat  SWOT  pribadi.  Dengan analisis SWOT,  pribadi Muslim akan mengetahui titik kekuatan dan kelemahan sekaligus peluang untuk diambil dan ancaman yang harus diantisipasi. Hal  yang  cukup  berpengaruh  dalam  proses  pengembangan  diri  adalah  adanya motivasi  dan  kemauan  untuk  menujunya.  Bisa didefinisikan sebagai  kemauan  sebagai tenaga jiwa, sehingga untuk membangun kemauan kita 'hanya' butuh manajemen tenaga. Manajemen  itu  meliputi  bagaimana  kita  dapat  mengumpulkan  tenaga,  menggunakannya dan  mengembalikan  tenaga  yang  telah  dimanfaatkan  sebelumnya  sehingga  kita  dapat mengantisipasi hadirnya kejenuhan. Proses  pengembangan  diri  berlanjut  pada  mengembangkan  kemampuan  berpikir. Pikiran itu seperti  tanah.  Bibit yang Anda  tanam  didalamnya adalah  motivasi.  Yang  tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat sembarangan menanam bibit pada sembarang tanah.  Anda harus mengapling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman yang cocok untuk pikiran seperti ini.

Keempat, Melatih kemampuan berpikir cepat dan peka keadaan

Kita harus melatih kemampuan berpikir karena kemampuan  berpikir  merupakan  salah  satu  dari  nilai-nilai  dasar  untuk  menjadi orang  multidimensi  di  samping  mentalitas  yang  luar  biasa,  karakter  yang  seimbang,  dan kondisi  fisik  yang  mendukung.  Dengan  mengembangkan  kemampuan  berpikir,  manusia dapat hidup di mana-mana, terlepas dia sebagai juru dakwah, mahasiswa, pengusaha, atau bagian dari masyarakat. Kemudian juga seorang muslim tidak akan mempunyai sikap kepedulian jika kemampuan berpikirnya tidak berkembang dan hanya memikirkan keadaan sendiri. Oleh karena itu sikap berpikir secara cepat dalam memahami lingkungan sekitarnya adalah salah satu faktor besar untuk mendorong manusia melakukan amal shalih atau sebuah kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Selain itu dengan memahami keadaan sekitar dengan baik maka kita akan mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Hal itu adalah salah satu faktor besar untuk memperoleh tempat untuk memperluas jangkauan sebagai seorang pendakwah atau pembangun umat.

Refrensi :

-          Buku Modelman muslim karya Anis Matta.

-          Jurnal almanar edisi 1 tahun 2004

Wallahu'alam

 

Share:

4 langkah menjadi seorang “Leader/Modelman Muslim”

Oleh : M. Ashabus Samaa'un

Ada  sebuah  catatan  menarik  dari  pertemuan  antara  Anis  Matta  dan  Dr.  Boyke. Dari  beberapa  kalimatnya,  Dr.  Boyke  berkata,  "Saya  baru  bertemu  ustadz  seperti  ini. Ternyata dalam Islam ada juga yang seperti ini!" Ungkapan yang terakhir, ada anggapan bahwa  seolah-olah  Islam  hanya  mengurusi  bagaimana  cara  orang  masuk  surga  dengan ibadah-ibadah mahdhoh. Islam  lebih  dari  itu,  bahkan  mungkin  di  luar  bayangan  orang-orang  yang  sudah mengenal Islam sekalipun. Proses pengembangan diri dalam kacamata Islam diilhami akan adanya  rekonstruksi  (pembangunan  ulang)  dari  manusia-manusia  yang  berada  di  zaman pasca  keberadaan Rasulullah  di  medan  revolusi  peran  manusia  di  dunia.  Dalam  kondisi perubahan peradaban manusia, diperlukan         kekuatan-kekuatan yang  dapat mengimbanginya. Konsep-konsep pengembangan  diri yang dalam Agama  Islam berorientasi  pada  pembentukan  pribadi  Muslim  yang  berkarakter  kuat,  lahir  sebagai "manusia baru" yang membawa pencerahan pada peradaban Islam.

Dalam hal itu terdapat 4 hal penting dalam membentuk diri sebagai seorang calon model (panutan) bagi umat manusia khususnya umat islam. Yaitu :

Pertama, Untuk  menjadi  manusia Muslim  yang  bisa  diandalkan  pada  abad  ke-21  harus  memenuhi  tiga  kualifikasi,  yaitu afiliasi, partisipasi, dan konstribusi.

Afiliasi adalah kita memahami dengan baik mengapa kita  memilih  Islam  sebagai  agama  dan  jalan  hidup.  Dengan  afiliasi,  manusia  diharapkan mempunyai  kecenderungan  terhadap  sesuatu,  yaitu  wilayah  nilai  Islam  sehingga  dapat menjadi  pribadi  yang  saleh.  Saleh  secara  pribadi  dapat  dibentuk  melalui  komitmen terhadap akidah, metodologi, dan sikap/akhlak. Setelah dapat saleh secara pribadi  memberikan  kualifikasi  partisipasi.  Dalam  hal  ini,  manusia  dapat  mensalehkan orang lain karena dia sudah bisa mensalehkan pribadinya. Kualifikasi yang terakhir adalah konstribusi, yaitu manusia Muslim abad ke-21 haruslah mempunyai spesialisasi dalam satu bidang keilmuan/profesi. Spesialisasi yang dimaksud adalah spesialisasi dalam pemikiran, kepemimpinan, profesional, dan keuangan.

Kedua, Selanjutnya untuk menjadi model manusia abad ke-21 kita perlu memiliki konsep diri yang jelas.

Sehingga kita akan mempunyai orientasi yang jelas  dalam  melakukan  pengembangan  diri.  Dalam  pengenalan  diri  ini,  mengambil ungkapan Ibnul Qoyyim bahwa untuk mengenal diri diperlukan pengetahuan tentang Ma'rifatulläh dan Ma'rifatunnäs . Dengan kedua pengetahuan ini manusia mempunyai orientasi/tujuan hidup, dan mengetahui cara mencapainya. Tingkatan konsep diri  adalah aku diri (di sini manusia memandang dirinya apa adanya seperti yang dia pahami); aku sosial (pada tingkatan ini manusia adalah sesuai anggapan orang lain); dan aku ideal (yaitu tingkatan dimana manusia pada kondisi seperti yang dia inginkan). Untuk  menjadi  manusia  Muslim  abad  ke-21  yang  secara  otomatis  telah  melalui  'seleksi   alam'  kita   perlu   merencanakan   pengembangan diri.  Sehingga tantangan- tantangan dakwah sekeras dan seberat apa pun dapat diatasi. Berbekal pemahaman akan diri dengan  berlandaskan  pada  pemahaman  syari'at  akan  melahirkan  kemampuan  untuk mengembangkan diri secara optimal. Mengambil Qur'an surat Al Hasyr ayat 18, yang berbunyi "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Bisa didefinisikannya sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketakwaan sebagai landasan syar'i untuk melakukan pengembangan diri. Maksud Tafsir ayat ini secara tersirat adalah, "Ekspresi yang paling kuat dari bertakwa adalah merencanakan pengembangan diri kita untuk hari esok/masa depan".

Ketiga, Membuat Analisis Swot

Kemudian juga Analisis  SWOT  yang  biasa  digunakan  pelaku  manajemen  berlaku pula untuk  membuat  SWOT  pribadi.  Dengan analisis SWOT,  pribadi Muslim akan mengetahui titik kekuatan dan kelemahan sekaligus peluang untuk diambil dan ancaman yang harus diantisipasi. Hal  yang  cukup  berpengaruh  dalam  proses  pengembangan  diri  adalah  adanya motivasi  dan  kemauan  untuk  menujunya.  Bisa didefinisikan sebagai  kemauan  sebagai tenaga jiwa, sehingga untuk membangun kemauan kita 'hanya' butuh manajemen tenaga. Manajemen  itu  meliputi  bagaimana  kita  dapat  mengumpulkan  tenaga,  menggunakannya dan  mengembalikan  tenaga  yang  telah  dimanfaatkan  sebelumnya  sehingga  kita  dapat mengantisipasi hadirnya kejenuhan. Proses  pengembangan  diri  berlanjut  pada  mengembangkan  kemampuan  berpikir. Pikiran itu seperti  tanah.  Bibit yang Anda  tanam  didalamnya adalah  motivasi.  Yang  tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat sembarangan menanam bibit pada sembarang tanah.  Anda harus mengapling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman yang cocok untuk pikiran seperti ini.

Keempat, Melatih kemampuan berpikir cepat dan peka keadaan

Kita harus melatih kemampuan berpikir karena kemampuan  berpikir  merupakan  salah  satu  dari  nilai-nilai  dasar  untuk  menjadi orang  multidimensi  di  samping  mentalitas  yang  luar  biasa,  karakter  yang  seimbang,  dan kondisi  fisik  yang  mendukung.  Dengan  mengembangkan  kemampuan  berpikir,  manusia dapat hidup di mana-mana, terlepas dia sebagai juru dakwah, mahasiswa, pengusaha, atau bagian dari masyarakat. Kemudian juga seorang muslim tidak akan mempunyai sikap kepedulian jika kemampuan berpikirnya tidak berkembang dan hanya memikirkan keadaan sendiri. Oleh karena itu sikap berpikir secara cepat dalam memahami lingkungan sekitarnya adalah salah satu faktor besar untuk mendorong manusia melakukan amal shalih atau sebuah kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. Selain itu dengan memahami keadaan sekitar dengan baik maka kita akan mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Hal itu adalah salah satu faktor besar untuk memperoleh tempat untuk memperluas jangkauan sebagai seorang pendakwah atau pembangun umat.

Refrensi :

-          Buku Modelman muslim karya Anis Matta.

-          Jurnal almanar edisi 1 tahun 2004

Wallahu'alam

 

Share:

PENDIDIKAN ISLAM : MASALAH KENAKALAN REMAJA DAN SEKELUMIT SOLUSINYA

Oleh : Muhammad A. Samaa'un

MASALAH REMAJA

Remaja bukan anak-anak tetapi juga bukan orang dewasa. Mereka punya
pola pikir seperti orang anak-anak akan tetapi mempunyai kondisi
fisik dan emosional layaknya orang dewasa . Bisa diartikan begini jika
seorang remaja mempunyai masalah maka mereka merespon masalah itu
seperti orang dewasa seperti dengan indikasi stress bingung, pusing
mendramatisir dan sebagainya berbeda sekali dengan anak-anak jika
mereka terkena masalah mereka hanya bisa menangis dan sesudah itu
selesai seakan-akan tak pernah kena masalah. Namun berbeda dengan
remaja jika mereka terkena masalah lalu mereka tidak bisa
memecahkannya mereka akan frustasi, jika akhlak mereka tidak dibimbing
dengan agama yang benar maka pelampiasannya kedalam hal-hal yang
negatif seperti merokok, mabuk, mengkonsumsi narkoba,dsb. Biasanya ada
beberapa penyebab munculnya masalah yang akhirnya mempengaruhi
kehidupan remaja kita:
1. Tuntutan sekolah dan frustasi
2. Pikiran-pikiran dan perasaan negatif tentang diri sendiri.
3. Perubahan pada tubuh (fisik dan emosional)
4. Masalah dengan lingkungan dan teman sebaya atau mungkin semacam
teman dekat (pacar)
5. Perpisahan dan perceraian orang tua.
6. Penyakit kronis yang dialami.
7. Meninggalnya orang-orang yang disayangi.
8. Perpindahan ke komunitas yang baru.
9. Pindah sekolah.
10. Terlalu banyak aktivitas atau harapan-harapan yang terlalu tinggi.
11. Masalah finansial ( Ekonomi )keluarga.
12. 1001 masalah yang membebani jiwa mereka, sementara mereka tidak
mampu mengatasinya sendiri.


Beberapa remaja menjadi terbebani dengan berbagai masalah tersebut
diatas. Beberapa tindakan yang dilakukan remaja ketika mengalami
masalah:
• Mengasingkan diri.
• Lepas kontrol/melakukan tindakan kriminal
• Menyalahkan orang lain.
• Mudah menyerah
• Gampang Emosional



SOLUSI KENAKALAN REMAJA

Oleh karena terlalu maraknya tindakan kriminal dewasa ini dan 'tokoh
utamanya' adalah remaja. Maka tidak heran lagi semua masalah itu
sebenarnya berawal dari lingkungan keluarga yang tidak peduli dengan
keadaan mereka / sibuk dengan urusan bisnis, orang tua acuh tak acuh
dengan kondisi psikis mereka, belum lagi bekal ilmu agama yang sangat
kurang. Sebenarnya mereka melakukan tindakan kriminal bukanlah sebab
kemauan mereka. Mereka melakukan semua itu hanyalah sebagai
pelampiasan supaya mereka ada yang memperhatikan keberadaan mereka dan
peduli dengan nasib mereka. Istilahnya cari-cari perhatian walaupun
caranya salah. Karena dilingkungan keluarga mereka tidak mendapatkan
kasih sayang yang seharusnya. Sehingga mereka melakukan tindakan
kriminalisme sebenarnya hanyalah untuk mendapatkan perhatian dari
lingkungan mereka. Beberapa solusi yang mungkin bisa mengurangi angka
kriminal oleh para remaja dewasa ini adalah :

Pertama, Pembekalan Ilmu Agama. Ilmu agama sangat penting sekali untuk
membentuk mental dan kejiwaan manusia sehingga meluruskan perilaku
mereka sesuai fitrah yang dikehendaki Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu
bekal ilmu agama yang cukup sangat penting untuk membentuk kejiwaan
mereka sehingga mereka menjadi manusia bermental stabil dan bertakwa
kepada Allah SWT ketika menginjak usia dewasa kelak.

Kedua, Kemudian tak kalah pentingnya adalah perhatian dari kedua orang
tua kepada mereka, diharapkan supaya orang tua menjadi tempat curahan
uneg-uneg yang membelenggu benak mereka yang bila tak terarahkan akan
menjadi racun bagi pikiran mereka untuk kemudian menjadi pendorong
melakukan tindakan kriminal sebagai bentuk protes terhadap lingkungan
mereka yang tidak mau memperhatikan mereka. Menjadi orang tua itu
susah-susah gampang. Bagi mereka yang mempunyai anak remaja pasti
banyak mengeluh tentang kebandelan anak-anak mereka. Itu amat wajar.
Karena masa ini adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa
sehingga mereka bermental sangat labil dan mudah terpengaruh
emosional. Orang tua tidak perlu memaksa anak melakukan ini dan itu.
Hanya perlu diarahkan dan disadarkan pelan-pelan supaya ia mengerti
dan dapat meluruskan perilakunya dan terbiasa dengan hal-hal yang
baik. Tidak kalah penting adalah perhatian dan pendidikan islam sejak
dini dari lingkungan keluarga. Karena jika anak terbiasa dengan
ilmu-ilmu dan tradisi agama yang baik maka kelak ia remaja akan selalu
berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sekiranya bertentangan
dengan agama. Pendidikan agama yang dimulai setelah anak menginjak
usia remaja maka itu akan lebih sulit dicerna pemikiran mereka. Karena
mereka berpikir bahwa kebebasan itu perlu mereka dapatkan karena
mumpung masih muda, mereka bahkan bisa menganggap agama itu hanya
sekedar 'ceramah' yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Itu
karena perkembangan emosional mereka jauh lebih besar daripada akal
pemikiran mereka. Sedangkan jika ilmu agama dibekalkan kepada anak
sejak dini maka insyaAllah ilmu agama akan menjadikan jiwanya lurus
sampai ia berumur dewasa kelak.

Ketiga, Partisipasi dari pihak-pihak sekolah dan tokoh masyarakat
sekitar untuk bisa memberi motivasi-motivasi yang berharga untuk
kehidupan mereka dan memberikan bekal ilmu dan akhlak yang cukup
kepada remaja. Kemudian juga diharapkan pihak sekolah dan masyarakat
mau meluangkan waktunya setelah jam pulang sekolah untuk memberikan
kegiatan-kegiatan ekstra yang bersifat mendidik jiwa sosial dan mental
mereka. Bahkan lebih penting lagi kajian-kajian agama yang mungkin
dapat memberikan solusi bagi masalah mereka.

Karena seperti kata pepatah "kejahatan terjadi karena niat dan
kesempatan". Umur seusia remaja adalah umur yang sangat banyak
lowongnya dibandingkan dengan sibuknya. Jika mereka mengalami
kebosanan maka yang terjadi menggunakan waktu lowong mereka untuk hal
yang menyimpang, mungkin mereka anggap itu hiburan padahal dampaknya
buruk bagi dirinya dan lingkungannya. Karena kita pahami seorang
remaja mempunyai mental pola pikir anak-anak namun respon emosionalnya
seperti orang dewasa sehingga mereka berpikir sekali saja untuk
melakukan sesuatu tanpa memandang sebab akibatnya.

Mengambil sebuah nasehat dari seorang ulama besar islam mengatakan
bahwa barangsiapa tidak tersibukkan waktunya untuk kebaikan maka
niscaya ia akan tersibukkan dengan hal-hal yang munkar atau minimal
hal yang sia-sia. Oleh karena masa remaja adalah sebuah masa paling
'indah' dan bahagia serta penuh kebebasan maka bila tidak terarahkan
dengan benar maka yang terjadi adalah mereka melampiaskan waktu mereka
yang lowong untuk hal yang tidak bermanfaat bahkan merusak diri
sendiri dan lingkungan sekitarnya. Manusia dikaruniai fisik yang kuat
dan masa yang bebas dan kehidupan yang paling senang (tanpa masalah)
adalah pada saat ia menginjak usia remaja. Akan tetapi semua itu hanya
terror bagi masyarakat bila moral remaja rusak. Oleh karena itu
seyogyanya kita umat islam peduli dengan masalah mereka. Karena mereka
adalah penerus umat islam untuk kedepannya.

Wallahu'alam


Refrensi berbagai sumber
Share:

PENDIDIKAN ISLAM : MASALAH KENAKALAN REMAJA DAN SEKELUMIT SOLUSINYA

Oleh : Muhammad A. Samaa'un

MASALAH REMAJA

Remaja bukan anak-anak tetapi juga bukan orang dewasa. Mereka punya
pola pikir seperti orang anak-anak akan tetapi mempunyai kondisi
fisik dan emosional layaknya orang dewasa . Bisa diartikan begini jika
seorang remaja mempunyai masalah maka mereka merespon masalah itu
seperti orang dewasa seperti dengan indikasi stress bingung, pusing
mendramatisir dan sebagainya berbeda sekali dengan anak-anak jika
mereka terkena masalah mereka hanya bisa menangis dan sesudah itu
selesai seakan-akan tak pernah kena masalah. Namun berbeda dengan
remaja jika mereka terkena masalah lalu mereka tidak bisa
memecahkannya mereka akan frustasi, jika akhlak mereka tidak dibimbing
dengan agama yang benar maka pelampiasannya kedalam hal-hal yang
negatif seperti merokok, mabuk, mengkonsumsi narkoba,dsb. Biasanya ada
beberapa penyebab munculnya masalah yang akhirnya mempengaruhi
kehidupan remaja kita:
1. Tuntutan sekolah dan frustasi
2. Pikiran-pikiran dan perasaan negatif tentang diri sendiri.
3. Perubahan pada tubuh (fisik dan emosional)
4. Masalah dengan lingkungan dan teman sebaya atau mungkin semacam
teman dekat (pacar)
5. Perpisahan dan perceraian orang tua.
6. Penyakit kronis yang dialami.
7. Meninggalnya orang-orang yang disayangi.
8. Perpindahan ke komunitas yang baru.
9. Pindah sekolah.
10. Terlalu banyak aktivitas atau harapan-harapan yang terlalu tinggi.
11. Masalah finansial ( Ekonomi )keluarga.
12. 1001 masalah yang membebani jiwa mereka, sementara mereka tidak
mampu mengatasinya sendiri.


Beberapa remaja menjadi terbebani dengan berbagai masalah tersebut
diatas. Beberapa tindakan yang dilakukan remaja ketika mengalami
masalah:
• Mengasingkan diri.
• Lepas kontrol/melakukan tindakan kriminal
• Menyalahkan orang lain.
• Mudah menyerah
• Gampang Emosional



SOLUSI KENAKALAN REMAJA

Oleh karena terlalu maraknya tindakan kriminal dewasa ini dan 'tokoh
utamanya' adalah remaja. Maka tidak heran lagi semua masalah itu
sebenarnya berawal dari lingkungan keluarga yang tidak peduli dengan
keadaan mereka / sibuk dengan urusan bisnis, orang tua acuh tak acuh
dengan kondisi psikis mereka, belum lagi bekal ilmu agama yang sangat
kurang. Sebenarnya mereka melakukan tindakan kriminal bukanlah sebab
kemauan mereka. Mereka melakukan semua itu hanyalah sebagai
pelampiasan supaya mereka ada yang memperhatikan keberadaan mereka dan
peduli dengan nasib mereka. Istilahnya cari-cari perhatian walaupun
caranya salah. Karena dilingkungan keluarga mereka tidak mendapatkan
kasih sayang yang seharusnya. Sehingga mereka melakukan tindakan
kriminalisme sebenarnya hanyalah untuk mendapatkan perhatian dari
lingkungan mereka. Beberapa solusi yang mungkin bisa mengurangi angka
kriminal oleh para remaja dewasa ini adalah :

Pertama, Pembekalan Ilmu Agama. Ilmu agama sangat penting sekali untuk
membentuk mental dan kejiwaan manusia sehingga meluruskan perilaku
mereka sesuai fitrah yang dikehendaki Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu
bekal ilmu agama yang cukup sangat penting untuk membentuk kejiwaan
mereka sehingga mereka menjadi manusia bermental stabil dan bertakwa
kepada Allah SWT ketika menginjak usia dewasa kelak.

Kedua, Kemudian tak kalah pentingnya adalah perhatian dari kedua orang
tua kepada mereka, diharapkan supaya orang tua menjadi tempat curahan
uneg-uneg yang membelenggu benak mereka yang bila tak terarahkan akan
menjadi racun bagi pikiran mereka untuk kemudian menjadi pendorong
melakukan tindakan kriminal sebagai bentuk protes terhadap lingkungan
mereka yang tidak mau memperhatikan mereka. Menjadi orang tua itu
susah-susah gampang. Bagi mereka yang mempunyai anak remaja pasti
banyak mengeluh tentang kebandelan anak-anak mereka. Itu amat wajar.
Karena masa ini adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa
sehingga mereka bermental sangat labil dan mudah terpengaruh
emosional. Orang tua tidak perlu memaksa anak melakukan ini dan itu.
Hanya perlu diarahkan dan disadarkan pelan-pelan supaya ia mengerti
dan dapat meluruskan perilakunya dan terbiasa dengan hal-hal yang
baik. Tidak kalah penting adalah perhatian dan pendidikan islam sejak
dini dari lingkungan keluarga. Karena jika anak terbiasa dengan
ilmu-ilmu dan tradisi agama yang baik maka kelak ia remaja akan selalu
berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sekiranya bertentangan
dengan agama. Pendidikan agama yang dimulai setelah anak menginjak
usia remaja maka itu akan lebih sulit dicerna pemikiran mereka. Karena
mereka berpikir bahwa kebebasan itu perlu mereka dapatkan karena
mumpung masih muda, mereka bahkan bisa menganggap agama itu hanya
sekedar 'ceramah' yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Itu
karena perkembangan emosional mereka jauh lebih besar daripada akal
pemikiran mereka. Sedangkan jika ilmu agama dibekalkan kepada anak
sejak dini maka insyaAllah ilmu agama akan menjadikan jiwanya lurus
sampai ia berumur dewasa kelak.

Ketiga, Partisipasi dari pihak-pihak sekolah dan tokoh masyarakat
sekitar untuk bisa memberi motivasi-motivasi yang berharga untuk
kehidupan mereka dan memberikan bekal ilmu dan akhlak yang cukup
kepada remaja. Kemudian juga diharapkan pihak sekolah dan masyarakat
mau meluangkan waktunya setelah jam pulang sekolah untuk memberikan
kegiatan-kegiatan ekstra yang bersifat mendidik jiwa sosial dan mental
mereka. Bahkan lebih penting lagi kajian-kajian agama yang mungkin
dapat memberikan solusi bagi masalah mereka.

Karena seperti kata pepatah "kejahatan terjadi karena niat dan
kesempatan". Umur seusia remaja adalah umur yang sangat banyak
lowongnya dibandingkan dengan sibuknya. Jika mereka mengalami
kebosanan maka yang terjadi menggunakan waktu lowong mereka untuk hal
yang menyimpang, mungkin mereka anggap itu hiburan padahal dampaknya
buruk bagi dirinya dan lingkungannya. Karena kita pahami seorang
remaja mempunyai mental pola pikir anak-anak namun respon emosionalnya
seperti orang dewasa sehingga mereka berpikir sekali saja untuk
melakukan sesuatu tanpa memandang sebab akibatnya.

Mengambil sebuah nasehat dari seorang ulama besar islam mengatakan
bahwa barangsiapa tidak tersibukkan waktunya untuk kebaikan maka
niscaya ia akan tersibukkan dengan hal-hal yang munkar atau minimal
hal yang sia-sia. Oleh karena masa remaja adalah sebuah masa paling
'indah' dan bahagia serta penuh kebebasan maka bila tidak terarahkan
dengan benar maka yang terjadi adalah mereka melampiaskan waktu mereka
yang lowong untuk hal yang tidak bermanfaat bahkan merusak diri
sendiri dan lingkungan sekitarnya. Manusia dikaruniai fisik yang kuat
dan masa yang bebas dan kehidupan yang paling senang (tanpa masalah)
adalah pada saat ia menginjak usia remaja. Akan tetapi semua itu hanya
terror bagi masyarakat bila moral remaja rusak. Oleh karena itu
seyogyanya kita umat islam peduli dengan masalah mereka. Karena mereka
adalah penerus umat islam untuk kedepannya.

Wallahu'alam


Refrensi berbagai sumber
Share:

Syair Islam : Dunia Anak Punah

DUNIA ANAK PUNAH

Oleh : Muhammad Ashabus Samaa'un

(Pembina majelis ashabul muslimin)





hai kawanku

tentang kerinduanku

dan tentang keluh kesahku

tentang masa lalu

pernah ku melihat

dunia yang tertinggal

dunia yang penuh

dengan kenangan

alam yang penuh kedamaian

dunia penuh kegembiraan

dunia bermain tanpa beban

dunia anti permasalahan

dunia anak-anak penuh keceriaan

adalah surga dunia yang penuh kebebasan

kini semua itu berganti dengan penjajahan

berganti dengan penindasan

kepada jiwa-jiwa polos

yang bersih dari syahwat dan dosa





akankah kita peduli

dengan dunia anak yang tlah pergi

akankah kita peduli

dunia yang penuh kegembiraan

Hilang ditelan globalisasi

akankah kita peduli

dunia anak-anak musnah

ditelan perubahan zaman

akankah kita biarkan

dunia yang penuh kebebasan

ditindas peradaban zaman

mengapa kita biarkan

dunia anak punah

bersama zaman edan





sadarkah... sadarkah dari mana kau berasal

bukankah dari dunia itu kau berasal

mengapa kau tidak pedulikan

dan lebih terlena dengan kemajuan zaman

yang merusak moral dan peradaban

yang memusnahkan jati diri bangsa ini



anak kecil dulu bernyanyi gembira ria

anak kecil sekarang doyan lagu cinta

anak dulu bermain boneka-bonekaan

atau gundu dan mainan layangan

anak sekarang mainan hape sambil galau sms-an

anak dulu habis mahrib rajin mengaji

anak sekarang santapannya televisi

setiap hari menyajikan gaya hidup gengsi

juga mengajari otak mesum dan anarki

apalagi yang udah kenal facebook

chatingan semalam suntuk

siangnya tidak belajar malah ngantuk





cobalah bertanya akibat semua itu

buah peradaban modernisasi jaman

kecil kecil dah tahu pacaran

kecil kecil dah tahu cium ciuman

kecil kecil dah tahu gitu gituan

anak kecil berotak mesum

masih kecil dah kaya brandalan

perilakunya tidak karuan

sungguh memprihatinkan

dunia anak tlah punah

dunia anak tlah musnah

Dunia anak telah pergi

dunia anak tinggal kenangan

dunia anak tinggal cerita

kini semua hilang

kini semua pergi

hilang bersama perubahan zaman

hilang bersama masa lalu

hilang bersama sang waktu

hilang bersama hancurnya moral

sungguh hal yang menyedihkan.





wallahu'alam
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive