"Ungkapan pemikiran sederhana untuk pembenahan diri"

Jumat, 04 November 2011

HIKMAH KITA BERBICARA TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT

http://www.jmorganmarketing.com/wp-content/uploads/2009/05/asteroid_impact.gif

Setiap perkara yang dibahas dan diperbincangkan oleh masyarakat, pasti akan membuahkan berbagai macam hasil yang akan dipetik oleh dia yang membahas dan mengerjakannya. Maka, apakah dalam pembahasan tanda-tanda hari kiamat serta mempelajarinya terdapat berbagai macam hasil yang dapat kita realisasikan dalam kehidupan kita, Ataukah ia hanya merupakan pengetahuan yang dapat ditambahkan seseorang ke dalam pengetahuan budayanya saja, tanpa memiliki pengaruh terhadap realita kehidupannya. Sesungguhnya tanda-tanda hari kiamat dibahas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, oleh karenanya ia mengandung banyak manfaat yang akan diraih seseorang dalam kehidupannya, selain itu hari akhir merupakan sesuatu yang wajib kita yakini karena termasuk rukun iman yang ke-6 yaitu iman kepada hari akhir/pembalasan. Beberapa hikmah yang akan kita peroleh jika kita membahas tanda-tanda akhir zaman yaitu :

1. Perealisasian atas keimanan terhadap perkara ghaib, dan ini merupakan salah satu dari rukun iman yang enam, Allah berfirman: "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat"

Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sehingga mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah, serta beriman kepadaku dan risalah yang aku bawa, jika telah berbuat demikian, berarti mereka telah membentengi darah dan hartanya, kecuali dengan hak, sedangkan perhitungannya adalah di sisi Allah"

Beriman terhadap perkara yang ghaib maksudnya adalah, mempercayai segala sesuatu yang telah Allah kabarkan, atau dikabarkan oleh Rasul-Nya s.a.w, baik itu yang dapat kita saksikan secara langsung ataupun tidak terlihat oleh kasat mata, kita harus meyakini bahwa hal tersebut hakiki dan benar adanya.

Di antaranya adalah tanda-tanda hari kiamat, seperti akan munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ibn Maryam a.s, keluarnya Ya'juj dan Ma'juj, keluarnya binatang melata, terbitnya matahari dari barat, dan lain sebagainya dari riwayat-riwayat yang shahih.

2. Pengetahuan terhadap tanda-tanda hari kiamat dapat mendorong jiwa untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah serta mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat; di antara kandungannya terdapat peringatan bagi orang-orang yang lalai, pendorong untuk bertaubat, serta agar tidak bersandar sepenuhnya terhadap dunia yang fana ini. Dan inilah yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah s.a.w terhadap mereka yang berada di sekitarnya, yaitu tatkala mengetahui dekatnya kejadian salah satu tanda hari kiamat. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim diceritakan, bahwa Nabi s.a.w bangun pada suatu malam dan bersabda: "Kecelakaan bagi bangsa Arab dari suatu kejelekan yang telah mendekat, pada hari ini sedikit telah terbuka benteng yang menutupi Ya'juj dan Ma'juj…" dalam lanjutan riwayat ini: "Bangunkan para penghuni kamar (isteri-isteri beliau) agar mereka melaksanakan shalat, karena berapa banyak orang yang ketika di dunia berpakaian, namun dia akan bertelanjang ketika di akhirat".

3. Padanya terkandung penjelasan terhadap beberapa hukum syariat dan permasalahan fiqh.

Dalam kisah tinggalnya Dajjal di muka bumi, hari pertama bagaikan satu tahun, hari kedua bagaikan satu bulan. Sebagian dari para sahabat ada bertanya kepada Nabi tentang panjangnya hari yang ada Dajjalnya tersebut: (Apakah cukup dalam satu hari yang panjang tersebut untuk melaksanakan shalat seperti hari biasanya?) Nabi s.a.w menjawab: "Tidak, akan tetapi perkirakanlah padanya waktu-waktu shalat". Dari riwayat ini kita dapat mengambil faedah tentang tata cara shalat bagi kaum muslimin yang tinggal pada suatu daerah yang memiliki siang ataupun malam berkepanjangan, yang bahkan hingga berbulan-bulan.

4. Pengetahuan Nabi s.a.w terhadap tanda-tanda hari kiamat, yang mana ia merupakan perkara ghaib yang tidak mungkin dapat diketahui hanya dengan perkiraan dan prasangka saja, menunjukkan akan kebenaran risalah beliau s.a.w, dan beliau adalah utusan Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman: "(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu (26) Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya"

5. Pengetahuan terhadap tanda-tanda hari kiamat memberi manfaat kepada kita dalam berinteraksi terhadapnya dengan cara yang disyariatkan, sehingga tidak rancu dalam perealisasiannya. Seperti kabar terinci yang sampai kepada kita tentang Dajjal, bagaimana sifat mata, kening dan segala sesuatu tentangnya; sehingga kita dapat terhindar dari fitnahnya, bahkan dapat mengetahui dengan sesungguhnya bahwa dia itu Dajjal.

6. Mempersiapkan diri untuk menghadapi kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa akan datang, akan berbeda keadaannya bila hal tersebut terjadi secara mendadak.

7. Membuka pintu harapan; karena di antara tanda-tanda hari kiamat adalah akan berjayanya Islam, ia akan tersebar ke seantero jagat, dan bahwasanya agama Yahudi serta Nasrani akan hancur; semua ini berdasarkan kabar gembira yang disampaikan oleh Nabi s.a.w akan kemenangan kaum muslimin, dan bahwasanya Islam akan berjaya, walaupun orang-orang kafir murka atasnya.

8. Pemuasan terhadap fitrah yang ada dalam diri manusia, yang mana selalu ingin mencari dan menemukan apa yang ghaib baginya, serta selalu ingin mengetahui apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Dalam permasalahan ini, syariat mengungkapkan kabar-kabar benar dan pasti terjadi tentang hal-hal yang ghaib.

Apabila Islam menutup jalan bagi para pendusta yang mengaku bahwa dirinya dapat mengetahui perkara ghaib, baik itu paranormal, orang pintar, dukun, ataupun yang semisalnya. Namun dari wahyu yang Allah turunkan kita dapat mengetahui beberapa perkara yang akan terjadi pada masa datang, yaitu tanda-tanda hari kiamat.

9. Bahwa mempercayai tanda-tanda hari kiamat dapat memperkuat iman dan menambahnya semakin tebal; sebab terjadinya tanda-tanda tersebut merupakan penguat atas kebenaran agama yang anda peluk ini.

Dan lain sebagainya dari hasil-hasil yang dapat kita petik dalam kehidupan ini, dan yang penting semakin meningkatkan Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. amien

Wallahu 'Alam







Share:

Selasa, 01 November 2011

belajar dari ulama : mengenal imam ahli hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim


1. Imam Bukhari, berhasil mengumpulkan 600.000 hadits
Siapakah muslim yang tak kenal Imam Bukhari, dia adalah pengarang kitab pedoman kedua (al-hadits) yang paling shahih dari yang pernah ada, yang kitabnya diberi nama kitab shahih bukhari dan karena keagungannya maka kitab ini dijadikan rujukan utama umat islam setelah kitab suci al-Qur’an. Dalam perjalanannnya mencari hadits Imam Bukhari banyak melawat ke tempat-tempat yang jauh untuk mengumpulkan dan mempelajari hadits Rasulullah saw. dan mengetahui latar belakang orang-orang yang meriwayatknnya. Daerah-daerah yang dikunjunginya adalah Syam (Suriah), Mesir dan Aljazair masing-masing dua kali, ke Basra empat kali, menetap di Makkah dan Madinah selama enam tahun, berulang kali ke Kufah dan Baghdad. Dari hasil kunjungannya tersebut Imam Bukhari berhasil mengumpulkan 600.000 hadits, dimana sebanyak 300.000 hadits berhasil dihafalnya di luar kepala, yang terdiri dari hadits shahih dan tidak shahih.

Dari begitu banyak karangannya yang paling terpenting dan terbesar adalah Kitab Al Jami’ As Shahih atau yang lebih dikenal sebagai Shahih Al Bukhari.
Imam Bukhari dilahirkan pada tahun 194 H di Bukhara dan wafat menjelang hari raya Idul Fitri tahun 256 H, dari seorang ayah yang saleh dan taat beribadah bernama Isma’il. Beliau banyak berguru pada para ustadz dan ahli hadits, salah seorang diantaranya bernama Ad Dakhili yang dianggapnya memiliki kemampuan menguasai ilmu hadits dengan baik. Sejak kecil Bukhari telah menunjukkan bakatnya yang luar biasa dalam menghafal dan memiliki kecerdasan diatas yang lain, disamping memiliki keberanian mengkoreksi kekeliruan periwayatan hadits dari guru atau ustadznya. Dalam menyusun kitab Al Jami’ as Shahih, beliau melibatkan lebih dari seribu orang yang terdiri dari para ahli hadits dan para perawi yang diajaknya berdiskusi untuk mencapai nilai originalitas tiap-tiap hadits.

Ketinggian kualitas, ketelitian dan kecermatan yang terkandung dalam kitab Shahih Bukhari baik dari segi materi maupun perawinya, mengangkat kitab tersebut pada peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadits yang muktabar. Selanjutnya diikuti kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah.
Imam Bukhari mengatakan bahwa dalam menyusun kitabnya tersebut beliau selalu melaksanakan shalat dua rakaat sebelum mencantumkan sebuah hadits sekalipun.
Meskipun sibuk dengan mempelajari dan menyusun hadits, beliau tidak melupakan olah raga kegemarannya yaitu memanah, dimana hampir semua anak panah yang pernah dilepaskan dari busur mengenai sasarannya; dia tidak pernah membanggakan prestasinya bahkan terus berlatih.
Pada saat berkunjung ke Baghdad Imam Bukhari didatangi beberapa orang ahli hadits yang sengaja bermaksud menguji kemampuannya. Mereka mengemukakan seratus hadits yang sengaja diputar balikkan matan (isi atau substansi hadits) dan sanad nya (rangkaian urutan perawi hadits). Sewaktu hadits tersebut dibacakan dihadapan Imam Bukhari, beliau menyatakan: “Aku tidak mengetahuinya!”. Berulang-ulang jawaban yang sama diberikan, sampai pada akhirnya dikatakannya: “Hadits yang kamu bacakan tadi sebenarnya adalah seperti ini (dan seterusnya)”, hingga semua riwayat dikembalikan pada sanad dan matannya semula yang benar. Berita atas peristiwa ini tersebar kemana-mana sehingga semakin banyak orang yang menghormati dan mengakui kelebihannya.
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui”.
(Surat An Nisa ayat 69 – 70).
Sebagaimana pada setiap mukmin, untuk mencapai keImanan dan kedudukan di sisi Allah yang lebih tinggi, Imam Bukhari mendapat ujian dan cobaan yang menuntut kesabaran dan keteguhan hati.
Atas permintaan gurunya yang bernama Az Zihli, beliau terpaksa meninggalkan Naisabur karena perselisihan paham dengan gurunya tersebut.
Sesampainya di kota kelahiran Bukhara, Imam Bukhari disambut hangat oleh penduduk dengan upacara yang meriah. Beliau menetap disana dan sempat mengajar ilmu hadits dikotanya tersebut untuk beberapa lama. Namun ujian berikutnya datang menerpa dimana Gubernur Bukhara yang bernama Khalid bin Ahmad ingin memiliki kitab Al Jami’ Ash Shahih dan At Tarikh Al Kubra. Keinginan ini tidak dipenuhi oleh Imam Bukhari, yang menyebabkan Gubernur marah sekali dan mengusir beliau dari kampung halamannya. Imam berdo’a dan menyerahkan permasalahan ini kepada Allah Yang Maha Adil. Beberapa hari kemudian Sultan Uzbekistan, Ibn Tahir menghukum Gubernur dan diharuskan menunggang keledai himar perempuan berkeliling kota dan akhirnya dihukum.
Melihat keadaan Imam Bukhari warga Samarkand tergerak hatinya, mereka mengundangnya untuk tinggal menetap dan mengajar disana. Permintaan ini dipenuhinya, tapi baru sampai di desa Khartand beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Akhirnya pada malam menjelang Idul Fitri 256 H beliau wafat pada usia 62 tahun dan jenazahnya dimakamkan sehabis dhuhur, sementara orang merayakan hari raya Idul Fitri.

2. Imam Muslim, Menyaring 300.000 hadits dalam 15 tahun.
Seorang muhaddis (ahli hadts) terkenal sesudah Imam Malik adalah Imam Muslim yang sempat berguru kepadanya selama menetap dan menyebarkan ilmu di Naisabur.
Kepribadian Imam Muslim yang diteladani oleh murid-muridnya adalah wara’ (menjauhi hal-hal yang syubhat atau meragukan), zuhud (tidak berorientasi pada kemegahan duniawi dan kekayaan bendawi), tawadhu’ dan ikhlas, yang didukung oleh kecerdasan luar biasa, ketekunan dan kemauan belajar yang kuat.
Beliau dilahirkan pada tahun 202 H di Naisabur dan wafat pada usia 59 tahun di kota yang sama. Sejak remaja pada usia 14 tahun, Imam Muslim yang nama lengkapnya Abu al Husain Muslim bin al Hajjal al Qusyairi an Naisaburi, sudah sering mengikuti pembahasan yang mengupas hadits-hadits Rasulullah saw. Keinginannya untuk mengembangkan ilmu dan memperluas wawasan, membawanya kenegeri-negeri Hedzjaz, Irak, Suriah dan Mesir.
Sebagaimana yang dilakukan Imam Bukhari, beliau juga menulis banyak kitab yang dijadikan sumber atau referensi penulis-penulis sesudahnya, dan yang paling terkenal adalah Kitab al Jami’ as Shahih Muslim yang lebih dikenal sebagai Shahih Muslim, yang menurut salah seorang Guru Besar Universitas Damsyik didalamnya termuat 3030 hadits tanpa pengulangan atau 10.000 hadits dengan pengulangan. Hadits sebanyak ini sudah merupakan saringan dari 300.000 hadits yang diperolehnya selama masa pengumpulan, dan untuk menyeleksinya Imam Muslim menghabiskan waktu selama lima belas tahun.
Metode penyeleksian yang digunakan kedua Imam hadits ini tidak jauh berbeda, antara lain rangkaian sanadnya tidak terputus hingga ke ujung sumber yakni Rasulullah saw., dimana para perawi adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas, dapat dipercaya atau siqat. Sedikit perbedaannya adalah syarat bagi perawi yang diterapkan Imam Muslim tidak seketat persyaratan Imam Bukhari dimana seorang perawi harus benar-benar bertemu dengan perawi sebelumnya.

Keistimewaan Imam Muslim dalam menyusun kitab haditsnya tersebut terletak pada ketelitiannya menggunakan lafal yang sama sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw. Sedangkan susunannya lebih sistimatis hingga mudah ditelusuri sesuai topik atau perihal yang dikehendaki.

“Engkau tidak berceritera kepada suatu kaum tentang sebuah cerita yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran mereka, melainkan cerita itu akan menjadi fitnah bagi sebagian golongan dari mereka”.
(HR. Imam Muslim).
Selama melakukan rihlah (perjalanan) dalam rangka memperkaya hasanah ilmu dan memperluas wawasan, Imam Muslim disamping mengunjungi berbagai negeri, beliau beberapa kali mendatangi para ahli hadits di Baghdad dan meriwayatkan hadits disana. Imam Muslim mendapat pengakuan sebagai Imam hadits yang paling terkemuka dan produktif serta memiliki keteladanan kepribadian yang terhormat.
Seorang ulama terkemuka kota Baghdad bernama Al Khatib Al Baghdadi mengatakan: “Sesungguhnya Imam Muslim mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Imam Bukhari”.
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah memberikan pemahaman yang baik tentang agama”.
(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Semoga Allah swt. melimpahkan rahmatNya kepada beliau berdua. Amin.
Share:

Arsip Situs

Online now

Show Post

Blog Archive